Selasa, 17/2/26 | 09:46 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI ARTIKEL

Membangun Komunikasi Efektif dalam Kelompok

Minggu, 11/6/23 | 07:00 WIB

 

Oleh: Riza Andesca Putra
(Dosen Departemen Pembangunan & Bisnis Peternakan Unand dan Mahasiswa Program Doktor Penyuluhan & Komunikasi Pembangunan UGM)

 

BACAJUGA

Runtuhnya Kandang Open House Ayam Broiler

Gonta-ganti Kementerian: Tantangan Menghadapi Transisi

Minggu, 20/10/24 | 06:49 WIB
Runtuhnya Kandang Open House Ayam Broiler

Kunci Sukses Beternak Ayam Broiler dengan Sistem Closed House

Minggu, 29/9/24 | 09:49 WIB

Komunikasi adalah dasar semua interaksi manusia. Semua tanda yang bertujuan mempengaruhi perilaku orang yang menerima pesan dengan cara apa pun adalah komunikasi (Johnson, 2012). Tanda tersebut dapat dalam bentuk lisan atau tulisan, verbau ataupun nonverbal.

Pada sebuah kelompok, keberadaan kemunikasi sangatlah penting karena semua fungsi-fungsi kelompok dapat berjalan melalui hantaran komunikasi. Oleh sebab itu, membangun komunikasi efektif dalam kelompok menjadi prasyarat untuk kesuksesan pencapaian tujuan bersama kelompok.

Secara sederhana, komunikasi efektif yang dimaksud adalah kondisi di mana pesan yang disampaikan oleh seseorang dapat diterima dan ditafsirkan oleh  penerima sesuai dengan yang dimaksud pengirim pesan. Banyak cara yang dapat dilakukan untuk menciptakan komunikasi efektif. Salah satunya dengan memastikan dua unsur utama dalam komunikasi, yaitu pengirim dan penerima pesan menjalankan fungsinya dengan baik.

Apa yang mesti dilakukan pengirim pesan agar tercipta komunikasi efektif ? Ada beberapa hal, di antaranya: pertama, pesan lengkap dan jelas. Pesan yang disampaikan tidak boleh setengah-setengah yang memungkinkan  penerima susah untuk memahami isi pesan. Pesan mesti lengkap dan menggunakan bahasa yang jelas mudah dipahami. Hindari penggunaan kata-kata ambigu atau frasa yang bisa membingungkan.

Kedua, pesan yang disampaikan cocok dengan batasan referensi  penerima. Profil penerima pesan juga penting menjadi perhatian dalam mengirimkan pesan karena penerima pesan tidak mungkin bisa memahami pesan melebihi kemampuan mereka. Gaya dan bahasa yang digunakan dalam menyampaikan pesan mesti sesuai dan cocok dengan kebutuhan dan pemahaman penerima. Misalnya menyampaikan sebuah pesan kepada mahasiswa, tidak mungkin menggunakan gaya dan bahasa yang sama dengan menyampaikan pesan kepada anak TK walaupun isi pesan disampaikan adalah sama.

Ketiga, pesan lisan dan tidak lisan mesti selaras. Pesan yang disampaikan oleh mulut pengirim pesan mesti didukung oleh gerak tubuh yang bersangkutan. Jika tidak, penerima pesan akan kebingungan memahami pesan yang disampaikan, misalnya jika kita mengutarakan kebahagiaan dengan pesan lisan, mimik wajah dan gerak tubuh kita juga mesti memperlihatkan kebahagiaan.

Keempat, minta feedback. Berusaha memastikan si penerima pesan memahami apa yang disampaikan perlu dilakukan. Satu-satunya cara untuk meyakinkannya adalah dengan mencari feedback (umpan balik) secara terus menerus sampai arti yang diperoleh penerima sama dengan pesan yang disampaikan si pengirim.

Kelima, bangun kredibilitas diri. Kredibilitas adalah segala hal yang terkait dengan kepercayaan kepada seseorang. Kepercayaan ini menyangkut pada  posisi dan kedudukan pengirim pesan dan keterkaitannya dengan isi pesan yang disampaikan. Selain itu, personaliti dan rekam jejak pengirim pesan juga mempengaruhi kredibilitas. Orang yang memiliki image jujur akan lebih didengarkan dari pada yang bukan.

Komunikasi efektif yang dilakukan pengirim pesan, akan hambar jika tidak diikuti oleh penerima pesan sehingga penerima pesan juga mesti melakukan beberapa hal agar tercipta komunikasi efektif, antara lain : pertama, Menjadi pendengar yang baik. Sebagai orang yang akan menerima pesan, fokus terhadap proses penyampaian pesan dari pengirim pesan mesti dilakukan. Hal ini guna meminimalisir gangguan lingkungan yang ada sehingga penerima dapat memahami dengan baik isi dan maksud dari pesan yang disampaikan. Menjadi pendengar yang baik juga mengindikasikan sikap menghargai sehingga pengirim pesan merasa nyaman dalam berkomunikasi dan pesan yang dikirimkan menjadi lebih berkualitas.

 Kedua, mengidentifikasi tujuan pesan. Penerima pesan perlu mengidentifikasi tujuan atau maksud yang ingin disampaikan oleh pengirim pesan. Mereka harus mencari inti pesan yang ingin disampaikan dan apa yang diharapkan dari mereka sebagai penerima. Dengan begini pesan yang disampaikan memiliki batasan dan tidak keluar konteks sehingga mempermudah dalam memahaminya.

