Selasa, 03/11/26 | 22:07 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • BERITA
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS

Gubernur Mahyeldi Buka Gerakan Pasar Murah Cabe Merah Hanya Rp43 Ribu Perkilogram

Senin, 18/3/24 | 17:47 WIB

PADANG, SCIENTIA – Gubernur Sumatera Barat (Sumbar), Mahyeldi Ansharullah, membuka Gerakan Pangan Murah (GPM) Cabe Merah di Halaman Kompleks Kantor Gubernur Sumbar, Senin (18/03/2024).

Gubernur menegaskan, pihaknya akan terus mengawasi harga dan ketersediaan bahan pangan di pasaran.

“Alhamdulillah, hari ini melalui Dinas Pangan Provinsi, kita menggelar Gerakan Pangan Murah Cabe Merah yang beberapa waktu belakangan harganya melonjak cukup signifikan hingga menyentuh angka Rp120 ribu,” kata Gubernur.

Tapi harga di pasaran menurut Gubernur sudah mulai turun.

BACAJUGA

Hujan Lebat Mengintai Sumbar hingga 10 November, Lima Daerah Masuk Kategori Siaga

Hujan Lebat Mengintai Sumbar hingga 10 November, Lima Daerah Masuk Kategori Siaga

Senin, 02/11/26 | 22:11 WIB
Mengapa Perempuan Penyihir Dibunuh?

Setelah Gelas Kosong

Minggu, 01/11/26 | 15:51 WIB

“Gerakan ini adalah bentuk intervensi Pemprov Sumbar, agar kebutuhan masyarakat dapat terpenuhi dengan harga yang terjangkau,” ujar Gubernur dalam sambutannya.

Awalnya, Pemprov Sumbar berencana mematok harga cabe merah dalam gerakan pangan murah ini senilai Rp60 ribu perkiligram.

Akan tetapi pihak Bank Indonesia, Bank Nagari, dan Perbankan lainnya kembali memberikan subsidi.

Sehingga masyarakat bisa membawa pulang satu kilo cabe merah dengan harga Rp43 ribu perkilogram.

“Kita ucapkan terima kasih kepada BI, Bank Nagari, dan Perbankan lain yang ikut mendukung gerakan ini. Dengan bersama-sama, kita meyakini kebutuhan masyarakat selama Ramadhan dan Idulfithri nanti dapat terpenuhi dengan harga yang terjangkau,” ucap Gubernur lagi.

Gubernur menyebutkan, sebelumnya terjadi kenaikan harga cabe merah yang cukup signifikan karena beberapa sebab.

Di antaranya, kejadian erupsi Gunung Marapi yang mengganggu aktivitas pertanian cabe di Kabupaten Agam dan Tanah Datar, yang merupakan dua daerah penghasil cabe merah di Sumbar.

“Akibat kenaikan harga yang cukup tinggi, kita mencari sumber untuk disubsidikan, dan mendapatkan pasokan 2 ton cabe merah dari Jogja dan Jawa Tengah yang kita jual hari ini lewat Gerakan Pangan Murah,” kata Gubernur.

Selain itu, Gubernur memastikan cukupnya ketersediaan bahan pangan lain di Sumbar selama Ramadhan dan Idulfithri tahun ini.

Terutama sekali untuk komoditas beras, minyak goreng, tepung terigu, dan beberapa jenis kebutuhan pangan lainnya.

Bersama Bulog, Gubernur juga pastikan stok beras jenis SPHP kita sangat mencukupi, dengan harga yang lebih terjangkau.

Tetapi kualitas yang tak kalah bagusnya ketimbang beras premium yang selama ini dikonsumsi sebagian besar warga Sumbar.

“Kita akan terus mengecek ketersediaan bahan pangan, mengecek kestabilan harga, serta mengambil tindakan intervensi jika terjadi kenaikan harga signifikan atau kelangkaan barang,” ucap Gubernur menutup.

Warga Terbantu

Dalam kesempatan yang sama, Yanti (45) salah seorang warga Banuaran, Kota Padang yang ikut berbelanja dalam kegiatan GPM menyebut dirinya merasa sangat terbantu dengan adanya kegiatan pangan murah yang digelar Pemprov Sumbar.

Menurutnya, selain karena harganya jauh lebih murah, kualitas barangnya pun terjaga.

