Senin, 25/5/26 | 21:53 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • BERITA
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI ARTIKEL

Masya Allah Tabarakallah Caption Bahasa Arab di Dunia Sharenting

Minggu, 02/2/25 | 08:18 WIB

Oleh: Arum Rindu Sekar Kasih
(Mahasiswa Program Doktor Ilmu-Ilmu Humaniora Universitas Gadjah Mada)


“Masya Allah, tabarakallah. Hari ini, adik bareng mama belanja ke pasar. Alhamdulillah.”

Rasanya tidak asing, kan, membaca takarir gambar atau captions di unggahan media sosial dengan frase masya Allah tabarakallah seperti itu? Dalam konten-konten sharenting orang tua muslim, takarir gambar atau caption tidak jarang diwarnai dengan penggunaan bahasa Arab, baik berupa potongan ayat, doa, maupun frase-frase yang memunculkan nuansa Islami, seperti masya Allah, tabarakallah. Fenomena sharenting atau praktik berbagi aktivitas anak mereka di media sosial cukup marak terjadi.  Sharenting merupakan salah satu bentuk baru dari pengasuhan yang muncul seiring dengan berkembangnya penggunaan media sosial (Dwiarsianti, 2022). Para orang tua muslim biasanya menyelipkan bahasa Arab dalam menyusun takarir gambar untuk menyertai unggahan sharenting di akun media sosial mereka. Dalam KBBI, entri takarir gambar  berarti ‘keterangan yang biasanya terdiri atas satu atau beberapa kalimat yang menjelaskan isi dan maksud gambar’ (2023).

BACAJUGA

Regulasi Pencegahan Kekerasan terhadap Perempuan di Perguruan Tinggi

Regulasi Pencegahan Kekerasan terhadap Perempuan di Perguruan Tinggi

Minggu, 24/5/26 | 20:02 WIB
Gaya Bahasa dalam Lagu, Teater, dan Cerpen Kajian Stilistika

Sumpah Pemuda: Tonggak Perkembangan Sastra Indonesia

Minggu, 24/5/26 | 19:17 WIB

Selain hanya menampilkan sharenting dalam kehidupan sehari-hari, tujuan lan dari orang tua adalah ingin menunjukkan representasi diri. Praktik sharenting di media sosial menjadi representasi dari identitas orang tua dan mereka merasa berhak memublikasikan aspek kehidupan sehari-hari anak (Blum-Ross & Livingstone, 2017). Dari hal itu, salah satu representasi dan identitas yang dimunculkan para orang tua dalam konten sharenting adalah identitas keagamaan. Salah satu representasi keagamaan yang kemudian berkembang di kalangan masyarakat Indonesia dalam konten sharenting adalah representas keislaman. Hal itu menjadi masuk akal lantaran mayoritas penduduk di Indonesia adalah muslim. Dalam membuat konten sharenting banyak digunakan bahasa Arab yang identik dengan “bahasa milik orang Islam”. Foto atau video anak-anak mereka diunggah, lalu diberi takarir gambar dengan sentuhan bahasa Arab sehingga memperkuat nuansa Islami.

Dalam dunia sharenting Islami, bahasa Arab menjadi elemen penting sehingga keberadaannya tidak dapat terpisahkan. Kemunculan bahasa Arab dalam penyusunan takarir gambar dapat berupa doa ataupun kutipan ayat dari Alquran, misalnya orang tua mengunggah foto anak mereka yang diiringi tulisan takarir gambar berikut.

(1) Alhamdulillah, allahu akbar. Di ulang tahun ke-7 ini, semoga kamu jadi anak soleh selalu, ya, Nak.

 Konteks contoh (1) di atas adalah unggahan orang tua berupa foto anak yang tengah merayakan ulang tahun. Takarir gambar berupa harapan atau doa semacam itu dan ditambah dengan frase bahasa Arab mampu memberikan sentuhan religius pada konten yang dibagikan. Selain itu, nama-nama anak yang mengandung unsur bahasa Arab, tidak jarang juga disematkan para orang tua ketika menuliskan takarir gambar, seperti contoh berikut.

(2) Barakallah, Rayhan soleh sedang belajar naik sepeda atau
(3) Masya Allah, Aisyah putri cantik kami sekarang sudah bisa merangkak.

Pada contoh (2) di atas, ada kebanggaan tersendiri dari para orang tua ketika menyelipkan nama anak mereka dalam takarir gambar berupa doa atau ungkapan syukur. Konteks dari contoh (2) itu adalah unggahan foto anak bernama Rayhan yang sedang belajar naik sepeda. Lalu, untuk contoh (3) konteksnya adalah foto seorang bayi perempuan bernama Aisyah yang sedang dalam fase merangkak. Kebetulan nama anaknya juga bernuansa kearab-araban sehingga semakin memperkuat identitas keislaman konten sharenting itu.

