Selasa, 17/2/26 | 23:21 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI CERPEN

Setetes Air dalam Bensin

Minggu, 30/6/24 | 09:10 WIB

Mendengar penjelasan Bu Rohana, aku tercenung. Entah mengapa, dalam kepalaku terbersit pikiran, bagaimana cara Ibu Rohana mendapatkan laba yang banyak. Jangan-jangan ia melakukan cara yang tidak halal. Kata ustadz, seorang yang memakai uang yang tidak halal untuk naik haji, ibadah hajinya tidak akan terlaksana dengan baik. Mengapa Bu Rohana ini sakit saja selama di Madinah dan Mekah. Sejak dua hari kedatangan kami di Medinah sampai seminggu menjelang pulang, beliau sakit saja.  Memikirkan hal demikian dengan spontan aku bertanya,

“Ketika di kampung, apa ibu juga sering sakit?”

“Ah, di kampung aku tidak pernah sakit. Demam saja aku tidak pernah. Aku juga tidak mengerti mengapa sampai di sini aku sakit saja dan tidak bisa melaksana semua rangkaian ibadah haji. Aku tidak tahu, Entahlah!!” jawab Ibu Rohana sambil menerawang panjang.

Aku kasihan juga melihatnya sehingga kujawab seadanya,

BACAJUGA

Cerpen Lelaki Tampan yang Membawaku Pergi

Cerpen Lelaki Tampan yang Membawaku Pergi

Minggu, 20/10/24 | 16:56 WIB
Luka Hati

Luka Hati

Minggu, 28/7/24 | 09:37 WIB

“Ya mungkin karena cuaca di sini sangat panas, sedangkan di kampung kita, di lereng Gunung Marapi, cuaca  sejuk sehingga tubuh ibu sulit menyesuaikannya.”

Dua hari menjelang kepulangan kami ke tanah air, ketua kelompok sudah mengumumkan bahwa kami harus berkemas dan mempersiapkan  barang bawaan dengan baik. Ketua kelompok juga menghimbau agar jamaah tidak berbelanja banyak karena kalau timbangan koper berlebih, barang akan dikeluarkan dan ditinggal di bandara. Jadi, silakan membawa oleh- oleh tetapi jangan berlebihan.

Mendengar kata oleh-oleh itu, Ibu Rohana tersadar kalau ia sama sekali belum membeli oleh-oleh  sehingga  ia memintaku menemani untuk   membeli oleh-oleh. Di pasar, ia membeli oleh-oleh sangat banyak. Untuk anak, untuk ponakannya, untuk saudaranya dan entah untuk siapa lagi. Ia juga membeli tikar permadani dua buah. Melihat hal itu aku kaget dan aku berusaha untuk melarangnya karena terlalu berat dan barang itu juga banyak dijual di Bukittingi.  Namun, ia tidak mengindahkan laranganku. Katanya ia sudah berniat membelikan tikar itu untuk kedua putrinya.

Halaman 5 dari 7
Prev1...4567Next
Tags: #Armini Arbain
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Istilah “Magrib” dan “Orang Gila Mana” di Media Sosial

Berita Sesudah

Twenty-Four Eyes: Kehangatan dan Kepiluan dalam Satu Cerita

Berita Terkait

Cahaya dari Surau Tuo

Minggu, 11/1/26 | 22:10 WIB

Sumber: GeminiAI Cerpen: Rivana Dwi Puti* Dari balik buaian terkunci terdengar suara ayam memecah kesunyian panjang, seolah membangunkan seisi surau...

Kayu-Kayu yang Datang Bersama Air

Kayu-Kayu yang Datang Bersama Air

Minggu, 21/12/25 | 09:58 WIB

Gambar: Meta AI Cerpen: Putri Rahma Yanti   Aku bukan anak Sumatera Barat. Aku datang ke tanah ini membawa koper,...

Batu dan Zaman

Batu dan Zaman

Senin, 15/12/25 | 06:55 WIB

  Gambar dibuat dengan Meta AI Cerpen: Hasbi Witir   Di sebuah lorong yang bising dan pengap dengan bau yang...

Cerpen Lelaki Tampan yang Membawaku Pergi

Cerpen Lelaki Tampan yang Membawaku Pergi

Minggu, 20/10/24 | 16:56 WIB

Cerpen: Armini Arbain Senja turun dengan cepat dan azan magrib pun berkumandang dengan merdunya. Seperti biasa aku bergegas mengambil Alquran,...

Luka Hati

Luka Hati

Minggu, 28/7/24 | 09:37 WIB

Oleh: Armini Arbain*   Baru saja aku duduk melepas lelah setelah memberi penyegar pada wajah seorang ibu yang facial, Hp-ku...

Diriku dan Keterlambatan

Minggu, 16/4/23 | 12:12 WIB

Cerpen: Ibnu Naufal   Aku tak mengerti terkadang dengan diriku sendiri. Diri yang begitu unik dan istimewa, menuntut untuk diperlakukan istimewa oleh...

Berita Sesudah
Sebagian Tidak Suka Orang yang Banyak Cerita

Twenty-Four Eyes: Kehangatan dan Kepiluan dalam Satu Cerita

Discussion about this post

POPULER

  • Nilai-Nilai Religius pada Karya Andreas Gryphius

    Membaca Cerpen “Robohnya Surau Kami” dari Perspektif Psikoanalisis

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pemerintah Tetapkan 1 Ramadan 1447 H Jatuh pada 19 Februari 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • 1 Ramadan 1447 H, PD Muhammadiyah Pariaman Ikuti Maklumat Pimpinan Pusat

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Susunan Lengkap DPW PKB Sumbar 2026–2031, Firdaus Bidik Penguatan Kader Muda dan Perempuan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • “Sajak Tafsir”, Jeritan Anak di Bawah Bayangan Orang tua

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Oleh sebab itu, Oleh karena itu, atau Maka dari Itu?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cerpen “Pulanglah, Bujang” Karya Hasbunallah Haris dan Ulasannya oleh Azwar Sutan Malaka

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2024

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2024