Selasa, 26/5/26 | 14:28 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • BERITA
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI KLINIK BAHASA

Kata Serapan yang Jarang Diketahui Orang

Minggu, 06/6/21 | 07:00 WIB
Oleh: Reno Wulan Sari (Dosen Jurusan Sastra Indonesia Unand dan Dosen Tamu di Busan University of Foreign Studies)

Kosakata dalam bahasa Indonesia bersumber dari berbagai bahasa yang terproses dalam perjalanan sejarah bangsa Indonesia. Tidak sedikit kosakata tersebut berasal dari negara lain yang dalam catatan sejarah dibawa oleh warga negara asing ketika masuk ke Indonesia. Kata-kata tersebut digunakan oleh masyarakat Indonesia untuk menamai berbagai hal yang belum memiliki kosakata.

Dalam perkembangannya, sistem ejaan bahasa Indonesia pun terus dirampungkan, mulai dari ejaan Van Ophuijsen hingga kemudian kita mengenal istilah PUEBI, yaitu Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia. Di dalam pedoman tersebut, ada kaidah tentang kata serapan. Persoalan kata serapan ini pernah ditulis dua kali dalam kolom Klinik Bahasa Scientia. Artikel pertama ditulis oleh Ria Febrina dengan judul “Jelajah Kata: Ramadhan atau Ramadan?” pada tanggal 11 April 2021. Artikel kedua ditulis oleh Reno Wulan Sari dengan judul “Berbagai Istilah Baku tentang Idulfitri” pada tanggal 16 Mei 2021. Di dalam dua artikel tersebut, kedua penulis membahas tentang kata serapan yang bersumber dari bahasa Arab, seperti Ramadan, lahir, batin, zikir, zat, zuhur, karim, masjid, musala, salat, lailatulqadar, Idulfitri, tarawih, salat Id, sunah, khotbah, ustaz, sedekah, infak, istikamah, silaturahmi, dan Iduladha.

Kata serapan merupakan kata-kata yang berasal dari bahasa asing atau bahasa daerah yang kemudian digunakan dalam bahasa Indonesia. Ada dua tahap dalam penyerapan ini. Pertama, kata-kata tersebut digunakan secara utuh dalam bahasa Indonesia. Ketika digunakan secara utuh,, kata-kata tersebut tidak mengalami perubahan, baik dari segi bunyi ketika dilafalkan maupun dari segi ejaan ketika dituliskan. Contoh dari kata-kata tersebut adalah de facto, film, hotel, dan sebagainya. Kedua, kata-kata tersebut telah mengalami perubahan ejaan. Perubahan itu dibuat sesuai dengan kaidah ejaan bahasa Indonesia. Oleh sebab itu, kata-kata tersebut telah mengalami perubahan dalam bentuk tulisan. Inilah yang terjadi pada kata-kata serapan bahasa Arab yang sudah dipaparkan dalam dua artikel sebelumnya. Namun demikian, tidak sedikit masyarakat yang kemudian berpikir bahwa kata-kata serapan yang telah mengalami perubahan ejaan tersebut memiliki makna yang berbeda dari bahasa aslinya (terutama untuk kata serapan bahasa Arab). Satu hal yang paling penting kita sadari dalam proses kata serapan ini, yakni adanya perluasan kepemilikan kata tersebut ke dalam bahasa lain (kata tersebut juga menjadi milik bahasa lain).

Situasi pertama yang perlu kita cermati, yaitu menyadari bahwa bahasa tersebut, yang secara pelafalan aslinya adalah milik bahasa Arab. Namun demikian, pada situasi berikutnya, kata-kata tersebut diproses menjadi bahasa Indonesia. Pada saat kata itu diproses menjadi bahasa Indonesia, kata-kata itu akan mengalami perubahan ejaan untuk disesuaikan dengan kaidah bahasa Indonesia. Dengan demikian, kata-kata tersebut telah menjadi kosakata bahasa Indonesia, bukan lagi kosakata bahasa Arab sehingga makna dari kata tersebut juga akan terbawa meskipun telah berbeda ejaan. Oleh sebab itu, kata yang sudah diserap sesuai ejaan bahasa Indonesia tidak lagi bisa dimaknai secara bahasa Arab sebab kata itu sudah menjadi bahasa Indonesia, bukan bahasa Arab lagi. Salah satu contoh kaidah ejaan yang melingkupi kata serapan ini adalah perubahan dari bunyi aw dalam bahasa Arab akan menjadi bunyi au dalam bahasa Indonesia, seperti kata awrat menjadi aurat.

BACAJUGA

Child Grooming sebagai Bentuk Frasa “Manipulasi Anak”

Bahasa Estetik dalam Luka “Gaza Tak Pernah Sunyi” Karya Hardi

Senin, 25/5/26 | 00:01 WIB
Memahami Kembali Imbuhan memper-

Konteks Kata “Kali” dalam Bahasa Indonesia

Minggu, 17/5/26 | 13:37 WIB

Tidak hanya bahasa Arab, kata serapan di Indonesia juga banyak bersumber dari berbagai negara yaitu Belanda, Portugis, China, dan sebagainya. Kata-kata serapan yang cukup sering didengar yaitu oktaf (dari octaaf), hemoglobin (dari haemoglobin), kubik (dari cubic), sentral (dari central), aklamasi (dari acclamation), sabda (dari cabda, Sanskerta), kompor (dari komfoor, Belanda), rasio (dari ratio), akuntan (dari accountant), universitas (dari university), kualitas (dari quality), dan sebagainya. Namun demikian, ada beberapa kata bahasa asing yang tidak banyak diketahui oleh masyarakat Indonesia, ternyata sudah menjadi kata serapan Indonesia. kata-kata tersebut sudah terdapat di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), tetapi sangat jarang digunakan oleh masyarakat Indonesia.

