Jumat, 16/1/26 | 17:11 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home DAERAH

Ayo Ke Kote, Jangan Tunda!, Imunisasi Membangun Kekebalan Lingkungan Sosial

Minggu, 20/4/25 | 20:36 WIB
Ilustrasi imunisasi (Foto: Ist)
Ilustrasi imunisasi (Foto: Ist)

Padang, Scientia.id – Lintang sudah tidak memberikan respons. Ayah dan bundanya sudah menangis sambil memegang tangan anaknya. Kakek Lintang sudah mengabari keluarga via WA dan telpon. Mohon doa agar Lintang segera sadar. Kami yang berada di rumah, berkali-kali berdoa agar Lintang yang masih berusia enam tahun ini segera bangun.

Dalam pemeriksaan beberapa tahun terakhir, dokter mendiagnosis Lintang terkena asma. Penyakit turunan dari orang tuanya. Namun, kondisi tubuh Lintang memang sangat lemah sejak kecil. Dalam sebulan, Lintang bisa beberapa kali ke dokter, bahkan beberapa kali ke rumah sakit. Konon katanya, Lintang memang tidak diberikan imunisasi.

Saat ini edukasi mengenai imunisasi memang beragam. Orang tua generasi 1950—1970-an, mewajibkan anak-anaknya mendapatkan imunisasi. Namun, orang tua muda, generasi 1980—2000-an, yang kini rata-rata sudah menamatkan studi S-1, banyak yang memilih tidak memberikan imunisasi. Alasannya ada yang subjektif, seperti tidak tega melihat tubuh kecil mereka disuntik; hingga alasan objektif karena sudah membaca banyak artikel yang menyatakan bahwa imunisasi tidak wajib, yang kadang didukung dengan pemberitaan dan kasus anak-anak meninggal dunia setelah imunisasi. Keluarga Lintang meyakini kedua alasan tersebut karena sudah ada anggota keluarga mereka yang meninggal dunia setelah seminggu melaksanakan imunisasi.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (Badan Bahasa, 2025), imunisasi merupakan upaya pengebalan (terhadap penyakit) melalui penyuntikan vaksin agar tubuh membuat antibodi untuk mencegah penyakit tertentu. Banyak kemungkinan penyakit yang dapat dihindari. Misalnya, agar tidak tertular campak, tidak terkena difteri, tidak lumpuh permanen karena  mendapat imunisasi polio, luka yang dialami tidak menjadi infeksi parah karena mendapatkan imunisasi tetanus, serta terhindar dari batuk rejan ‘batuk yang keras dan menular pada anak-anak yang berusia 2–6 tahun’.

BACAJUGA

Musim Hujan Datang, Begini Cara Jaga Anak Tetap Sehat

Musim Hujan Datang, Begini Cara Jaga Anak Tetap Sehat

Kamis, 17/4/25 | 09:11 WIB

Hal ini amat berbanding terbalik dengan anak-anak yang tidak imunisasi. Mereka bisa terkena radang paru-paru. Anak-anak yang terkena difteri bisa mengalami sesak nafas dan gagal jantung. Sementara itu, yang tidak polio, bisa tidak berjalan seumur hidup; yang terkena tetanus, bisa mengalami kejang otot dan sulit bernapas; dan yang terkena batuk rejan, bisa mengalami henti nafas. Risiko terberat dari semua penyakit tersebut adalah kematian.

Paparan risiko yang dikemukakan oleh Kementerian Kesehatan, juga oleh Unicef (United Nations Children’s Fund) yang fokus pada perlindungan terhadap anak-anak di dunia, masih belum mampu mengubah cara berpikir orang-orang tua muda yang sudah terlanjur meyakini bahwa imunisasi itu tidak penting. Padahal, kematian anak-anak pasca seminggu imunisasi bisa disebabkan oleh banyak hal. Misalnya, anak-anak memiliki penyakit bawaan atau infeksi lain yang tidak terdeteksi atau waktu yang kebetulan yang berdekatan, padahal penyebabnya bukan karena imunisasi.

