Sabtu, 17/1/26 | 09:39 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI RENYAH

Ngerumpi

Minggu, 12/6/22 | 10:13 WIB

Lastry Monika
(Kolumnis Rubrik Renyah Scientia.id)

 

Aktivitas ngerumpi, bergibah, bergunjing, dan lainnya yang sejenis dengan “ngomongin orang di belakang” seringkali diidentikkan dengan perempuan. Biasanya, aktivitas itu dipandang hanya dilakukan oleh sekumpulan ibu-ibu, entah itu ketika mereka sedang berbelanja sayur atau berkumpul di suatu tempat, seperti warung.

BACAJUGA

Suatu Hari di Sekolah

Saat Ide Mengalir di Detik Terakhir

Minggu, 05/10/25 | 20:02 WIB
Suatu Hari di Sekolah

Antara Deadline dan Bedcover

Minggu, 14/9/25 | 18:56 WIB

Warung atau dalam bahasa Minangkabau lebih dikenal dengan lapau, selain tempat berbelanja berbagai kebutuhan, juga dianggap sebagai tempat berdialog dan adu argumen. Akan tetapi, kedua hal itu cenderung disematkan kepada laki-laki. Lapau dianggap sebagai tempat bagi mereka untuk membicarakan seputar perpolitikan kampung. Namun, di kampung saya sendiri, saya tidak selalu menemukan hal itu. Saya justru menjumpai fenomena lain yang membuat saya agak geli sendiri.

Beberapa bulan terakhir, kampung saya disemarakkan oleh kampanye pemilihan Wali nagari. Obrolan-obrolan yang sengit sering saya jumpai tengah berlangsung di media sosial, terutama facebook. Tentu saja, obrolan dan adu argumen itu dilakukan oleh anak muda, entah mereka tinggal di rantau ataupun yang menetap di kampung halaman.

Saya kira, obrolan sengit seperti demikian juga berlangsung di lapau, tetapi pada salah satu lapau di kampung saya, tidak saya jumpai obrolan seperti demikian. Saya bilang hanya salah satu karena saya belum melakukan survei ke lapau-lapau yang lainnya. Kebetulan, lapau yang satu ini ialah lapau terdekat dari rumah saya.

Sering sekali, ketika berbelanja ke lapau itu, saya menjumpai sekumpulan bapak-bapak tengah mengobrol. Ketika saya tiba untuk berbelanja, mereka biasanya tiba-tiba diam seribu bahasa. Kadang, saya malah menjadi salah tingkah dengan keheningan itu, tetapi sekembalinya saya ke rumah, mereka tampak mengobrol kembali diselingi tawa, kadang terbahak-bahak kadang cengengesan juga. Kejadian serupa ini tidak hanya saya alami satu kali, tetapi teramat sering.

Hal itu membuat saya enggan untuk berbelanja ke lapau tersebut, terutama ketika terbentuk formasi sekumpulan bapak-bapak tengah mengobrol, tetapi suatu kali saya disuruh ibu untuk membelikannya bumbu memasak sup. Saya agak keberatan dan berkata agar membelinya nanti saja ketika formasi sekumpulan bapak-bapak telah bubar, tetapi sup ibu tengah terjerang dan itu harus disegerakan.

Saya memutuskan untuk masuk lapau lewat pintu belakang. Ternyata, bapak-bapak tetap mengobrol seperti biasanya. Sepertinya mereka tidak tahu ada orang lain yang tengah belanja ke lapau itu. Ketika mencari-cari bumbu pemasak sup, terdengarlah obrolan aneh di telinga saya.

“Lihatlah itu! Anaknya sudah digendong suaminya. Seharusnya ia mengerjakan pekerjaannya!”

“Padahal, banyak pekerjaan lain yang bisa dikerjakan.”

“Seperti menyapu, memasak, dan mencuci. Iya kan?” Lalu mereka tertawa terbahak-bahak.

