Sabtu, 21/2/26 | 05:34 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI ARTIKEL

Cara-cara Mengendalikan Hama dan Penyakit Tanaman

Minggu, 17/10/21 | 08:00 WIB

 

Silvia Permata Sari
(Dosen Fakultas Pertanian Universitas Andalas)

 

Hama merupakan salah satu kendala yang dihadapi dalam budidaya komoditas pertanian. Tak jarang petani menjadikan pestisida kimia (sintetik) sebagai senjata utama dalam pengendalian hama dan penyakit dengan alasan mudah diperoleh dan praktis. Padahal, pestisida kimia tersebut mempunyai banyak dampak negatif. Beberapa dampak negatif yang disebabkan oleh pestisida kimia adalah resistensi (kekebalan hama), resurgensi (peledakan hama), munculnya hama baru, pencemaran lingkungan, membunuh musuh alami (organisme yang dapat mengendalikan hama dan penyakit, seperti predator, parasitoid, dan patogen serangga), hancurnya biodiversity (keanekaragaman hayati), serta dapat menyebabkan gangguan kesehatan seperti alergi dan kanker.

BACAJUGA

Kisah Sukses Petani Organik di Bukit Gompong

Belajar Membuat Kompos dari Sampah Rumah Tangga

Minggu, 12/2/23 | 07:49 WIB
Pestisida Nabati, Sahabat Baru Pencinta Tanaman di Masa Pandemi Covid-19

Melek Bahaya Pestisida, Tingkatkan Kesadaran Hidup Sehat

Minggu, 04/9/22 | 07:24 WIB

Sebagai seorang akademisi dan pendidik yang berlatar belakang ilmu pertanian, saya aktif melakukan kegiatan pengabdian kepada masyarakat, mulai dari Kota Padang, Padang Pariaman, Agam, Pasaman Barat, Solok Selatan, Cirebon, Subang, Brebes, Tegal, Bandung, Pangalengan, dan lain-lain. Kegiatan tersebut dapat berupa sosialiasi mengenai bahaya dari pestisida kimia hingga dan demonstrasi teknik-teknik pengendalian hama dan penyakit tanaman. Pada artikel kali ini, kita akan membahas beberapa teknik pengendalian hama dan penyakit yang dapat diterapkan sahabat pembaca. Ada beberapa cara (teknik) pengendalian hama dan penyakit, yaitu sebagai berikut:

1. Teknik pengendalian dengan varietas yang resisten (tahan)

Teknik adalah pengendalian dengan cara menanam varietas yang tahan terhadap hama dan penyakit tanaman. Varietas tahan hama dan penyakit ini dapat kita peroleh dari instansi penghasil varietas-varietas tahan, seperti BATAN, BPPT, dan Balitbu.

2.Teknik pengendalian secara kultur teknis

Pada prinsipnya pengendalian ini adalah membuat lingkungan tidak menguntungkan atau tidak menguntungkan atau tidak mendukung bagi kehidupan hama dan penyakit tanaman, contohnya: pengaturan pola tanam, pengaturan waktu tanam, pengaturan jarak tanam, sanitasi, pergiliran tanaman, pemangkasan, penjarangan, dan penanaman serentak.

3.Teknik pengendalian secara fisik dan mekanik

Pengendalian secara fisik adalah teknik pengendalian dengan cara mengubah faktor lingkungan fisik (suhu, kelembaban, suara) agar menyebabkan kematian pada hama dan penyakit. Contohnya: memberikan perlakuan kepada benih tanaman dengan cara merendam benih dalam air pada suhu tertentu atau pada suhu dingin tertentu sehingga larva atau telur hama yang terbawa benih jadi mati.

4.Teknik Pengendalian secara mekanik

Teknik adalah pengendalian hama dan penyakit dengan cara menangkap, mengumpulkan atau membunuhnya baik secara langsung maupun dengan dengan bantuan alat. Contohnya: mengambil hama dan penyakit dengan tangan, dengan menggunakan perangkap, pengusiran, gropoyokan, pakai senapan angina, pakai botol, dan sebagainya.

