
Aku suka bahasa Indonesia. Ini adalah salah satu contoh ungkapan suka yang sering terdengar di dalam kehidupan sehari-hari. Contoh lainnya seperti: aku suka warna hitam, aku suka alpukat, aku suka hari Minggu, aku suka dia, dan aku suka hujan. Pada umumnya, ketika ada yang bertanya apa makna kata suka, kita cenderung fokus pada penggunaan kata suka yang terdapat dalam konteks kalimat-kalimat tersebut. Suka berarti adanya ketertarikan terhadap suatu hal.
Dalam level perasaan, kata suka berbeda dengan kata sayang dan cinta. Hal ini tidak berdasarkan aturan yang dibuat secara keilmuan, tetapi masyarakat Indonesia seolah memiliki kesepakatan untuk menentukan level atau tingkat rasa kasih di antara tiga kata tersebut. Kata suka untuk cakupan konteks ketertarikan atau kasih berada paling bawah. Artinya, rasa suka masih sebatas ketertarikan biasa, simpati, atau kagum. Kata sayang berada di atas kata suka. Rasa ketertarikan dan kasihnya lebih dalam daripada rasa suka yang masih di batas permukaan saja. Akan tetapi, level teratas atau puncak dari kata suka, adalah kata cinta. Kata cinta dianggap lebih spesial karena cakupan penggunaannya tidak seluas kata sayang. Akan tetapi, konteks level ini hanya bisa ditujukan kepada makhluk hidup.
Dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia, kata sayang bisa digunakan untuk pasangan, seluruh anggota keluarga (bahkan keluarga besar), teman, sahabat, binatang peliharaan, dan sebagainya. Bagi kita orang Indonesia, kata sayang cukup lazim ditujukan kepada ayah, ibu, kakak, adik, kakek, nenek, guru, murid, sahabat, kucing, dan sebagainya. Kata cinta juga tidak jauh berbeda dengan kata sayang. Akan tetapi, jika ditujukan kepada makhluk hidup, kata cinta memiliki level yang sedikit lebih tinggi daripada kata sayang. Oleh sebab itu, kata cinta cenderung digunakan untuk pasangan atau seseorang yang benar-benar mendapatkan rasa kasih dari orang lain. Kata cinta seolah suatu predikat yang diberikan kepada makhluk yang benar-benar spesial. Akan tetapi, ketika kata suka, sayang, dan cinta ditujukan kepada sesuatu yang bukan makhluk hidup, penggunaannya menjadi berbeda.
Kata suka dan cinta bisa ditujukan kepada nomina (kata benda) yang bukan makhluk hidup, sedangkan kata sayang tidak demikian. Kita bisa mengatakan ‘Dia sangat menyukai pekerjaannya’ atau ‘Dia sangat mencintai pekerjaannya’, tetapi tidak bisa mengatakan ‘Dia sangat menyayangi pekerjaannya’. Hal ini disebabkan cakupan kata sayang hanya ditujukan untuk makhluk hidup. Dengan demikian, kita bisa melihat jelas tingkat perbedaan kata suka dan cinta yang dilekatkan pada nomina lain (bukan makhluk hidup). Kita bisa merasakan perbedaan tingkat rasa kasih pada kalimat ‘Dia sangat menyukai pekerjaannya’ dengan ‘Dia sangat mencintai pekerjaannya’.
Beralih dari konteks di atas, kata suka ternyata memiliki cakupan yang lebih luas lagi daripada kata cinta. Dengan demikian, maknanya pun akan menjadi berbeda. Kita bisa memperhatikan kalimat-kalimat berikut:
- Dia suka mendengar musik pada malam hari.
- Dia suka melakukan semua kegiatan yang berkaitan dengan kemanusiaan.
- Dia suka bermain badminton dengan anak-anaknya.
- Dia sangat suka berbelanja.
Kata suka yang terdapat di dalam empat kalimat tersebut tidak bisa diganti dengan kata cinta. Jika levelnya ditambah, kita hanya bisa memberi kata sangat, amat, atau sekali (sangat suka, amat suka, suka sekali). Mengapa kata suka tidak bisa diganti dengan kata cinta? Karena kata suka pada kalimat-kalimat tersebut bermakna ‘gemar’ atau ‘senang’. Oleh sebab itu, setelah kata suka, kita bisa menambah kelas kata verba (kata kerja) seperti mendengar, melakukan, bermain, dan berbelanja. Namun demikian, pada konteks ini, penggunaan kata suka tidak sama dengan menyukai, meskipun keduanya tergolong dalam kelas kata verba.
Sejatinya, kata menyukai (me- + suka + -i) memiliki awalan me- sebagai penanda kalimat aktif transitif (membutuhkan objek) dan akhiran –i yang menjadikannya bermakna ‘tertuju’, ‘mengarah’, ‘kepada’, ‘dari’, atau ‘dengan’. Oleh sebab itu, verba dengan kata menyukai akan diikuti oleh objek yang bisa diisi oleh nomina (kata kerja) dan pronomina (kata ganti orang atau benda). Berikut ini adalah contoh kalimatnya:
- Saya menyukai dia.
- Saya menyukai pekerjaan saya.
- Dia sangat menyukai warna jilbab itu.
Salah satu makna imbuhan me-i adalah mengubah nomina yang diawali preposisi menjadi objek, seperti:
- Laki-laki itu mendekat kepada perempuan itu (Laki-laki itu mendekati perempuan itu).
- Dia menjauh dari teman-temannya (Dia menjauhi teman-temannya).