Rupanya, bapak-bapak ini tengah membicarakan sebuah keluarga yang berada di seberang lapau. Ketika saya lihat, keluarga yang dibicarakan itu tengah baik-baik saja. Anak mereka yang masih balita tengah digendong oleh ayahnya. Ibunya tengah duduk di salah satu kursi yang ada di lapau sembari menggoda anaknya dengan ekspresi lucu. Dalam hati saya menggerutu, lagi pula tahu dari mana bapak-bapak ini persoalan keluarga itu.

Lalu saya menjulurkan kepala ke arah depan lapau. Saya pura-pura mencari bumbu pemasak sup (padahal sudah saya temukan). Bapak-bapak yang tadi terbahak-bahak itu tiba-tiba diam. Mereka seperti kehabisan bahan obrolan. Kali ini, yang salah tingkah justru mereka.

Begitulah kira-kira asal-mula saya menamai mereka “Bapak-Bapak Ngerumpi”. Aktivitas mereka itu juga seperti rutin dilakukan. Biasanya di pagi menjelang siang dan sore hari menjelang Magrib. Ngerumpi dua kali sehari. Asupan rumpi yang teratur. Eh, sudah seperti aturan minum obat saja.

Tags: #Lastry Monica
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Modal Sosial dan Ketahanan Pangan

Berita Sesudah

Puisi-puisi Ria Febrina

Berita Terkait

Lagu yang Tak Selesai-selesai

2026 dan Renyah yang Tetap Menyapa

Minggu, 04/1/26 | 23:10 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah)   Akhir tahun 2025 kita lewati dengan langkah yang lebih pelan. Bencana yang terjadi di...

Lagu yang Tak Selesai-selesai

Lengah di Tengah Jeda

Minggu, 21/12/25 | 20:08 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah)   Saat istirahat siang, saya sering lengah dengan waktu. Bukan karena terburu-buru seperti di pagi...

Lagu yang Tak Selesai-selesai

Ketika Waktu Tak Menunggu

Minggu, 07/12/25 | 22:22 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah)   Saya sering bangun tergesa, seolah pagi datang lebih cepat dari dugaan. Waktu terus berjalan...

Lagu yang Tak Selesai-selesai

Hujan yang Merawat Diam

Minggu, 23/11/25 | 19:52 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah)   Hujan selalu punya cara sederhana untuk membuat saya berhenti sejenak. Di antara rintik yang...

Lagu yang Tak Selesai-selesai

Tentang Usaha yang Tidak Terlihat

Minggu, 09/11/25 | 20:13 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah)   Dalam setiap pertandingan olahraga selalu ada dua kemungkinan, menang atau kalah. Dari kejauhan semuanya...

Lagu yang Tak Selesai-selesai

Ketika Hasil Tak Sepenting Perjalanan

Minggu, 26/10/25 | 21:50 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah)   Libur kuliah dahulu selalu terasa seperti lagu merdu yang menandai kebebasan. Setelah berminggu-minggu bergulat...

Berita Sesudah
Puisi-puisi Ria Febrina

Puisi-puisi Ria Febrina

Discussion about this post

POPULER

  • Wali Kota Padang Fadly Amran, mengusulkan sejumlah proyek pelestarian lingkungan bagi Kota Padang dalam skema kerja sama bilateral Indonesia-Jerman di tahun 2026.(Foto:Ist)

    Wali Kota Padang Usulkan Proyek Lingkungan Hidup Pada Negara Jerman

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Denda PDAM Kota Padang Membingungkan, Tagihan Sampah Dipungut Meski Tak Diangkut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pemko Padang Dukung Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Sesuai Arahan Pemerintah Pusat

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Perbedaan Kata “kepada”, “untuk”, dan “bagi”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Se Indonesia, seIndonesia, atau se-Indonesia?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Apakah Kata “bapak” dan “ibu” Harus Ditulis dalam Huruf Kapital ?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Denda Tunggakan Air PDAM Padang Naik Bertahap, Pelanggan Terancam Diputus Tanpa Pemberitahuan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2024

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2024