5. Teknik pengendalian secara biologi (hayati)

Pengendalian secara biologi atau hayati adalah teknik pengendalian hama dan penyakit dengan menggunakan organisme lain yang bermanfaat (dapat mengendalikan hama secara alami di alam). Organisme lain yang bermanfaat tersebut dikenal dengan istilah musuh alami (natural enemies), yang terdiri dari tiga golongan yaitu predator, parasitoid, dan patogen serangga. Predator contohnya: burung hantu, tomcat (Paedarus sp.), capung jarum, laba-laba, dan kumbang Coccinelidae (kumbang kubah). Parasitoid contohnya: Diadegma semiclausum, Plutella xylostella, Eriborus sp., dan lain-lain. Sedangkan patogen serangga contohnya: Cendawan Beauveria bassiana, Metharizium anisopliae, Lecanicillium sp., dan lain-lain.

6. Teknik pengendalian secara pestisida

Pestisida berasal dari kata “pest” dan “cida”. Kata “Pest” artinya hama dalam arti luas, “cida” artinya racun. Jadi pestisida adalah racun untuk hama dan penyakit tanaman. Pestisida berdasarkan bahan bakunya dibedakan atas dua, yaitu:

1. Pestisida Nabati atau organik

Pestisida ini adalah pestisida yang bahan bakunya berasal dari tumbuh-tumbuhan, contohnya: daun pepaya (Carica papaya), daun tembakau (Nicotiana tabacum), daun sirsak (Annona muricata), daun mimba (Azadiracta indica), serai (Andropogon nardus), dan bawang putih (Allium sativum).

Pembuatan pestisida nabati ini bisa dengan cara direndam, direbus, atau disuling. Keuntungan pestisida nabati yaitu mudah terurai, umumnya aman terhadap manusia, resistensi (kekebalan) pada OPT lambat, dapat dibuat sendiri, bahan bakunya banyak tersedia di alam.

Beberapa tahun belakang ini, pemerintah menggalakkan pertanian organik (pertanian yang input pestisida sintetiknya sangat minim sekali, tetapi diganti dengan bahan-bahan organik. Mulai dari pupuk hingga pestisida yang digunakan untuk mengendalikan hama dan penyakit tersebut berasal dari bahan organik. Dari segi kesehatan, produk pertanian yang berasal dari pertanian organiknya lebih sehat dan rasanya pun lebih manis jika dilalap (dimakan mentah), bahkan aman terhadap kesehatan.

2. Pestisida Sintetik atau kimia

Pestisida ini adalah pestisida yang dibuat oleh industri (pabrik) dan bahan dasarnya yaitu bahan kimia. Karena berasal dari bahan kimia, kapan kita menggunakan teknik pengendalian hama dan penyakit secara pestisida kimia? Hendaknya tindakan pengendalian ini kita lakukan paling terakhir dan teknik pengendalian lainnya tidak berhasil menurunkan populasi hama dan penyakit. Alasan kenapa dilakukan paling terakhir ? Karena dampak negatif dari pestisida kimia tersebut sangat banyak, contohnya: pencemaran lingkungan, membunuh musuh alami, resistensi (kekebalan) hama, resurgensi (peledakan) hama, munculnya hama baru, gangguan kesehatan pada manusia (alergi), dan residunya masuk ke tanaman.

Metode pengendalian yang menggabungkan dua atau lebih teknik pengendalian yang kompatibel (cocok) untuk mengendalikan hama dan penyakit disebut Pengendalian Hama Terpadu (PHT) atau Integrated Pest Control (IPM). Tujuannya adalah meningkatkan efisiensi, efektivitas, serta mencegah pencemaran lingkungan. Contohnya teknik pengendalian secara kultur teknis dengan teknik pengendalian menggunakan varietas tahan, dan teknik pengendalian secara biologi dengan teknik pengendalian secara kultur teknis.

