Minggu, 12/4/26 | 00:25 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • BERITA
    • TERAS
    • EKONOMI
    • HUKUM
    • POLITIK
    • DAERAH
    • EDUKASI
    • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • BERITA
    • TERAS
    • EKONOMI
    • HUKUM
    • POLITIK
    • DAERAH
    • EDUKASI
    • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • BERITA
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home Unes

Princess Mononoke: Feminitas yang Liar dan Ganas

Minggu, 30/7/23 | 11:59 WIB

Lastry Monika
(Kolumnis Rubrik Renyah)

 

Tampaknya tidaklah keliru bila mengatakan film-film animasi Studio Ghibli didominasi oleh protagonis anak perempuan hingga perempuan muda. Sebut saja Only Yesterday, The Secret Life of Arrietty, The Cat Returns, Kiki’s Delivery Service, Princess Mononoke, dan masih banyak lagi film-film lainnya dengan protagonis seperti yang disebutkan.

Selain didominasi protagonis anak perempuan dan perempuan muda, film animasi Studio Ghibli juga menghadirkan sudut pandang yang tidak sederhana. Princess Mononoke misalnya, menghadirkan kepada pemirsa pemahaman yang lebih luas tentang pahlawan wanita dan tipe karakter yang tidak hanya hitam dan putih atau baik dan jahat. Film yang dirilis pada tahun 1997 itu juga menonjolkan karakter wanitanya dengan atribut yang lebih kompleks dari sekadar feminin yang lembut, lemah, dan penurut.

Setidaknya ada dua karakter perempuan yang menonjol dalam Princess Mononoke. Karakter tersebut ialah San dan Lady Eboshi. San tentu saja dapat disebut sebagai tokoh protagonis utama yang mewakili kepahlawanan perempuan. Di sisi lain ada Lady Eboshi dengan peran yang lebih kompleks antara antagonis dengan sisi kepahlawanannya.

BACAJUGA

Suatu Hari di Sekolah

Memahami yang Tersisa, Merawat yang Bertahan

Minggu, 05/4/26 | 19:25 WIB
Suatu Hari di Sekolah

Sastra Lisan dalam dunia Pertanian: Ingatan yang Bertahan di Lahan yang Berubah

Minggu, 29/3/26 | 18:35 WIB

Lady Eboshi adalah pemimpin yang tampil anggun dan berwibawa. Di awal kemunculannya dengan peluru besi yang menghancurkan dewa babi hutan, penonton mungkin saja memberi cap ‘penjahat’ kepada dirinya. Namun di antara kekuasaannya yang tampak ganas, Eboshi adalah penyelamat bagi orang-orang yang terpinggirkan dalam kehidupan sosial. Ia merawat para penderita kusta dan membasuh daging mereka yang membusuk. Ia juga membebaskan para perempuan dari rumah bordil dan mengembalikan kebebasan mereka di komunitas Tataraba yang dipimpin oleh Eboshi.

Selain Lady Eboshi dengan kekuasaan dan keanggunannya, hal yang sama juga terlihat pada San. Setelah pertempurannya dengan Eboshi, ia mundur kehutan dan di sana ia menghisap dan memuntahkan darah beracun dari tubuh Moro, ibu serigalanya. Melalui wajahnya yang berlumuran darah, tersirat perpaduan antara atribut feminin sekaligus sengit. Sisi kepahlawanan perempuan dalam Princess Mononoke tidak ditampilkan hanya melalui satu atribut dengan mengabaikan yang lain.

Feminitas dan kekuatan juga terlihat dalam diri Maro. Ia adalah roh gunung dalam bentuk serigala yang mengasuh dan membesarkan San. Serigala di sini tidak hadir sebagai hewan buas ganas yang memangsa, melainkan melindungi. Ia melindungi hutannya, ia melindungi kedua anaknya, ia melindungi San meskipun sewaktu kecil ia diserahkan oleh orang tuanya untuk dimangsa.

Di salah satu adegan, San yang mencoba menghentikan kemarahan Okkoto justru terbenam dalam tubuh dewa babi hutan tersebut. Di sinilah Moro membentak agar putrinya dikembalikan dengan berusaha menyelamatkan San. Ia membenamkan moncongnya pada tubuh Okkoto untuk menyeret San dari tubuh dewa babi hutan yang telah busuk dan beringas itu. Sebuah adegan yang menampilkan naluri keibuan yang ganas, sebab menyelamatkan San dari Okkoto sama artinya dengan menyongsong racun untuk dirinya sendiri.

