Minggu, 30/11/25 | 20:10 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI ARTIKEL

Dari Meme ke Kosakata: Evolusi Skibidi dalam Bahasa Digital

Minggu, 16/2/25 | 10:51 WIB

Oleh: Arum Rindu Sekar Kasih
(Mahasiswa Program Doktor Ilmu-Ilmu Humaniora Universitas Gadjah Mada) 

 

Beberapa waktu lalu, ketika saya mengajar kelas Bahasa Indonesia karena masih pertemuan perdana, saya meminta para mahasiswa untuk menyampaikan uneg-uneg tentang kelas Bahasa Indonesia seperti apa yang mereka inginkan selama satu semester. Mereka saling menyampaikan pendapat. Masing-masing dari mereka memiliki ekspektasi untuk aktivitas perkuliahan Bahasa Indonesia. Menariknya, mayoritas ingin selama perkuliahan banyak mendiskusikan penggunaan bahasa Indonesia di era saat ini, yaitu era yang sudah serba digital. Saya bisa memaklumi keinginan mereka itu karena mereka adalah mahasiswa dari kalangan generasi Z atau lebih dikenal gen-Z. Saya yang berasal dari generasi milenial pun merasa tertantang dengan antusiasme mereka yang ingin membahas persoalan bahasa di kalangan mereka.

BACAJUGA

Masya Allah Tabarakallah Caption Bahasa Arab di Dunia Sharenting

Masya Allah Tabarakallah Caption Bahasa Arab di Dunia Sharenting

Minggu, 02/2/25 | 08:18 WIB

Kemudian, kelas semakin hidup ketika ada salah satu mahasiswa yang memberikan contoh istilah yang mulai lazim digunakan di media sosial, yaitu skibidi. Saya mengernyitkan dahi. Beberapa kali, saya juga mengetahui istilah itu ketika membuka media sosial, tetapi saya tidak terlalu relate dengan skibidi itu. Diskusi pun berlangsung seru. Saya memancing mereka untuk bercerita dari mana asal skibidi itu. Ternyata, dari penuturan mereka, skibidi itu istilah yang asal kemunculannya dari generasi alpha, adik generasi Z. Berbicara tentang generasi, ada beberapa tingkatan generasi dengan ditandai rentang tahun kelahiran.  Yang pertama ada generasi baby boomers. Orang-orang dari generasi ini berada pada kisaran kelahiran 1946-1964. Lalu, ada generasi X. Generasi ini diisi oleh orang-orang yang lahir mulai tahun 1965-1980. Adik generasi X adalah generasi Y atau milenial yang rentang tahun kelahirannya pada 1981-1996. Setelah itu, berlanjut pada generasi Z yang rentang tahun kelahirannya adalah tahun 1997-2012. Dari generasi Z, muncullah generasi kelahiran 2013-2025 yang disebut generasi alpha. Saya agak kaget karena saya pikir skibidi itu muncul dari gen-Z. Karena menarik, lantas saya pun mencoba mengulik pemakaian skibidi di berbagai media sosial.

Dalam era digital yang serba cepat, ungkapan dan istilah baru hampir setiap hari bermunculan dan kemudian menjadi tren atau viral di media sosial. Salah satu fenomena yang ditemukan dan cukup menarik adalah istilah skibidi. Istilah skibidi ini bermula muncul dari video meme yang menampilkan gerakan unik dan aneh diiringi oleh lagu berjudul Skibidi dari band asal Rusia secara berulang. Video tersebut sebenarnya sudah dari tahun 2018. Lirik dari lagu tersebut tidak memiliki makna yang begitu berarti, tetapi liriknya mudah diingat. Lagu tersebut lantas menjadi banyak disukai lantaran gerakan koreografinya yang unik. Akhirnya, para netizen membuat semacam tantangan Skibidi Dance. Lalu, pada tahun 2023, istilah skibidi ini menjadi viral setelah banyak beredar serial animasi “Skibidi Toilet” oleh salah satu content creator di YouTube. Serial itu memperlhatkan karakter kepala manusia yang muncul dari toilet sambil menyanyikan Skibidi Dop Dop Yes”. Serial itu lalu menjadi trending di banyak media sosial dan membuat istilah skibidi berkembang dan banyak digunakan di berbagai media sosial. Lama kelamaan, skibidi menjadi kosakata di kalangan warganet, khususnya dari generasi alpha. Tersebarnya istilah skibidi tidak hanya sebatas dalam bentuk audio visual, tetapi juga digunakan dalam komunikasi di ruang digital oleh warganet. Saya sebagai generasi milenial mencoba untuk memahami istilah skibidi ini dalam penggunaannya di dalam kalimat. Ketika saya bertanya ke mahasiswa terkait contoh penggunaan skibidi, mereka pun memberikan contoh sebagai berikut.

