Selasa, 23/6/26 | 01:57 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • BERITA
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI ARTIKEL

Pentingnya Teknik Roguing pada Produksi Benih Padi Bersertifikat

Minggu, 31/10/21 | 07:00 WIB

Dr. Dini Hervani, M.P.
(Dosen Fakultas Pertanian Universitas Andalas)

 

Salah satu persyaratan untuk memproduksi benih padi yang bersertifikat adalah: mempertahankan kemurnian dan mutu genetik suatu varietas. Kegiatan yang penting dalam upaya peningkatan kemurnian benih dalam produksi benih disebut Roguing. Apa itu roguing, apa tujuannya, dan kapan waktu kita melakukan roguing? Pada artikel ini akan dibahas secara singkat dan jelas.

Roguing adalah seleksi negatif (off type), yaitu kegiatan mengidentifikasi dan menghilangkan tanaman yang menyimpang. Adapun tujuan roguing yaitu:

  1. Mengkarakteristik varietas yang digunakan, oleh karena itu orang yang melakukan roguing harus mengetahui deskripsi dari varietas yang dibudidayakan.
  2. Pembuangan tanaman-tanaman yang memiliki ciri atau penampilan berbeda yang dilaksanakan di lahan produksi benih dengan tujuan untuk menjaga kemurnian fisik varietas yang sedang diproduksi.
  3. Membuang gulma berbahaya sehingga persyaratan sertifikasi benih dapat terpenuhi dan kemurnian benih dapat terjaga.

Roguing dilakukan secara rutin dan dalam beberapa kali pelaksanaan pada fase pertumbuhan yang berbeda secara terus menerus sampai penampilan tanaman memang terlihat seragam dan hingga sebelum panen. Untuk mendapatkan hasil yang baik, maka sebaiknya roguing dilakukan pada pagi hari sebelum matahari terlalu panas agar pengenalan terhadap ciri-ciri kritis yang ada dapat lebih mudah dilakukan.

BACAJUGA

Paylater, Kemudahan di Ujung Jari atau Jebakan Keuangan di Masa Depan

Paylater, Kemudahan di Ujung Jari atau Jebakan Keuangan di Masa Depan

Minggu, 21/6/26 | 14:59 WIB
Makna Dibalik Puisi “Harapan” Karya Sapardi Tinjauan Semiotika

Gaya Bahasa dalam Cerpen “Beki Bebek” Karya Vanda Parengkuan

Minggu, 21/6/26 | 14:42 WIB

Kegiatan roguing menjadi hal yang harus diutamakan agar secara fisik benih yang dihasilkan benar-benar murni. Roguing dilakukan untuk menghilangkan varietas yang menyimpang dari varietas utamanya. “Bisa dibayangkan bila yang berbeda hanya satu malai dengan jumlah benih sekitar 200 gabah, sehingga bila 10 malai sudah 2000 gabah. Jika benih tersebut ditanam lagi maka akan sangat mengganggu kemurnian benih yang dihasilkan,”.

(Foto: Dini Hervani)

Jika roguing tidak kita lakukan, kemungkinan terjadinya varietas menyimpang itu tergolong tinggi. Tanda-tanda varietas yang menyimpang adalah: penampilan fisik berbeda (tanaman lebih tinggi, warna dan malainya berbeda), dan varietas yang berbeda bisa lebih rendah dari yang lainnya. Penyimpangan biasanya karena beberapa benih yang tercampur dengan benih dari varietas utama yang akan dihasilkan. Hal tersebut terjadi saat dilakukan perontokan (alat perontok harus benar-benar bersih), atau penggunaan sekam bakar saat persemaian dan bisa pula terjadi jika panen menggunakan mesin.

Untuk tanaman padi, roguing dapat dilakukan sebanyak minimal empat kali dan roguing dilakukan secara berulang dan sistematik, bahkan tidak disarankan jika dilakukan hanya satu kali karena peluang untuk menghasilkan varietas yang menyimpang akan sangat tinggi. Ada empat waktu dilakukannya roguing pada tanaman padi, yaitu sebagai berikut :

  1. Roguing pada fase vegetatif awal (35 sampai 45 Hari Setelah Tanaman).
  2. Roguing pada fase vegetatif akhir atau anakan maksimum (50 sampai 60 HST).

Pada fase ini, tipe tanaman yang di-roguing adalah tanaman yang tumbuh di luar jalur/barisan, tanaman/rumpun yang tipe pertunasan menyimpang dari sebagian besar rumpun-rumpun lain, tanaman yang bentuk dan ukuran daunnya berbeda dari sebagian besar rumpun-rumpun lain, tanaman yang warna kaki  atau helai daun dan  pelepahnya berbeda dari sebagian besar rumpun-rumpun lain, tanaman/rumpun yang tingginya sangat berbeda (mencolok).

  1. Roguing pada fase generatif awal / berbunga (85 sampai 90 HST).
  2. Roguing pada fase generatif akhir / masak (100 sampai 115 HST).

