Jumat, 02/10/26 | 14:32 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • BERITA
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI ARTIKEL

Kesantunan Berbahasa

Minggu, 09/2/25 | 08:51 WIB

Oleh: Alex Darmawan
(Dosen Prodi Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas)

 

Suatu pagi penulis  menerima pesan di aplikasi whatsapp dari mahasiswa. Pesan itu mengejutkan penulis. Bukan informasinya yang membuat  penulis terkejut, melainkan penggunaan bahasa oleh mahasiswa yang membuat penulis  tidak nyaman. Salah satu contoh pesan yang saya  terima seperti ini ; “Salam, Pak. Apakah Bapak hari ini ada di kampus?” Lanjut pesan berikutnya,“ Saya mau bimbingan, jam berapa Bapak punya waktu luang?,Maaf sebelumnya. Terima kasih.” Pikir penulis, kok seperti ini bahasa mahasiswa?  Seolah-olah penulis ini seperti teman sama besar saja atau kolega kerja mereka dan lain sebagainya dalam pikiran penulis. Pesan tersebut saya jawab, “Saya ada di kampus dari pagi sampai siang. Kita bisa bertemu setelah waktu zuhur saja.” Lalu jawab mahasiswa, “Saya lagi di kampung boleh atur jadwal baru, Pak?” Intinya, penulis merasa sangat tidak nyaman dan menolak untuk merespon kembali pesan tersebut.

Beberapa minggu yang lalu, sebelum libur panjang dimulai dan setelah ujian akhir semester dilaksanakan di kampus. Para dosen berkumpul di ruang kerja. Mereka bercengkrama satu sama lainnya. Salah satu topik hangat yang mereka perbincangkan  adalah  fenomena  di atas mengenai pesan singkat dari mahasiswa yang dikirimkan ke dosen. Pesan yang dikirimkan  mahasiswa ke dosen  banyak yang melanggar etika komunikasi alias tidak santun, menurut para dosen. Mereka bertanya-tanya mengapa generasi muda sekarang gaya komunikasinya lebih singkat dan cenderung melabrak batas-batas tata krama dalam berkomunikasi. Salah satu dosen memberikan informasi tambahan bahwa gejala komunikasi seperti  ini tidak hanya terjadi di kalangan mahasiwa mereka yang ada di Kota Padang saja, tetapi mahasiswa dari kota dan provinsi lain juga  demikian. Ini dibuktikan dengan banyaknya konten di tik-tok yang membahas etika mahasiswa ketika berbicara ke dosen baik secara langsung maupun tidak langsung. Sebenarnya mengapa fenomena ini  bisa terjadi? Semakin hari semakin berkurang kesantunan dalam berkomunikasi.

BACAJUGA

Peluang Bisnis Fashion Halal bagi Anak Muda dalam Ekonomi Islam

Peluang Bisnis Fashion Halal bagi Anak Muda dalam Ekonomi Islam

Minggu, 27/9/26 | 11:52 WIB
Semburat: Kajian Makna dalam Perspektif Semantik

Semburat: Kajian Makna dalam Perspektif Semantik

Minggu, 27/9/26 | 11:25 WIB

Kesantunan memiliki kaitan dengan kesopanan, rasa hormat, sikap yang baik atau perilaku yang pantas (Gunawan, 2013: 8). Istilah kesantunan tidak hanya berbentuk tindakan, tetapi juga dapat berupa tindak tutur. Lebih lanjut,  dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi VI versi daring, santun memiliki arti 1. halus dan baik (budi bahasanya, tingkah lakunya); sabar dan tenang; sopan; 2. penuh rasa belas kasihan; suka menolong;. Kemudian, kata santun mendapatkan imbuhan ke-an menjadi kesantunan yang memiliki makna menyatakan hal yang disebutkan dalam kata dasar atau perihal. Lebih lanjut, Putrayasa (2014:107) merujuk pada Cambridge Advanced Learners Dictionary mendefinisikan kesantunan sebagai perilaku seseorang sedemikian rupa yang sesuai dengan aturan sosial yang berlaku dalam lingkungan masyarakat dengan menunjukkan kepedulian serta kepekaan terhadap perasaan orang lain.

