Senin, 01/6/26 | 09:21 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • BERITA
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI RENYAH

Talempong Batu: dari Batu ke Nada

Minggu, 04/5/25 | 18:02 WIB

Lastry Monika
(Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/Kolumnis Rubrik Renyah)

 

Bila saya membawa teman pulang kampung, ibu hampir selalu menyuruh saya untuk mengajaknya ke Talempong Batu. Situs cagar budaya ini adalah ikon kebanggaan bagi masyarakat di nagari kami, Talang Anau. Bagaimana tidak? Talempong Batu adalah benda purbakala yang oleh Balai Pelestarian Cagar Budaya diperkirakan ditemukan sejak 12 M.

Saya jarang menolak bila teman itu memang ingin mampir ke sana. Bila sudah begitu, saya juga harus bersiap-siap untuk menceritakan kisah tentang Tuanku Nan Ilang. Cerita legendaris yang tidak bisa dipisahkan dengan ditemukannya Talempong Batu. Sebetulnya cerita tersebut sudah terpampang jelas di selembar selebaran besar di lokasi. Namun, tidak mungkin kan, saya menyuruhnya untuk membacanya sendiri? “Di sana, baca saja sendiri!” Bisa-bisa pertemanan kami berakhir detik itu juga.

BACAJUGA

Menemukan Waktu dalam Langkah

Air Minum dan Kebiasaan Baru

Minggu, 24/5/26 | 20:18 WIB
Lagu yang Tak Selesai-selesai

Tiga Belas Persen Lagi!

Minggu, 17/5/26 | 19:57 WIB

Akan tetapi, saat ini, saya tidak akan bercerita tentang Tuanku Nan Ilang. Barangkali cerita ini cukup mudah ditemukan bila ada artikel yang menulis tentang Talempong Batu. Saya ingin membahas soal situs cagar budaya tersebut sebagai alat musik.

Talempong Batu tidak banyak ditilik sebagai instrumen musik. Padahal, alat musik dari batu yang biasanya lebih dikenal dengan litofon itu tergolong alat music tua yang unik.

Tiga dekade silam, Louven, seorang professor di bidang musikologi diminta untuk menganalisis rekaman litofon yang hampir tak dikenal dari desa kecil Sumatera Barat. Menurutnya, keenam batu purbakala tersebut menunjukkan spektrum kompleks dengan nada tambahan yang tidak harmonis. Louven juga mengasumsikan bahwa alat musik tua tersebut tidak berevolusi secara kebetulan.

Berdasarkan artikelnya yang bertajuk “The ‘talempong batu’ Lithophone of Talang Anau (West Sumatra) and its Astonishing Tuning System”, Louven berkesimpulan bahwa penyetelan alat musik yang terbuat dari batu di pegunungan Sumatera itu secara akurat sesuai dengan beberapa interval yang dikenal dalam tradisi penyetelan. Selain itu, susunan batu secara keseluruhan juga mencerminkan makna teoretis dari interval dengan sempurna.

Berdasarkan cerita lisan yang beredar, Talempong Batu terbentuk secara alamiah. Namun, sebagai litofon juga memungkinkan enam batu yang berjejer tersebut diciptakan oleh si pembuat yang mengerti tentang musik. Seperti yang dikatakan oleh Louven, jika sistem penyetelan talempong batu memang disengaja, keberadaannya sebenarnya dapat mengatakan banyak hal tentang sumber daya dan keterampilan teoretis dan praktis pembuat serta konteks budayanya di masa silam.

Proses penyeteman Talempong Batu hingga menghasil nada yang harmonis tetap misterius. Sejauh ini, masih belum jelas bagaimana ketepatan penyetelan yang mengejutkan ini dapat dicapai secara praktis. Oleh karena itu, tampaknya lebih masuk akal bahwa budaya pencipta talempong batu memang mengenal alat musik dawai.