Penggunaan bahasa Arab dalam sharenting Islami tentu memiliki misi tertentu. Misi ini berkaitan erat dengan fungsi ketika digunakan dalam penyusunan takarir gambar. Masya Allah tabarakallah cukup sering digunakan oleh para orang tua muslim dalam menyusun takarir gambar. Dalam KBBI, masya Allah berarti ‘kata seru untuk menyatakan perasaan heran, sayang, dan keterkejutan (maknanya ‘apa yang dikehendaki Allah Swt.’). Para orang tua muslim memanfaatkan bahasa Arab sebagai simbol untuk menunjukkan identitas religius. Kemudian, dengan membagikan konten anak-anak yang sedang belajar salat, mengaji, atau berdoa, secara tidak langsung orang tua menanamkan nilai-nilai keislaman pada anak. Takarir gambar doa yang ditulis para orang tua muslim menjadi sebuah keyakinan tersendiri dan wujud harapan untuk kebaikan anak-anak.

Dari hal itu, tampak bahasa Arab memainkan peran penting dalam sharenting Islami, baik sebagai representasi suatu identitas, media mendidik anak, maupun media spiritual. Kutipan doa dan ayat suci Alquran dalam takarir gambar mewujudkan jalinan atau koneksi dengan masyarakat muslim yang lebih luas. Meskipun begitu, para orang perlu memperhatikan penggunaan bahasa Arab secara bijak sehingga konten sharenting yang dibuat tidak hanya menjadi sebuah inspirasi, tetapi juga memberikan pesan dan kesan khusus bagi keluarga muslim di era digital. Masya allah.

Tags: #Arum Rindu Sekar Kasih
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Menjadikan Permainan Koa Bagian Budaya Minang, Firdaus: Miliki Nilai Adat yang Kuat

Berita Sesudah

Anggota DPRD Sumbar Firdaus : Koa Bagian Budaya Kita

Berita Terkait

Regulasi Pencegahan Kekerasan terhadap Perempuan di Perguruan Tinggi

Regulasi Pencegahan Kekerasan terhadap Perempuan di Perguruan Tinggi

Minggu, 24/5/26 | 20:02 WIB

Oleh: Intan Rhaudhatul Jannah (Mahasiswa Program Studi Administrasi Publik Universitas Andalas) Kekerasan berbasis gender di lingkungan kampus bukanlah sebuah cerita...

Gaya Bahasa dalam Lagu, Teater, dan Cerpen Kajian Stilistika

Sumpah Pemuda: Tonggak Perkembangan Sastra Indonesia

Minggu, 24/5/26 | 19:17 WIB

Oleh: Muhammad Zakwan Rizaldi (Mahasiswa Program Studi Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas dan Anggota UKMF Labor Penulisan Kreatif)...

Rendang Lokan, Makanan Khas Pesisir Selatan

Rendang Lokan, Makanan Khas Pesisir Selatan

Minggu, 24/5/26 | 18:09 WIB

Oleh: Yori Leo Saputra (Guru SMA 1 Ranah Pesisir, Pesisir Selatan)   Pesisir Selatan merupakan salah satu kabupaten di Sumatera...

Batu dan Zaman

Seksisme dalam Judul Buku-buku Islami: Analisis Kritis Norman Fairclough

Minggu, 17/5/26 | 15:01 WIB

Oleh: Andina Meutia Hawa (Dosen Prodi Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas) Seksisme dalam media dan komunikasi massa berasal...

Gaya Bahasa dalam Lagu, Teater, dan Cerpen Kajian Stilistika

Gaya Bahasa dalam Lagu, Teater, dan Cerpen Kajian Stilistika

Minggu, 17/5/26 | 14:34 WIB

Oleh: Muhammad Zakwan Rizaldi (Mahasiswa Program Studi Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas dan Anggota UKMF Labor Penulisan Kreatif)...

Keterlibatan TNI dalam Program MBG: Kebijakan Tepat atau Alasan Politik?

Razia Tambang Timah Ilegal Hutan Lindung Belitung

Minggu, 17/5/26 | 14:11 WIB

Oleh: Derry Sanjaya (Mahasiswa Departemen Administrasi Publik FISIP Universitas Andalas)   Ada yang aneh ketika sebuah kawasan hutan lindung bisa...

Berita Sesudah

Anggota DPRD Sumbar Firdaus : Koa Bagian Budaya Kita

POPULER

  • Child Grooming sebagai Bentuk Frasa “Manipulasi Anak”

    Bahasa Estetik dalam Luka “Gaza Tak Pernah Sunyi” Karya Hardi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Regulasi Pencegahan Kekerasan terhadap Perempuan di Perguruan Tinggi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Rendang Lokan, Makanan Khas Pesisir Selatan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Apakah Kata “bapak” dan “ibu” Harus Ditulis dalam Huruf Kapital ?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Roni Aprianto Terpilih Aklamasi Jadi Ketua PWI Dharmasraya Periode 2026-2029

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Razia Tambang Timah Ilegal Hutan Lindung Belitung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sumbang 12 untuk Puti Bungsu Minangkabau

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026