  • Tanteku emang skibidi Dia habis lulus dari Amerika.

Setelah mendengar contoh itu dari mahasiswa, skibidi ini dimaknai sebagai suatu bentuk kekaguman. Saat saya konfirmasi ke para mahasiswa, mereka menyetujui hal itu. Skibidi ini mungkin kalau di era saya dulu setara dengan keren atau bisa juga gokil. Kosakata-kosakata itu digunakan untuk mengekspresikan takjub atau kagum terhadap pencapaian seseorang atau terhadap sesuatu yang dianggap bagus. Namun, ketika saya menelusuri contoh-contoh lain penggunaan skibidi, ternyata terdapat perbedaan makna pada beberapa contoh yang saya temukan di beberapa platform media sosial. Berikut contoh lain yang saya temukan.

  • Hari ini keliling Jogja nyari data tanpa hasil. Skibidi life…

Pada contoh (2) di atas, arti skibidi berbeda dari penggunaan pada contoh sebelumnya. Jika melihat keseluruhan kalimat, konteks pada kalimat contoh (2) seperti mengungkapkan kekecewaan karena mendapatkan hasil yang tidak diharapkan. Jika demikian, istilah skibidi ini memiliki lebih dari satu makna dan itu bergantung pada tujuan penggunaannya. Hal itu sejalan dengan konteks dan makna seperti yang dikemukakan oleh Searle (1979) bahwa makna sebuah kata atau frase itu tidak hanya berasal dari strukturnya, tetapi juga dari cara dan kapan kata tersebut digunakan di dalam suatu komunikasi.

Ketika suatu kata atau frase menjadi viral di media sosial, penggunaannya dapat beradaptasi menyesuaikan konteks sosial yang lebih luas. Begitu pula dengan skibidi ini. Ia telah berkembang lebih dari meme yang asli. Skibidi ini tentu saja bukan satu-satunya istilah dari meme yang kemudian banyak digunakan netizen. Meme identik dengan suatu konsep yang dapat berupa gambar, video, atau teks yang menyebar di internet yang sifatnya bisa berupa lelucon, satir, atau untuk menyampaikan ide tertentu dalam budaya digital.  Biasanya meme ini menyebar dengan cepat di media sosial, seperti TikTok, Facebook, Instagram, ataupun X.

Para warganet sering menggunakan skibidi ini untuk menunjukkan berbagai ekpresi, mulai dari kekaguman, merespons sesuatu yang lucu, tidak jelas, hingga menggambarkan kekecewaan. Suasana dari fenomena tersebut menggambarkan cara dari suatu komunikasi digital saat ini tidak lagi berdasar kata yang diartikan secara harfiah, tetapi kata tersebut dapat menciptakan suatu makna baru melalui penggunaannya yang lebih kreatif dengan melibatkan elemen lain yang lebih kompleks. Selain skibidi, ada salah satu contoh meme lain yang juga populer di kalangan warganet, yaitu sigma. Contoh pemakainnya adalah sebagai berikut.

  • Gila! Semua kerjaan diselesein sendiri sama dia. The real sigma

Istilah sigma yang digunakan pada contoh (3) di atas sebenarnya berupa sindiran yang memiliki makna orang yang terlalu fokus bekerja sendiri. Asal dari sigma tersebut bermula dari konsep sigma male, yaitu laki-laki independen yang tidak mengikuti hierarki atau tingkatan sosial, seperti alpha atau beta male. Kemudian, istilah sigma ini banyak digunakan oleh warganet sama seperti halnya dengan skibidi itu. Evolusi skibidi dan juga istilah baru lainnya dari meme menjadi bagian dari kosakata digital memperlihatkan fenomena yang menarik. Istilah skibidi ini bisa dikatakan masih sebatas sebagai bahasa slang di kalangan pengguna media sosial. Jika skibidi di masa-masa yang akan datang kerap diadopsi oleh masyarakat secara luas, dapat dimungkinkan istilah skibidi ini masuk ke dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Kita tentu ingat dengan istilah seperti gabut dan mager yang akhirnya karena banyak digunakan, kemudian masuk ke dalam KBBI sebagai ragam percakapan sehari-hari. Hal itu menunjukkan bahwa bahasa terus bergerak, terus berubah seiring perkembangan teknologi dan juga kreativitas warganet dari generasi terbaru di media sosial. Skibidi dop dop yes!   

