Sabtu, 12/9/26 | 20:16 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • BERITA
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI ARTIKEL

Menerawang Pendidikan melalui Ruang Gerak Pemuda

Minggu, 13/6/21 | 07:40 WIB

Oleh: Endang Setiawan
(Aktivis Literasi dan Tokoh Pemuda Seluma)

 

Pendidikan adalah sebuah usaha untuk membebaskan manusia dari kesengsaraan,  ketertindasan, dan ketidaktahuan, menjadikan hidup lebih bermanfaat bagi diri sendiri dan sekitarnya, tidak ada lagi kasta dan pembeda kelas-kelas. (Tan Malaka)

BACAJUGA

Semantik-Pragmatik Ketika Pulang Tidak Selalu Berarti Kembali

Semantik-Pragmatik Ketika Pulang Tidak Selalu Berarti Kembali

Minggu, 06/9/26 | 11:00 WIB
Puisi-puisi M. Subarkah

Jangan Tunggu Hutan Habis untuk Sadar

Minggu, 06/9/26 | 10:37 WIB

Seluma terdiri atas 182 Desa, 20 Kelurahan, dan 14 kecamatan. Seluma merupakan salah satu dari kabupaten yang berada di Provinsi Bengkulu dengan potensi alam yang melimpah terdiri dari Hutan dan perkebunan masyarakat yang luas. Seluma, nama itu baru menjadi Kabupaten pada tanggal 23 Mei 2003. Penulis mempunyai rekamanan memori kolektif yang masih tersimpan. Jauh dari keramaian kota, pengalaman mengecap belajar di bawah sinar lampu kaleng yang beralaskan tikar anyaman milik ibu. Tentu berbeda kondisinya saat ini akan tetapi apakah kemajuan tersebut dapat menjawab kesejahteraan?

Dalam rentang sejarah, penulis teringat 24 tahun lalu di mana berbagai media dan tutur sejarah membicarakan perekonomian sedang di ambang kritis ditandai kenaikan harga-harga melonjak tinggi dan termasuk daerah-daerah lain di pelosok negeri.  Seluruh masyarakat Indonesia merasakan itu. Pada tahun itulah, penulis “terjun bebas” masuk ke dunia mengalami apa yang dinamakan krisis moneter. Setahun setelah kelahiran saya, Indonesia dikejutkan dengan aksi besar-besaran yang dikenal Reformasi 98’ di mana mahasiswa, buruh tani, dan rakyat miskin kota bersatu menduduki Gedung DPR RI sehinggah puncak kepemimpinan Soeharto berakhir pada tanggal 21 mei 1998.

Banyaknya sarjana yang kembali ke desa ternyata tidak membuat perubahan secara signifikan terhadap kemajuan kabupaten Seluma. Hal ini dapat penulis lihat dari peran pemuda yang belum banyak memberikan kontribusi baik keilmuan yang didapatkan di dalam kampus maupun implementasi pada masyarakat tempat mereka dilahirkan. Seperti kata salah satu  founding father yakni Bung Karno, “Berikan aku 1000 orang tua niscaya akan kucabut semeru dari akarnya. Berikan aku 10 pemuda Niscaya akan kuguncangkan dunia“. Kata itu berhubungan dengan kondisi Kebangsaan yang carut-marut pada saat ini yang menyadarkan kita sebagai generasi penerus untuk tetap belajar pada masa lalu guna perbaikan bangsa ke depannya.

Belajar adalah amanat konstitusi sesuai UUD 45 pasal 31 ayat 1 berbunyi: bahwa setiap warga berhak mendapatkan pendidikan dan ayat 2 berbunyi: setiap warga negara wajib mengikuti pendidikan dasar dan pemerintahan wajib membiayainya.  Akan tetapi, realitasnya  masyarakat masih banyak buta aksara dengan melihat kondisi di beberapa desa yang penulis datangi. Menurut penulis, pendidikan sangat Penting untuk memerangi ketidaktahuan dan untuk menjawab permasalahan kebangsaan.

Pengalaman kakek dari pihak ayah yang pernah bercerita perihal pindahnya lokasi Desa Sengkuang. Salah satunya disebabkan akses jalan menuju sekolah yang begitu jauh. Hal ini terkait soal pendidikan. Begitu juga ketika menelisik sejarah Indonesia, tentu akan ditemui tulisan Multatuli yang berisi kritikan terhadap Belanda yang menyebabkan di berikannya politik etis kepada negeri ini. Barulah setelah itu, kaum-kaum pemuda tercerdaskan dan mengambil peran penting demi kemerdekaan rakyat Indonesia. Lagi-lagi, ini soal pendidikan yang mampu membawa perubahan besar suatu bangsa di tangan pemuda.

Pendidikan penting untuk melepas budaya apatis pada diri pemuda karena akan sangat menyedihkan bila marwah kepemudaan hilag dan ketidakpedulian pada tanah kelahirannya. Tanah tempat mereka di beri makan, bahkan akan sangat miris bila “tertidur di pangkuan rezim” lantaran ketakutan akan nasib hidupnya. Ketakutan itu menjadi penghalang, bahkan menjadi beban berpikir. Hal ini mengingatkan saya pada tulisan Soe Hok Gie: Catatan Seorang Demonstran “Hanya ada 2 pilihan, menjadi Apatis atau mengikuti Arus. Tetapi aku memilih untuk menjadi Manusia Merdeka”.

