Minggu, 18/10/26 | 18:52 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • BERITA
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI ARTIKEL

Ketika Cuaca Berubah, Hama Ikut Berubah

Minggu, 18/10/26 | 16:21 WIB

Oleh: Lili Herlina
(Mahasiswa Prodi Proteksi Tanaman Fakultas Pertanian Universitas Andalas)

Ketika membicarakan masalah pertanian, perhatian sering kali tertuju pada tanah, pupuk, benih, atau hasil panen. Padahal, ada satu hal lain yang tidak kalah penting, yaitu organisme pengganggu tanaman (OPT). Hama dan penyakit tanaman dapat menyebabkan kerusakan pada bagian tanaman, menghambat pertumbuhan, bahkan menurunkan hasil panen. Menariknya, keberadaan dan perkembangan hama tidak hanya dipengaruhi oleh kondisi tanaman. Lingkungan tempat tanaman tumbuh juga memiliki peran yang sangat besar.

Salah satu perubahan lingkungan yang semakin terasa adalah perubahan iklim. Perubahan suhu, pola curah hujan, kelembapan, serta munculnya cuaca ekstrem dapat mengubah kondisi agroekosistem. Perubahan tersebut pada akhirnya dapat memengaruhi hubungan antara tanaman, hama, musuh alami, dan organisme lainnya. Penelitian mengenai interaksi tanaman dengan nematoda parasit, misalnya, menunjukkan bahwa perubahan suhu, karbon dioksida, dan curah hujan dapat memengaruhi perkembangan serta persebaran organisme pengganggu tanaman (Dutta & Phani, 2023).

BACAJUGA

Membedah Luka Anak Rantau dalam Lagu “Sesi Potret”

Membedah Luka Anak Rantau dalam Lagu “Sesi Potret”

Minggu, 18/10/26 | 15:52 WIB
Kabut Regulasi: UU ITE Berubah, Tetapi Apakah Publik Benar-Benar Memahaminya?

Kabut Regulasi: UU ITE Berubah, Tetapi Apakah Publik Benar-Benar Memahaminya?

Selasa, 13/10/26 | 18:50 WIB

Bagi mahasiswa Proteksi Tanaman, kondisi tersebut menunjukkan bahwa pengendalian hama tidak cukup hanya dilakukan setelah tanaman mengalami kerusakan. Kita perlu memahami mengapa hama muncul, bagaimana lingkungan memengaruhi perkembangannya, serta bagaimana cara mengendalikan hama tanpa menimbulkan masalah baru. Dengan kata lain, tanaman perlu dilindungi dengan pendekatan yang lebih menyeluruh.

1. Hama Tidak Berdiri Sendiri

Di lapangan, hama sering dianggap sebagai satu-satunya penyebab kerusakan tanaman. Padahal, hama merupakan bagian dari ekosistem. Di sekitar tanaman terdapat berbagai organisme yang saling berinteraksi. Ada serangga pemakan tanaman, serangga predator, parasitoid, mikroorganisme, gulma, bahkan organisme yang membantu proses penguraian bahan organik.

Sebagai contoh, keberadaan kutu daun pada tanaman tidak hanya berkaitan dengan tanaman inangnya. Kutu daun juga berhubungan dengan predator dan parasitoid yang dapat membantu menekan populasinya. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa musuh alami, seperti predator, parasitoid, dan patogen dapat menjadi bagian penting dalam pengendalian hama secara biologis.

Hal ini membuat pengendalian hama menjadi lebih kompleks daripada sekadar menyemprotkan pestisida. Ketika suatu pestisida digunakan tanpa mempertimbangkan organisme lain, bukan hanya hama yang dapat terkena dampaknya. Musuh alami yang sebenarnya membantu petani mengendalikan hama juga dapat mengalami gangguan. Kajian mengenai dampak pestisida terhadap musuh alami menunjukkan bahwa beberapa kelompok predator dan parasitoid cukup sensitif terhadap bahan aktif tertentu (2024). Dari sini muncul sebuah pemikiran sederhana: bagaimana jika dalam mengendalikan hama kita justru mempertahankan organisme yang memang secara alami membantu tanaman?

2. Perubahan Iklim dan Munculnya Masalah Baru

Perubahan iklim dapat membuat pola kehidupan organisme di lahan pertanian ikut berubah. Suhu yang lebih tinggi dapat memengaruhi kecepatan perkembangan beberapa jenis serangga. Sementara itu, perubahan curah hujan dan kelembapan dapat menciptakan kondisi yang berbeda bagi perkembangan hama maupun patogen tanaman.

