Senin, 23/2/26 | 00:50 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI ARTIKEL

Kemasan Pintar sebagai Solusi Masalah Sampah Makanan

Minggu, 23/7/23 | 07:00 WIB

Oleh: Fadli Hafizulhaq
(Dosen Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Andalas dan Ketua FLP Sumbar)

 

Saat menemani istri belanja ikan di pasar atau di toko, saya seringkali berpikir apakah ikan tersebut baru atau tidak. Tidak semata soal kesegarannya ketika dimasak, kami yang hanya hidup berdua hampir selalu memasak ikan tersebut sedikit demi sedikit. Kebiasaan itu membuat kami kerap “mengawetkan” ikan dengan membekukannya di dalam lemari pendingin. Oleh karena itu, akan lebih baik jika kami membeli ikan segar agar umur simpannya lama.

BACAJUGA

Menyoal Bioplastik dan Klaim Ramah Lingkungannya

Teknik Pemanenan Buah dan Potensi Kerugian Petani

Minggu, 06/8/23 | 07:56 WIB
Menyoal Bioplastik dan Klaim Ramah Lingkungannya

Kantong Plastik dan Transformasinya

Minggu, 30/7/23 | 07:00 WIB

Permasalahan di atas barangkali juga dihadapi oleh pembaca dan sebagian masyarakat kita. Pun ketika kita sering mengecek kondisi ikan, atau bahan makanan mentah lainnya, di dalam tempat penyimpanan, belum tentu juga kita jeli menentukan mana yang masih layak dikonsumsi dan mana yang tidak. Hal tersebut tidak jarang berujung pada terbuangnya bahan makanan sehingga menjadi limbah atau sampah makanan (food waste).

Dikutip dari laman Bappenas, total sampah makanan Indonesia pada periode 2000-2019 mencapai 23-48 juta ton per tahun. Jika dihitung secara ekonomis, total kerugian yang ditimbulkan mencapai 214-551 triliun rupiah per tahunnya. Jumlah tersebut setara dengan 4-5 persen Pendapatan Domestik Bruto (PDB). Mirisnya tidak hanya di Indonesia, masalah yang sama juga terjadi di hampir seluruh belahan dunia.

Kondisi tersebut mendorong peneliti untuk mengembangkan teknologi pangan yang dapat mengatasinya. Salah satu buah kerja keras para ilmuwan adalah hadirnya produk kemasan pintar. Kata “pintar” pada namanya tentu bukanlah sebuah gimik, produk teknologi tersebut memang mampu memberitahu pengguna tentang tingkat kesegaran dan keamanan suatu bahan makanan.

Kuswandi, dkk. (2011) dalam tulisannya “Smart packaging: sensors for monitoring of food quality and safety” mendefinisikan kemasan pintar sebagai kemasan yang dapat “berkomunikasi” dengan pengguna. Kemasan pintar memberikan informasi dari produk yang dibungkusnya, meliputi keamanan dan kualitas produk. Umumnya kemasan pintar menggunakan sensor khusus sesuai dengan parameter yang ingin diamati. Jenis sensor ini beragam, mulai dari biosensor, sensor kimia, hingga sensor berbasis frekuensi radio.

Lebih lanjut, bagian pintar dari sebuah kemasan tidak harus secara menyeluruh. Pengaplikasian “kepintaran” pada kemasan pintar dewasa ini seringkali dilakukan melalui label yang berfungsi sebagai sensor. Sebagai contoh label indikator pH yang digunakan untuk mendeteksi kesegaran bahan mentah seperti ikan dan daging.

Indikator pH dikembangkan dengan menggunakan pewarna khusus yang dapat berubah sesuai pH dari bahan makanan. Pada umumnya, ikan yang segar memiliki pH netral atau sekitar 7. Label indikator tadi akan berubah warna jika pH sudah jauh di atas atau di bawah 7 sehingga memberikan informasi bahwa bahan tersebut sudah tidak segar dan tidak aman untuk dikonsumsi. Selain untuk ikan dan daging, kemasan pintar juga dapat diterapkan pada produk makanan seperti buah hingga susu.

Sobhan, dkk. (2022) dalam tulisannya “A biopolymer-based pH indicator film for visually monitoring beef and fish spoilage” yang dipublikasi di Jurnal Food Bioscience menilai bahwa kemasan pintar adalah kunci dalam mereduksi atau meminimalkan sampah makanan jika dipersiapkan dengan benar. Pernyataan tersebut tentu juga selaras dengan tren pembangunan berkelanjutan di dunia saat ini. Sampah makanan adalah masalah lingkungan yang serius, tidak hanya mengotori tetapi juga memicu percepatan pemanasan global.