Seperti yang dinyatakan Pätzold (2003), talampong batu merupakan instrumen yang unik. Bahkan jika pembuatnya tidak memproduksi instrumen lebih lanjut, masih belum jelas apa yang mungkin terjadi pada karya awal yang digunakan untuk memperoleh keahlian khusus ini. Jadi, orang mungkin bertanya-tanya mengapa tidak ada litofon serupa lainnya yang ditemukan.

Maka, Talempong Batu bukan sekadar peninggalan purbakala yang dipuja karena kisah legendaris Tuanku Nan Ilang. Ia adalah saksi bisu kejeniusan manusia masa lampau dalam menciptakan harmoni dari kerasnya batu, dalam menyusun nada dari sesuatu yang tampak bisu. Ketika enam batu itu dipukul dan menghasilkan denting yang menggetarkan udara, kita sedang mendengar gema masa silam—sebuah warisan musikal yang belum sepenuhnya kita mengerti, tapi pantas untuk kita kagumi dan jaga. Di tengah gempuran zaman, Talempong Batu mengingatkan kita bahwa peradaban besar tidak selalu meninggalkan gedung menjulang, tapi bisa juga berupa suara halus dari gunung, yang hanya bisa didengar jika kita sudi berhenti sejenak dan mendengarkan.

Tags: #Lastry Monica
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Ciri Sukses Pembangunan Infrastruktur, Ketua DPW PKB Sumbar: Bermanfaat Jangka Panjang bagi Rakyat

Berita Sesudah

Percepatan Instruktur Sumbar, Donizar: Harus Merata, Libatkan Masyarakat dan Berkelanjutan

Berita Terkait

Menemukan Waktu dalam Langkah

Air Minum dan Kebiasaan Baru

Minggu, 24/5/26 | 20:18 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah)   Belakangan ini, saya menyadari bahwa kehidupan modern sering melekat pada benda-benda kecil yang selalu...

Lagu yang Tak Selesai-selesai

Tiga Belas Persen Lagi!

Minggu, 17/5/26 | 19:57 WIB

  Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah)   Ada banyak benda kecil yang sering diremehkan dalam kehidupan sehari-hari. Pengisi daya, atau...

Menemukan Waktu dalam Langkah

Coretan di Pinggir Halaman

Minggu, 10/5/26 | 20:05 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah)   Perkembangan teknologi informasi membuat banyak aktivitas akademik menjadi lebih praktis. Laptop, tablet, dan berbagai...

Menemukan Waktu dalam Langkah

Dari Niat ke Langkah Pagi

Minggu, 03/5/26 | 18:17 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah)   Pagi bagi saya bukan ajakan yang mudah untuk segera bergerak, tetapi selalu memberi kesempatan...

Menemukan Waktu dalam Langkah

Menemukan Waktu dalam Langkah

Minggu, 19/4/26 | 20:43 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah) Dahulu, berjalan kaki bukanlah kebiasaan yang saya jalani secara utuh. Ia hanya menjadi cara berpindah...

Alasan Sederhana yang Tidak Pernah Sederhana

Minggu, 12/4/26 | 18:45 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah)   Potong rambut kerap dipandang sebagai kegiatan sederhana yang dilakukan sekadar untuk menjaga kerapian. Namun...

Berita Sesudah
Perkembangan Silek Minangkabau, Donizar: Harus Jadi Soft Power Ranah Minang di Panggung Dunia

Percepatan Instruktur Sumbar, Donizar: Harus Merata, Libatkan Masyarakat dan Berkelanjutan

POPULER

  • Diksi Cantik sebagai Identitas Perempuan di Instagram

    Apakah Kata “bapak” dan “ibu” Harus Ditulis dalam Huruf Kapital ?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kue Asida: Makanan Para Raja Riau yang Hampir Punah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Perbedaan Awalan ber- dan me-

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sumbang 12 untuk Puti Bungsu Minangkabau

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kebebasan Perempuan dalam Film “Gowok” Analisis Semiotika Christian Metz

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Manusia yang Selalu Kekurangan Tiga Puluh Peso

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Child Grooming sebagai Bentuk Frasa “Manipulasi Anak”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026