Jumat, 10/4/26 | 19:22 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • BERITA
    • TERAS
    • EKONOMI
    • HUKUM
    • POLITIK
    • DAERAH
    • EDUKASI
    • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • BERITA
    • TERAS
    • EKONOMI
    • HUKUM
    • POLITIK
    • DAERAH
    • EDUKASI
    • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • BERITA
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI ARTIKEL

Pengembangan Sitandu untuk Meningkatkan Pengelolaan Lahan Pekarangan yang Menguntungkan

Minggu, 09/1/22 | 07:00 WIB

Oleh:
Silvia Permata Sari
(Dosen Fakultas Pertanian, Universitas Andalas)

 

Kondisi lahan yang semakin berkurang karena banyaknya lahan digunakan untuk kebutuhan nonpangan menyebabkan penurunan produksi hasil pertanian. Hal ini sesuai dengan hasil survei Badan Pusat Statistik (BPS, 2018) yang menyebutkan luas lahan baku sawah terus menurun, luas lahan tinggal 7,1 juta hektare, turun dibanding 2017 yang masih 7,75 juta hektare. Hal ini menjadi permasalahan untuk pemenuhan kebutuhan masyarakat. Alternatif yang bisa dilakukan, yaitu memanfaatkan lahan pekarangan di rumah. Lahan pekarangan sekitar rumah yang dikatakan sempit bisa diolah agar dapat digunakan untuk budidaya tanaman.

Salah satu caranya yaitu dengan Sistem Pertanian Terpadu (Sitandu). Sistem ini bisa efektif dalam mengelola lahan sempit untuk ditanami tanaman hortikultura dan ternak ikan. Sistem pertanian terpadu atau dikenal dengan istilah Sitandu adalah sistem pertanian yang mengkombinasikan berbagai tanaman dan ternak. sistem ini juga menerapkan berbagai teknik untuk menciptakan kondisi yang cocok untuk melindungi lingkungan, menjaga produktivitas lahan, dan meningkatkan pendapatan petani.

BACAJUGA

Batu dan Zaman

Lebih dari Ego: Membaca Bawang Merah Bawang Putih melalui Psikoanalisis

Minggu, 05/4/26 | 11:04 WIB
Puisi-puisi M. Subarkah

Konfigurasi Makna Leksikal dan Kontekstual Kata “Siap” dalam Kajian Semantik

Minggu, 05/4/26 | 10:54 WIB

Sistem pertanian terpadu adalah pemanfaatan sumber daya yang bertujuan ganda dan berimbang dengan seleksi jenis tanaman maupun ternak. Sistem pertanian terpadu ialah sistem pertanian yang didasarkan pada konsep daur ulang biologis antara usaha tanaman, perikanan dan peternakan. Sistem pertanian terpadu adalah suatu sistem pengelolaan tanaman, hewan ternak dan ikan dengan lingkungannya untuk menghasilkan suatu produk yang optimal dan sifatnya cenderung tertutup terhadap masukan luar.

Penerapan sistem pertanian terpadu ini sudah berkembang di beberapa daerah, hanya saja banyak yang takut mencobanya dengan alasan klasik, yaitu tidak mempunyai banyak keterampilan dalam berbagai bidang (multi talent). Padahal, sistem pertanian terpadu bisa mengurangi risiko gagal panen karena jumlah tanaman yang banyak ditanam sehingga gagal salah satu masih bisa di panen tanaman yang lain dan memberikan keuntungan yang lebih ke petani dan masyarakat yang menerapkannya.

Sebagai contoh, terdapat kondisi lahan yang hanya 200 meter persegi. Lahan tersebut bisa ditanami tanaman hortikultura seperti kangkung, bayam,terong, cabai dengan ternak kambing dan ayam di mana kotoran dari kambing dan ayam bisa digunakan sebagai pupuk kandang, sedangkan tanaman kangkung dan bayam bisa di panen sekali 25 hari, lalu ayam yang sehari bisa rata-rata 5 butir telur sehingga hal ini bisa membantu menjaga kondisi ramah lingkungan serta meningkatkan pendapatan petani walaupun hanya dengan lahan yang sempit. Kondisi lahan di pekarangan bisa di gunakan untuk memenuhi kebutuhan pangan paling tidak untuk diri sendiri dan keluarga dan bisa juga di jual ke pasar terdekat.

Dapat dilihat bagaimana pengelolaan lahan pekarangan untuk tanaman sayuran dan beternak ayam yang bisa memenuhi kebutuhan pangan serta meningkatkan pendapatan petani. Oleh sebab itu, kita perlu menerapkan sistem pertanian terpadu karena memiliki banyak keuntungan bagi petani dan masyarakat mulailah bertanam dari rumah menciptakan suasana indah dan segar karena kita yang akan menikmatinya. Lahan sempit bukan menjadi alasan untuk sistem pertanian terpadu ini, tapi menjadi solusi untuk budidaya tanaman itu sendiri. Selain itu, dapat meringankan biaya produksi dari pemasukan kotoran hewan sebagai pupuk.