Dalam istilah medis, kondisi ini disebut dengan kejadian ikutan pasca imunisasi (KIPI). WHO dan Unicef sudah menyatakan bahwa kematian akibat vaksin sangat kecil atau hampir mencapai nol. Orang tua yang curiga dan merasa kematian anak karena vaksin, sesungguhnya dapat mengajukan investigasi menyeluruh (bahkan autopsi) untuk mencari penyebab, apakah benar anak mereka meninggal karena vaksin. Prosedur ini merupakan rangkaian medis yang boleh dilakukan agar tidak menyebabkan kesalahpahaman terhadap tim medis dan dunia kesehatan.

Dari kasus-kasus yang pernah terjadi, penyebab kematian anak pasca seminggu operasi adalah infeksi berat, seperti sepsis ‘adanya mikroorganisme atau racunnya dalam jaringan atau aliran darah’ dan pneumonia ‘penyakit radang paru-paru’; masalah jantung dan neurologis bawaan, serta gizi buruk berat. Artinya, vaksin bukan menjadi penyebab kematian seorang anak pasca-imunisasi.

Bagaimana jika anak-anak sudah terlanjur tidak mendapatkan imunisasi hingga usianya lebih dari lima tahun? Padahal, masa seorang anak mendapatkan imunisasi secara lengkap adalah saat usia kurang dari lima tahun. Sebenarnya orang tua tidak perlu khawatir. Mereka masih bisa memberikan imunisasi.

Slogannya, Ke Kote, Jangan Tunda! alias Kejar, Konsultasi, Tes, Jangan Tunda lagi!

Anak-anak bisa mendapatkan catch-up immunization atau imunisasi kejar, yaitu program khusus bagi anak yang sudah terlewat masa pemberian vaksin. Beberapa vaksin bisa disesuaikan, seperti pemberian DPT (difteri, pertusis, dan tetanus) hingga usia remaja; campak-rubela hingga usia sekolah; hepatitis B dan polio dengan jadwal khusus tergantung usia anak sekarang; serta HPV (human papillomavirus) untuk anak usia 9 tahun ke atas, khususnya anak perempuan untuk pencegahan kanker serviks.

Caranya, orang tua harus segera konsultasi ke dokter atau puskesmas. Dokter akan membuatkan jadwal imunisasi berdasarkan usia dan kondisi kesehatan anak. Jika orang tua ragu, apakah anak pernah mendapatkan atau belum, bisa mengajukan tes antibodi (serologi).

Ingat, yang terpenting, Jangan tunda lagi! Semakin cepat anak mendapatkan imunisasi, akan semakin baik. Memberi imunisasi bukan sekadar melindungi anak sendiri, tapi dapat membentuk kekebalan lingkungan sosial karena imunisasi dapat memutus mata rantai penyebaran penyakit menular, seperti diare, campak, dan radang paru-paru.

Mengenai Lintang, saat ini kondisinya sudah membaik. Lintang segera siuman setelah mendapat perawatan medis. Melalui edukasi imunisasi tadi, orang tua Lintang, kerabat kami, pelan-pelan sudah membangun kepercayaan bahwa imunisasi itu penting. Imunisasi sesungguhnya bukan untuk Lintang saja, tetapi juga untuk membangun kekebalan lingkungan sosial. Lingkungan sosial yang kebal akan membantu anak-anak terhindar dari kejadian luar biasa (KLB), yaitu kondisi meledaknya suatu penyakit di suatu daerah karena kurangnya imunisasi di tempat tersebut. Lintang dan teman-temannya berhak mendapatkan perlindungan kesehatan melalui imunisasi. (Ram)

 

Tags: AnakImunisasiKesehatan Anak
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Cerpen “Rantau Nan Jauh” Karya Salman Luthfi Al Fayyadh dan Ulasannya Oleh Azwar

Berita Sesudah

Kapolda Sumbar Tinjau Pelaksanaan PSU di Pasaman

Berita Terkait

Dirut PDAm Kota Padang, Hendra Pebrizal.[foto : ist]

Denda Tunggakan Air PDAM Padang Naik Bertahap, Pelanggan Terancam Diputus Tanpa Pemberitahuan

Jumat, 16/1/26 | 13:31 WIB

Dirut PDAm Kota Padang, Hendra Pebrizal.Padang, Scientia - Pelanggan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kota Padang kini dihadapkan pada skema...

