Tanggal 8 Zulhijjah rombongan sudah bersiap untuk berangkat ke Arafah, kondisi Ibu Rohana juga masih sakit sehingga ia berangkat ke Arafah dengan ambulan. Tidak sah haji seseorang jika di hari Arafah, 9 Zulhijjah ia tidak berada di Arafah. Oleh itu, pemerintah Arab Saudi membawa jamaah yang sakit ke Arafah dengan ambulan yang disebut dengan safari wukuf. Semua rangkaian kegiatan haji, seperti mabit di Muzdhalifah, melontar jamarat di Mina dilakukan Bu Rohana dengan bantuan petugas. Kembali ke Mekah untuk Tawaf Ifadah juga dalam bantuan petugas.
Selesai Tawaf Ifaddah, kondisi kesehatannya sedikit membaik sehingga Bu Rohana bisa duduk bersama kami di pelataran Ka’bah. Ia mengatakan baru pertama kali melihat Ka’bah dari dekat padahal kami telah hampir sebulan berada di Mekah. Setiap waktu salat berjemaah di Masjidil Haram dan di depan Ka’bah. Karena kesehatannya yang tidak baik ia tidak bisa beribadah dengan sempurna. Ia tidak ikut pergi berziarah, ke bukit Uhud, Jabal Nur, dan Jabal Rahmah. Ia juga belum pernah melaksanakan salat dan berdoa di Multazam dan Hijjir Ismail. Namun anehnya, ia tidak menyesal dengan kondisi itu karena yang penting baginya adalah ia sekarang sudah bergelar haji dan orang kampung akan memanggilnya dengan sebutan Etek Aji Rohana.
Aku tercengang dengan penuturannya itu lalu bertanya untuk apa Ibu Rohana ke Mekah? Dengan sumringah ia mengatakan bahwa yang terpenting ia dipanggil dengan sebutan Haji Rohana. Seperti kebanyakan orang di kampungku, panggilan haji itu menjadi sebutan kebanggaan dan merasa status sosialnya terangkat. Jadi, bukan nilai-nilai ibadah yang diinginkan, tapi adalah gelar haji yang membanggakan.
Astagfirullah al Aaziim, spontan aku beristigfar dan kemudian berucap.
“Bu Rohana, minta ampunlah pada Sang Pencipta di depan Ka’bah ini. Bukan gelar haji yang dicari ke Mekah, tapi kita diwajibkan menunaikan rukun Islam yang kelima, sesuai perintah Allah. Ketika manasik haji sudah dijelaskan oleh para penceramah tujuan kita naik haji”.
“He he, iya. Sama saja. Dalam hati, aku sudah berniat untuk menunaikan rukun Islam kelima dan sekarang kita sudah sampai di Mekah dan beberapa hari lagi kita akan pulang” dengan ringan ia menjawab pernyataanku.
Aku geleng-geleng kepala mendengar pernyataannya. Dalam batin aku bertanya, sesederhana itukah tujuan Bu Rohana ke Mekah untuk menunaikan ibadah haji? Mungkin karena itu pulalah, ia sama sekali tidak merasa sedih tidak bisa beribadah dengan baik. Lama aku tercenung dan kemudian bertanya,
“ Siapa yang membiayai ongkos naik haji Ibu?”
“Ya, aku sendiri, aku yang berusaha mengumpulkan uang. Setiap hari aku berjualan bensin di Simpang. Ku sisihkan beberapa ribu rupiah untuk ongkos naik haji. Aku ingin sekali dihormati orang seperti Haji Sima, tetanggaku. Karena ia seorang haji, ia sangat dihormati oleh masyarakat dan selalu menjadi buah bibir di kampungku. Untuk itu, aku ingin juga dipanggil ibu haji karena selama ini orang kampung memanggil diriku dengan panggilan Etek Bensin. Aku bekerja keras dengan segala cara. Aku berusaha memperoleh laba yang banyak dan kutabung sehingga sekarang aku bisa naik haji”.









Discussion about this post