Perubahan tersebut dapat memengaruhi wilayah persebaran organisme pengganggu tanaman. Organisme yang sebelumnya jarang ditemukan pada suatu daerah dapat memiliki peluang untuk berkembang ketika kondisi lingkungannya menjadi lebih sesuai. Kajian terbaru mengenai perubahan iklim dan pengelolaan hama invasif menunjukkan bahwa perubahan iklim semakin memperumit pengendalian hama dan membutuhkan strategi adaptasi yang sesuai dengan kondisi lokal (Assèdé & Othoo, 2025).

Artinya, petani tidak bisa selalu mengandalkan pola pengendalian yang sama dari tahun ke tahun. Kondisi lingkungan yang berubah dapat menyebabkan waktu munculnya hama, jumlah populasinya, bahkan efektivitas pengendalian ikut berubah. Hal ini juga menjadi alasan mengapa pemantauan tanaman sangat penting. Sebelum mengambil tindakan, petani perlu mengetahui jenis organisme yang menyerang, tingkat populasinya, bagian tanaman yang mengalami kerusakan, serta kondisi lingkungan pada saat itu. Pengamatan sederhana secara rutin dapat memberikan informasi penting untuk menentukan tindakan pengendalian.

3. Tidak Semua Serangga di Tanaman Adalah Musuh

Salah satu kesalahan yang sering terjadi adalah menganggap semua serangga yang berada di tanaman sebagai hama. Padahal, tidak semua serangga menyebabkan kerusakan. Beberapa justru merupakan predator atau parasitoid yang membantu mengurangi populasi hama. Serangga predator dapat memangsa hama secara langsung. Sementara itu, parasitoid memiliki cara hidup yang berbeda karena berkembang pada atau di dalam tubuh inangnya hingga akhirnya menyebabkan kematian inang tersebut. Keberadaan organisme-organisme tersebut sebenarnya merupakan bentuk pengendalian alami yang terjadi di agroekosistem.

Karena itu, mengenali jenis organisme yang ditemukan di lahan menjadi salah satu kemampuan penting dalam proteksi tanaman. Petani atau mahasiswa tidak cukup hanya mengetahui nama hama, tetapi juga perlu mengenali musuh alaminya. Keberadaan musuh alami bahkan dapat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan di sekitar pertanaman. Vegetasi tertentu, tanaman penutup tanah, atau keberadaan sumber makanan dapat membantu menyediakan tempat berlindung dan sumber makanan bagi organisme yang menguntungkan. Penelitian mengenai pengelolaan honeydew juga menunjukkan bahwa sumber makanan pada tanaman penutup dan pagar vegetasi dapat membantu meningkatkan aktivitas musuh alami tertentu (Fernández de Bobadilla et al., 2024). Dengan demikian, lingkungan pertanian sebenarnya dapat dirancang agar tidak hanya cocok bagi tanaman, tetapi juga mendukung organisme yang membantu melindungi tanaman.

4. Mengapa Pestisida Bukan Satu-Satunya Jawaban?

Pestisida merupakan salah satu alat penting dalam perlindungan tanaman. Dalam kondisi tertentu, penggunaan pestisida memang diperlukan untuk mengurangi kerugian akibat serangan OPT. Namun, penggunaan pestisida sebaiknya tidak menjadi satu-satunya cara yang dilakukan setiap kali ditemukan hama.

Penggunaan yang tidak tepat dapat memberikan berbagai konsekuensi, salah satunya adalah terganggunya organisme bukan sasaran. Musuh alami dapat ikut terkena dampak sehingga keseimbangan ekosistem pertanian berubah. Selain itu, penggunaan bahan pengendali yang sama secara berulang juga dapat memberikan tekanan seleksi yang mendorong munculnya populasi hama yang lebih sulit dikendalikan.

Hal tersebut menunjukkan bahwa keberhasilan pengendalian tidak seharusnya hanya diukur dari seberapa cepat hama mati. Kita juga perlu melihat apa yang terjadi setelah pengendalian dilakukan. Apakah musuh alami masih bertahan? Apakah populasi hama benar-benar menurun? Apakah tanaman dapat kembali tumbuh dengan baik dan apakah lingkungan pertanian tetap mendukung produktivitas?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut merupakan bagian dari cara berpikir dalam Pengendalian Hama Terpadu (PHT). PHT menggabungkan berbagai metode pengendalian dengan mempertimbangkan kondisi ekologi dan tingkat kerusakan tanaman. Pengendalian biologis merupakan salah satu komponen penting dalam pendekatan tersebut.

