Jumat, 16/1/26 | 22:31 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home Unes

Mengetuk Pintu

Minggu, 11/6/23 | 09:04 WIB


Lastry Monika
(Kolumnis Rubrik Renyah)

 

Sebagian orang telah menemukan pintunya. Pintu itu terbuka dan ia masuk ke dalamnya. Sebagian lagi sedang mengetuk pintu dan menunggu pintu itu terbuka. Sebagian lainnya pula, sedang mencari pintu untuk ia ketuk lagi setelah pintu-pintu sebelumnya tidak terbuka untuknya. Bagaimana denganmu?

Setiap orang mungkin memiliki pintu yang ia suka. Oleh sebab itu, sedari awal ia menempuh rute yang tujuan akhirnya ialah pintu tersebut. Meskipun ia telah menempuh rute yang benar, namun pintu yang ia tuju belum tentu bisa terbuka walaupun ia ketuk berkali-kali? Lalu, apakah ia harus memaksa agar pintu itu terbuka atau mencari pintu yang lain? Sepertinya, pilihan yang terbaik ialah opsi yang kedua.

Loh, kenapa tidak berusaha lebih untuk membukanya? Tentu saja berusaha. Akan tetapi, tidak semua pintu yang disuka dan dimau bisa terbuka. Oleh sebab itu, cari dan coba ketuk pintu yang lain. Meskipun seseorang memiliki pilihan-pilihan dalam hidup, namun takdir bisa berkata lain. Bukankah begitu? Ya, itu pun kalau kamu percaya takdir.

BACAJUGA

Suatu Hari di Sekolah

Saat Ide Mengalir di Detik Terakhir

Minggu, 05/10/25 | 20:02 WIB
Suatu Hari di Sekolah

Antara Deadline dan Bedcover

Minggu, 14/9/25 | 18:56 WIB

Beberapa bulan lalu, saya mengibaratkan kampus dan jurusan favorit sebagai sebuah pintu kepada siswa-siswa SMA yang sedang berjuang masuk ke perguruan tinggi. Lalu ia bertanya, “Apakah Kakak sudah masuk ke pintu yang Kakak inginkan?” saya terdiam sebentar sebelum akhirnya saya menggeleng dan dengan lirih berkata, “Belum!”

Lalu ia bertanya kembali, “Loh, bukannya dengan Kakak bertemu kami di sini itu artinya Kakak telah masuk ke sebuah pintu?”

“Ya benar, tetapi ini bukan pintu yang Kakak maksud. Ketika dalam perjalanan menuju pintu yang diinginkan, pintu ini terbuka dan mempersilakan masuk. Tentu saja, pintu yang terbuka ini layak dicoba. Anggap saja seperti sebuah persinggahan karena mungkin perjalanan menuju pintu yang diinginkan masih jauh,” jawab saya. Sebetulnya obrolan kami yang terkesan serius ini tidak seserius itu.

Obrolan kami berakhir dengan saya mendoakan agar pintu yang sedang mereka ketuk segera terbuka dan mereka dipersilakan masuk ke dalamnya. Sebagian dari siswa SMA itu tidak menghiraukan harapan baik ini. Sebab, pintu persinggahan yang terbaik saat itu ialah menuju rumah atau tongkrongan setelah dijejali pelajaran dari pagi sampai sore. Beberapa siswa lainnya juga menuturkan harapan baik untuk saya.

“Semoga Kakak segera sampai di pintu yang Kakak tuju. Setelah diketuk, pintu itu juga segera terbuka!” ujarnya. Saya membalasnya dengan amin paling serius. Saat itu saya terharu sekali.

Setelah beberapa bulan berlalu, saya mendapat kabar bahwa sebagian dari mereka telah masuk ke pintu yang mereka tuju. Oh, sungguh senang sekali mendapat kabar ini. Sebagian lainnya masih berusaha mencari dan mengetuk pintu yang lain.

Bila sebuah pintu telah diketuk dan ia tak terbuka, saya kira itu artinya ialah mencoba mengetuk pintu yang lain. Seperti halnya kutipan dari sebuah drama yang saya tonton akhir-akhir ini, “Gagal artinya kau harus mencoba kembali!” Oke, saya setuju! Apakah kamu juga?

Tags: #Lastry Monica
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Tenunan Khas Lima Puluh Kota pada Songket Halaban

Berita Sesudah

Cerpen “Kucing Pembawa Hikmah” karya Annevi Dhora Royenza dan Ulasannya oleh Dara Layl

Berita Terkait

Lagu yang Tak Selesai-selesai

2026 dan Renyah yang Tetap Menyapa

Minggu, 04/1/26 | 23:10 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah)   Akhir tahun 2025 kita lewati dengan langkah yang lebih pelan. Bencana yang terjadi di...

Lagu yang Tak Selesai-selesai

Lengah di Tengah Jeda

Minggu, 21/12/25 | 20:08 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah)   Saat istirahat siang, saya sering lengah dengan waktu. Bukan karena terburu-buru seperti di pagi...

Lagu yang Tak Selesai-selesai

Ketika Waktu Tak Menunggu

Minggu, 07/12/25 | 22:22 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah)   Saya sering bangun tergesa, seolah pagi datang lebih cepat dari dugaan. Waktu terus berjalan...

Lagu yang Tak Selesai-selesai

Hujan yang Merawat Diam

Minggu, 23/11/25 | 19:52 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah)   Hujan selalu punya cara sederhana untuk membuat saya berhenti sejenak. Di antara rintik yang...

Lagu yang Tak Selesai-selesai

Tentang Usaha yang Tidak Terlihat

Minggu, 09/11/25 | 20:13 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah)   Dalam setiap pertandingan olahraga selalu ada dua kemungkinan, menang atau kalah. Dari kejauhan semuanya...

Lagu yang Tak Selesai-selesai

Ketika Hasil Tak Sepenting Perjalanan

Minggu, 26/10/25 | 21:50 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah)   Libur kuliah dahulu selalu terasa seperti lagu merdu yang menandai kebebasan. Setelah berminggu-minggu bergulat...

Berita Sesudah
Cerpen “Kucing Pembawa Hikmah” karya Annevi Dhora Royenza dan Ulasannya oleh Dara Layl

Cerpen "Kucing Pembawa Hikmah" karya Annevi Dhora Royenza dan Ulasannya oleh Dara Layl

Discussion about this post

POPULER

  • Wali Kota Padang Fadly Amran, mengusulkan sejumlah proyek pelestarian lingkungan bagi Kota Padang dalam skema kerja sama bilateral Indonesia-Jerman di tahun 2026.(Foto:Ist)

    Wali Kota Padang Usulkan Proyek Lingkungan Hidup Pada Negara Jerman

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Perbedaan Kata “kepada”, “untuk”, dan “bagi”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Se Indonesia, seIndonesia, atau se-Indonesia?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Denda PDAM Kota Padang Membingungkan, Tagihan Sampah Dipungut Meski Tak Diangkut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Apakah Kata “bapak” dan “ibu” Harus Ditulis dalam Huruf Kapital ?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kapitil, Kosakata Baru dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pemko Padang Dukung Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Sesuai Arahan Pemerintah Pusat

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2024

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2024