Sabtu, 24/1/26 | 06:22 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI RENYAH

Irama Langkah

Minggu, 19/2/23 | 09:39 WIB

Lastry Monika
(Kolumnis Rubrik Renyah)

 

Baru-baru ini, saya berulang kali mendengar kembali salah satu lagu kesukaan saya. Lagu tersebut berjudul “Negentropy 5 In E Major” yang dinyanyikan oleh Leilani Frau. Lirik lagu tersebut bagi saya begitu indah dan manis. Secara umum lagu ini bercerita soal langkah antara dua pribadi yang berjalan bersama.

Liriknya seperti dialog, entah antara kekasih, sahabat, atau dua orang yang bekerja sama demi tujuan tertentu. Rupanya di tengah jalan antara keduanya memiliki langkah yang berbeda. Salah Seorang menganggap langkah Seorang Lainnya begitu cepat sehingga ia terengah-engah menyusulnya. Namun, Seorang Lainnya justru menganggap langkah Salah Seoranglah yang lambat. Padahal, Seorang Lainnya sedang terburu-buru. Lalu, apa yang terjadi antara keduanya?

BACAJUGA

Suatu Hari di Sekolah

Saat Ide Mengalir di Detik Terakhir

Minggu, 05/10/25 | 20:02 WIB
Suatu Hari di Sekolah

Antara Deadline dan Bedcover

Minggu, 14/9/25 | 18:56 WIB

Antara Salah Seorang dengan Seorang Lainnya tidak menyimpan anggapan dalam diam. Keduanya sama-sama gelisah karena langkah yang tak seirama. Oleh sebab itu, keduanya saling mengutarakan keluh dan kesah. Ketika mengetahui anggapan yang rupanya juga bertentangan, apakah mereka memutuskan untuk melangkah masing-masing?

Tidak! Setelah saling mengutarakan, mereka juga saling mendengarkan. Salah Seorang dan Seorang Lainnya saling menyediakan telinga, entah itu untuk kekasih, sahabat, atau rekan. Setelah mendengarkan, keduanya saling merenungkan. Seperti dalam lirik lagu Leilani, muncullah pertanyaan-pertanyaan.

Selaraskah nada-nada napas kita?
Serasikah warna-warna watak kita?
Setimpalkah beban-beban berat kita?

Setidaknya, ketiga pertanyaan itulah yang menjadi renungan Salah Seorang dan Seorang Lainnya. Tentu pula, jawaban dari ketiga pertanyaan itu ialah ‘tidak’ maka adalah sebuah kewajaran bila sewaktu-waktu keduanya memiliki langkah yang berbeda dan sulit untuk beriringan. Setelah keduanya saling merenung, apakah mereka lekas saling memahami?

Berdasarkan lirik lagu, jawabannya ialah ‘belum’. Seorang Lainnya mengutarakan bahwa “Sabarku habis tunggu langkahmu”. Di sisi lain, Salah Seorang juga mengutarakan “Ah, begitu cepat. Tak tahukah ku, kau buru-buru. Kau buru-buru”. Setelah kembali tak menemukan kesepakatan karena gagal saling memahami, apa yang mereka lakukan?

Menurut saya, meskipun keduanya memiliki perpedaan hingga langkah mereka sulit diselaraskan dan diserasikan, keduanya melakukan hal terpenting dalam sebuah hubungan, yaitu dialog. Setiap kejanggalan tidak dipendam dalam diam sebab bila wadah itu penuh dapat menimbulkan ledakan dan membahayakan Salah Seorang dan Seorang Lainnya. Meskipun melangkah secara tak seirama, keduanya tidak lupa berdialog.

Benar pula kata Banda Neira lewat “Utarakan”, bahwa “Walau tak semua tanya, Datang beserta jawab, Dan tak semua harap terpenuhi”. Namun, yang paling penting dari semua itu ialah ‘utarakan’. Inilah yang dilakukan Salah Seorang dan Seorang lainnya dalam “Negentropy 5 In E Major”. Keduanya pun kembali saling merenungkan tiga pertanyaan sebelumnya.

Setelah dialog berkali-kali, pun setelah renungan berkali-kali, barulah keduanya dapat saling memahami. Langkah memang sulit seirama sebab “nada napas” yang tak selaras, “warna watak” yang tak serasi, dan “beban berat” yang tak setimpal. Meskipun demikian, irama langkah selalu dapat dibenahi.

Lirik yang berdialog dalam lagu ini berakhir dengan begitu manis. Sengaja tidak saya tulis di sini sebab kamu harus mendengarnya sendiri.

Tags: #Lastry Monica
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Cerpen “Salah  Taksir” Karya Liza Warni dan Ulasannya Oleh Azwar Sutan Malaka

Berita Sesudah

“Google Maps” dan Keramahan Orang Yogyakarta di Tebing Breksi

Berita Terkait

Senyuman Kecil dan Mendengar: Hal Kecil yang Berdampak Besar

Renyah: Bacaan Pelan untuk Hari yang Cepat

Minggu, 18/1/26 | 21:05 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah) Jika Renyah dapat dianalogikan, ia bukan ruang yang hadir dengan suara lantang atau pernyataan yang...

Lagu yang Tak Selesai-selesai

2026 dan Renyah yang Tetap Menyapa

Minggu, 04/1/26 | 23:10 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah)   Akhir tahun 2025 kita lewati dengan langkah yang lebih pelan. Bencana yang terjadi di...

Lagu yang Tak Selesai-selesai

Lengah di Tengah Jeda

Minggu, 21/12/25 | 20:08 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah)   Saat istirahat siang, saya sering lengah dengan waktu. Bukan karena terburu-buru seperti di pagi...

Lagu yang Tak Selesai-selesai

Ketika Waktu Tak Menunggu

Minggu, 07/12/25 | 22:22 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah)   Saya sering bangun tergesa, seolah pagi datang lebih cepat dari dugaan. Waktu terus berjalan...

Lagu yang Tak Selesai-selesai

Hujan yang Merawat Diam

Minggu, 23/11/25 | 19:52 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah)   Hujan selalu punya cara sederhana untuk membuat saya berhenti sejenak. Di antara rintik yang...

Lagu yang Tak Selesai-selesai

Tentang Usaha yang Tidak Terlihat

Minggu, 09/11/25 | 20:13 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah)   Dalam setiap pertandingan olahraga selalu ada dua kemungkinan, menang atau kalah. Dari kejauhan semuanya...

Berita Sesudah

"Google Maps" dan Keramahan Orang Yogyakarta di Tebing Breksi

Discussion about this post

POPULER

  • Ketua DPW PKB Sumbar, Firdaus.[foto : ist]

    Firdaus Kembali Pimpin PKB Sumbar, Optimis Bawa PKB Capai Puncak pada Pemilu Mendatang

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • DPP PKB Tetapkan Kepengurusan DPW PKB Sumbar Periode 2026–2031

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Apakah Kata “bapak” dan “ibu” Harus Ditulis dalam Huruf Kapital ?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sumbang 12 untuk Puti Bungsu Minangkabau

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pemko Padang Komitmen Dukung Percepatan Pembebasan Lahan Sukseskan PSN di Kota Padang.

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berbagai Istilah Urutan Waktu dalam Bahasa Indonesia

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • HI UNAND dan Muhammadiyah Sumbar Bahas ABS-SBK dan Global Values

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2024

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2024