“Saat ini, harga cabe di pasar-pasar tradisional di Kota Padang masih berada di kisaran 50 – 53 ribu per kilogram. Tapi di Kantor Gubernur ini harga per kilo nya hanya 43 ribu rupiah, itu jauh lebih murah,” ujar Yanti.

“Seharusnya kegiatan semacam ini lebih sering digelar, agar masyarakat bisa terbantu. Apalagi pasca bencana yang melanda beberapa daerah di Sumbar,” tukuk Yanti

Khusus untuk komoditas jenis cabe keriting, Panitia GPM membatasi jumlah pembelian maksimal sebanyak 2 kg/orang.

Tujuannya, agar manfaat dari gelaran kegiatan ini dapat dirasakan oleh lebih banyak keluarga.

Meski pun demikian, tidak menyebabkan animo belanja masyarakat menjadi berkurang.

Terbukti, hingga pukul 15.00 WIB, seluruh persediaan bahan pangan ludes terjual. (adpsb/isq/bsn/cen)

ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Pemkab Dharmasraya Dukung Program Pendidikan Karakter Anak

Berita Sesudah

Gubernur Mahyeldi Sebut Perda Harus Memuat Kandungan Nilai Pancasila 

Berita Terkait

Hujan Lebat Mengintai Sumbar hingga 10 November, Lima Daerah Masuk Kategori Siaga

Hujan Lebat Mengintai Sumbar hingga 10 November, Lima Daerah Masuk Kategori Siaga

Senin, 02/11/26 | 22:11 WIB

Padang, Scientia — Ancaman hujan dengan intensitas sedang hingga lebat membayangi sejumlah wilayah di Sumatera Barat pada awal November 2026....

Mengapa Perempuan Penyihir Dibunuh?

Setelah Gelas Kosong

Minggu, 01/11/26 | 15:51 WIB

Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/Kolumnis Rubrik Renyah)   Saya kira wawancara selesai ketika kopi susu di gelas...

Makna Dibalik Puisi “Harapan” Karya Sapardi Tinjauan Semiotika

Paradoks Representasi Subaltern dalam Novel Saman

Minggu, 01/11/26 | 12:50 WIB

Oleh: Muhammad Zakwan Rizaldi (Mahasiswa Program Studi Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas dan Anggota UKMF Labor Penulisan Kreatif)...

Proses Eksperimen Unit 731 dalam Perspektif Sosiologi Sastra

Proses Eksperimen Unit 731 dalam Perspektif Sosiologi Sastra

Minggu, 01/11/26 | 12:42 WIB

Oleh: Tri Sutrisman (Mahasiswa Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas) Bagaimana jika sebuah laboratorium yang seharusnya digunakan untuk menyelamatkan...

Laut Bercerita: Ketika Cerita Beralih ke Layar

Laut Bercerita: Ketika Cerita Beralih ke Layar

Minggu, 01/11/26 | 12:26 WIB

Oleh: Rizky Amelya Furqan (Dosen Program Studi Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas) Matilah kau mati, kau akan lahir...

Mahyeldi: Guru Tak Boleh Menyeragamkan Kemampuan Siswa, Kenali Potensi Setiap Anak

Mahyeldi: Guru Tak Boleh Menyeragamkan Kemampuan Siswa, Kenali Potensi Setiap Anak

Minggu, 01/11/26 | 01:48 WIB

Padang Pariaman, Scientia — Keberhasilan pendidikan tidak semestinya diukur dari kemampuan seluruh peserta didik mencapai standar yang sama. Setiap anak...

Berita Sesudah

Gubernur Mahyeldi Sebut Perda Harus Memuat Kandungan Nilai Pancasila 

Discussion about this post

POPULER

  • Hujan Lebat Mengintai Sumbar hingga 10 November, Lima Daerah Masuk Kategori Siaga

    Hujan Lebat Mengintai Sumbar hingga 10 November, Lima Daerah Masuk Kategori Siaga

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Laut Bercerita: Ketika Cerita Beralih ke Layar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Paket Data Masih Aktif, Telkomsel Blokir Internet karena Tagihan Pulsa Darurat

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Apakah Kata “bapak” dan “ibu” Harus Ditulis dalam Huruf Kapital ?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cara Penulisan Gabungan Kata dalam bahasa Indonesia

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sumbang 12 untuk Puti Bungsu Minangkabau

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Tanda Titik pada Singkatan Nama Perusahaan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026