Selasa, 14/4/26 | 22:44 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • BERITA
    • TERAS
    • EKONOMI
    • HUKUM
    • POLITIK
    • DAERAH
    • EDUKASI
    • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • BERITA
    • TERAS
    • EKONOMI
    • HUKUM
    • POLITIK
    • DAERAH
    • EDUKASI
    • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • BERITA
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home EKONOMI

Allah dan Orang Tua dalam Bisnis

Sabtu, 28/2/26 | 10:29 WIB
Sugesti Edward, Motivator Bisnis dan Pengusaha (Foto: Ist)
Sugesti Edward, Motivator Bisnis dan Pengusaha (Foto: Ist)

Jakarta, Scientia.id – Berbicara tentang bisnis, banyak orang langsung membayangkan strategi, modal, relasi, dan keberanian mengambil risiko. Semua itu memang penting. Namun bagi saya, bisnis bukan sekadar soal angka, laba, atau pencapaian materi. Bisnis adalah perjalanan hidup. Ia beririsan langsung dengan keyakinan, nilai, dan cara saya memandang dunia. Dalam perjalanan itu, ada dua sandaran utama yang sejak awal selalu saya pegang teguh yakni Allah dan orang tua.

Bukan karena saya paling benar, bukan pula karena saya merasa paling religius. Justru sebaliknya, karena saya sadar betul bahwa manusia memiliki keterbatasan. Pengetahuan kita terbatas, perhitungan kita sering meleset, dan rencana yang terlihat sempurna di atas kertas bisa runtuh oleh satu kejadian kecil yang tak pernah kita perkirakan. Dari kesadaran itulah saya belajar untuk tidak berjalan sendirian.

Sejak awal memulai usaha, satu prinsip yang selalu saya tanamkan dalam diri adalah: mengandalkan Allah dalam setiap gerak hidup. Bukan hanya ketika bisnis sedang sulit, bukan hanya saat modal menipis atau pasar sedang tidak berpihak, tetapi sejak dari niat pertama, sejak dari rencana yang bahkan belum menjadi tindakan nyata.

Saya percaya, Allah Maha Mengetahui apa yang terbaik untuk hamba-Nya. Apa yang menurut kita baik, belum tentu benar-benar membawa kebaikan. Sebaliknya, apa yang terasa pahit hari ini, bisa jadi adalah bentuk kasih sayang Allah yang paling halus. Karena itu, setiap memulai usaha, setiap mengambil keputusan penting, saya selalu berusaha melibatkan Allah: dalam doa, dalam harapan, dan dalam kepasrahan.

BACAJUGA

DPR Dorong Percepatan Pengesahan RUU PPRT

DPR Dorong Percepatan Pengesahan RUU PPRT

Minggu, 08/3/26 | 08:27 WIB
Kemenag Dharmasraya Tetapkan Besaran Zakat Fitrah dan Fidiyah 1447 H/2026 M

Kemenag Dharmasraya Tetapkan Besaran Zakat Fitrah dan Fidiyah 1447 H/2026 M

Selasa, 03/3/26 | 14:38 WIB

Mengandalkan Allah bukan berarti pasrah tanpa usaha. Justru sebaliknya. Saya berusaha sekuat tenaga, berpikir, belajar, bekerja keras, dan berikhtiar sebaik mungkin. Namun setelah itu, saya kembalikan semuanya kepada Allah. Hasilnya bukan lagi milik saya. Keputusan akhirnya ada di tangan-Nya.

Dalam banyak kesempatan, saya menyaksikan sendiri bagaimana rencana yang saya yakini matang ternyata tidak berjalan sesuai harapan. Ada bisnis yang sudah disiapkan lama, dipikirkan siang dan malam, tetapi akhirnya berhenti di tengah jalan. Di saat seperti itu, saya belajar satu hal penting: Allah tidak pernah salah dalam menentukan waktu dan hasil.

Jika hari ini belum diberi, saya tidak kecewa berlarut-larut. Bukan karena saya tidak punya keinginan, tetapi karena saya percaya bahwa Allah sedang menyiapkan sesuatu yang lebih tepat. Keyakinan inilah yang menjaga hati saya tetap tenang, bahkan di tengah ketidakpastian.

