Selasa, 06/10/26 | 07:45 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • BERITA
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI ARTIKEL

Bentuk Terikat –anda

Minggu, 23/10/22 | 07:27 WIB

 

Oleh: Yori Leo Saputra
(Alumnus Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas)

Berbicara mengenai bentuk terikat dalam bahasa Indonesia, beberapa penulis Klinik Bahasa Indonesia Scientia.id sudah pernah membahasnya. Namun, sejauh pengamatan saya, belum semuanya selesai dibahas. Berdasarkan rangkuman saya, berikut artike-artikel mengenai bentuk terikat yang sudah dimuat di laman Scientia.id. Artikel pertama berjudul Bentuk Terikat Pasca- yang ditulis oleh Ria Febrina yang dimuat di laman klinik bahasa Scientia.id sejak 23 Mei 2021. Kemudian, artikel yang kedua berjudul Bentuk Terikat Nara-. Artikel tersebut ditulis oleh Elly Delfia. Artikel tersebut dapat dicaba di laman klinik bahasa Scientia.id edisi 30 Mei 2021. Selain itu, Elly Delfia juga menulis artikel yang berjudul Mengenal Bentuk Terikat dalam Bahasa Indonesia yang berisi bahasan bentuk-bentuk terikat dalam bahasa Indonesia secara umum. Di samping itu, Elly Delfia juga pernah membahas bentuk terikat “maha-” secara khusus dalam bahasa Indonesia. Artikel tersebut dipublikasikan di laman Scientia.id pada 2020.

Secara harfiah, bentuk terikat adalah bentuk bahasa yang harus bergabung dengan unsur lain untuk dipakai dengan makna yang jelas (Kridalaksana, 2011). Defenisi tersebut senada yang disebut dalam Kamus Besar Besar Bahasa Indonesia V. Menurut Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Indonesia (2016), bentuk terikat diartikan sebagai bentuk bahasa yang perlu bergabung dengan unsur lain agar dapat dipakai dengan makna yang jelas. Tata cara penulisan bentuk terikat sebenarnya telah diatur dalam Ejaan Yang Disempurnakan (2022), tepatnya pada fungsi penggunaan tanda baca hubung yang ke-8, yaitu tanda hubung digunakan untuk menandai imbuhan dan bentuk terikat yang menjadi objek kebahasaan. Menurut Badan Pengembangan dan Peminaan Bahasa Indonesia (2016), tanda hubung merupakan tanda garis (-) untuk menghubungkan unsur kata yang terpisah oleh pergantian baris, memisahkan bentuk ulang, dan menggabungkan unsur bentuk majemuk. Penulisan bentuk terikat termasuk ke dalam penulisan unsur kata yang terpisah. Jika ditelusuri dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia V, bentuk terikat ternyata memiliki banyak bentuk.

Dari beberapa artikel yang saya rangkum di atas, bentuk-bentuk terikat dalam bahasa Indonesia belum semuanya dibahas oleh penulis-penulis Scientia.id. Oleh karena itu, saya tertarik membahas bentuk terikat lain yang ada dalam bahasa Indonesia.  Bentuk terikat itu adalah bentuk terikat –anda. Bentuk terikat –anda merupakan bentuk terikat yang ditandai oleh tanda hubung (-) di depannya. Penulisan bentuk terikat –anda memiliki tata cara penulisan yang sama dengan penulisan imbuhan atau akhiran dalam bahasa Indonesia, misalnya  imbuhan –an, -kan, dan  –i.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia V (2016), bentuk terikat –anda diartikan sebagai bentuk terikat yang menyatakan ‘hormat atau kekeluargaan’, misalnya bentuk terikat -anda pada kata ayahanda. Dalam KBBI V, ayahanda diartikan sebagai ‘sapaan hormat kepada ayah.’ Contohnya: Surat Ayahanda sudah saya terima pada Minggu lalu, sedangkan menurut Keraf (2018:115), bentuk terikat –anda ialah tergolong ke dalam jenis sufiks. Sufiks adalah semacam morfem terikat yang dilekatkan di belakang suatu morfem (Keraf, 2018:110).

