
Padang, Scientia.id – Sabtu pagi, 11 April 2026. Seorang pemilik kos di kawasan Limau Manis, Padang, terpaksa membuka paksa pintu kamar mandi salah satu kamarnya yang terkunci dari dalam. Di balik pintu itu, FDA, mahasiswa (24), ditemukan dalam kondisi meninggal dunia dengan leher terlilit tali di ventilasi kamar mandi.
Di kamarnya ditemukan buku catatan. Isinya permintaan agar orang-orang membuka HP dan pesan WhatsApp-nya. Pesan terakhir yang tidak sempat ia ucapkan langsung, entah kepada siapa.
Dari sejumlah informasi yang saya baca di media sosial dan media daring, FDA sudah tidak masuk kuliah selama satu minggu penuh sebelum kejadian itu. Satu minggu. Tujuh hari. Tidak ada yang tahu kenapa. Tidak ada pula yang sempat bertanya.
Ini bukanlah kasus yang pertama di Ranah Minang. Sebelumnya, sudah ada sejumlah peristiwa serupa yang terjadi. Salah satu yang paling memilukan adalah kasus seorang siswa SMP di Sawahlunto yang nekat mengambil jalan pintas untuk mengakhiri persoalan hidup yang dihadapinya
Anak-anak seusia SMP yang seharusnya masih identik dengan kepolosan dan keceriaan, ternyata menyimpan tekanan yang tidak terlihat oleh orang-orang di sekitarnya. Mereka tampak baik-baik saja, namun bisa saja sedang bergulat dengan masalah yang berat di dalam dirinya.
Pertanyaannya, apakah beban dan persoalan yang mereka hadapi kini memang semakin kompleks, bahkan melampaui kemampuan mereka untuk memahaminya? Ataukah orang dewasa di sekitar mereka yang mulai terlambat menyadari apa yang sebenarnya sedang mereka rasakan?
Di Jawa sana kondisinya bahkan lebih mengejutkan. Jembatan Cangar di perbatasan Kota Batu dan Mojokerto mendadak viral, bukan karena pemandangannya, tapi karena dua pria berusia 24 tahun melompat dari jembatan yang sama dalam selang waktu kurang dari sebulan.
MMA pada 31 Maret, DPW pada 23 April 2026. Jembatan itu kemudian diserbu pengunjung yang berfoto-foto, sampai pemerintah setempat pasang pagar pengaman 2,5 meter. Sebelumnya, mahasiswi UNS berusia 22 tahun juga melakukan hal yang sama dari Jembatan Jurug, Solo.
Jika ditarik ke belakang sedikit, ada pula kisah memilukan dari Nusa Tenggara Timur. Seorang siswa kelas 4 SD berinisial YBR (10) ditemukan meninggal dunia di pohon cengkih dekat rumah neneknya pada Kamis, 29 Januari 2026. Korban diduga mengalami keputusasaan karena tidak mampu membeli buku dan pena untuk sekolah. Sebelum kejadian itu, ia disebut sempat meninggalkan sepucuk surat untuk ibunya.
Saya mencoba menelusuri sejumlah data, dan hasilnya cukup mengkhawatirkan. Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mencatat ada 116 anak dan remaja yang mengakhiri hidupnya dalam rentang 2023 hingga 2025. Sementara itu, sepanjang 2025, rata-rata lebih dari 100 kasus bunuh diri ditangani kepolisian setiap bulannya.
Angka-angka itu bukan sekadar statistik. Di baliknya ada anak-anak yang kehilangan harapan, keluarga yang hancur, serta lingkungan yang mungkin terlambat menyadari bahwa seseorang sedang meminta pertolongan dengan caranya sendiri.
Kita sedang menghadapi persoalan yang serius. Namun, sering kali respons kita belum benar-benar menunjukkan keseriusan yang sama. Berita demi berita datang silih berganti, lalu berlalu begitu saja, seolah hanya menjadi bagian dari rutinitas informasi harian.
Apakah kita harus terus menunggu kabar-kabar memilukan seperti ini hadir berulang kali hingga akhirnya terasa biasa? Hingga kita perlahan kehilangan kepekaan terhadap tragedi yang seharusnya menggugah kepedulian bersama?
Kenapa Sampai Sejauh Itu?