Doa Orang Tua sebagai Kekuatan yang Tak Terlihat

Selain Allah, satu hal yang selalu saya jaga dan hormati adalah doa orang tua. Saya meyakini bahwa doa orang tua bukan sekadar rangkaian kata, tetapi energi kebaikan yang mengalir tanpa putus. Doa mereka adalah benteng yang sering kali tidak kita sadari, tetapi dampaknya nyata.

Dalam setiap langkah penting, saya selalu berusaha meminta restu dan nasihat orang tua. Saya datang dengan rendah hati, mendengarkan pandangan mereka, dan membuka diri terhadap masukan yang mungkin berbeda dari cara pikir saya. Bagi saya, meminta nasihat bukan tanda kelemahan, melainkan tanda kedewasaan.

Namun, saya juga menyadari satu hal penting: mendengarkan nasihat tidak selalu berarti mengambilnya secara bulat-bulat. Orang tua memberi pandangan berdasarkan pengalaman hidup mereka, konteks zaman mereka, dan nilai-nilai yang mereka yakini. Sementara saya hidup di zaman yang berbeda, dengan tantangan dan peluang yang juga berbeda.

Karena itu, ketika nasihat orang tua sejalan dengan keyakinan dan logika saya, saya jalankan dengan penuh hormat. Tetapi jika dalam beberapa hal tidak sejalan, saya berusaha menyikapinya dengan bijak. Saya tidak akan membantah dengan emosi, tidak menyepelekan pendapat dan ide mereka, tetapi mengambil keputusan sendiri dengan penuh tanggung jawab.

Bagi saya, sikap ini bukan bentuk pengingkaran atas nasihat yang mereka berikan, namun bentuk kedewasaan. Saya bertanggung jawab atas pilihan hidup saya sendiri, termasuk dalam bisnis. Namun tetap, restu dan doa orang tua saya jaga sebagai bekal utama.

Dua Pilar Kehidupan

Dalam perjalanan bisnis dan hidup, saya memposisikan Allah dan orang tua sebagai dua pilar utama. Allah adalah tempat meminta yang sebaik-baiknya. Dia Maha Kuasa, Maha Pemberi, dan Maha Menentukan. Tidak ada satu pun yang terjadi tanpa izin-Nya.

Jika saya diberi kelapangan rezeki hari ini, saya bersyukur. Jika belum diberi, saya pun bersyukur. Karena saya percaya, Allah tidak pernah zalim kepada hamba-Nya. Penundaan bukan penolakan. Kegagalan bukan hukuman. Semua adalah bagian dari rencana besar yang sering kali baru kita pahami setelah waktu berlalu.

Sementara orang tua, saya yakini sebagai perwakilan Tuhan di muka bumi. Melalui merekalah kita belajar nilai kehidupan yakni berupa kesabaran, kerja keras, kejujuran, dan keteguhan. Masukan dan nasihat mereka saya jadikan referensi penting dalam setiap langkah yang saya ambil, termasuk dalam urusan bisnis.

Tidak semua saran mereka saya jadikan keputusan final, tetapi semua saya jadikan bahan pertimbangan. Dari situlah saya belajar menimbang, memilah, dan menentukan sikap. Kombinasi antara doa orang tua dan keyakinan kepada Allah memberi saya ketenangan yang sulit digantikan oleh apa pun.

Satu prinsip yang selalu saya jaga adalah tidak pernah merasa sombong atas pencapaian. Apa pun yang saya capai hari ini, saya yakini bukan semata karena kepintaran atau kerja keras saya. Ada peran Allah di dalamnya, ada doa orang tua, ada bantuan orang lain, dan ada banyak faktor yang tidak terlihat.

Karena itu, saya berusaha menjaga hati agar tidak jumawa. Tidak merasa lebih hebat dari orang lain. Tidak memandang rendah mereka yang belum berhasil. Kesombongan, sekecil apa pun, adalah awal dari kejatuhan. Saya menyadari betul, apa yang saya miliki hari ini bisa diambil kapan saja jika Allah menghendaki.

Sebaliknya, dalam menghadapi kegagalan, saya juga tidak pernah merasa rendah diri. Saya tidak memukul diri sendiri berlebihan, tidak larut dalam rasa malu, dan tidak merasa hidup saya berakhir hanya karena satu atau dua kegagalan. Bagi saya, kegagalan bukan lawan dari kesuksesan.