BACAJUGA

Membaca Novel Siti Nurbaya dalam Pandangan Sejarah

Membaca Novel Siti Nurbaya dalam Pandangan Sejarah

Minggu, 04/10/26 | 22:27 WIB
Representasi Perempuan dalam Film “Agensi Rumah Tangga”: Kajian Feminisme Hélène Cixous

Representasi Perempuan dalam Film “Agensi Rumah Tangga”: Kajian Feminisme Hélène Cixous

Minggu, 04/10/26 | 12:42 WIB

Jika dilihat dari bentuknya, bentuk terikat –anda memiliki dua varian dalam bahasa Indonesia, yaitu –da dan–nda. Contoh kosakata dari varian ini dapat dilihat dari pengunaan bentuk –da pada kata abangda, yang berarti ‘sapaan hormat kepada kakak laki-laki’. Kemudian, penggunaan bentuk –nda terlihat pada kata ibunda (kata sapaan hormat untuk ibu), pamanda (kata sapaan hormat kepada paman), dan bibinda (kata sapaan hormat kepada bibi).

Sementara itu, Keraf (2018:115) dalam Tatabahasa Indonesia menyebutkan bahwa bentuk terikat –anda dan bentuk terikat –nda memiliki fungsi yang sama, yakni sebagai akhiran honorifik atau untuk menyatakan penghormatan kepada sesuatu. Selain itu, bentuk terikat –anda dan –nda juga berfungsi untuk menyatakan hubungan kekeluargaan yang mesra. Namun, untuk membendakan antara bentuk terikat –anda dengan bentuk –nda ialah dapat dilihat pada kata-kata huruf terakhirnya. Menurut Keraf (2018:115), bentuk terikat –anda dipakai pada kata-kata yang berakhir pada vokal, sedangkan bentuk terikat  –nda dipakai pada kata-kata yang berakhir dengan konsonan.

Perlu diketahui, dalam KBBI kosakata bentuk terikat –anda dan bentuk terikat –nda sangatlah terbatas. Sejauh ini, saya menelusurinya hanya menemukan 12 kosakata terkait bentuk terikat –anda dalam bahasa Indonesia. Sebagian dari kosakata itu sudah disebutkan pula pada contoh-contoh di atas. Berikut ini adalah contoh lain yang saya temukan dari varian bentuk terikat –anda, seperti kata kakanda (kata sapaan lebih hormat, lebih mesra kepada kakak), adinda (kata sapaan hormat kepada adik), ayunda (kata sapaan hormat kepada kakak perempuan), nenenda (kata sapaan hormat kepada nenek, biasanya dipakai dalam surat-menyurat), ananda (kata sapaan hormat kepada anak), suaminda (kata sapaan hormat kepada suami), dan cucunda (untuk menyatakan takzim atau hormat kepada cucu).

Selain terbatas dalam entri KBBI, penggunaan kata dengan bentuk terikat -anda juga jarang digunakan dalam masyarakat saat ini. Mungkin hanya beberapa kosakata yang masih digunakan, seperti kata sapaan hormat kepada orang tua atau kepada anak yang masih menggunakan kata ayahanda, ibunda, dan ananda, tetapi juga sudah jarang digunakan saat ini meskipun masih ada.  Saya mendengar orang-orang sekarang lebih suka menyebut orang tua laki-lakinya dengan sapaan bapak, ayah, dan papa, sedangkan kepada orang tua perempuannya lebih suka menggunakan sapaan ibu, mama, bunda dan ummi. Sementara itu, sapaan-sapaan hormat seperti ayahanda, ibunda, dan pamanda, mungkin hanya dapat ditemukan dalam situasi-situasi tertentu saja saat ini. Contohnya: sapaan dari anak kepada orang tua yang digunakan dalam surat. Anak masih bisa menggunakan kata sapaan hormat dalam keluarga, seperti ayahanda (kepada orang tua laki-lakinya) dan ibunda (kepada orang tua perempuannya) saat menulis surat untuk orang tua.

Kemudian, di sisi lain, ada juga kata sapaan lain yang digunakan untuk menyatakan hormat selain dari bentuk terikat –anda, misalnya kata adimas. Kata adimas merupakan kata sapaan hormat yang digunakan oleh masyarakat Jawa ketika menyapa adik laki-lakinya. Sementara itu, pada masa kerajaan dahulu, kata sapaan hormat juga digunakan. Biasanya, para punggawa dan keluarga raja menyapa raja mereka dengan sapaan baginda. Dalam KBBI V (2016), baginda diartikan sebagai ‘gelar atau kata sapaan hormat kepada raja’. Selain itu, kata baginda juga diartikan ‘yang bahagia’ dan ‘yang mulia’.

