Selasa, 17/2/26 | 20:36 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI CERPEN

Setetes Air dalam Bensin

Minggu, 30/6/24 | 09:10 WIB

Ketika itulah aku melihat seorang ibu setengah baya  yang makan sambil  bercerita pada ibu yang duduk di sebelahnya. Makan sambil bicara  dan tertawa-tawa membuat ia tidak sadar kalau garpunya jatuh mengenai kakiku.  Melihat hal itu, aku ambil garpunya dan kemudian kuserahkan pada pemiliknya sambil  bertanya ibu itu tergabung pada regu berapa. Ia menjawab kalau ia anggota regu sepuluh. Ibu itu bernama Rohana dan teman di sebelahnya bernama ibu Asma. Kedua ibu itu ternyata satu regu denganku dan kampung kami pun bersebelahan. Namun, aku tidak mengenalnya karena aku tidak ikut  manasik di tempat aku mendaftar, yakni di Bukittinggi.  Aku manasik di Padang karena aku berdomisili dan bekerja di Padang. Untuk itu, aku memperkenalkan diri sebagai anggota regu sepuluh. Kami berbincang dengan akrab.

Sekitar delapan jam mengudara, pesawat kami mendarat di Bandara King Abdul Aziz, jamaah turun dengan tertib. Walaupun dalam kondisi lelah, kami tetap harus  menjalani serangkai pemeriksaan surat menyurat, bawaan, termasuk makanan. Setelah itu, kami naik bis menuju Kota Madinah. Sampai di Madinah, kami langsung diantar ke pemondokan. Setelah makan dan beristirahat sebentar, kami langsung melakukan salat zuhur, salat Arbain pertama di Masjid Nabawi, masjid yang sekaligus tempat makam Rasullullah SAW.

Setelah salat asar di Nabawi, aku dan kedua adikku serta ketua regu  pergi ke pasar untuk membeli barang-barang  keperluan memasak, seperti kompor, wajan, dan minyak tanah. Sementara itu, beras dan bahan lauk-pauk sudah kami bawa dari tanah air. Sore itu, kami hanya memasak nasi. Sebelum magrib, regu kami telah selesai makan dan kami bersiap untuk pergi Masjid Nabawi menunaikan salat magrib dan isya.

Esoknya, kami menjalani rutinitas ibadah yakni salat arbain di Nabawi dan sekaligus ke Raudah, kuburan Rasullullah SAW. Air mata ini tidak tertahan mengenang perjuangan nabi Allah dalam mengembangkan agama Allah. Isak tangis terdengar nyaring, bahkan ada orang yang menangis berteriak-teriak menyebut nama Rasullullah SAW. Sungguh suatu pemandangan yang mengharukan.

BACAJUGA

Cerpen Lelaki Tampan yang Membawaku Pergi

Cerpen Lelaki Tampan yang Membawaku Pergi

Minggu, 20/10/24 | 16:56 WIB
Luka Hati

Luka Hati

Minggu, 28/7/24 | 09:37 WIB
Halaman 2 dari 7
Prev123...7Next
Tags: #Armini Arbain
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Istilah “Magrib” dan “Orang Gila Mana” di Media Sosial

Berita Sesudah

Twenty-Four Eyes: Kehangatan dan Kepiluan dalam Satu Cerita

Berita Terkait

Cahaya dari Surau Tuo

Minggu, 11/1/26 | 22:10 WIB

Sumber: GeminiAI Cerpen: Rivana Dwi Puti* Dari balik buaian terkunci terdengar suara ayam memecah kesunyian panjang, seolah membangunkan seisi surau...

Kayu-Kayu yang Datang Bersama Air

Kayu-Kayu yang Datang Bersama Air

Minggu, 21/12/25 | 09:58 WIB

Gambar: Meta AI Cerpen: Putri Rahma Yanti   Aku bukan anak Sumatera Barat. Aku datang ke tanah ini membawa koper,...

Batu dan Zaman

Batu dan Zaman

Senin, 15/12/25 | 06:55 WIB

  Gambar dibuat dengan Meta AI Cerpen: Hasbi Witir   Di sebuah lorong yang bising dan pengap dengan bau yang...

Cerpen Lelaki Tampan yang Membawaku Pergi

Cerpen Lelaki Tampan yang Membawaku Pergi

Minggu, 20/10/24 | 16:56 WIB

Cerpen: Armini Arbain Senja turun dengan cepat dan azan magrib pun berkumandang dengan merdunya. Seperti biasa aku bergegas mengambil Alquran,...

Luka Hati

Luka Hati

Minggu, 28/7/24 | 09:37 WIB

Oleh: Armini Arbain*   Baru saja aku duduk melepas lelah setelah memberi penyegar pada wajah seorang ibu yang facial, Hp-ku...

Diriku dan Keterlambatan

Minggu, 16/4/23 | 12:12 WIB

Cerpen: Ibnu Naufal   Aku tak mengerti terkadang dengan diriku sendiri. Diri yang begitu unik dan istimewa, menuntut untuk diperlakukan istimewa oleh...

Berita Sesudah
Sebagian Tidak Suka Orang yang Banyak Cerita

Twenty-Four Eyes: Kehangatan dan Kepiluan dalam Satu Cerita

Discussion about this post

POPULER

  • Nilai-Nilai Religius pada Karya Andreas Gryphius

    Membaca Cerpen “Robohnya Surau Kami” dari Perspektif Psikoanalisis

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pemerintah Tetapkan 1 Ramadan 1447 H Jatuh pada 19 Februari 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Oleh sebab itu, Oleh karena itu, atau Maka dari Itu?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cerpen “Pulanglah, Bujang” Karya Hasbunallah Haris dan Ulasannya oleh Azwar Sutan Malaka

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Susunan Lengkap DPW PKB Sumbar 2026–2031, Firdaus Bidik Penguatan Kader Muda dan Perempuan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Perbedaan Kata “kepada”, “untuk”, dan “bagi”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kata Penghubung dan, serta, dan Tanda Baca Koma (,)

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2024

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2024