Penulis

Sugesti Edward
(Motivator Bisnis dan Pengusaha)

Tags: Motivator Sugesti EdwardSugesti Edward
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Menjanjikan, Walnag Sipangkur Ajak Pemuda Kelola Jagung di Lahan Tidur

Berita Sesudah

Safari Ramadan di Kamang Magek, Wabup Agam Ajak Warga Perkuat Kebersamaan Pascabencana

Berita Terkait

DPR Dorong Percepatan Pengesahan RUU PPRT

DPR Dorong Percepatan Pengesahan RUU PPRT

Minggu, 08/3/26 | 08:27 WIB

Jakarta, Scientia.id - Anggota Badan Legislasi DPR RI, Cindy Monica, menegaskan pentingnya percepatan pengesahan Rancangan Undang-Undang Pelindungan Pekerja Rumah Tangga...

Kemenag Dharmasraya Tetapkan Besaran Zakat Fitrah dan Fidiyah 1447 H/2026 M

Kemenag Dharmasraya Tetapkan Besaran Zakat Fitrah dan Fidiyah 1447 H/2026 M

Selasa, 03/3/26 | 14:38 WIB

Dharmasraya, Scientia.id – Kantor Kementerian Agama Kabupaten Dharmasraya menggelar Rapat Penentuan Besaran Zakat Fitrah dan Fidiyah Tahun 1447 H/2026 M...

Bale by BTN, Transaksi Mudah Memanjakan Nasabah

Bale by BTN, Transaksi Mudah Memanjakan Nasabah

Selasa, 24/2/26 | 22:57 WIB

Seorang karyawan Ayam Geprek GG di Kota Padang memperlihatkan cara mudah untuk pembayaran tanpa ribet melalui aplikasi Bale by BTN,...

Bale by BTN, Solusi Cepat Pilih Rumah Pascabencana

Bale by BTN, Manjakan Gen Z Cari Hunian Tanpa Ribet

Jumat, 20/2/26 | 20:40 WIB

Seorang Gen Z yang sekaligus relawan bencana di Kota Padang sedang mencari rumah hunian yang aman dan nyaman melalui aplikasi...

MSCI Ubah Indeks Saham Indonesia, INDF Turun Kelas, CLEO dan ACES Keluar

MSCI Ubah Indeks Saham Indonesia, INDF Turun Kelas, CLEO dan ACES Keluar

Jumat, 13/2/26 | 06:42 WIB

Jakarta, Scientia.id - Morgan Stanley Capital International (MSCI) kembali melakukan peninjauan indeks saham Indonesia. Hasilnya, sejumlah saham mengalami perubahan status,...

Kemenag Siapkan 2.124 Titik Pemberdayaan Zakat-Wakaf

Kemenag Siapkan 2.124 Titik Pemberdayaan Zakat-Wakaf

Kamis, 12/2/26 | 08:07 WIB

Jakarta, Scientia.id  - Upaya memperkuat peran zakat dan wakaf sebagai instrumen pemberdayaan umat terus didorong Kementerian Agama. Melalui Direktorat Jenderal...

Berita Sesudah
Safari Ramadan di Kamang Magek, Wabup Agam Ajak Warga Perkuat Kebersamaan Pascabencana

Safari Ramadan di Kamang Magek, Wabup Agam Ajak Warga Perkuat Kebersamaan Pascabencana

POPULER

  • Membongkar Rahasia Kalimat Menurut Para Ahli

    Membongkar Rahasia Kalimat Menurut Para Ahli

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Peran Sintaksis dalam Kehidupan Sehari-hari

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Dari Politisi ke Negarawan, Halim Iskandar Tekankan Arah Kaderisasi PKB di Muscab Sumbar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Waspada Psikolog Gadungan, HIMPSI Sumbar Imbau Masyarakat Cek Keabsahan dan Legalitas

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • DPRD Padang Usulkan Pencabutan Perda Keuangan Kepala Daerah 2003, Dinilai Tak Relevan Lagi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Makna Konotasi dan Denotasi Kata Cabe-Cabean

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Zukri Saad: Dinamis dan Sarat Gagasan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • BERITA
    • TERAS
    • EKONOMI
    • HUKUM
    • POLITIK
    • DAERAH
    • EDUKASI
    • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026