Minggu, 12/7/26 | 09:45 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • BERITA
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI KLINIK BAHASA

Popularitas Kata Webinar pada Masa Covid-19

Minggu, 28/6/20 | 06:00 WIB
Oleh: Elly Delfia
Dosen Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas

Kata webinar populer seiring dengan makin seriusnya pandemi covid-19 melanda berbagai negara, termasuk Indonesia. Imbauan untuk bekerja dari rumah atau work from home (WFH) dari Surat Edaran (SE) yang dikeluarkan oleh instansi-instansi pemerintah, perusahaan, sekolah-sekolah, dan perguruan tinggi pada pertengahan Maret 2020 turut berkontribusi membuat kata webinar makin populer. Webinar menjadi pilihan orang-orang agar tetap bisa bekerja, berkomunikasi, dan melaksanakan berbagai kegiatan seminar virtual. Webinar adalah seminar yang dilakukan tanpa kontak fisik. Pembatasan jarak fisik (physical distancing) dalam upaya mencegah penularan covid-19 terwujud melalui webinar.

Secara linguistik, kata webinar mengandung berbagai muatan. Salah satunya abreviasi atau penyingkatan. Menurut Kridalaksana (2008:1), abreviasi merupakan salah satu proses morfologis atau proses pembentukan kata berupa pemenggalan satu atau beberapa bagian leksem atau kombinasi leksem sehingga terjadi bentuk baru yang berstatus kata. Abreviasi termasuk di dalamnya penyingkatan, pemenggalan, akronim, kontraksi, dan lambang huruf. Jenis abreviasi yang terkandung pada kata webinar adalah akronim. Menurut KBBI (2008:29), akronim merupakan kependekan yang berupa gabungan huruf atau suku kata atau bagian lain yang ditulis dan dilafalkan sebagai kata yang wajar, misalnya letkol untuk letnan kolonel dan rudal untuk peluru kendali. Kata webinar merupakan bentuk yang berasal dari kombinasi kata yang berbeda, yaitu kata web dari bahasa Inggris dan kata seminar dari bahasa Indonesia. Saat disatukan, kata tersebut menghasilkan kata baru, yaitu akronim webinar.

Selanjutnya, jika dilihat dari segi arti, webinar berasal dari kata web dan seminar. Web dalam Oxford (2000:1527) diartikan sebagai “complicated pattern of things that are closely connected to each other” atau sejenis jaringan yang menghubungkan orang-orang agar menjadi dekat satu sama lain. Kata seminar dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2008:1263) diartikan sebagai pertemuan atau persidangan yang membahas suatu masalah di bawah pimpinan ahli (guru besar, pakar, dan sebagainya). Jadi, kata webinar dapat didefinisikan sebagai jaringan yang memfasilitasi pertemuan atau persidangan antara orang-orang yang mempunyai hubungan dekat yang membahas suatu masalah di bawah pimpinan ahli (guru besar, pakar, dan sebagainya). Wayteg (2013) dalam Kamus Internet Cara Cepat dan Praktis Masuk Dunia Cyber mendefinisikan webinar sebagai istilah yang digunakan untuk merujuk kepada virtual seminar atau seminar online, termasuk ke dalam program distributed education (kanal.web.id). Dalam perkembangannya, webinar dilakukan dengan aplikasi, seperti zoom, skype, skype for bisnis, googlme meet, hang out, whatsapp video, dan sejenisnya.

Kata webinar yang muncul dari proses abreviasi menjadi salah bukti perkembangan kosakata bahasa Indonesia pada masa pandemi covid-19. Popularitas kata webinar menandakan bahwa berbagai tatanan kehidupan mengalami perubahan karena covid-19, termasuk tatanan bahasa. Banyak kata dan istilah yang muncul berkaitan dengan aktivitas dan kebiasaan yang dilakukan orang-orang selama masa pandemi covid-19. Bahasa Indonesia juga mengalami perkembangan dengan munculnya kata-kata baru, singkatan baru, dan akronim baru, seperti WFH (Work From Home), SFH (Study From Home), PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar), OTG (Orang Tanpa Gejala), PDP (Pasien Dalam Pengawasan), ODP (Orang Dalam Pemantauan), dan sebagainya. Kata-kata baru tersebut membutuhkan penjelasan secara kebahasaan.

