Minggu, 18/10/26 | 18:13 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • BERITA
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI ARTIKEL

Membedah Luka Anak Rantau dalam Lagu “Sesi Potret”

Minggu, 18/10/26 | 15:52 WIB
Oleh: Puspandhari Ilsa Pinasty
(Mahasiswa Prodi Proteksi Tanaman Fakultas Pertanian Universitas Andalas)
 

Bayangkan seorang anak rantau yang akhirnya mampu membeli tiket pulang dengan uang hasil jerih payahnya sendiri. Setelah bertahun-tahun bekerja dan menunda kepulangan demi mengejar kesuksesan, ia membayangkan pertemuan hangat dengan orang tua yang selama ini menunggunya. Namun, perjalanan pulang itu justru menjadi perjalanan paling menyakitkan dalam hidupnya. Orang yang ingin ia bahagiakan telah tiada, sementara keberhasilan yang diraihnya tidak lagi dapat dibagikan kepada mereka.

Kisah getir tersebut tergambar dalam lagu “Sesi Potret” karya eñau yang berkolaborasi dengan Ari Lesmana. Lagu ini mengangkat luka kehilangan akibat kepulangan yang terlambat sekaligus mempertanyakan makna kesuksesan yang selama ini dikejar. Melalui kisah anak rantau, pendengar diajak menyadari bahwa ambisi membangun masa depan yang lebih baik dapat berubah menjadi penyesalan ketika waktu bersama orang tersayang terus ditunda.

Merantau sering menjadi pilihan untuk memperbaiki kehidupan ekonomi dan membuktikan kemampuan diri. Namun, ketika keberhasilan diukur melalui penghasilan, pekerjaan, dan kepemilikan materi, pulang tanpa pencapaian yang membanggakan dapat dianggap sebagai kegagalan. Anggapan tersebut membuat sebagian perantau merasa harus mencapai kondisi finansial tertentu sebelum kembali ke kampung halaman. Padahal, keluarga tidak selalu mengharapkan materi. Kehadiran dan perhatian juga memiliki arti penting. Hal ini sejalan dengan penelitian Christanti dkk. (2024) yang menemukan bahwa dukungan sosial keluarga berperan signifikan terhadap kualitas hidup mahasiswa.

Pola pikir tersebut membuat pekerjaan, lembur, dan ambisi karier terus menjadi prioritas. Keinginan membahagiakan keluarga pada masa depan justru menjadi alasan untuk menunda kebersamaan pada masa sekarang. Ungkapan “Maaf tak bisa pulang, penghasilanku pas-pasan” dapat menggambarkan keyakinan itu. Masalahnya bukan pada keinginan untuk sukses, melainkan pada anggapan bahwa waktu bersama keluarga dapat ditunda tanpa batas. Sementara seseorang sibuk mengejar masa depan, usia orang tuanya terus bertambah dan kesempatan untuk bertemu tidak akan selalu tersedia.

BACAJUGA

Ketika Cuaca Berubah, Hama Ikut Berubah

Ketika Cuaca Berubah, Hama Ikut Berubah

Minggu, 18/10/26 | 16:21 WIB
Kabut Regulasi: UU ITE Berubah, Tetapi Apakah Publik Benar-Benar Memahaminya?

Kabut Regulasi: UU ITE Berubah, Tetapi Apakah Publik Benar-Benar Memahaminya?

Selasa, 13/10/26 | 18:50 WIB

Tragedi dalam “Sesi Potret” mencapai puncaknya melalui penggalan lirik, “Kubertamu ke rumah barumu, tak ada kamu, hanya papan dan namamu.” Metafora “rumah baru” dapat dimaknai sebagai liang lahat, tempat yang menandai kepergian seseorang untuk selamanya. Kata “rumah” yang biasanya menghadirkan kehangatan justru berubah menjadi simbol kehilangan. Tokoh dalam lagu itu akhirnya pulang, tetapi bukan untuk bertemu dan berbagi kebahagiaan dengan orang yang dirindukannya. Ia hanya menemukan nama yang tersisa tanpa kehadiran pemiliknya.