Tipe tanaman yang diroguing pada fase generatif akhir ini adalah: tanaman/rumpun yang tipe tumbuhnya menyimpang dari sebagian besar rumpun-rumpun lain, tanaman yang bentuk dan ukuran daun benderanya berbeda dari sebagian besar rumpun-rumpun lain, tanaman yang berbunga terlalu cepat atau terlalu lambat dari sebagian besar rumpun-rumpun lain, tanaman/rumpun yang memiliki eksersi malai berbeda, tanaman/rumpun yang terlalu cepat matang, tanaman/rumpun yang memiliki bentuk dan ukuran gabah, warna gabah. dan ujung gabah (rambut /tidak berambut) berbeda.

Kegiatan sosialisasi roguing pada tanaman padi sudah pernah dilakukan pada kelompok tani Semangat Berkarya di Nagari Sungai Batang, Kabupaten Agam. Kegiatan tersebut disambut baik oleh kelompok tani Nagari Sungai Batang yang saat ini dilatih menjadi penangkar benih padi oleh Tim Pengabdian Masyarakat Unand. Itu terlihat dari sesi tanya jawab yang interaktif antara narasumber dengan anggota kelompok tani hingga selesai kegiatan pengabdian.

Tags: #Dini Hervani
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Cerpen “Suluh Jo Siampa” Karya Linda Tanjung dan Ulasannya oleh Azwar Sutan Malaka

Berita Sesudah

Pemakaian “seperti” dan “dan sebagainya” dalam Kalimat

Berita Terkait

Paylater, Kemudahan di Ujung Jari atau Jebakan Keuangan di Masa Depan

Paylater, Kemudahan di Ujung Jari atau Jebakan Keuangan di Masa Depan

Minggu, 21/6/26 | 14:59 WIB

Oleh: Puty Mahira Zahrani (Mahasiswa MKWK Bahasa Indonesia dan Fakultas Ekonomi Bisnis Universitas Andalas)   Hidup di abad ke-21 rasanya...

Makna Dibalik Puisi “Harapan” Karya Sapardi Tinjauan Semiotika

Gaya Bahasa dalam Cerpen “Beki Bebek” Karya Vanda Parengkuan

Minggu, 21/6/26 | 14:42 WIB

Oleh: Muhammad Zakwan Rizaldi (Mahasiswa Prodi Sastra Indonesia dan Anggota UKMF Labor Penulisan Kreatif FIB Universitas Andalas)           "Kata yang...

Puisi-puisi Wulan Darma Putri

Peduli di Layar, Abai di Jalan: Ironi Aktivisme Lingkungan di Era Digital

Minggu, 21/6/26 | 14:31 WIB

Oleh: Noor Alifah (Mahasiswa Sastra Indonesia FIB Universitas Andalas)   Di era digital, menunjukkan kepedulian terhadap lingkungan tidak pernah semudah...

Gus Hery dan Transisi NU di Abad Kedua

Gus Hery dan Transisi NU di Abad Kedua

Minggu, 14/6/26 | 22:37 WIB

Oleh: Satria Efendi Tuanku Kuniang (Ulama dan Tokoh Nahdlatul Ulama Sumatera Barat)   Nahdlatul Ulama (NU) sedang berada di sebuah...

Nilai-Nilai Religius pada Karya Andreas Gryphius

Membaca Sapardi dan Seni Berdamai dengan Kefanaan

Minggu, 14/6/26 | 22:24 WIB

Oleh: Hilda Septriani (Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjadjaran)   Pada masa ini, ada puisi yang justru berbahaya karena tampak...

Ketika Rupa Menjadi Stigma Sosial: Labeling dalam Novel “Dawuk”

Ketika Rupa Menjadi Stigma Sosial: Labeling dalam Novel “Dawuk”

Minggu, 14/6/26 | 22:16 WIB

Oleh: Nayla Aprilia (Mahasiswi Prodi Sastra Indonesia, Universitas Andalas, Padang)   Di tengah masyarakat, penampilan fisik sering kali menjadi dasar...

Berita Sesudah
Jelajah Kata: Ramadhan atau Ramadan?

Pemakaian “seperti” dan “dan sebagainya” dalam Kalimat

Discussion about this post

POPULER

  • Puisi-puisi Wulan Darma Putri

    Peduli di Layar, Abai di Jalan: Ironi Aktivisme Lingkungan di Era Digital

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gaya Bahasa dalam Cerpen “Beki Bebek” Karya Vanda Parengkuan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Tanda Titik pada Singkatan Nama Perusahaan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Apakah Kata “bapak” dan “ibu” Harus Ditulis dalam Huruf Kapital ?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Se Indonesia, seIndonesia, atau se-Indonesia?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Perbedaan kata “bantu” dan “tolong”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Perbedaan Kata Ganti Orang Ketiga “Beliau”, “Dia”, dan “Ia” dalam Bahasa Indonesia

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026