Ketiga, Menyimpulkan secara tepat. Menyimpulkan adalah keterampilan yang palíng mendasar dan penting dalam menerima pesan. Keterbukaan penerima adalah langkah awal dalam memahami pesan secara substantif. Kemudian penerima pesan membuat kerangka pesan yang telah didengar dengan baik menggunakan bahasa sendiri. Setelah itu pesan akan dapat tersimpulkan dengan baik.

Keempat, beri feedback konstruktif. Pesan yang sudah disimpulkan melalui bahasa sendiri. Kemudian, penerima pesan memberikan feedback kepada  pengirim pesan untuk memastikan maksud pesan yang diterima sama dengan maksud pesan yang dikirim. Proses ini terjadi dalam komunikasi dua arah.

Kelima, tidak memberi penilaian terhadap isi pesan dan perasaan si pengirim. Dalam menerima pesan, penerima tidak memberikan penilaian, persetujuan atau ketidaksetujuan terhadap pesan yang disampaikan. Penerimaan yang bersifat menilai akan membuat pengirim pesan bersikap defensif dan lebih berhati-hati yang akhirnya akan mengurangi keterbukaan dalam komunikasi tersebut. Upayakan tidak menerka perasaan pengirim pesan, apalagi menambahkan atau mengurangi pesan dengan opini pribadi. Jika diperlukan, cukup mengatakan “Ini adalah apa yang saya pahami tentang perasaan Anda, apakah saya benar?”.

Demikian ulasan tentang beberapa hal yang bisa dilakukan pengirim dan penerima pesan agar terbangun komunikasi efektif dalam kelompok.

*Artikel ini merupakan bagian ketujuh dari beberapa bagian lainnya tentang Sukses Mengelola Kelompok.

Tags: #kelompok#Riza Andesca Putra
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Menyoal Bioplastik dan Klaim Ramah Lingkungannya

Berita Sesudah

Tenunan Khas Lima Puluh Kota pada Songket Halaban

Berita Terkait

Nilai-Nilai Religius pada Karya Andreas Gryphius

Membaca Cerpen “Robohnya Surau Kami” dari Perspektif Psikoanalisis

Minggu, 15/2/26 | 17:22 WIB

Oleh: Hilda Septriani (Dosen Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Padjadjaran)   Robohnya Surau Kami merupakan kumpulan cerita pendek yang ditulis oleh...

Perspektif Ekologis dalam Berbahasa

Ancaman Ekologis Krisis Air dari Tren Penggunaan AI di Media Sosial

Minggu, 15/2/26 | 17:14 WIB

Oleh: Arina Isti’anah (Dosen Sastra Inggris, Universitas Sanata Dharma)   Kecerdasan buatan artificial inteligence (AI) secara luas telah digunakan dalam...

Puisi-puisi M. Subarkah

Bahasa yang Membentuk Cara Kita Membenci

Minggu, 01/2/26 | 15:17 WIB

Oleh: M. Subarkah (Mahasiswa Magister Linguistik Universitas Andalas)   Kebencian jarang lahir dari kekosongan. Ia tumbuh pelan-pelan, disirami kata-kata, dipupuk...

Representasi Perempuan dalam Novel “Perempuan di Titik Nol dan Entrok: Kajian Feminisme”

Representasi Perempuan dalam Novel “Perempuan di Titik Nol dan Entrok: Kajian Feminisme”

Minggu, 01/2/26 | 15:10 WIB

Oleh: Rosidatul Arifah (Mahasiswi Sastra Indonesia dan Anggota Labor Penulisan Kreatif LPK FIB Universitas Andalas)   Pembahasan mengenai perempuan sering...

Pemilu Indonesia: Antara Demokrasi Substantif dan Demokrasi Prosedural

Pemilu Indonesia: Antara Demokrasi Substantif dan Demokrasi Prosedural

Selasa, 27/1/26 | 18:38 WIB

Oleh: Firnanda Amdimas (Mahasiswa Jurusan Hukum, Universitas Muhammad Natsir Bukittinggi)   Pemilihan umum (pemilu) merupakan pilar utama demokrasi di Indonesia....

Batu dan Zaman

Baju Berani Loppy: Mengelola Kecemasan Melalui Sastra Anak

Senin, 26/1/26 | 06:34 WIB

Oleh: Andina Meutia Hawa  (Dosen Prodi Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas)  Selama ini, sastra anak kerap diposisikan sebagai...

Berita Sesudah
Peran Latar Tempat dalam Perfileman Horor Indonesia

Tenunan Khas Lima Puluh Kota pada Songket Halaban

Discussion about this post

POPULER

  • Perspektif Ekologis dalam Berbahasa

    Ancaman Ekologis Krisis Air dari Tren Penggunaan AI di Media Sosial

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Tanda Titik pada Singkatan Nama Perusahaan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Perbedaan Kata “kepada”, “untuk”, dan “bagi”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Oleh sebab itu, Oleh karena itu, atau Maka dari Itu?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bentuk-Bentuk Singkatan dalam Surat Resmi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gubernur Sumbar Turun ke Lapangan, Pastikan Pembenahan Sungai dan Air Bersih di Padang Berjalan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Perbedaan Kata Ganti Orang Ketiga “Beliau”, “Dia”, dan “Ia” dalam Bahasa Indonesia

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2024

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2024