Menyoal kesantunan, banyak teori yang berbicara tentang kesantunan. Salah satunya pendapat Robin T. Lakoff yang dianggap sebagai bapak kesantunan berbahasa modern dari sudut pandang pragmatik. Dalam pandangannya, kesantunan merupakan sistem hubungan interpersonal yang dirancang untuk memperlancar interaksi dengan meminimalisasi potensi konflik dan konfrontasi yang melekat  pada semua bentuk komunikasi manusia. Secara umum,  kesantunan adalah keinginan yang tulus untuk berbuat baik kepada orang lain. Keinginan yang tulus dapat berwujud tindakan verbal berupa penggunaan bahasa, dan tindakan nonverbal berupa perilaku sehari-hari (Thomas dalam Oktavianus dan Revita, 2013). Dalam peristiwa komunikasi, bukan hanya variabel informasi saja yang dipentingkan, tetapi kesantunan juga menjadi variabel yang harus dipikirkan dan diikutsertakan sehingga komunikasi itu dapat berjalan lancar -tidak menimbulkan kesalahfahaman dan multitafsir-dan baik dalam bingkai budaya kesantunan berbahasa.

Berbicara  dalam konteks masyarakat Minangkabau, kaidah berbahasa dengan santun itu telah ada sejak dahulu. Masyarakat Minangkabau sering menggunakan metafora/kiasan dalam berbahasa. Hal ini terlihat  jelas dalam bahasa Minangkabau ragam adat. Bukan hanya dalam ragam bahasa adat saja kiasan digunakan. Terkadang, dalam komunikasi sehari-hari juga digunakan untuk menyampaikan maksud dengan santun. Kiasan yang digunakan itu dekat dengan alam, mungkin karena itu pulalah ada falsafah Minangkabau yang berbunyi Alam takambang menjadi guru. Kaidah berbahasa yang dimaksud adalah Kato nan Ampek atau sebut juga dengan Langgam Kato (Istilah yang dipopulerkan oleh A.A. Navis) yang merupakan tata krama berbicara sehari-hari dalam masyarakat Minangkabau. Kaidah berbahasa tersebut menjadi dasar petunjuk dalam bertutur kata masyarakat Minangkabau. Kaidah berbahasa meliputi; Kato Malereng, Kato Mandaki, Kato Manurun, dan Kato Mandata.

Namun demikian, budaya santun berbahasa masyarakat Minangkabau terutama generasi muda Minang agaknya sudah mulai tergerus  seiring  perkembangan zaman. Penyebabnya antara lain; Pertama; faktor keluarga. Orang tua tidak lagi menjadi role model (contoh) teladan bagi anak-anak dalam berbahasa, bahkan orang tua terkadang berbicara kasar terhadap anak. Mereka sibuk bekerja mencari uang dan sibuk dengan aktivitasnya masing-masing, tidak memperdulikan perkembangan anaknya, baik secara mental maupun cara berkomunikasinya. Anak dimanja dengan uang jajan dan berbagai fasilitas dengan harapan anak  tetap di rumah dan tidak kekurangan apapun. Kedua; faktor lingkungan. Lingkungan luar sangat memberikan pengaruh terhadap perkembangan seseorang, tempat bermain dan teman bermain. Semuanya menjadi faktor yang memengaruhi perubahan pribadi dan karakter seseorang. Lingkungan yang buruk bagi anak perlahan-lahan mewarnai karakter dan pribadi anak, bahkan cara berkomunikasinya pun akan terlihat kurang sopan. Ketiga; perkembangan teknologi. Tontonan media televisi sekarang sangat vulgar karena isinya caci maki saja, mulai dari para politisi sampai kepada para pelawak. Seakan-akan caci maki sesuatu yang lumrah dan umum yang bisa dilakukan di ruang publik.  Bahkan, tontonan tersebut memberi pelajaran kepada penonton/khalayak bahwa kita boleh mencaci maki bahkan kepada orang tua kita sendiri. Semoga kita dapat menyikapi dengan bijak fenomena tergerusnya budaya kesantunan berbahasa yang terjadi sekarang untuk berubah ke arah yang  lebih baik.

