Kamis, 15/10/26 | 03:57 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • BERITA
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI ARTIKEL

Masya Allah Tabarakallah Caption Bahasa Arab di Dunia Sharenting

Minggu, 02/2/25 | 08:18 WIB

Oleh: Arum Rindu Sekar Kasih
(Mahasiswa Program Doktor Ilmu-Ilmu Humaniora Universitas Gadjah Mada)


“Masya Allah, tabarakallah. Hari ini, adik bareng mama belanja ke pasar. Alhamdulillah.”

Rasanya tidak asing, kan, membaca takarir gambar atau captions di unggahan media sosial dengan frase masya Allah tabarakallah seperti itu? Dalam konten-konten sharenting orang tua muslim, takarir gambar atau caption tidak jarang diwarnai dengan penggunaan bahasa Arab, baik berupa potongan ayat, doa, maupun frase-frase yang memunculkan nuansa Islami, seperti masya Allah, tabarakallah. Fenomena sharenting atau praktik berbagi aktivitas anak mereka di media sosial cukup marak terjadi.  Sharenting merupakan salah satu bentuk baru dari pengasuhan yang muncul seiring dengan berkembangnya penggunaan media sosial (Dwiarsianti, 2022). Para orang tua muslim biasanya menyelipkan bahasa Arab dalam menyusun takarir gambar untuk menyertai unggahan sharenting di akun media sosial mereka. Dalam KBBI, entri takarir gambar  berarti ‘keterangan yang biasanya terdiri atas satu atau beberapa kalimat yang menjelaskan isi dan maksud gambar’ (2023).

BACAJUGA

Kabut Regulasi: UU ITE Berubah, Tetapi Apakah Publik Benar-Benar Memahaminya?

Kabut Regulasi: UU ITE Berubah, Tetapi Apakah Publik Benar-Benar Memahaminya?

Selasa, 13/10/26 | 18:50 WIB
Regulasi Saja Tidak Cukup: Menangkal Gangguan Informasi di Ruang Digital

Regulasi Saja Tidak Cukup: Menangkal Gangguan Informasi di Ruang Digital

Senin, 12/10/26 | 14:55 WIB

Selain hanya menampilkan sharenting dalam kehidupan sehari-hari, tujuan lan dari orang tua adalah ingin menunjukkan representasi diri. Praktik sharenting di media sosial menjadi representasi dari identitas orang tua dan mereka merasa berhak memublikasikan aspek kehidupan sehari-hari anak (Blum-Ross & Livingstone, 2017). Dari hal itu, salah satu representasi dan identitas yang dimunculkan para orang tua dalam konten sharenting adalah identitas keagamaan. Salah satu representasi keagamaan yang kemudian berkembang di kalangan masyarakat Indonesia dalam konten sharenting adalah representas keislaman. Hal itu menjadi masuk akal lantaran mayoritas penduduk di Indonesia adalah muslim. Dalam membuat konten sharenting banyak digunakan bahasa Arab yang identik dengan “bahasa milik orang Islam”. Foto atau video anak-anak mereka diunggah, lalu diberi takarir gambar dengan sentuhan bahasa Arab sehingga memperkuat nuansa Islami.

Dalam dunia sharenting Islami, bahasa Arab menjadi elemen penting sehingga keberadaannya tidak dapat terpisahkan. Kemunculan bahasa Arab dalam penyusunan takarir gambar dapat berupa doa ataupun kutipan ayat dari Alquran, misalnya orang tua mengunggah foto anak mereka yang diiringi tulisan takarir gambar berikut.

(1) Alhamdulillah, allahu akbar. Di ulang tahun ke-7 ini, semoga kamu jadi anak soleh selalu, ya, Nak.

 Konteks contoh (1) di atas adalah unggahan orang tua berupa foto anak yang tengah merayakan ulang tahun. Takarir gambar berupa harapan atau doa semacam itu dan ditambah dengan frase bahasa Arab mampu memberikan sentuhan religius pada konten yang dibagikan. Selain itu, nama-nama anak yang mengandung unsur bahasa Arab, tidak jarang juga disematkan para orang tua ketika menuliskan takarir gambar, seperti contoh berikut.

(2) Barakallah, Rayhan soleh sedang belajar naik sepeda atau
(3) Masya Allah, Aisyah putri cantik kami sekarang sudah bisa merangkak.

Pada contoh (2) di atas, ada kebanggaan tersendiri dari para orang tua ketika menyelipkan nama anak mereka dalam takarir gambar berupa doa atau ungkapan syukur. Konteks dari contoh (2) itu adalah unggahan foto anak bernama Rayhan yang sedang belajar naik sepeda. Lalu, untuk contoh (3) konteksnya adalah foto seorang bayi perempuan bernama Aisyah yang sedang dalam fase merangkak. Kebetulan nama anaknya juga bernuansa kearab-araban sehingga semakin memperkuat identitas keislaman konten sharenting itu.

