Jumat, 23/1/26 | 22:11 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI PUISI

Puisi-puisi Elfa Edriwati

Minggu, 08/6/25 | 07:41 WIB
Ilustrasi:Meta AI

Bersitatap

Oleh: Elfa Edriwati

Kala malam nan hangatnya menembus tiap ruang
Bertemu di lorong-lorong kecil, bersitatap lalu tersenyum manis
Hatiku bergetar namun jiwaku tak bergerak
Menatapmu lebih lama, setiap inci wajahmu, hidungmu,
Matamu, bibirmu, membuaiku hanyut lebih dalam..
Tak kan aku berdusta, lagi-lagi hasrat menyentuhmu kian membara
Ke sekian kalinya bertemu,
Kau tetap diam sementara aku menggebu.

 

Menagih Janji

Oleh: Elfa Edriwati

BACAJUGA

No Content Available

Sore itu katanya tak kan berubah
Kembali terbayang senyum manisnya
Membuai, meyakinkan, tak terjadi apa-apa
Janjinya hilang terbawa angin
Menyesal percaya, dia tak lagi sama..
Bulan pertama, kedua, ketiga, jiwanya masih.
Bulan berikutnya, aku tak mengenalnya lagi..
Siapa dia? Katanya pahlawan sang putri
Nan beranjak dari tanggungan, melepas beban, merasa bebas.
Sementara putri menerawang, bisakah kita tetap seirama?

 

Mesin Waktu

Oleh: Elfa Edriwati

Tak beranjak dari sana jiwa-jiwa pemalas tiada bertepi
Sekian lama diam tanpa aksi
Pikirannya kusut, raga tak terurus
Sepanjang waktu meratapi nasib
Merayu mesin waktu agar kembali
Berangan-angan menjemput nan hilang
Nan tak sampai, nan terbuang
Bertingkah seolah tiap detik tak berharga
Jika sirna, tiap detik amat bermakna.


Perihal
Dunia

Oleh: Elfa Edriwati

Dunia nan bising kerap membawa amarah
Meluluhlantakkan jiwa raga
Gemuruh gejolak meluap
Perihal angin tak sampai
Segala nan dicari tak bersua
Segala harapan tak menyapa
Segala mimpi tak dijabah
Mengapa?
Perihal Dunia

 

Waktu Petang

Oleh: Elfa Edriwati

Di sebelah barat sawah melintang
Anginnya menghembus setiap ceruk
Ragaku terbawa arus aliran sungai
Langkahkan mengikuti ombak kecil
Mengitari alam terbentang
Jikalau tiba waktu petang
Jiwa-jiwa kecil berhambur di sana
Bergejolak riang tak ingat pulang

 

Biodata Penulis:

Elfa Edriwati lahir di kota Padang, biasa dipanggil Elfa, merupakan Mahasiswa Sastra Indonesia, Universitas Andalas. Ia memiliki hobi menonton film, membaca, dan menulis. Andrea Hirata dan Buya Hamka merupakan penulis favoritnya, dan kelak ingin menjadi seperti mereka.

Tags: #Elfa Edriwati
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Dialek-dialek Bahasa Minangkabau yang (akan) Mulai Hilang

Berita Sesudah

Beban Tidak Kasat Mata Anak Perempuan Pertama

Berita Terkait

Puisi-puisi Arza Kailla Chaerani

Puisi-puisi Arza Kailla Chaerani

Minggu, 18/1/26 | 19:35 WIB

Sumber gambar: GeminiAI Tanpa Ingin Menjadi Utama Oleh: Arza Kailla Chaerani Kau hadir tanpa gegap gempita Seperti lagu yang tak...

Puisi-puisi Aliftia Nabila Putri

Puisi-puisi Aliftia Nabila Putri

Minggu, 11/1/26 | 09:26 WIB

  Sumber: Google GeminiAI Di Kota yang Berbeda Oleh: Aliftia Nabila Putri Di sini aku masih sibuk dengan hariku, Sama...

Puisi-puisi Furkon Patani

Puisi-puisi Furkon Patani

Minggu, 28/12/25 | 14:15 WIB

Gambar: Meta AI Jadikanlah Aku Perindu Oleh: Furkon Patani Aku adalah pemabuk cinta Dan aku juga perindu setia Banyak yang...

Puisi-puisi Indri Rahmadani

Puisi-puisi Indri Rahmadani

Minggu, 07/12/25 | 17:48 WIB

Sumber Gambar: Meta AI Rumah Tanpa Pintu Oleh Indri Rahmadani Di kota ini yang jauh dari ragamu Aku belajar berhitung...

Puisi-puisi Wulan Darma Putri

Puisi-puisi Wulan Darma Putri

Minggu, 30/11/25 | 15:51 WIB

Sumber: Meta AI Sehangat Kepulan Kopi Oleh Wulan Darma Putri Dalam getaran cinta Kau mengukir hati yang luka Memberiku segala...

Puisi-puisi Afny Dwi Sahira

Puisi-puisi Afny Dwi Sahira

Minggu, 16/11/25 | 19:38 WIB

Menebak Pikiran Amir Oleh: Afny Dwi Sahira Sendu mata Amir rindu Buya Mengingat Buya semasa hidup Peninggalan Buya memenuhi memori...

Berita Sesudah
Beban Tidak Kasat Mata Anak Perempuan Pertama

Beban Tidak Kasat Mata Anak Perempuan Pertama

POPULER

  • Diksi Cantik sebagai Identitas Perempuan di Instagram

    Apakah Kata “bapak” dan “ibu” Harus Ditulis dalam Huruf Kapital ?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sumbang 12 untuk Puti Bungsu Minangkabau

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Personifikasi dalam Puisi “Lukisan Berwarna” Karya Joko Pinurbo

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berbagai Istilah Urutan Waktu dalam Bahasa Indonesia

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pemko Padang Dukung Persiapan Jemaah Haji Kota Padang 1447 Hijriah Sebanyak 193 Orang

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Persoalan Ketersediaan Air Bersih Kota Padang Butuh 228 Sumur Bor

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Dari Sawah ke Timeline: Kisah Kata “Ani-ani” yang Berubah Arti

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2024

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2024