- Kami akan berkunjung ke rumah kerabat ayah (Kami akan mengunjungi rumah kerabat ayah).
- Semua orang tidak bisa masuk ke dalam ruangan itu (Semua orang tidak bisa memasuki ruangan itu).
Hal ini juga terjadi dengan kata-kata yang berkaitan dengan perasaan, termasuk kata suka. Berikut ini adalah contoh-contoh kalimatnya:
- Dia sangat hormat kepada gurunya (Dia sangat menghormati gurunya).
- Dia sangat sayang kepada anaknya (Dia sangat menyayangi anaknya).
- Dia sangat cinta kepada anaknya (Dia sangat mencintai anaknya).
- Dia sangat suka kepada penyanyi itu (Dia sangat menyukai penyanyi itu).
Dari pemaparan ini, kita bisa menarik kesimpulan bahwa kata suka dan menyukai bisa digunakan dalam konteks kalimat yang hampir mirip seperti contoh 4. Terlebih lagi, dalam percakapan sehari-hari masyarakat Indonesia, ada banyak kata yang sering dihilangkan jika makna kata itu sudah diwakili oleh konteks keseluruhannya. Berikut adalah contohnya:
- Dia sangat suka kepada penyanyi itu (Dia suka penyanyi itu).
- Dia sangat suka kepada orang-orang yang sering membantu orang lain (Dia sangat suka orang-orang yang sering membantu orang lain).
Namun, jika kata suka diikuti oleh verba lain (bukan nomina), maknanya sudah berbeda dengan kata menyukai. Makna kata suka menjadi ‘gemar’ atau ‘senang’ seperti yang telah diuraikan sebelumnya. Inilah yang kemudian membedakannya dengan kata menyukai karena kata menyukai tidak bisa diikuti oleh verba. Kita sering mendengar istilah suka membaca, tetapi tidak bisa menerima ungkapan menyukai membaca. Hal ini disebabkan kata suka dalam konteks ini tidak lagi sama dengan makna menyukai.
Luasnya makna kata suka tidak hanya sebatas itu. Kata suka juga bermakna ‘sering’ atau ‘acapkali’. Di satu sisi, makna kata ‘sering’ atau ‘acapkali’ dan ‘gemar’ atau ‘senang’ bisa menjadi saling dukung, seperti:
- Dia suka bernyanyi saat mandi (maknanya bisa jadi ‘gemar bernyanyi’ sehingga ‘sering’ melakukannya).
- Dia sangat suka bekerja (bisa jadi ‘senang bekerja’. Oleh karena itu, menjadi ‘sering’ melakukannya).
Kata suka tersebut jika dikaitkan dengan konteks negatif, maknanya sangat jauh berbeda dengan kata ‘gemar’ atau ‘senang’, seperti dalam kalimat-kalimat berikut:
- Tolong ingatkan ayah untuk matikan kompor ya. Ayah suka lupa.
- Kalau cuaca panas begini, saya suka sakit kepala.
- Saya tidak suka Suasana hatinya suka berubah.
- Barang-barang merek ini memang suka rusak.
Kata suka di dalam empat kalimat ini hanya bermakna ‘sering’ atau ‘acapkali’ tetapi tidak ada kaitannya dengan ketertarikan atau kegemaran terhadap sesuatu.
Selain dalam tuturan-tuturan tersebut, kata suka juga sering digabungkan dengan kata lain menjadi satu kesatuan seperti suka duka dan sukacita. Frasa suka duka adalah gabungan dua kata yang maknanya berlawanan. Frasa ini memiliki makna situasi senang dan sedih, bahagia dan pilu. Frasa suka duka sering digunakan untuk menunjukkan dua sisi kehidupan yang seimbang. Berikut ini adalah contoh-contoh kalimat yang sering kita dengar:
- Banyak suka dukanya saat tinggal sendiri di negeri rantau.
- Dia selalu bersama saya dalam keadaan suka dan duka.
- Apa pun situasinya, suka duka, kita hadapi bersama.
- Ayah sering bercerita tentang suka duka masa kecilnya.
Jika frasa suka duka menunjukkan dua sisi kehidupan yang berbeda, ada lagi istilah sukacita. Penulisan istilah ini digabung menjadi satu (tanpa spasi). Di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata sukacita memiliki makna ‘suka hati; girang hati; kegirangan’. Apa perbedaannya dengan kata suka atau bahagia? Dalam hal ini, kata suka yang ditambah dengan kata hati (menjadi suka hati) termasuk dalam kelas kata adjektiva (kata sifat). Oleh sebab itu, kata suka, sukacita, dan bahagia menjadi kata-kata yang bersinonim sebagai adjektiva. Berikut ini adalah penjelasannya. Kata suka (adjektiva) dan bahagia adalah perasaan yang dirasakan seseorang dari atau dalam hatinya. Akan tetapi, kata sukacita mencakup suasana atau atmosfer yang disebabkan kebahagiaan hati. Berikut ini adalah contoh-contoh kalimatnya:
- Kedatangan penyanyi itu disambut masyarakat dengan sukacita.
- Semua masyarakat Indonesia bersukacita merayakan hari kemerdekaan Indonesia.
- Acara itu terlaksana dengan baik dan penuh sukacita.
Dari semua penjelasan ini, akhirnya kita menyadari bahwa kata suka tidak sesederhana yang kita bayangkan. Kata ini bisa berubah makna sesuai dengan konteks penggunaannya. Semoga penjelasan ini bisa membantu, mengapa kata suka juga digunakan dalam konteks negatif seperti suka pusing. Semoga bermanfaat.
Discussion about this post