Pasaman Barat, Scientia — Pemerintah Provinsi Sumatera Barat menargetkan Pelabuhan Teluk Tapang di Air Bangis, Kecamatan Sungai Beremas, Kabupaten Pasaman Barat, mulai beroperasi pada 2028. Pelabuhan ini diproyeksikan menjadi jalur utama distribusi komoditas perkebunan sekaligus pintu masuk investasi industri hilirisasi di pantai barat Sumatera.
Target tersebut masih bergantung pada penyelesaian sejumlah infrastruktur pendukung. Setelah pembangunan fasilitas sisi darat senilai Rp83,75 miliar rampung, pemerintah akan melanjutkan pembangunan perkantoran pelabuhan dan jalan akses sepanjang tujuh kilometer pada 2027.
Gubernur Sumatera Barat, Mahyeldi Ansharullah, mengatakan pembangunan Pelabuhan Teluk Tapang terus berjalan secara bertahap. Ia menyampaikan hal itu saat meninjau kawasan pelabuhan tersebut, Kamis, (5/11).
“Alhamdulillah, tahap demi tahap pembangunan Pelabuhan Teluk Tapang terus diselesaikan. Hari ini kita meninjau pembangunan sisi darat yang telah selesai dilaksanakan dengan nilai Rp83,75 miliar,” kata Mahyeldi.
Menurutnya, pembangunan fasilitas perkantoran dan sarana pendukung lainnya akan diupayakan melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) pada 2027. Pemerintah juga menyiapkan pembangunan jalan sepanjang tujuh kilometer untuk memperlancar akses menuju kawasan pelabuhan.
Mahyeldi mengatakan, Teluk Tapang dirancang sebagai pusat logistik dan pengembangan industri berbasis sumber daya alam. Salah satu sektor yang dibidik adalah industri biodiesel berbahan baku minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO).
Rencana tersebut berkaitan dengan besarnya potensi perkebunan kelapa sawit di Pasaman Barat. Selama ini, distribusi komoditas sawit dari wilayah tersebut masih bergantung pada pelabuhan di luar Sumatera Barat, termasuk Pelabuhan Belawan di Medan, Sumatera Utara.
Dengan beroperasinya Teluk Tapang, pemerintah berharap rantai distribusi hasil perkebunan menjadi lebih efisien. Pelabuhan itu juga diproyeksikan melayani arus barang dari kawasan pantai barat Sumatera, termasuk Kabupaten Mandailing Natal, Sumatera Utara.
“Sumatera Barat memiliki posisi strategis di pantai barat Sumatera. Pengembangan Teluk Tapang akan menjadi pintu masuk investasi sekaligus pusat logistik dan industri yang mampu meningkatkan nilai tambah sumber daya alam daerah,” ujarnya.
Pemerintah juga merencanakan pengembangan kawasan industri hijau di sekitar pelabuhan. Kawasan tersebut diharapkan menarik investor, terutama untuk mengolah komoditas perkebunan sebelum dipasarkan ke luar daerah maupun pasar yang lebih luas.
Mahyeldi berharap, pembangunan jalan, perkantoran, dan fasilitas lainnya dapat dimulai sesuai jadwal pada 2027 sehingga pelabuhan bisa beroperasi setahun kemudian.
“Mudah-mudahan tahun depan pembangunan jalan sepanjang tujuh kilometer, perkantoran, dan fasilitas lainnya juga bisa dilaksanakan, sehingga pada 2028 pelabuhan ini sudah bisa beroperasi,” katanya.
Sementara itu, Kepala Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Kelas II Teluk Bayur, Gamal Sembiring, menyatakan dukungannya terhadap target operasional tersebut. Ia menyebut pembangunan perkantoran pelabuhan direncanakan menggunakan anggaran APBN pada 2027.
Gamal berharap, pengembangan fasilitas pelabuhan ke depan juga mencakup layanan transportasi penumpang.
“Sesuai harapan Bapak Gubernur, mudah-mudahan pada 2028 pelabuhan ini sudah bisa beroperasi. Jika memungkinkan, ke depan fasilitas transportasi seperti kapal penumpang juga dapat disediakan,” ujarnya.(yrp)

![Anggota DPRD Padang, Fraksi PKB, Zalmadi.[foto : ist]](https://scientia.id/wp-content/uploads/2025/12/1696246664_38a032ab-bb3c-499d-99dd-4ef5ec21ce42-120x86.jpeg)

![Anggota DPRD Padang, Fraksi PKB, Zalmadi.[foto : ist]](https://scientia.id/wp-content/uploads/2025/12/1696246664_38a032ab-bb3c-499d-99dd-4ef5ec21ce42-350x250.jpeg)




