
Oleh: Noor Alifah
(Mahasiswi Sastra Indonesia dan Anggota Labor Penulisan Kreatif FIB Universitas Andalas)
Salah satu karya sastra tertua Indonesia adalah sastra Melayu klasik. Ia bukan hanya kumpulan kisah lama, itu juga menunjukkan kehidupan masyarakat di masa lalu yang penuh makna. Masyarakat Melayu mengekspresikan pandangan hidup, kepercayaan, nilai moral, dan keindahan bahasa yang diwariskan dari generasi ke generasi melalui karya-karya yang ditulis dan lisan. Nilai-nilai yang terkandung di dalamnya masih relevan hingga hari ini, meskipun dibuat di masa kerajaan dan jauh sebelum era modern.
Puisi dan prosa adalah dua jenis utama sastra Melayu klasik. Meskipun masing-masing memiliki peran dan keindahan yang berbeda, keduanya sangat penting untuk menggambarkan kehidupan sosial dan budaya pada masanya. Puisi memiliki banyak jenis, termasuk mantra, bidal, talibun, syair, seloka, gurindam, pantun, karmina, stanza, soneta, dan teka-teki. Setiap bentuk memiliki karakteristik dan tujuan unik. Mantra, misalnya, digunakan untuk hal-hal magis dan terkait dengan dunia gaib. Syair dan gurindam lebih banyak digunakan untuk menyampaikan nasihat moral dan ajaran agama, sedangkan pantun menjadi cara yang indah dan berima untuk mengungkapkan perasaan dan pikiran. Berbeda dengan itu, seloka dan bidal menunjukkan permainan kata yang bijak dan sarat makna.
Sastra Melayu klasik juga kaya akan ragam cerita dalam bentuk prosa. Hikayat, dongeng, legenda, mite, fabel, cerita jenaka, sage, dan cerita pelipur lara adalah beberapa di antaranya yang terkenal. Hikayat sering menceritakan kisah heroik tentang raja, bangsawan, atau karakter mitos yang penuh dengan pengajaran moral. Legenda adalah cerita tentang suatu tempat atau fenomena alam muncul, seperti dalam “Legenda Tangkuban Perahu”, yang masih populer hingga hari ini. Sebaliknya, cerita menggunakan tokoh binatang untuk menggambarkan tindakan manusia. Salah satu contohnya adalah “Hikayat Sang Kancil”, yang memberikan pelajaran moral dan kecerdikan. Mite atau mitos menceritakan tentang dunia gaib dan makhluk halus seperti dewa, jin, atau roh yang dianggap memiliki dampak pada kehidupan manusia. Cerita jenaka adalah hiburan tradisional yang menggabungkan humor dan kritik sosial yang halus dengan kehidupan rakyat biasa.
Karya-karya ini bukan sekadar cerita untuk menghibur; melainkan juga alat untuk memberikan pelajaran moral dan sosial. Ada nilai-nilai di dalamnya yang menggambarkan kehidupan masyarakat pada saat itu. Contohnya adalah karya yang mengajarkan kepercayaan kepada Tuhan, kepasrahan, dan cara beribadah. Ajaran tentang pentingnya gotong royong, sopan santun, dan rasa hormat terhadap sesama menunjukkan nilai sosial. Nilai moral menekankan hal-hal yang baik dan buruk, dan mengajarkan orang untuk jujur, setia, dan bertanggung jawab. Dalam karya sastra, keindahan bahasa, irama, dan ungkapan yang digunakan menunjukkan nilai estetis, sedangkan nilai budaya tercermin dalam adat istiadat dan kebiasaan orang Melayu pada masa itu.