Penggunaan bahasa Arab dalam sharenting Islami tentu memiliki misi tertentu. Misi ini berkaitan erat dengan fungsi ketika digunakan dalam penyusunan takarir gambar. Masya Allah tabarakallah cukup sering digunakan oleh para orang tua muslim dalam menyusun takarir gambar. Dalam KBBI, masya Allah berarti ‘kata seru untuk menyatakan perasaan heran, sayang, dan keterkejutan (maknanya ‘apa yang dikehendaki Allah Swt.’). Para orang tua muslim memanfaatkan bahasa Arab sebagai simbol untuk menunjukkan identitas religius. Kemudian, dengan membagikan konten anak-anak yang sedang belajar salat, mengaji, atau berdoa, secara tidak langsung orang tua menanamkan nilai-nilai keislaman pada anak. Takarir gambar doa yang ditulis para orang tua muslim menjadi sebuah keyakinan tersendiri dan wujud harapan untuk kebaikan anak-anak.

Dari hal itu, tampak bahasa Arab memainkan peran penting dalam sharenting Islami, baik sebagai representasi suatu identitas, media mendidik anak, maupun media spiritual. Kutipan doa dan ayat suci Alquran dalam takarir gambar mewujudkan jalinan atau koneksi dengan masyarakat muslim yang lebih luas. Meskipun begitu, para orang perlu memperhatikan penggunaan bahasa Arab secara bijak sehingga konten sharenting yang dibuat tidak hanya menjadi sebuah inspirasi, tetapi juga memberikan pesan dan kesan khusus bagi keluarga muslim di era digital. Masya allah.

Tags: #Arum Rindu Sekar Kasih
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Menjadikan Permainan Koa Bagian Budaya Minang, Firdaus: Miliki Nilai Adat yang Kuat

Berita Sesudah

Anggota DPRD Sumbar Firdaus : Koa Bagian Budaya Kita

Berita Terkait

Kabut Regulasi: UU ITE Berubah, Tetapi Apakah Publik Benar-Benar Memahaminya?

Kabut Regulasi: UU ITE Berubah, Tetapi Apakah Publik Benar-Benar Memahaminya?

Selasa, 13/10/26 | 18:50 WIB

Taufiq Muhammad Akbar ‎Magister Ilmu Komunikasi, Universitas Andalas (UNAND) Undang-undang berubah, Pasal diperbaiki, Ancaman pidana disesuaikan, Istilah hukum diperbarui. Tetapi...

Regulasi Saja Tidak Cukup: Menangkal Gangguan Informasi di Ruang Digital

Regulasi Saja Tidak Cukup: Menangkal Gangguan Informasi di Ruang Digital

Senin, 12/10/26 | 14:55 WIB

Ilustrasi: Hukum dan regulasi hanyalah pagar luar, namun kesadaran dan etika digital masyarakat adalah benteng utama yang sesungguhnya dalam menangkal...

Puisi-puisi M. Subarkah

Bahasa, Miskomunikasi, dan Konflik Rumah Ibadah

Senin, 12/10/26 | 06:40 WIB

Oleh: M. Subarkah (Mahasiswa S2 Linguistik FIB Universitas Andalas) Bahasa memiliki peran penting dalam membentuk pemahaman, hubungan sosial, dan sikap...

Penentu Arah Perubahan Zaman

Penentu Arah Perubahan Zaman

Minggu, 11/10/26 | 20:39 WIB

Oleh: Arza Kailla Chaerani (Mahasiswa Prodi Sastra Indonesia FIB Universitas Andalas) Dunia terus berubah, begitu pula cara manusia memahami identitas,...

Bias Pengetahuan Bahasa AI tentang Perempuan dan Krisis Iklim

Bias Pengetahuan Bahasa AI tentang Perempuan dan Krisis Iklim

Minggu, 11/10/26 | 20:02 WIB

Oleh: Arina Isti’anah (Dosen Sastra Inggris, Universitas Sanata Dharma)   Dalam ranah sosio-kognitif, bahasa merupakan piranti yang menjembatani memori dan...

Membaca Novel Siti Nurbaya dalam Pandangan Sejarah

Membaca Novel Siti Nurbaya dalam Pandangan Sejarah

Minggu, 04/10/26 | 22:27 WIB

Oleh: Irfan Pandesta Putra, S.Hum (Sejarawan & Alumni S1 Ilmu Sejarah FIB Universitas Andalas)   Novel Siti Nurbaya: Kasih Tak...

Berita Sesudah

Anggota DPRD Sumbar Firdaus : Koa Bagian Budaya Kita

POPULER

  • Lele Raksasa (Foto: Ist)

    Pria ini Taklukan Lele Raksasa Ukurannya Nyaris Tiga Meter

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Puisi-puisi Dharma Purnama Putra

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Puisi-puisi Arza Kailla Chaerani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Child Grooming sebagai Bentuk Frasa “Manipulasi Anak”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cahaya dari Surau Tuo

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Perbedaan Awalan ber- dan me-

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Fenomena Kabut Asap di Sumbar, Donizar: Jangan Tunggu Ada Korban

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026