Masyarakat Indonesia lebih cenderung menggunakan bentuk aslinya atau padanan kata bahasa Indonesia yang sudah ada sebelumnya. Kata yang pertama adalah gim. Kata gim merupakan serapan dari bahasa Inggris yaitu game dengan pelafalannya /geim/. Di dalam KBBI, kata gim ini memiliki makna “n permainan” dengan kelas kata nomina. Masyarakat Indonesia yang belum mengetahui kata serapan untuk gim ini, lebih sering menggunakan padanan kata permainan. Kata yang kedua adalah keik. Kata keik merupakan serapan dari bahasa Inggris yaitu cake dengan pelafalan /keik/. Kata keik adalah kelas kata nomina yang memiliki makna “n penganan yang biasanya terbuat dari adonan terigu, telur, gula, mentega dan sebagainya, dipanggang atau dikukus dalam loyang”. Masyarakat Indonesia yang belum mengetahui kata serapan untuk keik ini, lebih sering menggunakan padanan kata kue. Kata yang ketiga adalah mekap. Kata mekap merupakan serapan dari bahasa Inggris yaitu make-up dengan pelafalan /ˈmeɪk ʌp/. Berdasarkan pelafalan dari bahasa asli tersebut, kata make-up kemudian diserap ke dalam bahasa Indonesia menjadi mekap. Di dalam KBBI, kata mekap yang merupakan kelas kata nomina memiliki makna “n cak tata rias muka”. Masyarakat Indonesia yang belum mengetahui kata mekap ini lebih sering menggunakan padanan kata berdandan.

Tags: #Reno Wulan Sari
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Puisi-puisi Fury Buhair dan Ulasannya oleh Ragdi F. Daye

Berita Sesudah

Puisi-puisi Amalia Aris Saraswati

Berita Terkait

Child Grooming sebagai Bentuk Frasa “Manipulasi Anak”

Bahasa Estetik dalam Luka “Gaza Tak Pernah Sunyi” Karya Hardi

Senin, 25/5/26 | 00:01 WIB

Oleh: Elly Delfia (Dosen Prodi Sastra Indonesia dan S2 Linguistik FIB Universitas Andalas) Di tanah ini, sejarah bukan hanya di...

Memahami Kembali Imbuhan memper-

Konteks Kata “Kali” dalam Bahasa Indonesia

Minggu, 17/5/26 | 13:37 WIB

Oleh: Reno Wulan Sari (Dosen Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing Busan University of Foreign Studies, Korea Selatan) Kata kali dikenal...

Kapitil, Kosakata Baru dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia

Cerita Mahasiswa Arab tentang Bahasa Indonesia

Senin, 27/4/26 | 06:18 WIB

Oleh: Ria Febrina (Dosen Prodi Sastra Indonesia dan S2 Linguistik FIB Universitas Andalas) Saat mengawas UTBK (Ujian Tulis Berbasis Komputer)...

Memahami Kembali Imbuhan memper-

Persoalan “ini” dan “itu” di dalam Berbagai Konteks

Minggu, 19/4/26 | 21:49 WIB

Oleh: Reno Wulan Sari (Dosen Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing Busan University of Foreign Studies, Korea Selatan) Kata ini dan...

Child Grooming sebagai Bentuk Frasa “Manipulasi Anak”

Makna Idiom “Keras Kepala” dari Presiden Prabowo untuk Iran

Minggu, 12/4/26 | 23:00 WIB

Oleh: Elly Delfia (Dosen Prodi Sastra Indonesia dan S2 Linguistik FIB Universitas Andalas) Idiom “keras kepala” menjadi viral karena diucapkan...

Kapitil, Kosakata Baru dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia

Metatesis, Sumber Kreativitas Bahasa Sepanjang Masa

Minggu, 05/4/26 | 10:05 WIB

Oleh: Ria Febrina (Dosen Prodi Sastra Indonesia dan S2 Linguistik FIB Universitas Andalas) Lebaran selalu identik dengan kue. Kue-kue dimasukkan...

Berita Sesudah
Puisi-puisi Amalia Aris Saraswati

Puisi-puisi Amalia Aris Saraswati

Discussion about this post

POPULER

  • Afrina Hanum

    Sumbang 12 untuk Puti Bungsu Minangkabau

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Apakah Kata “bapak” dan “ibu” Harus Ditulis dalam Huruf Kapital ?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bahasa Estetik dalam Luka “Gaza Tak Pernah Sunyi” Karya Hardi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Tanda Titik pada Singkatan Nama Perusahaan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Roni Aprianto Terpilih Aklamasi Jadi Ketua PWI Dharmasraya Periode 2026-2029

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • HMI Dharmasraya Gelar LK Satu, Diikuti Mahasiswa dari Berbagai Kampus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kata Penghubung dan, serta, dan Tanda Baca Koma (,)

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026