Selasa, 29/9/26 | 06:11 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • BERITA
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI ARTIKEL

Sastra Ritual di Indonesia

Minggu, 18/6/23 | 09:48 WIB

Oleh: Roma Kyo Kae Saniro
(Dosen Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas)

 

Adanya pendapat mengenai perbedaan Timur dan Barat dan memberikan dikotomi yang berbeda antara keduanya. Masyarakat Timur adalah istilah yang merujuk pada beragam kelompok etnis, budaya, dan negara-negara di wilayah Asia Timur, Asia Tenggara, dan Pasifik. Daerah ini meliputi negara-negara seperti Tiongkok, Jepang, Korea, Vietnam, Thailand, Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura, dan sebagainya. Indonesia sebagai negara Timur, tentunya memiliki ciri-ciri bahwa masyarakat Timur memiliki keragaman budaya yang kaya dan beragam. Ada perbedaan signifikan dalam bahasa, agama, adat istiadat, dan sistem nilai di antara kelompok-kelompok masyarakat ini.

BACAJUGA

Peluang Bisnis Fashion Halal bagi Anak Muda dalam Ekonomi Islam

Peluang Bisnis Fashion Halal bagi Anak Muda dalam Ekonomi Islam

Minggu, 27/9/26 | 11:52 WIB
Semburat: Kajian Makna dalam Perspektif Semantik

Semburat: Kajian Makna dalam Perspektif Semantik

Minggu, 27/9/26 | 11:25 WIB

Pendapat tersebut dapat mengotak-kotakkan manusia sebagai masyarakat dunia yang semestinya harus melebur menjadi satu sehingga jika adanya perbedaan yang ada haruslah ditoleransi dan dianggap sebagai ciri khas yang unik dari masing-masing masyarakat. Hal ini terkait dengan sudut pandang yang digunakan oleh seseorang tersebut. Indonesia sebagai negara Timur memiliki berbagai warisan budaya yang kaya, seperti seni tradisional, sastra, filosofi, praktik spiritual, dan hal lainnya yang menjadi kebanggaan bagi masyarakat Indonesia.

Membahas mengenai sastra, sastra yang beredar di Indonesia sangat bervariasi dan terdiri atas berbagai genre yang memiliki nuansa ke-Indonesia-an. Tentunya hal tersebut membuat masyarakat Indonesia bangga. Salah satu jelas adalah sastra dalam bentuk manuskrip. Walaupun tradisi tulis menulis muncul setelah adanya tradisi lisan yang dianggap merupakan tradisi dominasi yang dilakukan oleh masyarakat Indonesia, manuskrip mampu bertahan hingga saat ini dengan adanya pelaksanaan berbagai kegiatan pelestarian budaya manuskrip.

Manuskrip memiliki kandungan isi yang beragam dengan makna yang beragam pula. Salah satunya adalah hal-hal yang berbau ritual. Ritual dapat dimaknai sebagai serangkaian tindakan atau kegiatan yang dilakukan secara teratur, terstruktur, dan sering kali memiliki makna simbolis. Ritual biasanya dilakukan dalam konteks budaya, agama, atau kehidupan sehari-hari untuk tujuan tertentu, seperti memperingati peristiwa penting, menghormati leluhur, menyambut musim, atau menyatukan komunitas.

Manuskrip yang masih eksis hingga kini adalah manuskrip dari salah satu suku di Indonesia, yaitu Sunda berupa wawacan Batara Kala (WBK). Wawacan merupakan cara penulisan sastra dalam bentuk prosa liris karena cerita yang disampaikan dalam bentuk bait-bait puisi yang ritmis. Menurut Rusyana, wawacan merupakan cerita panjang yang digubah dalam bentuk danding (puisi yang ditulis dengan aturan pupuh). Pupuh dalam wawacan dianggap sebagai wadah kisah yang sangat panjang dengan berbagai konflik dan peristiwa di dalamnya. WBK merupakan salah satu karya sastra lama yang sudah tumbuh dan berkembang di masyarakat Sunda. Pada awalnya, manuskrip ini berupa sastra lisan yang digunakan pada upacara ngaruat (penolak malapetaka) bagi orang-orang tertentu. Manuskrip ini ditulis dengan huruf cacarakan dan lainnya ditulis dengan huruf pegon.

Sebagai salah satu sastra ritual, WBK memiliki aturan khusus yang tidak boleh dilanggar baik dalam penggunaan, pembacaan, maupun kepemilikannya. Selain itu, manuskrip ini harus dibaca oleh dalang dalam acara ngaruat. Namun, jika harus dibaca selain acara tersebut, persyaratan yang harus disediakan adalah sesaji. Jika sesaji tersebut tidak disediakan, kepercayaan masyarakat bahwa akan adanya malapetaka yang muncul bagi pembaca dan pemilik manuskrip tersebut.

WBK berkisah mengenai penjelmaan Batara Guru (BG) yang menjadi Batara Kala (BK) dengan puncak konfliknya adalah BK yang memohon izin BG untuk memakan daging manusia. Padahal, sebenarnya BG sebagai seorang raja dari segala dewa dalam pewayangan, BG berwatak tidak tercela. Namun, pada akhirnya, BG tidak dapat mengendalikan nafsu birahinya sehingga ia berwujud raksasa (Kalsum, 2015). Raksasa dapat dipahami sebagai simbol kejahatan.