Tags: #Arum Rindu Sekar Kasih
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Islamisasi Versus Deislamisasi Bahasa

Berita Sesudah

Sastra Anak sebagai Media Pembelajaran Bahasa Asing dan Pendidikan Karakter

Berita Terkait

Jejak Sastra Melayu Klasik dalam Kehidupan Masyarakat Lampau

Jejak Sastra Melayu Klasik dalam Kehidupan Masyarakat Lampau

Minggu, 30/11/25 | 15:11 WIB

Oleh: Noor Alifah (Mahasiswi Sastra Indonesia dan Anggota Labor Penulisan Kreatif FIB Universitas Andalas)   Salah satu karya sastra tertua...

Luka Peperangan Musim Gugur pada Cerpen “Tepi Shire” Karya Tawaqal M. Iqbal

Luka Peperangan Musim Gugur pada Cerpen “Tepi Shire” Karya Tawaqal M. Iqbal

Minggu, 23/11/25 | 06:57 WIB

Oleh: Fatin Fashahah (Mahasiswa Prodi Sastra dan Anggota Labor Penulisan Kreatif Universitas Andalas)   Musim gugur biasanya identik dengan keindahan....

Sengketa Dokdo: Jejak Sejarah dan Pelajaran untuk Masa Kini

Sengketa Dokdo: Jejak Sejarah dan Pelajaran untuk Masa Kini

Minggu, 16/11/25 | 13:49 WIB

Oleh: Imro’atul Mufidah (Mahasiswa S2 Korean Studies Busan University of Foreign Studies, Korea Selatan)   Kebanyakan mahasiswa asing yang sedang...

Puisi-puisi M. Subarkah

Budaya Overthinking dan Krisis Makna di Kalangan Gen Z

Minggu, 16/11/25 | 13:35 WIB

Oleh: M. Subarkah (Mahasiswa Prodi S2 Linguistik Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas)   Di tengah gemerlap dunia digital dan derasnya...

Aspek Pemahaman Antarbudaya pada Sastra Anak

Belajar Budaya dan Pendidikan Karakter dari Seorang Nenek yang ‘Merusak’ Internet

Minggu, 16/11/25 | 13:27 WIB

Oleh: Andina Meutia Hawa (Dosen Prodi Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas)   Di ruang keluarga. Seorang nenek sedang...

Identitas Lokal dalam Buku Puisi “Hantu Padang” Karya Esha Tegar

Konflik Sosial dan Politik pada Naskah “Penjual Bendera” Karya Wisran Hadi

Minggu, 02/11/25 | 17:12 WIB

  Pada pukul 10:00 pagi, 17 Agustus 1945, di Jalan Pegangsaan Timur No. 56, Jakarta. Berkat desakan dari golongan muda,...

Berita Sesudah
Aspek Pemahaman Antarbudaya pada Sastra Anak

Sastra Anak sebagai Media Pembelajaran Bahasa Asing dan Pendidikan Karakter

POPULER

  • Kantor PDAM Kota Padang.[foto : net]

    PDAM Padang Kerahkan Mobil Tangki Gratis, Krisis Air Bersih Dipastikan Tetap Terkendali

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Walikota Padang Desak PDAM Percepat Perbaikan IPA

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • DPW PKB Sumbar dan DKW Panji Bangsa Gerak Cepat Salurkan Sembako di Padang Pariaman

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Korban Bencana di Sumbar Terus Bertambah: 98 Meninggal dan 93 Hilang

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Isu Pungutan Komite di MTsN Dharmasraya, Pihak Sekolah dan Komite Beri Penjelasan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Korban Bencana Hidrometeorologi di Sumbar Terus Bertambah, Tercatat 129 Orang Meninggal Dunia dan 86 Hilang

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Update Terbaru Dampak Bencana Hidrometeorologi di Sumbar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2024

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2024