Jadi, setelah membaca artikel ini kita diharapkan semakin bijaksana dalam mengendalikan hama dan penyakit tanaman ya sahabat. Jangan jadikan lagi pestisida sintetik atau pestisida kimia menjadi jalan utama karena banyak dampak negatifnya. Ingat pepatah atau peribahasa “Banyak Jalan Menuju Roma”, banyak juga cara (teknik) untuk mengendalikan hama dan penyakit tanaman yang menyerang kita.

Tags: #Silvia Permata Sari
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Penyakit Sosial Kebahasaan

Berita Sesudah

CLBK Sang Kakek

Berita Terkait

Nilai-Nilai Religius pada Karya Andreas Gryphius

Membaca Cerpen “Robohnya Surau Kami” dari Perspektif Psikoanalisis

Minggu, 15/2/26 | 17:22 WIB

Oleh: Hilda Septriani (Dosen Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Padjadjaran)   Robohnya Surau Kami merupakan kumpulan cerita pendek yang ditulis oleh...

Perspektif Ekologis dalam Berbahasa

Ancaman Ekologis Krisis Air dari Tren Penggunaan AI di Media Sosial

Minggu, 15/2/26 | 17:14 WIB

Oleh: Arina Isti’anah (Dosen Sastra Inggris, Universitas Sanata Dharma)   Kecerdasan buatan artificial inteligence (AI) secara luas telah digunakan dalam...

Puisi-puisi M. Subarkah

Bahasa yang Membentuk Cara Kita Membenci

Minggu, 01/2/26 | 15:17 WIB

Oleh: M. Subarkah (Mahasiswa Magister Linguistik Universitas Andalas)   Kebencian jarang lahir dari kekosongan. Ia tumbuh pelan-pelan, disirami kata-kata, dipupuk...

Representasi Perempuan dalam Novel “Perempuan di Titik Nol dan Entrok: Kajian Feminisme”

Representasi Perempuan dalam Novel “Perempuan di Titik Nol dan Entrok: Kajian Feminisme”

Minggu, 01/2/26 | 15:10 WIB

Oleh: Rosidatul Arifah (Mahasiswi Sastra Indonesia dan Anggota Labor Penulisan Kreatif LPK FIB Universitas Andalas)   Pembahasan mengenai perempuan sering...

Pemilu Indonesia: Antara Demokrasi Substantif dan Demokrasi Prosedural

Pemilu Indonesia: Antara Demokrasi Substantif dan Demokrasi Prosedural

Selasa, 27/1/26 | 18:38 WIB

Oleh: Firnanda Amdimas (Mahasiswa Jurusan Hukum, Universitas Muhammad Natsir Bukittinggi)   Pemilihan umum (pemilu) merupakan pilar utama demokrasi di Indonesia....

Batu dan Zaman

Baju Berani Loppy: Mengelola Kecemasan Melalui Sastra Anak

Senin, 26/1/26 | 06:34 WIB

Oleh: Andina Meutia Hawa  (Dosen Prodi Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas)  Selama ini, sastra anak kerap diposisikan sebagai...

Berita Sesudah
CLBK Sang Kakek

CLBK Sang Kakek

Discussion about this post

POPULER

  • Kantor Baru PKB Sumbar Diresmikan

    Kantor Baru PKB Sumbar Diresmikan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • DPRD Kota Padang Gelar Sosialisasi Mekanisme Pokir Bersama Pemko Padang

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Perbedaan Kata “kepada”, “untuk”, dan “bagi”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Tanda Titik pada Singkatan Nama Perusahaan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Perbedaan Awalan ber- dan me-

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Apakah Kata “bapak” dan “ibu” Harus Ditulis dalam Huruf Kapital ?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Diskusi Bersama Alumni Pengelola Media, Rektor Unand Serap Masukan untuk Kemajuan Kampus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2024

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2024