5. Pengendalian Hama Terpadu sebagai Jalan Tengah

Pengendalian hama terpadu dapat dipahami sebagai pendekatan yang tidak langsung mengambil keputusan untuk membasmi seluruh organisme pengganggu. Prinsipnya adalah mengelola populasi OPT agar berada pada tingkat yang tidak menimbulkan kerugian ekonomi. Pendekatan ini dapat dilakukan melalui beberapa cara, seperti pengendalian secara kultur teknis, mekanis, fisik, biologis, maupun penggunaan pestisida secara bijaksana. Setiap metode memiliki kelebihan dan keterbatasan sehingga penerapannya perlu disesuaikan dengan kondisi lahan.

Pengendalian biologis dapat dilakukan dengan memanfaatkan musuh alami atau mikroorganisme tertentu. Penelitian terbaru juga menunjukkan bahwa agen biologis memiliki peluang besar untuk digunakan sebagai bagian dari sistem perlindungan tanaman berkelanjutan. Namun, efektivitasnya dapat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan, jenis organisme sasaran, formulasi, serta cara penerapannya. Karena itu, pengendalian biologis bukan berarti pestisida harus dihilangkan sepenuhnya. Bagian penting lain adalah menggunakan setiap metode sesuai dengan kebutuhan dan mempertimbangkan dampaknya terhadap agroekosistem.

6. Pertanian Masa Depan Membutuhkan Pengamatan

Di tengah perubahan iklim dan meningkatnya tantangan dalam produksi pertanian, kemampuan mengamati menjadi semakin penting. Petani perlu mengetahui kapan hama mulai muncul, tanaman apa yang diserang, bagaimana pola kerusakannya, serta bagaimana kondisi lingkungan pada saat serangan terjadi. Teknologi dapat membantu proses tersebut. Pemantauan menggunakan perangkap, pencatatan populasi hama, pengamatan berkala, hingga teknologi digital dapat digunakan untuk memperoleh informasi yang lebih cepat. Namun, teknologi tetap membutuhkan manusia yang mampu memahami informasi tersebut.

Dalam Proteksi Tanaman, hal ini menunjukkan bahwa ilmu tentang hama tidak hanya berhubungan dengan kemampuan mengenali serangga. Kita juga perlu memahami ekologi, fisiologi tanaman, mikroorganisme, kondisi lingkungan, dan hubungan antarmakhluk hidup. Perubahan iklim juga membuat pendekatan pengendalian harus lebih adaptif. Strategi yang berhasil pada satu tempat belum tentu memberikan hasil yang sama di tempat lain. Faktor varietas tanaman, kondisi tanah, iklim, pola budidaya, dan jenis organisme pengganggu dapat berbeda.

7. Menjaga Tanaman Berarti Menjaga Ekosistem

Pada akhirnya, perlindungan tanaman bukan hanya tentang bagaimana membuat hama mati. Perlindungan tanaman seharusnya juga berarti menjaga agar tanaman dapat tumbuh dalam lingkungan yang sehat dan seimbang. Hama memang dapat menyebabkan kerugian, tetapi keberadaannya merupakan bagian dari jaringan kehidupan dalam agroekosistem. Ketika satu komponen dihilangkan secara berlebihan, komponen lain dapat ikut berubah. Karena itu, pengelolaan OPT membutuhkan pemahaman terhadap hubungan yang terjadi di dalam ekosistem.

Perubahan iklim membuat tantangan tersebut semakin nyata. Suhu dan pola cuaca yang berubah dapat memengaruhi perkembangan organisme pengganggu tanaman dan efektivitas pengendalian. Oleh sebab itu, sistem perlindungan tanaman di masa depan perlu lebih menekankan pengamatan, pencegahan, pemanfaatan musuh alami, serta penggunaan pestisida secara tepat. Bagi mahasiswa Proteksi Tanaman, kondisi ini menjadi pengingat bahwa tugas seorang pelindung tanaman bukan hanya membasmi organisme yang dianggap merugikan. Lebih dari itu, seorang ahli proteksi tanaman perlu memahami keseimbangan antara tanaman, hama, musuh alami, lingkungan, dan manusia.

