Selasa, 03/3/26 | 01:11 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home Unes

Ibu Rumah Tangga Bukan Beban

Minggu, 22/10/23 | 12:49 WIB
Sebagian Tidak Suka Orang yang Banyak Cerita

Lastry Monika
(Kolumnis Rubrik Renyah)

 

Suatu hari saya tercenung mendapati unggahan cerita di akun media sosial seorang teman yang berguyon bahwa dirinya hanyalah beban untuk suaminya. Ia berkata demikian karena dirinya berprofesi sebagai ibu rumah tangga dan suaminya yang bekerja. Profesi “ibu rumah tangga” ia pelesetkan menjadi “beban suami” dan diakhiri dengan emotikon tertawa pada unggahan cerita tersebut.

Saat ini, pemahaman serupa itu memang perlahan memudar. Akan tetapi, bagi sebagian orang tetaplah sama. Rupanya, pandangan para ekonom terhadap pekerjaan rumah tangga di tahun 1800 M itu masih langgeng meskipun 223 tahun telah berlalu.

BACAJUGA

Sebagian Tidak Suka Orang yang Banyak Cerita

Dari Lahan ke Lisan: Warisan yang (Tak Lagi) Disemai

Minggu, 01/3/26 | 21:43 WIB
Suatu Hari di Sekolah

Kampung, Cerita, dan Ingatan yang Tak Pernah Usang

Minggu, 08/2/26 | 15:36 WIB

Pekerjaan seperti mengasuh dan membesarkan anak, mencuci piring dan membersihkan rumah, memasak dan menyetrika yang dilakukan oleh ibu rumah tangga tidak menghasilkan sesuatu yang kasat mata. Hasil pekerjaan tersebut dipandang tidak memiliki nilai tukar yang bisa diperjualbelikan. Pada tahun 1800 M, aktivitas-aktivitas tersebut dianggap tidak memberi sumbangsih terhadap kemakmuran ekonomi.

Pekerjaan-pekerjaan rumah tangga diyakini menjadi milik perempuan secara alamiah. Sebagai makhluk yang baik, lembut, dan penuh kasih sayang, mereka seperti memang didesain untuk menjalankan pekerjaan tersebut.

Pada tahun 1950-an akhirnya cara pandang tersebut berubah, tetapi tak sepenuhnya membawa angin segar. Bila perempuan bekerja, mereka mendapat upah yang lebih sedikit dibanding pekerja laki-laki. Para ekonom di masa itu menganggap perbedaan ini wajar dan sangat layak. Perbedaan upah tersebut tidak terlepas dari peran perempuan dalam aktivitas domestik dan pengalaman reproduksi mereka.

Perempuan dianggap kurang produktif karena melahirkan membuat mereka jeda bekerja. Selain itu, mereka juga dianggap tidak akan dapat bekerja secara maksimal karena harus membagi energi untuk aktivitas domestik dan aktivitas di tempat kerja. Jerih payah perempuan pekerja bahkan dipandang tidak memungkinkan sebagaimana yang dilakukan pekerja laki-laki.

Lewat Siapa yang Memasak Makan Malam Adam Smith, Katrine Marcal menilai pandangan para ekonom di masa itu hanya berputar-putar dan diskriminatif. Perempuan diupah rendah karena ia tidak dapat mengerahkan tenaga sebanyak laki-laki (dalam bekerja) karena pekerjaan rumah tangga akan membuat mereka lelah. Di sisi lain, perempuan juga dianggap wajar melakukan pekerjaan rumah tangga karena mereka mendapat upah yang lebih kecil. Bukankah perputaran ini konyol sekali?

Bila muncul pertanyaan seperti, “Mengapa perempuan yang dianggap lebih cocok mengerjakan aktivitas rumah tangga?”, para ekonom di masa itu akan mengaitkannya dengan persoalan biologis. Menanggapi ini, Marcal menegaskan: “Tak ada apapun dalam biologi perempuan yang membuatnya lebih cocok untuk menggarap kerja rumah tangga tanpa bayaran.”

Unggahan cerita serupa yang dilakukan oleh teman saya bisa dibilang cukup sering ditemukan ketika pelesiran di media sosial. Dalam kehidupan sehari-hari pun demikian. Menjadi ibu rumah tangga bahkan dianggap “tidak ngapa-ngapaian, hanya di rumah”. Pernyataan ini ditemukan hari ini, bukan di tahun 1800 M.