Demikianlah penjelasan mengenai bentuk terikat –anda sebagai kata sapaan hormat dalam keluarga. Semoga penjelasan singkat ini dapat menambah pengetahuan pembaca dalam berbahasa Indonesia. Mari gunakan dan lestarikan kembali kata sapaan-sapaan hormat dalam keluarga agar keluarga kita lebih terdengar puitis dan romantis oleh orang lain.  Selamat mencobanya. Semoga hidup rukun dan bahagia. Amin.*

Tags: #Yori Leo Saputra
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Layar Sentuh Smartphone

Berita Sesudah

Puisi-puisi Meiji Syahrul dan Ulasannya oleh Ragdi F. Daye

Berita Terkait

Membaca Novel Siti Nurbaya dalam Pandangan Sejarah

Membaca Novel Siti Nurbaya dalam Pandangan Sejarah

Minggu, 04/10/26 | 22:27 WIB

Oleh: Irfan Pandesta Putra, S.Hum (Sejarawan & Alumni S1 Ilmu Sejarah FIB Universitas Andalas)   Novel Siti Nurbaya: Kasih Tak...

Representasi Perempuan dalam Film “Agensi Rumah Tangga”: Kajian Feminisme Hélène Cixous

Representasi Perempuan dalam Film “Agensi Rumah Tangga”: Kajian Feminisme Hélène Cixous

Minggu, 04/10/26 | 12:42 WIB

Oleh: Tri Sutrisman (Mahasiswa Prodi Sastra Indonesia FIB Universitas Andalas)   Apa yang terjadi ketika perempuan kehilangan pekerjaan, tetapi tetap...

Rocky di Ketinggian 30.000 Kaki

Rocky di Ketinggian 30.000 Kaki

Minggu, 04/10/26 | 12:23 WIB

Oleh: Alfitri (Departemen Sosiologi FISIP Universitas Andalas)   Kendati sempat delay sekitar 45 menit dari jadwal take off 16:25, akhirnya...

Peluang Bisnis Fashion Halal bagi Anak Muda dalam Ekonomi Islam

Peluang Bisnis Fashion Halal bagi Anak Muda dalam Ekonomi Islam

Minggu, 27/9/26 | 11:52 WIB

Oleh: Kanaya Putri Sifa (Mahasiswa MKWK Bahasa Indonesia dan Mahasiswa Fakultas Ekonomi Bisnis Universitas Andalas)   Perkembangan dunia fashion saat...

Semburat: Kajian Makna dalam Perspektif Semantik

Semburat: Kajian Makna dalam Perspektif Semantik

Minggu, 27/9/26 | 11:25 WIB

Oleh: Tri Sutrisman (Mahasiswa Sastra Indonesia FIB Universitas Andalas)   Beberapa waktu lalu, saya sedang melakukan sesuatu yang mungkin cukup...

Puisi-puisi Wulan Darma Putri

Mengenal Polisemi dan Homonimi dalam Bahasa Indonesia

Minggu, 20/9/26 | 15:43 WIB

Oleh: Noor Alifah (Mahasiswa Sastra Indonesia FIB Universitas Andalas)   Pernahkah Anda mendengar kalimat "kepala sekolah itu sedang memegang kepalanya...

Berita Sesudah
Puisi-puisi Meiji Syahrul dan Ulasannya oleh Ragdi F. Daye

Puisi-puisi Meiji Syahrul dan Ulasannya oleh Ragdi F. Daye

Discussion about this post

POPULER

  • Puisi-puisi Dharma Purnama Putra

    Puisi-puisi Dharma Purnama Putra

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Puisi-puisi Arza Kailla Chaerani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pria ini Taklukan Lele Raksasa Ukurannya Nyaris Tiga Meter

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Perbedaan Awalan ber- dan me-

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Child Grooming sebagai Bentuk Frasa “Manipulasi Anak”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cahaya dari Surau Tuo

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Membaca Novel Siti Nurbaya dalam Pandangan Sejarah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026