Kesuksesan yang dahulu dianggap sebagai tujuan utama mendadak terasa hambar ketika orang yang ingin dibahagiakan telah tiada. Uang dapat memenuhi kebutuhan keluarga dan memberikan kehidupan yang lebih layak, tetapi tidak dapat mengembalikan waktu atau menghidupkan kembali orang yang meninggal. Penelitian Zahira dan Savira (2024) mengenai kedukaan pada dewasa awal setelah kematian orang tua menunjukkan bahwa pengalaman kehilangan dan proses menghadapinya dapat berbeda pada setiap individu, sedangkan dukungan keluarga serta lingkungan turut membantu proses pemulihan. Temuan ini memperkuat pemahaman bahwa kehilangan bukan sekadar ketiadaan seseorang, melainkan pengalaman emosional yang memengaruhi kehidupan orang yang ditinggalkan. Yang hilang bukanlah nilai kesuksesan itu, melainkan kesempatan untuk menikmati dan membagikannya bersama orang tercinta.

Potret dalam lagu ini dapat dipahami sebagai simbol kenangan yang semakin berharga ketika seseorang tidak lagi bisa ditemui. Foto mampu menyimpan wajah dan merekam kebersamaan, tetapi tidak dapat menghadirkan kembali suara, pelukan, atau percakapan yang dahulu menyertainya. Penelitian Surbakti dkk. (2025) tentang foto keluarga dalam fotografi luar ruang menjelaskan bahwa foto keluarga dapat berfungsi sebagai media penyimpanan memori yang merekam peristiwa, pertumbuhan, dan perubahan dalam keluarga. Dalam lagu ini, potret dapat dimaknai sebagai pengingat akan kebersamaan yang tidak mungkin diulang.

Pesan tersebut relevan dengan kehidupan generasi sekarang yang akrab dengan media sosial dan kesibukan mengejar pencapaian. Kita dapat begitu rajin mengabadikan perjalanan, pekerjaan, dan kebahagiaan untuk ditampilkan kepada orang lain, tetapi menunda menelepon orang tua atau mendengarkan cerita mereka. Mengabadikan momen tentu bukan sesuatu yang keliru, tetapi dokumentasi tidak seharusnya menggantikan pengalaman hadir sepenuhnya bersama orang-orang terdekat. “Sesi Potret” mengingatkan bahwa kenangan paling bermakna tidak hanya lahir dari momen istimewa, tetapi juga dari kebersamaan sederhana yang tidak dapat diulang setelah kesempatan itu berlalu.

Luka anak rantau dalam “Sesi Potret” adalah luka akibat keterlambatan yang tidak dapat diperbaiki. Lagu ini mengajak kita meninjau kembali ukuran kesuksesan yang terlalu berpusat pada pencapaian materi, seolah-olah kebahagiaan baru layak dirasakan setelah semua ambisi terpenuhi. Padahal, kesuksesan juga berarti kemampuan menjaga hubungan, menghargai waktu, dan hadir bagi orang-orang yang menjadi bagian penting dalam kehidupan kita. Mengejar masa depan tetap diperlukan, tetapi jangan sampai perjuangan membahagiakan keluarga justru membuat kita kehilangan kesempatan untuk bersama mereka.

Pada akhirnya, tidak semua hal dapat ditunda sampai kita merasa cukup berhasil. Orang tua terus bertambah usia, waktu terus berjalan, dan tidak ada jaminan bahwa setiap kepulangan akan selalu disambut oleh wajah yang sama.

Sebelum kesuksesanmu berakhir dengan penyesalan di depan sebuah nisan, teleponlah mereka hari ini atau pulanglah selagi kesempatan itu masih ada.

 

Daftar Pustaka

Christanti, D., Prasetyo, E., & Tedjawidjaja, D. (2024). Kualitas Hidup Mahasiswa: Tinjauan dari Peran Dukungan Sosial Keluarga, Teman, dan Significant others. Jurnal Psikologi Tabularasa.

