Senin, 06/7/26 | 14:51 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • BERITA
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI ARTIKEL

KKN Desa Penari, Sebuah Karya di Era Disruptif

Minggu, 17/7/22 | 07:51 WIB

Oleh: Roma Kyo Kae Saniro
(Dosen Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas)

KKN Desa Penari, sebuah film yang ditayangkan pada Sabtu, 30 April 2022 telah menarik perhatian banyak penonton yang terbukti telah menjual habis sebanyak 9,233,847 dan akhirnya pamit dari bioskop setelah tayang selama 75 hari (Tempo.co, 2022). KKN Desa Penari merupakan salah satu karya sastra yang dimunculkan dari adanya thread yang diunggah pertama kali pada 24 Juni 2019 oleh akun yang bernama @SimpleMan. KKN Desa Penari mengisahkan sekelompok mahasiswa (Ayu, Bima, Nur, Widya, Anton, dan Wahyu) yang sedang melakukan kegiatan KKN di salah satu desa di ujung timur Pulau Jawa, Indonesia. Namun, selama proses KKN, mereka mengalami kejadian-kejadian mistis yang disebabkan oleh ulah mereka sendiri.

Unggahan thread ini mendapatkan banyak perhatian masyarakat Indonesia sehingga menjadi perbincangan hangat atau viral di kalangan anak muda. Pada akhirnya, thread ini menarik perhatian penerbit Bukune untuk mencetaknya dalam sebuah buku. Lalu, rumah produksi MD Pictures yang diproduseri Manoj Punjabi berhasil mendapatkan hak cipta untuk mengadaptasi cerita tersebut menjadi sebuah film dengan judul yang sama.

BACAJUGA

Dari Like ke Loyalitas: Strategi UMKM Memanfaatkan Media Sosial

Dari Like ke Loyalitas: Strategi UMKM Memanfaatkan Media Sosial

Senin, 06/7/26 | 05:56 WIB
Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Nongender

Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Nongender

Senin, 06/7/26 | 05:43 WIB

Sebelum lebih jauh, kita harus memahami konsep distruptif. Menurut KKBI V luring, disruptif dapat dimaknai sebagai kecenderungan mengubah atau mengganggu sistem yang sudah ada. Pada era globalisasi ini, disruptif dapat dilihat dari adanya penggunaan teknologi secara masif. Disruptif juga dapat dimaknai sebagai antikemapanan, cara berpikir yang beda dari sesuatu yang dianggap sebagai hegemoni atau kemapanan, taking for granted atau diterima begitu saja. Pada masa kini, disruptif penuh dengan ide baru dengan perubahan radikal dengan bantuan elektronik dan berhubungan dengan pasar, salah satunya adalah transmedialitas pada karya sastra (Jenkins, 2006) atau istilahnya adalah alih wahana jika meminjam istilah dari Sapardi Djoko Damono (Damono, 2016).

Jika kita melihat dari sumber karya, film KKN Desa Penari diadaptasi dari media atau wahana lain (dari media Twitter ke film yang memiliki tipe pemprograman yang berbeda walaupun dengan unsur elektronik di dalamnya). Hal ini sangat berbeda dari pandangan konvensional terkait dengan karya sastra yang dianggap harus dalam bentuk buku atau tulisan yang dapat diinderai secara konkret. Namun, pada era disruptif, padangan tersebut berusaha diperbaharui melalui perubahan besar, salah satunya adalah medianya.

Terlebih lagi, pada masa revolusi industri 4.0 yang menuntut semua bidang untuk mampu beradaptasi dan berkembang untuk memudahkan kehidupan manusia. Begitu pula dengan karya sastra yang lahir pada era disruptif ini. Teknologi memegang peranan penting yang menjadi titik pusat utama dalam penciptaan, akses pembacaan, atau distribusi karya. Masa ini menyajikan keluasan dan kebebasan dalam berkarya di berbagai media tanpa adanya sekat kuat seperti halnya publikasi karya melalui penerbit mayor.

KKN Desa Penari merupakan salah satu karya yang merupakan hasil disrupsi sastra konvensional yang berubah media menjadi sebuah film yang di dalamnya memiliki percampuran antara gambar bergerak, audio, dan efek sinematografi lainnya. Film KKN Desa Penari dapat dikategorikan sebagai sastra multimedia yang menurut Faruq dalam kuliah umumnya yang berjudul “Aktualisasi Studi Sastra, Filologi, dan Bahasa di Era Disrupsi” pada Selasa, 14 Juni 2022 mengungkapkan bahwa sastra multimedia memiliki basis editing, misalnya film, sedangkan sastra elektronik (sastra yang berbasis teknologi digital, telepon, campur internet, dicampur bahasa pemprograman: coding). Dalam hal ini, contohnya adalah sesuatu yang viral, seperti Twitter, Instagram.