Bila bekerja di luar, perempuan masih perlu berjuang untuk akses setara sebagai manusia ekonomi. Mereka masih perlu meyakinkan diri sendiri beserta orang lain bahwa faktor biologi seharusnya dianggap faktor biologi saja, tak ada kaitannya dengan kualitas diri saat bekerja. Bila perempuan memilih di rumah untuk menjadi ibu rumah tangga, ia pun masih perlu berjuang untuk tidak terjebak ke dalam pemikiran para ekonom 223 tahun yang lalu.

Pada prolog bukunya, Marcal mengatakan bahwa pernyataan perempuan mulai pergi bekerja pada tahun 1960-an itu keliru. Baginya perempuan sudah selalu bekerja. Hanya saja, pekerjaan mereka yang meliputi aktivitas rumah tangga di kala itu tidak dilihat atau dihitung memiliki nilai ekonomi.

Tags: #Lastry Monica
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Perbedaan antara Kata Genre dan Gender

Berita Sesudah

Puisi-puisi Karya Mohammad Rizky Patriotik dan Ulasannya oleh Azwar Sutan Malaka

Berita Terkait

Sebagian Tidak Suka Orang yang Banyak Cerita

Dari Lahan ke Lisan: Warisan yang (Tak Lagi) Disemai

Minggu, 01/3/26 | 21:43 WIB

Lastry Monika (Kolumnis Rubrik Renyah/Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand) Dalam beberapa minggu terakhir, saya berkunjung ke beberapa nagari untuk...

Suatu Hari di Sekolah

Kampung, Cerita, dan Ingatan yang Tak Pernah Usang

Minggu, 08/2/26 | 15:36 WIB

Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/Kolumnis Rubrik Renyah)   Kecamatan Gunuang Omeh, khususnya Nagari Talang Anau bukan tempat...

Senyuman Kecil dan Mendengar: Hal Kecil yang Berdampak Besar

Renyah: Bacaan Pelan untuk Hari yang Cepat

Minggu, 18/1/26 | 21:05 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah) Jika Renyah dapat dianalogikan, ia bukan ruang yang hadir dengan suara lantang atau pernyataan yang...

Lagu yang Tak Selesai-selesai

2026 dan Renyah yang Tetap Menyapa

Minggu, 04/1/26 | 23:10 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah)   Akhir tahun 2025 kita lewati dengan langkah yang lebih pelan. Bencana yang terjadi di...

Lagu yang Tak Selesai-selesai

Lengah di Tengah Jeda

Minggu, 21/12/25 | 20:08 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah)   Saat istirahat siang, saya sering lengah dengan waktu. Bukan karena terburu-buru seperti di pagi...

Lagu yang Tak Selesai-selesai

Ketika Waktu Tak Menunggu

Minggu, 07/12/25 | 22:22 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah)   Saya sering bangun tergesa, seolah pagi datang lebih cepat dari dugaan. Waktu terus berjalan...

Berita Sesudah
Puisi-puisi Karya Mohammad Rizky Patriotik dan Ulasannya oleh Azwar Sutan Malaka

Puisi-puisi Karya Mohammad Rizky Patriotik dan Ulasannya oleh Azwar Sutan Malaka

Discussion about this post

POPULER

  • Child Grooming sebagai Bentuk Frasa “Manipulasi Anak”

    Gerakan Sosial Baru pada Perang Kata-kata antara SEAblings dan Knetz

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Firdaus: Pengurus PMII Bukan Pengisi Struktur, Tapi Penggerak Perubahan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sumbang 12 untuk Puti Bungsu Minangkabau

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bale by BTN, Transaksi Cepat Tanpa Ribet

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • DPRD Sumbar Sebar 216 Tim Safari Ramadhan 1447 H, Salurkan Bantuan hingga Rp50 Juta per Masjid

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kebutuhan Darah Sumbar Capai 200 Kantong per Hari, Wakil Ketua DPRD Sumbar Ajak Semua Unsur Rutin Donor

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bahasa dan (Ber) Pikiran

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2024

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2024