Kantor PDAM Kota Padang.[foto : net]

Denda PDAM Kota Padang Membingungkan, Tagihan Sampah Dipungut Meski Tak Diangkut

Jumat, 16/1/26 | 12:45 WIB

Kantor PDAM Kota Padang.Padang, Scientia — Pungutan denda keterlambatan pembayaran air oleh Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kota Padang menuai...

Wali Kota Padang Fadly Amran mengikuti, Rapat Koordinasi (Rakor) Tim Satuan Tugas (Satgas) Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (Rehab-Rekon) Pascabencana Sumatera secara daring dari Rumah Dinas Wali Kota Padang, Kamis (15/1).(Foto: Ist)

Pemko Padang Dukung Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Sesuai Arahan Pemerintah Pusat

Jumat, 16/1/26 | 12:12 WIB

Wali Kota Padang Fadly Amran mengikuti, Rapat Koordinasi (Rakor) Tim Satuan Tugas (Satgas) Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (Rehab-Rekon) Pascabencana Sumatera...

Wakil Wali Kota Padang Maigus Nasir, menegaskan Gerakan Pramuka merupakan salah satu organisasi kesiswaan yang mendapat prioritas utama negara karena perannya yang strategis dalam membentuk karakter generasi muda.(Foto:Ist)

Wawako Padang Tegaskan Gerakan Pramuka Pembentuk Generasi Muda

Kamis, 15/1/26 | 15:35 WIB

Wakil Wali Kota Padang Maigus Nasir, menegaskan Gerakan Pramuka merupakan salah satu organisasi kesiswaan yang mendapat prioritas utama negara karena...

Wakil Wali Kota Padang Maigus Nasir secara resmi, menutup Pekan Olahraga, Seni, dan Agama (PORSEMA) II, yang digelar oleh Musyawarah Kelompok Kerja Kepala Sekolah (MKKS) SMP Negeri Kota Padang di Gedung Bagindo Aziz Chan Youth Center, Rabu (14/1).(Foto:Ist)

Wawako Padang Apresiasi Suksesnya PORSEMA II

Kamis, 15/1/26 | 15:25 WIB

Wakil Wali Kota Padang Maigus Nasir secara resmi, menutup Pekan Olahraga, Seni, dan Agama (PORSEMA) II, yang digelar oleh Musyawarah...

Wali Kota Padang Fadly Amran hadiri, pelantikan Pengurus Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kota Padang periode 2025–2029, yang digelar di Axana Hotel Padang, Kamis (15/1).(Foto:Ist)

Wali Kota Padang Lantik Pengurus KONI Kota Padang Periode 2025 – 2029

Kamis, 15/1/26 | 15:14 WIB

Wali Kota Padang Fadly Amran hadiri, pelantikan Pengurus Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kota Padang periode 2025–2029, yang digelar di...

Berita Sesudah
Kapolda saat berdialog dengan satuan pengamaanan PSU di Pasaman. Sabtu, (19/04/2025) [foto : ist]

Kapolda Sumbar Tinjau Pelaksanaan PSU di Pasaman

POPULER

  • Wali Kota Padang Fadly Amran, mengusulkan sejumlah proyek pelestarian lingkungan bagi Kota Padang dalam skema kerja sama bilateral Indonesia-Jerman di tahun 2026.(Foto:Ist)

    Wali Kota Padang Usulkan Proyek Lingkungan Hidup Pada Negara Jerman

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Perbedaan Kata “kepada”, “untuk”, dan “bagi”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Se Indonesia, seIndonesia, atau se-Indonesia?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Denda PDAM Kota Padang Membingungkan, Tagihan Sampah Dipungut Meski Tak Diangkut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Wawako Padang Tegaskan Gerakan Pramuka Pembentuk Generasi Muda

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • PDAM Kota Padang Putuskan Sambungan Air Tanpa Peringatan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kapitil, Kosakata Baru dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2024

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2024