Dapat disimpulkan bahwa KKN Desa Penari di Twitter merupakan sastra elektronik dan diubah menjadi sebuah film yang dapat dikategorikan sebagai sastra multimedia. Perubahan jenis sastra ini dapat dipahami sebagai sesuatu perubahan media melalui proses adaptasi. Oleh karena itu, dengan adanya perubahan media melalui jenis sastra yang berbeda, KKN Desa Penari merupakan sebuah karya yang mengalami disrupsi dari segi jenis atau wadah karya.  Karya ini mengalami disrupsi hanya secara media distribusi, bukan secara esensial. Oleh karena itu, tidak hanya eranya saja yang mengalami disrupsi, tetapi juga media karya sastra pun mengalami disrupsi.

Namun, dapat dipahami bahwa adanya disruptif ini memberikan keuntungan bagi karya sastra. Hal ini senada dengan yang diungkapkan oleh Trianton (2019) yang mengungkapkan bahwa era disrupsi memberikan udara segar bagi perkembangan sastra. Era distrupsi adalah mengikuti keinginan ranah pasar hanya sebagai media saja dan esensinya jangan sampai hilang.

Tags: #Roma Kyo Kae Saniro
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Alyana dan Musik

Berita Sesudah

Bijak Bermedia Sosial

Berita Terkait

Dari Like ke Loyalitas: Strategi UMKM Memanfaatkan Media Sosial

Dari Like ke Loyalitas: Strategi UMKM Memanfaatkan Media Sosial

Senin, 06/7/26 | 05:56 WIB

Oleh: Abdul Hamid Sajidurrahman (Mahasiswa MKWK Bahasa Indonesia dan Mahasiswa FEB Universitas Andalas)   Di era digital seperti sekarang, cara...

Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Nongender

Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Nongender

Senin, 06/7/26 | 05:43 WIB

Oleh: Maryatul Kuptiah (Mahasiswa Program Studi Sastra Indonesia dan Anggota Aktif UKMF Labor Penulisan Kreatif FIB UNAND)   Bahasa adalah...

Lidah, Logat, dan Tangerang: Cerita Kecil tentang Bunyi

Lidah, Logat, dan Tangerang: Cerita Kecil tentang Bunyi

Minggu, 05/7/26 | 16:04 WIB

Oleh: Mita Handayani (Alumni Magister Linguistik FIB Universitas Andalas)   Beberapa hari yang lalu, saya bersama tim EQUITY dan pimpinan...

Puisi-puisi M. Subarkah

Salindia atau PPT? Potret Sikap Bahasa Generasi Digital

Senin, 29/6/26 | 21:20 WIB

Oleh: M. Subarkah (Mahasiswa Prodi S2 Linguistik FIB Universitas Andalas)   “Besok presentasi pakai PPT, ya.” Kalimat tersebut hampir setiap...

Batu dan Zaman

Peran Podcast dalam Produksi Bahasa

Senin, 29/6/26 | 21:06 WIB

Oleh: Andina Meutia Hawa (Dosen Prodi Sastra Indonesia FIB Universitas Andalas)   Ada pengalaman yang menyenangkan setiap kali mengikuti episode...

Kreativitas Berbahasa yang Anomali

Kreativitas Berbahasa yang Anomali

Senin, 29/6/26 | 13:05 WIB

Oleh: Alex Darmawan (Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas)   Di zaman milenial sekarang ini, kreativitas adalah hal yang sangat...

Berita Sesudah
Toping Martabak Manis dan Cerita di Baliknya

Bijak Bermedia Sosial

Discussion about this post

POPULER

  • Lidah, Logat, dan Tangerang: Cerita Kecil tentang Bunyi

    Lidah, Logat, dan Tangerang: Cerita Kecil tentang Bunyi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Puisi-puisi Eliza Nuzul Fitria

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Se Indonesia, seIndonesia, atau se-Indonesia?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Wacana Digital dan Dinamika Istilah dalam Bahasa Indonesia

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Dari Like ke Loyalitas: Strategi UMKM Memanfaatkan Media Sosial

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sumbang 12 untuk Puti Bungsu Minangkabau

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Apakah Kata “bapak” dan “ibu” Harus Ditulis dalam Huruf Kapital ?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026