Penerapan sistem pertanian terpadu tersebut dapat membantu masyarakat dalam menyediakan kebutuhan pangan secara mandiri (baik sayuran, buah-buahan maupun obat-obatan maupun ternak) di pekarangan dengan lahan yang sempit sehingga jika masyarakat sudah mulai sedikit mandiri dalam menyediakan pangan maka krisis pangan karena meningkatnya jumlah penduduk dapat di atasi, serta lingkungan yang bersih, tingkat stres yang tinggi, biaya hidup yang mahal, cuaca yang panas (berkurang karena banyaknya oksigen dari tanaman) dapat sedikit teratasi dengan sistem pertanian terpadu ini menggabungkan budidaya tanaman dan ternak.

Tags: #Silvia Permata Sari
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Pelajaran dari IKEA

Berita Sesudah

Cerpen “Lifa” Karya Alhimmatul ‘Aliyah Radhwa dan Ulasannya oleh Azwar Sutan Malaka

Berita Terkait

Batu dan Zaman

Lebih dari Ego: Membaca Bawang Merah Bawang Putih melalui Psikoanalisis

Minggu, 05/4/26 | 11:04 WIB

Oleh: Andina Meutia Hawa (Dosen Prodi Sastra Indonesia FIB Universitas Andalas)   Cerita Bawang Merah Bawang Putih dalam antologi berjudul...

Puisi-puisi M. Subarkah

Konfigurasi Makna Leksikal dan Kontekstual Kata “Siap” dalam Kajian Semantik

Minggu, 05/4/26 | 10:54 WIB

Oleh: M. Subarkah (Mahasiswa Prodi S2 Linguistik FIB Universitas Andalas)    Bahasa merupakan sistem tanda yang tidak hanya berfungsi sebagai...

Efektivitas Ribuan Tangga di Universitas Andalas

Efektivitas Ribuan Tangga di Universitas Andalas

Minggu, 29/3/26 | 15:18 WIB

Oleh: Naura Aziza Cahyani (Mahasiswa Prodi Teknik Lingkungan Universitas Andalas)   Universitas Andalas (UNAND) merupakan salah satu universitas tertua di...

Identitas Lokal dalam Buku Puisi “Hantu Padang” Karya Esha Tegar

Penafsiran Analogi dan Lokalitas dalam Wacana di Media Sosial

Minggu, 29/3/26 | 14:53 WIB

Oleh: Sabina Yonandar (Mahasiswa Prodi Sastra Indonesia FIB Universitas Andalas)   Media sosial menjadi salah satu cara yang sangat mudah...

Memahami Kembali Imbuhan memper-

Berbagai Macam Rasa di dalam Bahasa Indonesia

Minggu, 29/3/26 | 14:32 WIB

Oleh: Reno Wulan Sari (Dosen Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing Busan University of Foreign Studies, Korea Selatan) Belakangan ini, di...

Kriteria Pemimpin 3P (Palapau, Pasurau, dan Pagurau) di Minangkabau

Kriteria Pemimpin 3P (Palapau, Pasurau, dan Pagurau) di Minangkabau

Minggu, 15/3/26 | 15:41 WIB

‎Oleh: Alfan Raseva (Ketua Ketua Taruna Nagari Aie Tajun, Kecamatan Lubuk Alung)   Kepemimpinan dalam kacamata Minangkabau adalah perpaduan antara...

Berita Sesudah
Cerpen “Lifa” Karya Alhimmatul ‘Aliyah Radhwa dan Ulasannya oleh Azwar Sutan Malaka

Cerpen "Lifa" Karya Alhimmatul 'Aliyah Radhwa dan Ulasannya oleh Azwar Sutan Malaka

Discussion about this post

POPULER

  • Afrina Hanum

    Sumbang 12 untuk Puti Bungsu Minangkabau

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Apakah Kata “bapak” dan “ibu” Harus Ditulis dalam Huruf Kapital ?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Tanda Titik pada Singkatan Nama Perusahaan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Perbedaan Bahasa Indonesia Formal dan Informal

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Perbedaan Kata Ganti Orang Ketiga “Beliau”, “Dia”, dan “Ia” dalam Bahasa Indonesia

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Penggunaan Kata Ganti Engkau, Kau, Dia, dan Ia

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Perbedaan Awalan ber- dan me-

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • BERITA
    • TERAS
    • EKONOMI
    • HUKUM
    • POLITIK
    • DAERAH
    • EDUKASI
    • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026