Selanjutnya, BK turun ke bumi untuk memangsa manusia. Penyelesaiannya adalah BG yang menyamar sebagai dalang sehingga harus dilakukan ruwatan agar BK tidak memakan manusia. Acara ruwatan ini harus dilakukan pada waktu magrib hingga subuh karena beberapa keterangan berupa mitos mengungkapkan bahwa BK lebih suka keluar untuk mencari mangsa pada malam hari.

Pencarian mangsa ini dilakukan pula pada malam hari karena gelap sehingga ketika melakukan ruwatan, keadaan harus terang dengan menggunakan pencahayaan atau lilin. Waktu dalam WBK memiliki peran yang sangat penting. Adanya penjelasan terkait dengan kewajiban ruwatan yang harus dilakukan oleh orang-orang khusus, seperti orang yang bepergian pada waktu tengah hari dan magrib.

Intinya, WBK merupakan karya sastra ritual karena menjadi media penyampaian terkait cara manusia berperilaku agar selamat dalam hidupnya. WBK sebagai sebuah sastra klasik pun memberikan amanat bahwa perbuatan buruk akan berakibat buruh pula atau mendapatkan malapetaka). Oleh karena itu, sastra dan ritual saling mempengaruhi dan saling melengkapi satu sama lain. Sastra dapat memberikan landasan mitologis, filosofis, atau etis bagi ritual, sementara ritual memberikan konteks dan pengalaman yang mendalam bagi interpretasi sastra. Keduanya bekerja bersama-sama untuk memelihara dan menghidupkan tradisi budaya dan spiritualitas dalam masyarakat.

Tags: #Roma Kyo Kae Saniro
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Mambangkik Batang Tarandam dalam Naskah Drama “Orang-orang Bawah Tanah” karya Wisran Hadi

Berita Sesudah

Untung Ada Kata “Tempat …”

Berita Terkait

Peluang Bisnis Fashion Halal bagi Anak Muda dalam Ekonomi Islam

Peluang Bisnis Fashion Halal bagi Anak Muda dalam Ekonomi Islam

Minggu, 27/9/26 | 11:52 WIB

Oleh: Kanaya Putri Sifa (Mahasiswa MKWK Bahasa Indonesia dan Mahasiswa Fakultas Ekonomi Bisnis Universitas Andalas)   Perkembangan dunia fashion saat...

Semburat: Kajian Makna dalam Perspektif Semantik

Semburat: Kajian Makna dalam Perspektif Semantik

Minggu, 27/9/26 | 11:25 WIB

Oleh: Tri Sutrisman (Mahasiswa Sastra Indonesia FIB Universitas Andalas)   Beberapa waktu lalu, saya sedang melakukan sesuatu yang mungkin cukup...

Puisi-puisi Wulan Darma Putri

Mengenal Polisemi dan Homonimi dalam Bahasa Indonesia

Minggu, 20/9/26 | 15:43 WIB

Oleh: Noor Alifah (Mahasiswa Sastra Indonesia FIB Universitas Andalas)   Pernahkah Anda mendengar kalimat "kepala sekolah itu sedang memegang kepalanya...

Representasi Perempuan dalam Novel “Perempuan di Titik Nol dan Entrok: Kajian Feminisme”

Menyusuri Luka Kanak-kanak dalam Kumpulan Puisi “Belajar Menanggalkan Bulan”

Minggu, 13/9/26 | 22:05 WIB

Oleh: Rosidatul Arifah (Alumni S1 Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas)  Awal September 2026 ini memberikan angin ceria pada...

Kapitalisme dan Kontradiksi Kemajuan dalam Sastra Indonesia

Modernisme dan Dunia yang Dinamis dalam Karya Sastra

Minggu, 13/9/26 | 09:35 WIB

Oleh: Maharani Syifa Ramadhan (Alumni Sastra Indonesia FIB Universitas Andalas dan Mahasiswa Program Magister Sastra Kontemporer, Universitas Padjajaran)   Modernisme...

Benarkah Onomatope Arbitrer?

Benarkah Onomatope Arbitrer?

Minggu, 13/9/26 | 08:48 WIB

Oleh: Ahmad Hamidi dan Andina Meutia Hawa (Dosen Prodi Sastra Indonesia FIB Universitas Andalas)    Seekor anjing sedang menggonggong di...

Berita Sesudah
Petinju dan Peninju; Manakah yang Benar?

Untung Ada Kata “Tempat …”

Discussion about this post

POPULER

  • Puisi-puisi Dharma Purnama Putra

    Puisi-puisi Dharma Purnama Putra

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Child Grooming sebagai Bentuk Frasa “Manipulasi Anak”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pria ini Taklukan Lele Raksasa Ukurannya Nyaris Tiga Meter

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Puisi-puisi Arza Kailla Chaerani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Perbedaan Awalan ber- dan me-

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cahaya dari Surau Tuo

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Paket Data Masih Aktif, Telkomsel Blokir Internet karena Tagihan Pulsa Darurat

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026