BACAJUGA

Child Grooming sebagai Bentuk Frasa “Manipulasi Anak”

Wacana Digital dan Dinamika Istilah dalam Bahasa Indonesia

Senin, 06/7/26 | 07:21 WIB
Memahami Kembali Imbuhan memper-

Perbedaan kata “bantu” dan “tolong”

Minggu, 21/6/26 | 13:50 WIB

 

Tags: #Elly Delfia
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Pakiah (Faqih) dan Budaya Dialog

Berita Sesudah

Najis-najis yang Dimaafkan

Berita Terkait

Child Grooming sebagai Bentuk Frasa “Manipulasi Anak”

Wacana Digital dan Dinamika Istilah dalam Bahasa Indonesia

Senin, 06/7/26 | 07:21 WIB

Oleh: Elly Delfia (Dosen Prodi Sastra Indonesia dan S2 Linguistik FIB Universitas Andalas) Dunia hari ini tidak lagi sekadar dibatasi...

Memahami Kembali Imbuhan memper-

Perbedaan kata “bantu” dan “tolong”

Minggu, 21/6/26 | 13:50 WIB

Oleh: Reno Wulan Sari (Dosen Bahasa Indonesia bagi Penutur Busan University of Foreign Studies, Korea Selatan) Kata bantu dan tolong...

Kapitil, Kosakata Baru dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia

Kesalahan Bahasa yang Diproduksi AI

Minggu, 07/6/26 | 22:48 WIB

Oleh: Ria Febrina (Dosen Prodi Sastra Indonesia dan S2 Linguistik FIB Universitas Andalas) Beberapa waktu lalu, saya menyunting beberapa buku....

Rendang Lokan, Makanan Khas Pesisir Selatan

Memahami Makna Peribahasa “Muluik Manih Kucindan Murah”

Senin, 01/6/26 | 08:57 WIB

Oleh: Yori Leo Saputra (Guru SMA 1 Ranah Pesisir, Kabupaten Pesisir Selatan)   Minangkabau memiliki banyak peribahasa. Peribahasa merupakan kelompok...

Child Grooming sebagai Bentuk Frasa “Manipulasi Anak”

Bahasa Estetik dalam Luka “Gaza Tak Pernah Sunyi” Karya Hardi

Senin, 25/5/26 | 00:01 WIB

Oleh: Elly Delfia (Dosen Prodi Sastra Indonesia dan S2 Linguistik FIB Universitas Andalas) Di tanah ini, sejarah bukan hanya di...

Memahami Kembali Imbuhan memper-

Konteks Kata “Kali” dalam Bahasa Indonesia

Minggu, 17/5/26 | 13:37 WIB

Oleh: Reno Wulan Sari (Dosen Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing Busan University of Foreign Studies, Korea Selatan) Kata kali dikenal...

Berita Sesudah
Ustadz Fakhry Emil Habib

Najis-najis yang Dimaafkan

Discussion about this post

POPULER

  • Wali Kota Padang Fadly Amran memimpin rapat pertemuan lanjutan dengan Foshan Polytechnic, Selasa (7/7).

    Wali Kota Padang Kunjungi Fosan Polytechnic

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Nongender

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pemko Padang Andalkan BOMRun 2026 untuk Perkuat Sport Tourism dan Kejar Kota Gastronomi UNESCO

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pemko Padang Perkuat Tata Kelola PBJ, Fokus Mitigasi Risiko Pengadaan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Dari Like ke Loyalitas: Strategi UMKM Memanfaatkan Media Sosial

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Waspada Psikolog Gadungan, HIMPSI Sumbar Imbau Masyarakat Cek Keabsahan dan Legalitas

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pemko Padang dan Mitra Hadirkan Khitan Aman bagi Anak Penyandang Disabilitas

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026