
Para linguis memandang bahasa bukan hanya sebagai alat komunikasi, melainkan juga sebagai medan pertarungan ideologi dan kekuasaan.
Seperti kalimat pemantik (hook) di atas, baru-baru ini, Donald Trump dan Abdul El Sayed saling melontarkan kata-kata tajam. Perang kata-kata dalam ranah perpolitikan Amerika Serikat tersebut menunjukkan seberapa besar kekuasaan dan kekuatan masing-masing. Trump mengatakan bahwa El Sayed mesti dipindai dengan metal detector sebelum masuk ruang senat. ”He would be the only senator that will have to go through a metal detector before he’s allowed to go into the Senate. I want him to have a metal detector.” (Dia akan menjadi satu-satunya senator yang harus melewati detektor logam sebelum diizinkan masuk ke ruang senat. Saya ingin dia diperiksa dengan detektor logam). El Sayed membalas sindiran tajam Trump dengan kalimat: “But here’s the deal, Donald, listen: I’ll go through a metal detector if you’ll sit for a lie detector.” (Tapi begini kesepakatannya, Donald, dengar ya: Aku rela diperiksa detektor logam asalkan kamu mau tes kejujuran).
Metal detector atau detektor logam merupakan alat pemindai tubuh canggih yang digunakan untuk menyaring senjata api atau benda-benda berbahaya lainnya pada tubuh seseorang yang dapat mengancam keamanan ruang publik. Pernyataan Trump terhadap El Sayed merupakan tudingan bahwa El Sayed merupakan orang yang berbahaya dan patut dipindai. El Sayed menuding balik dengan mengatakan Trump sebagai orang yang berbohong. Perseteruan keduanya telah menyebar di ruang publik dalam bentuk berbagai pemberitaan media massa dan juga potongan-potongan pidato mereka yang tersebar di media sosial.
Kalimat-kalimat tersebut menunjukkan ketegangan politik antara Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Abdul El Sayed, senator Muslim Amerika Serikat pertama yang baru terpilih pada tanggal 4 November 2026 sebagai perwakilan Partai Demokrat dari Michigan. Perang kata-kata di antara keduanya menunjukkan bahwa kata-kata bukan hanya rangkaian fonem belaka, melainkan juga senjata untuk bertarung dalam menunjukkan kekuasaan dan pengaruh di ruang publik.
Dalam perang verbal yang saling menjatuhkan mental tersebut, kata-kata bahkan bisa sama tajamnya dengan senjata QBZ-95/AR-15, drone pengintai, rudal balistik, dan sejenisnya. Kata-kata dapat membangun, mempertahankan, menggerakkan massa, mengubah persepsi publik, dan menjadi kekuatan yang tak terduga. Sebaliknya, kata-kata juga dapat menghancurkan dan meruntuhkan kekuasaan. Sementara itu, kekuasaan dapat memberi bobot dan gema pada setiap kata yang diucapkan.
Dalam buku Discourse and Social Change, Norman Fairclough, seorang ahli analisis wacana kritis, menyatakan bahwa kata-kata dan kekuasaan memiliki hubungan dialektis, di mana kata-kata dibentuk dan dipengaruhi oleh struktur sosial dan kata-kata membentuk kembali struktur sosial, identitas, dan kekuasaan (Fairclough, 1992).
Ahli wacana kritis yang lain, Teun A. van Dijk menyatakan bahwa kekuasaan bukan hanya milik fisik dan militer, melainkan juga kekuasaan simbolik dan kognisi sosial dari kelompok elite (politisi, akademisi, media massa, dan lembaga negara) yang memiliki kendali besar untuk mengakses, memproduksi, dan mendistribusikan kata-kata (wacana) kepada masyarakat. Kognisi sosial merujuk pada rangkaian pengetahuan, nilai-nilai dan norma, ideologi, dan prasangka atau pemahaman bersama yang dimiliki oleh anggota suatu kelompok masyarakat. Media massa, media sosial, lembaga negara, dan partai politik adalah jembatan penghubung kognisi sosial tersebut dengan masyarakat.
Tindakan Donald Trump dan Abdul El Sayed yang saling bertarung dalam perang kata-kata di bawah kilatan cahaya fotografer dan sorotan kamera media massa yang menyebar hingga ke media sosial adalah cara untuk mendapatkan kekuasaan melalui simpati publik yang mempercayai kekuatan kata-kata yang dilontarkan. Ruang-ruang tersebut berperan sebagai jembatan untuk menyampaikan pesan-pesan pengetahuan mereka kepada masyarakat sekaligus menanamkan prasangka, pengaruh, dan kekuasaan. Keduanya sedang berupaya memenangkan penilaian publik tentang siapa yang terlihat paling berkuasa dan paling berpengaruh di mata publik Amerika Serikat dan dunia. Trump menggunakan gaya lama dengan menjadikan identitas Muslim El Sayed sebagai cap teroris dan ancaman, sedangkan El Sayed juga mempunyai beberapa “kartu truf” Trump dan informasi lain yang dianggap bohong darinya.
Pada akhirnya, pemenang sejati dari perang kata-kata tersebut adalah penilaian publik. Publik yang berpegang teguh pada nilai-nilai moralitas dan kemanusiaan atau publik yang percaya pada gosip, intrik, dan pencitraan.






