Senin, 06/4/26 | 04:09 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI ARTIKEL

KKN Desa Penari, Sebuah Karya di Era Disruptif

Minggu, 17/7/22 | 07:51 WIB

Oleh: Roma Kyo Kae Saniro
(Dosen Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas)

KKN Desa Penari, sebuah film yang ditayangkan pada Sabtu, 30 April 2022 telah menarik perhatian banyak penonton yang terbukti telah menjual habis sebanyak 9,233,847 dan akhirnya pamit dari bioskop setelah tayang selama 75 hari (Tempo.co, 2022). KKN Desa Penari merupakan salah satu karya sastra yang dimunculkan dari adanya thread yang diunggah pertama kali pada 24 Juni 2019 oleh akun yang bernama @SimpleMan. KKN Desa Penari mengisahkan sekelompok mahasiswa (Ayu, Bima, Nur, Widya, Anton, dan Wahyu) yang sedang melakukan kegiatan KKN di salah satu desa di ujung timur Pulau Jawa, Indonesia. Namun, selama proses KKN, mereka mengalami kejadian-kejadian mistis yang disebabkan oleh ulah mereka sendiri.

Unggahan thread ini mendapatkan banyak perhatian masyarakat Indonesia sehingga menjadi perbincangan hangat atau viral di kalangan anak muda. Pada akhirnya, thread ini menarik perhatian penerbit Bukune untuk mencetaknya dalam sebuah buku. Lalu, rumah produksi MD Pictures yang diproduseri Manoj Punjabi berhasil mendapatkan hak cipta untuk mengadaptasi cerita tersebut menjadi sebuah film dengan judul yang sama.

BACAJUGA

Batu dan Zaman

Lebih dari Ego: Membaca Bawang Merah Bawang Putih melalui Psikoanalisis

Minggu, 05/4/26 | 11:04 WIB
Puisi-puisi M. Subarkah

Konfigurasi Makna Leksikal dan Kontekstual Kata “Siap” dalam Kajian Semantik

Minggu, 05/4/26 | 10:54 WIB

Sebelum lebih jauh, kita harus memahami konsep distruptif. Menurut KKBI V luring, disruptif dapat dimaknai sebagai kecenderungan mengubah atau mengganggu sistem yang sudah ada. Pada era globalisasi ini, disruptif dapat dilihat dari adanya penggunaan teknologi secara masif. Disruptif juga dapat dimaknai sebagai antikemapanan, cara berpikir yang beda dari sesuatu yang dianggap sebagai hegemoni atau kemapanan, taking for granted atau diterima begitu saja. Pada masa kini, disruptif penuh dengan ide baru dengan perubahan radikal dengan bantuan elektronik dan berhubungan dengan pasar, salah satunya adalah transmedialitas pada karya sastra (Jenkins, 2006) atau istilahnya adalah alih wahana jika meminjam istilah dari Sapardi Djoko Damono (Damono, 2016).

Jika kita melihat dari sumber karya, film KKN Desa Penari diadaptasi dari media atau wahana lain (dari media Twitter ke film yang memiliki tipe pemprograman yang berbeda walaupun dengan unsur elektronik di dalamnya). Hal ini sangat berbeda dari pandangan konvensional terkait dengan karya sastra yang dianggap harus dalam bentuk buku atau tulisan yang dapat diinderai secara konkret. Namun, pada era disruptif, padangan tersebut berusaha diperbaharui melalui perubahan besar, salah satunya adalah medianya.

Terlebih lagi, pada masa revolusi industri 4.0 yang menuntut semua bidang untuk mampu beradaptasi dan berkembang untuk memudahkan kehidupan manusia. Begitu pula dengan karya sastra yang lahir pada era disruptif ini. Teknologi memegang peranan penting yang menjadi titik pusat utama dalam penciptaan, akses pembacaan, atau distribusi karya. Masa ini menyajikan keluasan dan kebebasan dalam berkarya di berbagai media tanpa adanya sekat kuat seperti halnya publikasi karya melalui penerbit mayor.

KKN Desa Penari merupakan salah satu karya yang merupakan hasil disrupsi sastra konvensional yang berubah media menjadi sebuah film yang di dalamnya memiliki percampuran antara gambar bergerak, audio, dan efek sinematografi lainnya. Film KKN Desa Penari dapat dikategorikan sebagai sastra multimedia yang menurut Faruq dalam kuliah umumnya yang berjudul “Aktualisasi Studi Sastra, Filologi, dan Bahasa di Era Disrupsi” pada Selasa, 14 Juni 2022 mengungkapkan bahwa sastra multimedia memiliki basis editing, misalnya film, sedangkan sastra elektronik (sastra yang berbasis teknologi digital, telepon, campur internet, dicampur bahasa pemprograman: coding). Dalam hal ini, contohnya adalah sesuatu yang viral, seperti Twitter, Instagram.