Surbakti, A. A., Octaviano, A. L., & Adityasmara, F. (2025). Foto Keluarga dalam Fotografi Outdoor di Artglory Bali. Retina Jurnal Fotografi.

Zahira, A. K. Z., & Savira, S. I. (2024). Gambaran Kedukaan pada Dewasa Awal atas Kematian Orang Tua. Character Jurnal Penelitian Psikologi.

Tags: #Puspandhari Ilsa Pinasty
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Berbagai Istilah Uang Pengeluaran di dalam Bahasa Indonesia (Bagian 1)

Berita Sesudah

Ketika Cuaca Berubah, Hama Ikut Berubah

Berita Terkait

Ketika Cuaca Berubah, Hama Ikut Berubah

Ketika Cuaca Berubah, Hama Ikut Berubah

Minggu, 18/10/26 | 16:21 WIB

Oleh: Lili Herlina (Mahasiswa Prodi Proteksi Tanaman Fakultas Pertanian Universitas Andalas) Ketika membicarakan masalah pertanian, perhatian sering kali tertuju pada...

Kabut Regulasi: UU ITE Berubah, Tetapi Apakah Publik Benar-Benar Memahaminya?

Kabut Regulasi: UU ITE Berubah, Tetapi Apakah Publik Benar-Benar Memahaminya?

Selasa, 13/10/26 | 18:50 WIB

Taufiq Muhammad Akbar ‎Magister Ilmu Komunikasi, Universitas Andalas (UNAND) Undang-undang berubah, Pasal diperbaiki, Ancaman pidana disesuaikan, Istilah hukum diperbarui. Tetapi...

Regulasi Saja Tidak Cukup: Menangkal Gangguan Informasi di Ruang Digital

Regulasi Saja Tidak Cukup: Menangkal Gangguan Informasi di Ruang Digital

Senin, 12/10/26 | 14:55 WIB

Ilustrasi: Hukum dan regulasi hanyalah pagar luar, namun kesadaran dan etika digital masyarakat adalah benteng utama yang sesungguhnya dalam menangkal...

Puisi-puisi M. Subarkah

Bahasa, Miskomunikasi, dan Konflik Rumah Ibadah

Senin, 12/10/26 | 06:40 WIB

Oleh: M. Subarkah (Mahasiswa S2 Linguistik FIB Universitas Andalas) Bahasa memiliki peran penting dalam membentuk pemahaman, hubungan sosial, dan sikap...

Penentu Arah Perubahan Zaman

Penentu Arah Perubahan Zaman

Minggu, 11/10/26 | 20:39 WIB

Oleh: Arza Kailla Chaerani (Mahasiswa Prodi Sastra Indonesia FIB Universitas Andalas) Dunia terus berubah, begitu pula cara manusia memahami identitas,...

Bias Pengetahuan Bahasa AI tentang Perempuan dan Krisis Iklim

Bias Pengetahuan Bahasa AI tentang Perempuan dan Krisis Iklim

Minggu, 11/10/26 | 20:02 WIB

Oleh: Arina Isti’anah (Dosen Sastra Inggris, Universitas Sanata Dharma)   Dalam ranah sosio-kognitif, bahasa merupakan piranti yang menjembatani memori dan...

Berita Sesudah
Ketika Cuaca Berubah, Hama Ikut Berubah

Ketika Cuaca Berubah, Hama Ikut Berubah

POPULER

  • Lele Raksasa (Foto: Ist)

    Pria ini Taklukan Lele Raksasa Ukurannya Nyaris Tiga Meter

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Puisi-puisi Dharma Purnama Putra

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Child Grooming sebagai Bentuk Frasa “Manipulasi Anak”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Puisi-puisi Arza Kailla Chaerani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Perbedaan Awalan ber- dan me-

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cahaya dari Surau Tuo

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gus Muhaimin Serukan Gerakan Kemanusiaan Karhutla: Jangan Hanya Bergerak Saat Daerah Sendiri Tertimpa Bencana

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026