Selain kekayaan bentuk dan nilainya, sastra Melayu klasik memiliki fitur khusus yang membedakannya dari sastra modern. Sebelum ditulis, sebagian besar karya ini disampaikan dari mulut ke mulut. Akibatnya, banyak karya yang anonim dan tidak diketahui siapa pengarangnya. Seringkali berpusat pada kehidupan istana atau tokoh bangsawan, sehingga bersifat istana-sentris, dan kadang-kadang mengandung unsur fantastik yang sulit diterima oleh akal sehat zaman sekarang. Selain itu, gaya bahasa yang digunakan, yang sering mengandung ungkapan yang berulang, adalah ciri khas yang memperkuat irama dan keindahan bahasa. Dengan masuknya agama Islam dan pengaruh kebudayaan India ke Nusantara, tidak dapat dipungkiri bahwa sastra Melayu klasik banyak dipengaruhi oleh budaya Arab dan Hindu.
Sastra Melayu klasik memiliki pengaruh besar dalam mengubah cara orang berpikir dan berperilaku, meskipun bentuknya sederhana dan seringkali tidak logis. Ia membantu menyebarkan nilai-nilai moral, memperkuat identitas budaya, dan menanamkan nilai-nilai kebaikan. Masyarakat belajar tentang kejujuran, kesetiaan, kearifan, dan keberanian dari kisah-kisah yang disampaikan secara turun-temurun. Nilai-nilai ini tidak hanya berlaku di masa lalu, tetapi juga menjadi pelajaran berharga bagi generasi saat ini yang hidup di tengah modernisasi dan globalisasi.
Selain itu, sastra Melayu klasik menunjukkan bahwa sastra tidak berasal dari ruang hampa. Semua cerita dipengaruhi oleh situasi sosial, politik, budaya, dan kepercayaan masyarakat yang berlaku pada saat itu. Kerangka pemikiran pengarang dan isi cerita dipengaruhi oleh elemen-elemen tersebut. Dalam karya sastra, elemen intrinsik seperti tokoh, tema, alur, latar, dan amanat membentuk kesatuan internal. Inilah yang disebut sebagai unsur ekstrinsik. Karya sastra menunjukkan dinamika masyarakat lama dan mencerminkan kehidupan secara keseluruhan melalui kombinasi kedua komponen ini.
Sastra Melayu klasik melakukan banyak hal selain memberikan hiburan dan mengajarkan nilai-nilai budaya. Ia menekankan pentingnya mempertahankan keharmonisan dengan Tuhan, alam, dan sesama manusia. Melalui karya-karya ini, masyarakat Melayu menunjukkan pemahaman dunia mereka dan mengabadikan pengalaman hidup dengan cara yang indah dan bermakna. Dengan membaca dan mempelajari sastra Melayu klasik, kita tidak hanya menengok masa lalu, tetapi juga memahami akar identitas dan budaya bangsa.
Di tengah gempuran budaya modern yang serba cepat dan digital, keberadaan sastra Melayu klasik seolah menjadi pengingat akan pentingnya nilai-nilai luhur yang mulai pudar. Kisah-kisah lama yang dulu diceritakan di balai desa atau istana kini bisa menjadi sumber inspirasi baru bagi generasi muda. Ia mengajarkan bahwa kebijaksanaan tidak hanya ditemukan dalam buku modern, tetapi juga dalam petuah dan kisah yang diwariskan nenek moyang kita. dalam karya sastra, seperti dalam sastra Melayu klasik. Karya tersebut bukan sekadar peninggalan sejarah, melainkan warisan hidup yang terus menumbuhkan rasa cinta terhadap bahasa, budaya, dan moralitas bangsa.
Dengan demikian, memahami dan melestarikan sastra Melayu klasik berarti menjaga salah satu akar kebudayaan Nusantara. Karya-karya tersebut telah menjadi saksi perjalanan panjang masyarakat Melayu dalam menghadapi perubahan zaman. Di balik setiap pantun, gurindam, atau hikayat, tersimpan pesan abadi tentang kebaikan, kebijaksanaan, dan keindahan yang tak lekang oleh waktu. Sastra Melayu klasik adalah jembatan antara masa lalu dan masa kini—sebuah warisan berharga yang mengajarkan kita untuk tidak melupakan asal-usul budaya sendiri di tengah derasnya arus modernisasi.







![Kantor PDAM Kota Padang.[foto : net]](https://scientia.id/wp-content/uploads/2025/07/FB_IMG_17535045128082-350x250.jpg)