Dapat disimpulkan bahwa KKN Desa Penari di Twitter merupakan sastra elektronik dan diubah menjadi sebuah film yang dapat dikategorikan sebagai sastra multimedia. Perubahan jenis sastra ini dapat dipahami sebagai sesuatu perubahan media melalui proses adaptasi. Oleh karena itu, dengan adanya perubahan media melalui jenis sastra yang berbeda, KKN Desa Penari merupakan sebuah karya yang mengalami disrupsi dari segi jenis atau wadah karya.  Karya ini mengalami disrupsi hanya secara media distribusi, bukan secara esensial. Oleh karena itu, tidak hanya eranya saja yang mengalami disrupsi, tetapi juga media karya sastra pun mengalami disrupsi.

Namun, dapat dipahami bahwa adanya disruptif ini memberikan keuntungan bagi karya sastra. Hal ini senada dengan yang diungkapkan oleh Trianton (2019) yang mengungkapkan bahwa era disrupsi memberikan udara segar bagi perkembangan sastra. Era distrupsi adalah mengikuti keinginan ranah pasar hanya sebagai media saja dan esensinya jangan sampai hilang.

Tags: #Roma Kyo Kae Saniro
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Alyana dan Musik

Berita Sesudah

Bijak Bermedia Sosial

Berita Terkait

Batu dan Zaman

Lebih dari Ego: Membaca Bawang Merah Bawang Putih melalui Psikoanalisis

Minggu, 05/4/26 | 11:04 WIB

Oleh: Andina Meutia Hawa (Dosen Prodi Sastra Indonesia FIB Universitas Andalas)   Cerita Bawang Merah Bawang Putih dalam antologi berjudul...

Puisi-puisi M. Subarkah

Konfigurasi Makna Leksikal dan Kontekstual Kata “Siap” dalam Kajian Semantik

Minggu, 05/4/26 | 10:54 WIB

Oleh: M. Subarkah (Mahasiswa Prodi S2 Linguistik FIB Universitas Andalas)    Bahasa merupakan sistem tanda yang tidak hanya berfungsi sebagai...

Efektivitas Ribuan Tangga di Universitas Andalas

Efektivitas Ribuan Tangga di Universitas Andalas

Minggu, 29/3/26 | 15:18 WIB

Oleh: Naura Aziza Cahyani (Mahasiswa Prodi Teknik Lingkungan Universitas Andalas)   Universitas Andalas (UNAND) merupakan salah satu universitas tertua di...

Identitas Lokal dalam Buku Puisi “Hantu Padang” Karya Esha Tegar

Penafsiran Analogi dan Lokalitas dalam Wacana di Media Sosial

Minggu, 29/3/26 | 14:53 WIB

Oleh: Sabina Yonandar (Mahasiswa Prodi Sastra Indonesia FIB Universitas Andalas)   Media sosial menjadi salah satu cara yang sangat mudah...

Memahami Kembali Imbuhan memper-

Berbagai Macam Rasa di dalam Bahasa Indonesia

Minggu, 29/3/26 | 14:32 WIB

Oleh: Reno Wulan Sari (Dosen Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing Busan University of Foreign Studies, Korea Selatan) Belakangan ini, di...

Kriteria Pemimpin 3P (Palapau, Pasurau, dan Pagurau) di Minangkabau

Kriteria Pemimpin 3P (Palapau, Pasurau, dan Pagurau) di Minangkabau

Minggu, 15/3/26 | 15:41 WIB

‎Oleh: Alfan Raseva (Ketua Ketua Taruna Nagari Aie Tajun, Kecamatan Lubuk Alung)   Kepemimpinan dalam kacamata Minangkabau adalah perpaduan antara...

Berita Sesudah
Toping Martabak Manis dan Cerita di Baliknya

Bijak Bermedia Sosial

Discussion about this post

POPULER

  • PSP Padang berhasil menjadi juara Liga 4 Sumatera Barat usai berhasil mengalahkan PSPP Padang Panjang 3-2 melalui pertandingan yang dramatis, Kamis ( 2/4/26), di Stadion Utama Sumatera Barat, Padang Pariaman.

    Wali Kota Padang Apresiasi PSP Padang Juara Liga 4 Sumatera Barat

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Konfigurasi Makna Leksikal dan Kontekstual Kata “Siap” dalam Kajian Semantik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Diduga Akhiri Hidup, Pemuda di Dharmasraya Tewas Tergantung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Apakah Kata “bapak” dan “ibu” Harus Ditulis dalam Huruf Kapital ?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Perbedaan Kata “kepada”, “untuk”, dan “bagi”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Longsor di Nagari Banai Dharmasraya, Transportasi Menuju Tiga Nagari Putus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Curi Barang Pemudik Rp15 Juta, Pria di Pulau Punjung Diciduk Tim Nan Dareh

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026