Senin, 02/3/26 | 22:09 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI RENYAH

Lampu Emergency dan Sumber Tawa

Minggu, 12/1/25 | 17:08 WIB
Senyuman Kecil dan Mendengar: Hal Kecil yang Berdampak Besar

Salman Herbowo
(Kolumnis Rubrik Renyah)

 

Saya masih teringat jelas sebuah celetukan spontan dari seorang teman tentang lampu emergency yang sukses mengundang gelak tawa tanpa henti. Bukan sekadar candaan biasa, ucapannya yang absurd itu menciptakan suasana hangat di tengah persiapan serius untuk sebuah agenda kegiatan. Ironis dan tak terduga, celetukan tersebut menjadi momen tak terlupakan yang terus kami kenang dengan senyuman.

Waktu itu, saat kami berkumpul dan serius mempersiapkan agenda kegiatan, seorang teman tiba-tiba melontarkan celetukan. “Kalau nanti mati lampu, jangan lupa bawa lampu emergency. Tapi ingat, pastikan sudah dicolok ke listrik dulu supaya nyala!”, begitu celetukannya. Seketika, ruangan yang semula penuh konsentrasi berubah menjadi tempat ledakan tawa. Beberapa teman tertawa hingga wajah memerah, ada pula yang hampir tersedak minuman.

BACAJUGA

Senyuman Kecil dan Mendengar: Hal Kecil yang Berdampak Besar

Renyah: Bacaan Pelan untuk Hari yang Cepat

Minggu, 18/1/26 | 21:05 WIB
Lagu yang Tak Selesai-selesai

2026 dan Renyah yang Tetap Menyapa

Minggu, 04/1/26 | 23:10 WIB

Bayangkan situasinya, kami sedang mendiskusikan persiapan untuk kegiatan di alam terbuka yang jauh dari jangkauan sumber listrik. Namun, salah satu teman justru mengungkapkan kekhawatirannya tentang lampu emergency yang membutuhkan sambungan listrik untuk berfungsi. Logika pernyataan tersebut terasa melenceng dari konteks, tetapi justru itulah yang membuatnya begitu menggelikan.

Momen itu tidak hanya mencairkan suasana, tetapi juga menjadi semacam “ritual humor” dalam setiap persiapan kegiatan kami selanjutnya. Setiap kali ada yang menyebut lampu emergency, pasti disambut dengan candaan, “sudah dicas belum?”. Dan itu selalu berulang kami lakukan.

Lebih dari itu, celetukan tersebut mengajarkan kami untuk tidak terlalu larut dalam keseriusan. Kadang, kita memang butuh sejenak berhenti, melepaskan tawa, dan menyadari bahwa tidak semua hal harus berjalan sesuai logika yang sempurna. Justru ketidaksempurnaan itulah yang sering kali menghadirkan cerita berkesan. Dan siapa sangka, lampu emergency yang biasanya hanya dianggap alat fungsional kini memiliki “nyawa” lain, bukan hanya sebagai sumber penerangan, tetapi juga sebagai sumber tawa yang terus menyala di antara kami.

Pada akhirnya, celetukan sederhana tentang lampu emergency mengingatkan kami bahwa hidup, seperti perjalanan yang sedang kami rencanakan, tidak selalu harus sempurna atau sepenuhnya terencana. Ada ruang untuk tawa, spontanitas, dan ketidaksempurnaan yang justru memberikan warna dalam kebersamaan. Momen kecil yang dipenuhi humor ini menjadi refleksi bahwa di tengah kesibukan dan tanggung jawab, kita tetap membutuhkan jeda untuk menikmati kebahagiaan sederhana.

Terkadang, makna kehidupan tidak ditemukan dalam hal-hal besar, tetapi dalam detail kecil yang menyentuh hati dan menyatukan kita. Dan siapa tahu, mungkin humor adalah lampu emergency yang sejati. Selalu siap menyala di saat kita membutuhkan cahaya untuk menerangi perjalanan hidup yang kadang penuh gelap dan tantangan.

Tags: #Salman Herbowo
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Perbedaan Kata Ganti Orang Ketiga “Beliau”, “Dia”, dan “Ia” dalam Bahasa Indonesia

Berita Sesudah

Cerpen “Kepingan Puzzle yang Hilang” karya Athifaleaa dan Ulasannya Oleh M. Adioska

Berita Terkait

Sebagian Tidak Suka Orang yang Banyak Cerita

Dari Lahan ke Lisan: Warisan yang (Tak Lagi) Disemai

Minggu, 01/3/26 | 21:43 WIB

Lastry Monika (Kolumnis Rubrik Renyah/Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand) Dalam beberapa minggu terakhir, saya berkunjung ke beberapa nagari untuk...

Suatu Hari di Sekolah

Kampung, Cerita, dan Ingatan yang Tak Pernah Usang

Minggu, 08/2/26 | 15:36 WIB

Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/Kolumnis Rubrik Renyah)   Kecamatan Gunuang Omeh, khususnya Nagari Talang Anau bukan tempat...

Senyuman Kecil dan Mendengar: Hal Kecil yang Berdampak Besar

Renyah: Bacaan Pelan untuk Hari yang Cepat

Minggu, 18/1/26 | 21:05 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah) Jika Renyah dapat dianalogikan, ia bukan ruang yang hadir dengan suara lantang atau pernyataan yang...

Lagu yang Tak Selesai-selesai

2026 dan Renyah yang Tetap Menyapa

Minggu, 04/1/26 | 23:10 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah)   Akhir tahun 2025 kita lewati dengan langkah yang lebih pelan. Bencana yang terjadi di...

Lagu yang Tak Selesai-selesai

Lengah di Tengah Jeda

Minggu, 21/12/25 | 20:08 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah)   Saat istirahat siang, saya sering lengah dengan waktu. Bukan karena terburu-buru seperti di pagi...

Lagu yang Tak Selesai-selesai

Ketika Waktu Tak Menunggu

Minggu, 07/12/25 | 22:22 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah)   Saya sering bangun tergesa, seolah pagi datang lebih cepat dari dugaan. Waktu terus berjalan...

Berita Sesudah
Cerpen “Kepingan Puzzle yang Hilang” karya Athifaleaa dan Ulasannya Oleh M. Adioska

Cerpen "Kepingan Puzzle yang Hilang" karya Athifaleaa dan Ulasannya Oleh M. Adioska

POPULER

  • Firdaus: Pengurus PMII Bukan Pengisi Struktur, Tapi Penggerak Perubahan

    Firdaus: Pengurus PMII Bukan Pengisi Struktur, Tapi Penggerak Perubahan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gerakan Sosial Baru pada Perang Kata-kata antara SEAblings dan Knetz

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sumbang 12 untuk Puti Bungsu Minangkabau

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bale by BTN, Transaksi Cepat Tanpa Ribet

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pesan Tauhid dan Penyerahan Diri dalamPuisi “Sembahyang Rumputan”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Satu Tahun Duo Srikandi Dharmasraya, Pendidikan dan OVOP Jadi Andalan Bangun Ekonomi Rakyat

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bahasa dan (Ber) Pikiran

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2024

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2024