Sebagaimana kerumitan untuk menilai karakter protagonis dan antagonis, akhir dari kisah animasi ini juga tidak memberikan kemenangan untuk protagonis dan kekalahan untuk antagonis.

Lady Eboshi yang sempat ditampilkan begitu ambisius mengeksploitasi hutan untuk kekuasaan dan komunitasnya, tidak dilenyapkan dan tidak dijatuhkan. Ia hanya kehilangan lengannya yang menandakan keterbatasannya untuk mengeksploitasi hutan lebih lanjut. Kemudian, yang lebih penting dari itu ialah kesadarannya atas ambisi kekuasaan yang salah arah. Pada akhir cerita yang tampak baru dimulai ini, Lady Eboshi berjanji mengarahkan kekuasaannya untuk membangun desa yang berdampingan dengan alam dan makhluk liar lainnya.

Tags: #Lastry Monica
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Puisi-puisi Yudi Muchtar dan Ulasannya oleh Ragdi F. Daye

Berita Sesudah

Menyusuri Makna Frasa Negasi “Tidak Tahu-Menahu”

Berita Terkait

Suatu Hari di Sekolah

Memahami yang Tersisa, Merawat yang Bertahan

Minggu, 05/4/26 | 19:25 WIB

  Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/Kolumis Rubrik Renyah)   Tulisan sebelumnya mungkin berhenti pada satu kesan: bahwa...

Suatu Hari di Sekolah

Sastra Lisan dalam dunia Pertanian: Ingatan yang Bertahan di Lahan yang Berubah

Minggu, 29/3/26 | 18:35 WIB

Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/ Kolumnis Rubrik Renyah)   Setiap kali pulang dari kegiatan pengambilan dan perekaman...

Suatu Hari di Sekolah

Menjelang Kemenangan: Catatan Kecil tentang Sabar

Minggu, 15/3/26 | 13:29 WIB

Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/Kolumnis Rubrik Renyah)   Ada satu hal yang selalu saya rasakan setiap kali...

Sebagian Tidak Suka Orang yang Banyak Cerita

Tenang, Kita Selesaikan Satu-Satu

Minggu, 08/3/26 | 22:59 WIB

Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/Kolumnis Rubrik Renyah)   Suatu hari, dalam sebuah percakapan santai, saya tiba-tiba terpikir...

Sebagian Tidak Suka Orang yang Banyak Cerita

Dari Lahan ke Lisan: Warisan yang (Tak Lagi) Disemai

Minggu, 01/3/26 | 21:43 WIB

Lastry Monika (Kolumnis Rubrik Renyah/Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand) Dalam beberapa minggu terakhir, saya berkunjung ke beberapa nagari untuk...

Suatu Hari di Sekolah

Kampung, Cerita, dan Ingatan yang Tak Pernah Usang

Minggu, 08/2/26 | 15:36 WIB

Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/Kolumnis Rubrik Renyah)   Kecamatan Gunuang Omeh, khususnya Nagari Talang Anau bukan tempat...

Berita Sesudah
Fungsi Bahasa dalam Kehidupan Sosial

Menyusuri Makna Frasa Negasi “Tidak Tahu-Menahu”

Discussion about this post

POPULER

  • Afrina Hanum

    Sumbang 12 untuk Puti Bungsu Minangkabau

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sidak Disiplin di Polres Dharmasraya, Bid Propam Periksa Senpi hingga Tes Urine

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bebas Titipan! 114 Calon Paskibraka Dharmasraya Lolos Seleksi Sistem CAT

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Damai di Alahan Panjang: Dari Luka Menuju Badunsanak

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sistem CAT Jamin Seleksi Paskibraka Dharmasraya 2026 Bebas Titip-Menitip

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Analisis Unsur Intrinsik Naskah Drama “Orang-Orang di Tikungan Jalan” Karya Rendra

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Audensi ke Kemenag, GP Ansor Dharmasraya Bahas Maraknya Isu LGBT di Sumbar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • BERITA
    • TERAS
    • EKONOMI
    • HUKUM
    • POLITIK
    • DAERAH
    • EDUKASI
    • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026