Pertanyaannya sekarang bagaimana peran pemuda Seluma dalam kontibusi membangun daerah? Menurut penulis, ada beberapa cara untuk melibatkan diri kepemudaan dalam pembangun yakni aktif melibatkan diri di tengah masyarakat, mengkritisi kebijakan Pemerintahan yang dianggap tidak berpihak kepada rakyat, menciptakan wadah sebagai tempat berkumpulnya kepemudaan untuk berinovasi dan berkreasi serta membuat ruang-ruang diskusi kritis.

Penulis juga merupakan founder Komunitas SERASI ( Seluma Literasi). Komunitas ini sebagai wadah pemuda untuk menebarkan Virus Baca di lingkungan kabupaten Seluma. Melihat budaya Membaca yang sangat memprihatinkan hal itu berdasarkan data dari UNESCO pada tahun 2016 Minat Baca Indonesia 0,01% dan berada di peringkat 60 dari 61 Negara. Hal ini membuat penulis bersama kawan-kawan tergerak untuk menebarkan virus baca,  terkhususnya di Kabupaten Seluma.

Pada akhirnya, daripada mengutuk kegelapan, lebih baik menyalakan lillin. Nasib baik itu mesti di jemput, meratapi diri akan kekalahan dan ketidak berdayaan adalah musibah besar pada diri pemuda. Selama pikiran masih merdeka, banyak peluang untuk memenangkan pertarungan. Terkahir yang paling penting menurut penulis adalah tetap bergerak  demi daerah tercinta.

Tags: #Endang Setiawan
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Tanda Hubung: Penghubung pada Kata Ulang

Berita Sesudah

Upaya Mengatasi Angka Pengangguran di Tengah Pandemi Covid-19

Berita Terkait

Semantik-Pragmatik Ketika Pulang Tidak Selalu Berarti Kembali

Semantik-Pragmatik Ketika Pulang Tidak Selalu Berarti Kembali

Minggu, 06/9/26 | 11:00 WIB

Oleh: Hasbi Witir (Mahasiswa Prodi Sastra Indonesia FIB Universitas Andalas)   Kata pulang merupakan kata yang sangat dekat dengan kehidupan...

Puisi-puisi M. Subarkah

Jangan Tunggu Hutan Habis untuk Sadar

Minggu, 06/9/26 | 10:37 WIB

Oleh: M. Subarkah (Mahasiswa Magister Linguistik FIB Universitas Andalas) Kita sering baru mengingat hutan ketika bencana datang. Ketika hujan turun...

Puisi-puisi Wulan Darma Putri

Bianglala: Menelusuri Makna, Sejarah, dan Jejak Kebudayaan dalam Sebuah Kata

Minggu, 30/8/26 | 16:29 WIB

Oleh: Noor Alifah (Mahasiswa Sastra Indonesia dan Anggota Labor Penulisan Kreatif FIB Universitas Andalas)   Ketika melihat lengkungan warna-warni yang...

Puisi-puisi M. Subarkah

Eksistensi Bahasa Melayu Riau di Tengah Dominasi Bahasa Indonesia di Era Digital

Selasa, 25/8/26 | 22:59 WIB

Oleh: M. Subarkah (Mahasiswa Prodi S2 Linguistik FIB Universitas Andalas)    Bahasa Melayu Riau tidak sekadar kumpulan kata yang digunakan...

Makna Pulih dalam Lagu “Seperti Tulang” Karya Nadin Amizah

Makna Pulih dalam Lagu “Seperti Tulang” Karya Nadin Amizah

Minggu, 23/8/26 | 22:08 WIB

Oleh: Indri Rahmadani (Mahasiswi Prodi Sastra Indonesia FIB Universitas Andalas)   Di tengah padatnya aktivitas dan tekanan yang dihadapi anak...

Sintaksis: Sulit, tetapi Diam-Diam Menyenangkan

Sintaksis: Sulit, tetapi Diam-Diam Menyenangkan

Minggu, 16/8/26 | 23:09 WIB

Oleh: Bunga Amelia (Mahasiswa Prodi Sastra Indonesia FIB Universitas Andalas) Bagi sebagian orang, mendengar kata sintaksis mungkin terasa menakutkan. Mata...

Berita Sesudah
Upaya Mengatasi Angka Pengangguran di Tengah Pandemi Covid-19

Upaya Mengatasi Angka Pengangguran di Tengah Pandemi Covid-19

Discussion about this post

POPULER

  • DPC PKB Padang Gelar Musancab Serentak

    DPC PKB Padang Gelar Musancab Serentak

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sumbang 12 untuk Puti Bungsu Minangkabau

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Apakah Kata “bapak” dan “ibu” Harus Ditulis dalam Huruf Kapital ?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pria ini Taklukan Lele Raksasa Ukurannya Nyaris Tiga Meter

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AI dan Kecerdasan Bahasa Indonesia

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Child Grooming sebagai Bentuk Frasa “Manipulasi Anak”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Perbedaan Kata Pintar, Cerdas, Pandai, Cakap, Cerdik, dan Mahir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026