Tags: #Alex Darmawan
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Festival Siti Nurbaya dan Cap Go Meh 2025 Dorong Pariwisata Sumbar

Berita Sesudah

Sastra, Teknologi, dan Peradaban Manusia Bercerita

Berita Terkait

Peluang Bisnis Fashion Halal bagi Anak Muda dalam Ekonomi Islam

Peluang Bisnis Fashion Halal bagi Anak Muda dalam Ekonomi Islam

Minggu, 27/9/26 | 11:52 WIB

Oleh: Kanaya Putri Sifa (Mahasiswa MKWK Bahasa Indonesia dan Mahasiswa Fakultas Ekonomi Bisnis Universitas Andalas)   Perkembangan dunia fashion saat...

Semburat: Kajian Makna dalam Perspektif Semantik

Semburat: Kajian Makna dalam Perspektif Semantik

Minggu, 27/9/26 | 11:25 WIB

Oleh: Tri Sutrisman (Mahasiswa Sastra Indonesia FIB Universitas Andalas)   Beberapa waktu lalu, saya sedang melakukan sesuatu yang mungkin cukup...

Puisi-puisi Wulan Darma Putri

Mengenal Polisemi dan Homonimi dalam Bahasa Indonesia

Minggu, 20/9/26 | 15:43 WIB

Oleh: Noor Alifah (Mahasiswa Sastra Indonesia FIB Universitas Andalas)   Pernahkah Anda mendengar kalimat "kepala sekolah itu sedang memegang kepalanya...

Representasi Perempuan dalam Novel “Perempuan di Titik Nol dan Entrok: Kajian Feminisme”

Menyusuri Luka Kanak-kanak dalam Kumpulan Puisi “Belajar Menanggalkan Bulan”

Minggu, 13/9/26 | 22:05 WIB

Oleh: Rosidatul Arifah (Alumni S1 Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas)  Awal September 2026 ini memberikan angin ceria pada...

Kapitalisme dan Kontradiksi Kemajuan dalam Sastra Indonesia

Modernisme dan Dunia yang Dinamis dalam Karya Sastra

Minggu, 13/9/26 | 09:35 WIB

Oleh: Maharani Syifa Ramadhan (Alumni Sastra Indonesia FIB Universitas Andalas dan Mahasiswa Program Magister Sastra Kontemporer, Universitas Padjajaran)   Modernisme...

Benarkah Onomatope Arbitrer?

Benarkah Onomatope Arbitrer?

Minggu, 13/9/26 | 08:48 WIB

Oleh: Ahmad Hamidi dan Andina Meutia Hawa (Dosen Prodi Sastra Indonesia FIB Universitas Andalas)    Seekor anjing sedang menggonggong di...

Berita Sesudah
Sastra, Teknologi, dan Peradaban Manusia Bercerita

Sastra, Teknologi, dan Peradaban Manusia Bercerita

POPULER

  • Puisi-puisi Dharma Purnama Putra

    Puisi-puisi Dharma Purnama Putra

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Child Grooming sebagai Bentuk Frasa “Manipulasi Anak”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pria ini Taklukan Lele Raksasa Ukurannya Nyaris Tiga Meter

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Puisi-puisi Arza Kailla Chaerani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Perbedaan Awalan ber- dan me-

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cahaya dari Surau Tuo

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Waspada Psikolog Gadungan, HIMPSI Sumbar Imbau Masyarakat Cek Keabsahan dan Legalitas

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026