Sabtu, 05/9/26 | 13:40 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • BERITA
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI KLINIK BAHASA

Perbedaan antara Kata Genre dan Gender

Minggu, 22/10/23 | 11:36 WIB
Oleh: Elly Delfia (Dosen Prodi Sastra Indonesia FIB Universitas Andalas)

Kata genre dan gender merupakan dua kata yang berawalan huruf g dan cukup sering digunakan dalam bidang linguistik, sastra, budaya, seni, sosiologi, antropologi, kajian feminis, film, dan sebagainya. Lalu seperti apa sebenarnya perbedaan dan persamaan kedua kata ini? Mari kita lihat pada uraian selanjutnya.

Kata genre diadopsi dari bahasa Prancis. Dalam Kamus Merriam-Webster dijelaskan bahwa kata genre dalam bahasa Prancis erat kaitannya dengan genus dalam bahasa Latin. Kata genre atau genus merujuk kepada segala sesuatu yang termasuk dalam kategori tertentu atau keluarga yang sama atau mempunyai asal-usul yang sama. Contoh genus dalam biologi adalah tuber rhizogenum atau umbi-umbian, seperti ketela pohon/singkong, ubi jalar/rambat, ubi talas/keladi, ubi kayu, garut, wortel, dan lobak.

Swales juga menyebut genre berasal dari kata genus dari bahasa Latin. Kata ini sudah lama digunakan dalam bidang sastra, seni, film, musik, retorika, dan folklore (Swales, 1990; Breure, 2001; Wiratno, 2018). Genre dalam bidang sastra mengacu pada jenis-jenis karya sastra, seperti puisi novel, cerpen dan naskah drama. Genre dalam retorika mengacu pada kategori retorika seperti deskripsi, narasi, eksposisi, dan argumentasi (Bawarshi & Rheiff, 2010: Wiratno, 2018). Genre dalam linguistik mengacu pada jenis-jenis teks yang berkaitan dengan konteks sosial budaya yang melatarbelakanginya, seperti teks jual beli, teks peraturan perundang-undangan, teks wawacancara, teks pidato, teks berita, dan lain-lainnya. Genre dalam linguistik dikembangkan oleh ahli lingusitik etnografi seperti Hymes (1972) dan ahli linguistik sistemik fungsional, seperti Malinowski dan Hasan (1985) serta Martin (1986, 1992).

Selain istilah genre, dalam bahasa Indonesia kita juga mengenal istilah gender.  Gender juga merupakan kata dari bahasa Prancis yang secara etimologi juga berasal dari bahasa Latin, yaitu genus. Kata genus juga diartikan dengan ‘tipe atau jenis’. Dari kata genus, kata gender mengalami perluasan makna dan juga digunakan dalam berbagai bidang, seperti dalam bidang linguistik, sosiologi, antropologi, budaya, film, sastra, kesehatan, kedokteran, dan sebagainya.

BACAJUGA

Memahami Kembali Imbuhan memper-

Perbedaan kata Pas, Cocok, Sesuai, dan Relevan

Minggu, 30/8/26 | 16:13 WIB
Kapitil, Kosakata Baru dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia

Psikologi Bahasa: Kompetisi dan Kolaborasi

Minggu, 16/8/26 | 22:38 WIB

Dalam bidang linguistik dikenal istilah gender gramatikal yang berarti perngelompokkan kata benda ke dalam kelompok maskulin, feminin, dan netral. Dalam bahasa yang sederhana gender mengacu kepada seks atau jenis kelamin. Dalam Kamus Merriam-Webster gender diartikan sebagai ciri-ciri perilaku, budaya, atau psikologis yang biasanya dikaitkan dengan satu jenis kelamin.

Gender juga didefinisikan sebagai semua hal yang dapat dipertukarkan antara sifat laki-laki dan perempuan dari waktu ke waktu, dari suatu tempat ke tempat lain, dan dari suatu kelas tertentu kepada kelas yang lain (Faqih, 1996; Affandi, 2019). Berkaitan dengan kehidupan sosial dan masyarakat, gender juga diartikan sebagai ketetapan masyarakat perihal penentuan seseorang laki-laki atau perempuan atau konsep gender adalah untuk mengidentifikasi tentang jenis kelamin seseorang, apakah dia laki-laki atau perempuan berdasarkan pengaruh sosial budaya atau bentuk rekayasa masyarakat (social contruction) dan bukan dalam bentuk kondrati (Lindsay dalam Umar, 1999; Affandi, 2019). Dari kata gender muncul istilah-istilah yang berkolokasi dengan kata tersebut, seperti gender differences (perbedaan gender), gender equality (kesetaraan gender), gender surgery (operasi pergantian kelamin), gender relations (relasi gender), gender identity (identitas gender), gender bias (bias gender), dan lain-lain.

Istilah gender memiliki sejarah yang panjang. Pada abad ke-14 dan ke-15 istilah gender diperluas pengertiannya menjadi jenis kelamin yang merujuk pada salah satu dari dua bentuk biologis utama suatu spesies, yaitu jenis kelamin laki-laki dan jenis kelamin perempuan. Pada abad ke-20, gender baru diartikan sebagai ciri-ciri perilaku, budaya, atau psikologis yang biasanya dikaitkan dengan satu jenis kelamin seperti yang terdapat dalam Kamus Merriam-Webster.