Uraian di atas mengindikasikan bahwa kemasan pintar adalah “bisnis” yang potensial di era ini. Berbagai perusahaan di Amerika, Eropa hingga Selandia Baru telah mengembangkan dan menjual produk kemasan pintar mereka. Indonesia, sebagai salah satu penghasil sampah makanan terbesar di dunia, hendaknya mengikuti langkah tersebut. Kabar baiknya, para peneliti di Indonesia sudah mulai banyak yang mengembangkan kemasan pintar ini. Masyarakat tinggal menunggu produk hasil penelitian mereka dihilirisasi.

Sebagai penutup, kemasan pintar memang terobosan teknologi pangan yang dibutuhkan dalam mengatasi permasalahan sampah makanan di dunia saat ini. Namun, sebagaimana perangkat “pintar” lainnya, fungsionalitas dan dampaknya sangat tergantung pada penggunanya. Kemasan pintar dapat menekan jumlah sampah makanan jika dan hanya jika pengguna menggunakan kepintarannya untuk bijak memperlakukan makanan dan memperhatikan lingkungan.[]

Tags: Fadli Hafizulhaq
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Antara Pariangan di Lereng Marapi dan Kaliurang di Lereng Merapi

Berita Sesudah

Anak Hebat di Negara yang Bersih dari Kekerasan Seksual

Berita Terkait

Abreviasi pada Perjanjian Kinerja Damkar Kabupaten Bengkalis

Abreviasi pada Perjanjian Kinerja Damkar Kabupaten Bengkalis

Minggu, 22/2/26 | 20:10 WIB

Oleh: Muhammad Zakwan Rizaldi (Mahasiswa Prodi Sastra Indonesia FIB Universitas Andalas dan Anggota UKMF Labor Penulisan Kreatif) “Bahasa membentuk cara...

Batu dan Zaman

Memaknai Ulang Arti Kata Pensiun

Minggu, 22/2/26 | 19:58 WIB

Oleh: Andina Meutia Hawa (Dosen Prodi Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas)   Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), pensiun...

Ketika Iman Menjadi Modal Sosial dan Ekonomi

Ketika Iman Menjadi Modal Sosial dan Ekonomi

Minggu, 22/2/26 | 19:45 WIB

Oleh: Dr. Syamsul Bahri (Dosen Fakultas Ekonomi, Universitas Eka Sakti, Sumatera Barat) Indonesia adalah negara dengan jiwa religius yang kuat....

Nilai-Nilai Religius pada Karya Andreas Gryphius

Membaca Cerpen “Robohnya Surau Kami” dari Perspektif Psikoanalisis

Minggu, 15/2/26 | 17:22 WIB

Oleh: Hilda Septriani (Dosen Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Padjadjaran)   Robohnya Surau Kami merupakan kumpulan cerita pendek yang ditulis oleh...

Perspektif Ekologis dalam Berbahasa

Ancaman Ekologis Krisis Air dari Tren Penggunaan AI di Media Sosial

Minggu, 15/2/26 | 17:14 WIB

Oleh: Arina Isti’anah (Dosen Sastra Inggris, Universitas Sanata Dharma)   Kecerdasan buatan artificial inteligence (AI) secara luas telah digunakan dalam...

Puisi-puisi M. Subarkah

Bahasa yang Membentuk Cara Kita Membenci

Minggu, 01/2/26 | 15:17 WIB

Oleh: M. Subarkah (Mahasiswa Magister Linguistik Universitas Andalas)   Kebencian jarang lahir dari kekosongan. Ia tumbuh pelan-pelan, disirami kata-kata, dipupuk...

Berita Sesudah
Peran Latar Tempat dalam Perfileman Horor Indonesia

Anak Hebat di Negara yang Bersih dari Kekerasan Seksual

Discussion about this post

POPULER

  • Pasangan Kata “Bukan” dan “Tidak” dalam Bahasa Indonesia

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sumbang 12 untuk Puti Bungsu Minangkabau

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Perbedaan Kata “kepada”, “untuk”, dan “bagi”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Apakah Kata “bapak” dan “ibu” Harus Ditulis dalam Huruf Kapital ?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Krisis Air Meluas, Nagari IV Koto Pulau Punjung Mulai Disuplai Tangki Air

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Penggunaan Kata Ganti Engkau, Kau, Dia, dan Ia

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Tanda Titik pada Singkatan Nama Perusahaan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2024

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2024