Saya tidak punya jawaban tunggal atas semua ini. Namun, dari berbagai kasus yang muncul, ada pola yang terus berulang. Mereka memilih memendam semuanya sendirian. FDA misalnya. Ia dikenal sebagai pribadi yang introvert dan tidak banyak bicara. Bahkan ketika seminggu tidak kuliah, nyaris tidak ada yang menyadari ada sesuatu yang sedang tidak baik-baik saja. Barangkali, ada banyak anak muda lain yang serupa, terlihat tenang di luar, tampak biasa saja, namun diam-diam sudah terlalu lama kehabisan tenaga menghadapi hidup.
Kasus yang terjadi di Jawa pun tidak jauh berbeda. Dari berbagai informasi yang beredar, mereka sedang menghadapi persoalan yang terasa buntu, sementara pada saat yang sama tidak menemukan tempat untuk bercerita atau meminta pertolongan.
Tekanan yang mereka hadapi juga tidak sederhana. Tuntutan kuliah, ekspektasi keluarga, persoalan ekonomi, hubungan yang kandas, hingga rasa gagal yang terus menghantui, semuanya datang bertumpuk dalam waktu bersamaan. Ketika tidak ada ruang aman untuk melepaskan beban itu, perlahan semuanya berubah menjadi tekanan yang terasa terlalu berat untuk ditanggung sendirian.
Ditambah lagi, kita hidup di zaman media sosial yang aneh. Di satu sisi semua orang terlihat terhubung, tapi di sisi lain banyak anak muda yang merasa amat kesepian. Mereka punya ratusan teman di grup WhatsApp, tapi tidak punya satu pun yang benar-benar tahu kondisi mereka hari ini.
Di sinilah saya ingin bicara kepada kita semua, terutama yang tinggal di Ranah Minang ini. Dalam adat kita, ada mamak. Ada ninik mamak. Ada struktur keluarga besar yang sejatinya adalah jaring pengaman sosial paling kuat yang pernah ada. “Anak dipangku, kemenakan dibimbing” itu bukan sekadar pepatah lama. Itu tanggung jawab nyata.
Tapi sekarang, berapa banyak mamak yang tahu kondisi kemenakannya yang sedang kuliah jauh dari kampung? Berapa banyak yang tahu kemenakannya sudah seminggu tidak makan dengan benar, tidak keluar kamar, tidak mengangkat telepon?
Kita sibuk. Kita punya urusan masing-masing. Tapi anak-anak kemenakan kita juga punya beban yang mungkin tidak mereka ceritakan kepada siapapun.
Untuk adik-adik yang sedang membaca ini dan merasa tidak baik-baik saja, saya ingin bilang satu hal: kamu tidak harus menanggung semuanya sendirian. Berani bilang “aku butuh bantuan” itu bukan tanda lemah. Justru itu tanda kamu masih mau bertahan.
Hubungi seseorang yang kamu percaya. Kalau tidak ada, hubungi hotline Hubungi layanan bantuan kesehatan jiwa Kementerian Kesehatan Republik Indonesia melalui Halo Kemenkes 1500-567 atau layanan kesehatan jiwa 119 ext 8 yang tersedia 24 jam. Atau datang ke puskesmas terdekat, sekarang sudah banyak yang punya layanan konseling jiwa.
Masalah yang terasa seperti tembok hari ini, suatu hari nanti akan terlihat berbeda. Bukan karena masalahnya hilang, tapi karena kamu sudah lebih kuat untuk menghadapinya. Tapi itu hanya bisa terjadi kalau kamu masih ada.
Jadi tolong, tetaplah ada.
—————————————————————————————————————————–
Butuh bantuan? Jangan hadapi semuanya sendirian.
Hubungi layanan bantuan kesehatan jiwa Kementerian Kesehatan Republik Indonesia melalui Halo Kemenkes 1500-567 atau layanan kesehatan jiwa 119 ext 8 yang tersedia 24 jam.
Dukungan dan pertolongan selalu ada bagi mereka yang ingin didengar.
Penulis
Ramono Aryo Abilowo




![Anggota DPRD Kota Padang, Fraksi PKB, Zalmadi. [foto : ist]](https://scientia.id/wp-content/uploads/2025/05/DPRD-350x250.jpg)