Tanaman yang sehat tidak selalu berasal dari lahan yang bebas dari semua serangga. Bisa jadi, tanaman yang sehat justru tumbuh pada ekosistem yang mampu menjaga keseimbangan antara organisme yang merugikan dan organisme yang menguntungkan. Di sinilah ilmu Proteksi Tanaman menjadi penting: tidak hanya sekadar melawan hama, tetapi memahami kehidupan di balik munculnya hama dan mengelolanya dengan cara yang lebih bijaksana. 

Daftar Pustaka

Assèdé, E. S. P., & Othoo, C. O. (2025). Research progress on climate change adaptation strategies to control invasive crop pest in sub-Saharan Africa: A bibliometric and systematic review. Frontiers in Climate, 7.

Dutta, T. K., & Phani, V. (2023). The pervasive impact of global climate change on plantnematode interaction continuum. Frontiers in Plant Science, 14.

Fernández de Bobadilla, M., Ramírez, N. M., Calvo-Agudo, M., Dicke, M., & Tena, A. (2024). Honeydew management to promote biological control. Current Opinion in Insect Science, 61.

Gerken, A. R., & Morrison, W. R. III. (2022). Pest management in the postharvest agricultural supply chain under climate change. Frontiers in Agronomy, 4.

Baker, B. P., Green, T. A., & Loker, A. J. (2019). Biological control and integrated pest management in organic and conventional systems. Biological Control.

Tags: #Lili Herlina
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Membedah Luka Anak Rantau dalam Lagu “Sesi Potret”

Berita Terkait

Membedah Luka Anak Rantau dalam Lagu “Sesi Potret”

Membedah Luka Anak Rantau dalam Lagu “Sesi Potret”

Minggu, 18/10/26 | 15:52 WIB

Oleh: Puspandhari Ilsa Pinasty (Mahasiswa Prodi Proteksi Tanaman Fakultas Pertanian Universitas Andalas)   Bayangkan seorang anak rantau yang akhirnya mampu...

Kabut Regulasi: UU ITE Berubah, Tetapi Apakah Publik Benar-Benar Memahaminya?

Kabut Regulasi: UU ITE Berubah, Tetapi Apakah Publik Benar-Benar Memahaminya?

Selasa, 13/10/26 | 18:50 WIB

Taufiq Muhammad Akbar ‎Magister Ilmu Komunikasi, Universitas Andalas (UNAND) Undang-undang berubah, Pasal diperbaiki, Ancaman pidana disesuaikan, Istilah hukum diperbarui. Tetapi...

Regulasi Saja Tidak Cukup: Menangkal Gangguan Informasi di Ruang Digital

Regulasi Saja Tidak Cukup: Menangkal Gangguan Informasi di Ruang Digital

Senin, 12/10/26 | 14:55 WIB

Ilustrasi: Hukum dan regulasi hanyalah pagar luar, namun kesadaran dan etika digital masyarakat adalah benteng utama yang sesungguhnya dalam menangkal...

Puisi-puisi M. Subarkah

Bahasa, Miskomunikasi, dan Konflik Rumah Ibadah

Senin, 12/10/26 | 06:40 WIB

Oleh: M. Subarkah (Mahasiswa S2 Linguistik FIB Universitas Andalas) Bahasa memiliki peran penting dalam membentuk pemahaman, hubungan sosial, dan sikap...

Penentu Arah Perubahan Zaman

Penentu Arah Perubahan Zaman

Minggu, 11/10/26 | 20:39 WIB

Oleh: Arza Kailla Chaerani (Mahasiswa Prodi Sastra Indonesia FIB Universitas Andalas) Dunia terus berubah, begitu pula cara manusia memahami identitas,...

Bias Pengetahuan Bahasa AI tentang Perempuan dan Krisis Iklim

Bias Pengetahuan Bahasa AI tentang Perempuan dan Krisis Iklim

Minggu, 11/10/26 | 20:02 WIB

Oleh: Arina Isti’anah (Dosen Sastra Inggris, Universitas Sanata Dharma)   Dalam ranah sosio-kognitif, bahasa merupakan piranti yang menjembatani memori dan...

POPULER

  • Lele Raksasa (Foto: Ist)

    Pria ini Taklukan Lele Raksasa Ukurannya Nyaris Tiga Meter

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Puisi-puisi Dharma Purnama Putra

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Puisi-puisi Arza Kailla Chaerani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Child Grooming sebagai Bentuk Frasa “Manipulasi Anak”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Perbedaan Awalan ber- dan me-

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cahaya dari Surau Tuo

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Paket Data Masih Aktif, Telkomsel Blokir Internet karena Tagihan Pulsa Darurat

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026