Mendengar penjelasan Bu Rohana, aku tercenung. Entah mengapa, dalam kepalaku terbersit pikiran, bagaimana cara Ibu Rohana mendapatkan laba yang banyak. Jangan-jangan ia melakukan cara yang tidak halal. Kata ustadz, seorang yang memakai uang yang tidak halal untuk naik haji, ibadah hajinya tidak akan terlaksana dengan baik. Mengapa Bu Rohana ini sakit saja selama di Madinah dan Mekah. Sejak dua hari kedatangan kami di Medinah sampai seminggu menjelang pulang, beliau sakit saja. Memikirkan hal demikian dengan spontan aku bertanya,
“Ketika di kampung, apa ibu juga sering sakit?”
“Ah, di kampung aku tidak pernah sakit. Demam saja aku tidak pernah. Aku juga tidak mengerti mengapa sampai di sini aku sakit saja dan tidak bisa melaksana semua rangkaian ibadah haji. Aku tidak tahu, Entahlah!!” jawab Ibu Rohana sambil menerawang panjang.
Aku kasihan juga melihatnya sehingga kujawab seadanya,
“Ya mungkin karena cuaca di sini sangat panas, sedangkan di kampung kita, di lereng Gunung Marapi, cuaca sejuk sehingga tubuh ibu sulit menyesuaikannya.”
Dua hari menjelang kepulangan kami ke tanah air, ketua kelompok sudah mengumumkan bahwa kami harus berkemas dan mempersiapkan barang bawaan dengan baik. Ketua kelompok juga menghimbau agar jamaah tidak berbelanja banyak karena kalau timbangan koper berlebih, barang akan dikeluarkan dan ditinggal di bandara. Jadi, silakan membawa oleh- oleh tetapi jangan berlebihan.
Mendengar kata oleh-oleh itu, Ibu Rohana tersadar kalau ia sama sekali belum membeli oleh-oleh sehingga ia memintaku menemani untuk membeli oleh-oleh. Di pasar, ia membeli oleh-oleh sangat banyak. Untuk anak, untuk ponakannya, untuk saudaranya dan entah untuk siapa lagi. Ia juga membeli tikar permadani dua buah. Melihat hal itu aku kaget dan aku berusaha untuk melarangnya karena terlalu berat dan barang itu juga banyak dijual di Bukittingi. Namun, ia tidak mengindahkan laranganku. Katanya ia sudah berniat membelikan tikar itu untuk kedua putrinya.









Discussion about this post