Isu gender di Indonesia dimulai dengan perjuangan Kartini pada tahun 1908 dalam menyamakan hak antara laki-laki dan perempuan untuk memperoleh pendidikan. Perjuangan untuk menyamakan hak antara laki-laki dan perempuan itu dikenal dengan perjuangan kesetaraan gender (gender equality). Isu seputar kesetaraaan dan ketidaksetaraan gender (gender anequality) selalu menjadi topik yang hangat dibicarakan hingga saat ini, baik di Indonesia dan di berbagai belahan dunia yang lain. Hal itu disebabkan oleh masih banyaknya ketidakadilan dan tindakan diskriminasi yang diperoleh oleh perempuan dalam berbagai hal.

Jadi, secara umum baik genre maupun gender memiliki kesamaan arti yang mengacu pada jenis, kategori, klasifikasi, dan pengelompokkan segala sesuatu. Hanya saja genre mengacu pada jenis segala sesuatu berdasarkan kesamaan sifat, ciri-ciri, karakteristik, sedangkan gender mengacu pada pembagian jenis yang mengandung perbedaan, seperti perbedaan jenis kelamin.

Kemudian, ada satu hal yang unik dan menjadi pembeda antara kedua kata ini dalam bahasa Indonesia, yaitu soal pelafalan atau pengucapan. Genre dalam bahasa Indonesia dibaca atau dilafalkan dengan huruf g, yaitu [genre], sedangkan gender dalam bahasa Indonesia cenderung diucapkan atau dilafalkan dengan huruf j [jender]. Padahal, kedua kata ini sama-sama diawali dengan g dan secara etimologi berasal dari dua kata yang sama, yaitu genus dari bahasa Latin. Namun, kedua kata ini diperlakukan berbeda oleh masyarakat Indonesia dari segi pelafalan. Pelafalan genre sudah mengacu pada kaidah bahasa Indonesia yang benar dan pelafalan gender masih terpengaruh oleh pelafalan huruf g yang dibaca sebagai j dalam bahasa Inggris. Perbedaan pelafalan tersebut dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia ditegaskan oleh keterangan bahwa bentuk jender adalah bentuk yang tidak  baku. Artinya terjadi ketidakkonsistenan dalam pelafalan dua kata yang diawali dengan huruf yang sama pada penutur bahasa Indonesia.

Tags: #Elly Delfia
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Mari Lindungi Binatang karena Binatang Punya Hak Asasi

Berita Sesudah

Ibu Rumah Tangga Bukan Beban

Berita Terkait

Memahami Kembali Imbuhan memper-

Perbedaan kata Pas, Cocok, Sesuai, dan Relevan

Minggu, 30/8/26 | 16:13 WIB

Oleh: Reno Wulan Sari (Dosen Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing Busan University of Foreign Studies) Kata pas, cocok, sesuai, dan...

Kapitil, Kosakata Baru dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia

Psikologi Bahasa: Kompetisi dan Kolaborasi

Minggu, 16/8/26 | 22:38 WIB

Dr. Ria Febrina, S.S., M.Hum. (Dosen Prodi Sastra Indonesia dan S2 Linguistik FIB Universitas Andalas) Universitas Andalas baru saja menyambut...

Child Grooming sebagai Bentuk Frasa “Manipulasi Anak”

Tele- dalam Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan

Senin, 03/8/26 | 07:33 WIB

Oleh: Elly Delfia (Dosen Prodi Sastra Indonesia dan S2 Linguistik FIB Universitas Andalas) Kali ini, kita akan membahas bentuk terikat...

Kapitil, Kosakata Baru dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia

Dari Ejaan menjadi Humor Kritik

Senin, 27/7/26 | 05:28 WIB

Oleh: Dr. Ria Febrina, S.S., M.Hum. (Dosen Prodi Sastra Indonesia dan Linguistik FIB Universitas Andalas) Ada yang menarik dari konten...

Memahami Kembali Imbuhan memper-

Kata “sudah” dan “telah” Bentuk Lampau dalam Bahasa Asing Lainnya

Minggu, 19/7/26 | 21:01 WIB

Oleh: Reno Wulan Sari (Dosen Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing Busan University of Foreign Studies, Korea Selatan) Bahasa didefinisikan sebagai...

Child Grooming sebagai Bentuk Frasa “Manipulasi Anak”

Wacana Digital dan Dinamika Istilah dalam Bahasa Indonesia

Senin, 06/7/26 | 07:21 WIB

Oleh: Elly Delfia (Dosen Prodi Sastra Indonesia dan S2 Linguistik FIB Universitas Andalas) Dunia hari ini tidak lagi sekadar dibatasi...

Berita Sesudah
Sebagian Tidak Suka Orang yang Banyak Cerita

Ibu Rumah Tangga Bukan Beban

Discussion about this post

POPULER

  • Afrina Hanum

    Sumbang 12 untuk Puti Bungsu Minangkabau

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sosialisasi Mitigasi Bencana Hidrometeorologi di SMAN 9 Padang

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Perbedaan Kata Ganti Orang Ketiga “Beliau”, “Dia”, dan “Ia” dalam Bahasa Indonesia

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Apakah Kata “bapak” dan “ibu” Harus Ditulis dalam Huruf Kapital ?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Paket Data Masih Aktif, Telkomsel Blokir Internet karena Tagihan Pulsa Darurat

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pemko Padang Dukung Program Pertamina Goes to Campus 2026.

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Dampak Kecerdasan Buatan (AI) bagi Dunia Pendidikan di Indonesia

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026