Jumat, 23/10/26 | 03:19 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • BERITA
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS

Pendidikan: Perjuangan Pertama Mohammad Natsir

Minggu, 03/3/24 | 11:36 WIB

Lastry Monika
(Kolumnis Rubrik Renyah)

 

Mohammad Natsir merupakan seorang pejuang kemerdekaan yang lahir pada 17 Juli 1908. Lahir di tahun tersebut membuatnya tumbuh di bawah pemerintahan kolonial Belanda dan diwarnai berbagai pergolakan, termasuk PRRI di kampung halamannya sendiri.

“Perjuangan” pertama Natsir dilakoninya ketika berusia 7 atau 8 tahun. Ketika itu perjuangannya belum mengacu pada perjuangan melawan penjajahan Belanda, melainkan pada upayanya dalam menjalani pendidikan.

BACAJUGA

[foto:ist]

Peringati Hari Santri, Cak Imin Soroti Kemiskinan dan Ketertinggalan Teknologi

Jumat, 23/10/26 | 00:25 WIB
Hari Santri Nasional, PKB Sumbar Bagikan Masker

Hari Santri Nasional, PKB Sumbar Bagikan Masker

Kamis, 22/10/26 | 20:49 WIB

Kala itu Natsir mengupayakan pendidikan dengan penuh kegigihan. Di siang hari ia mengikuti sekolah umum, sedangkan di malam hari ia mengikuti kelas di Adabiyah. Di sekolah yang didirikan oleh Abdullah Ahmad itu Natsir mendapat pendidikan yang cukup berkualitas dari para gurunya. Setelah lulus dari Adabiyah Natsir kemudian melanjutkan studinya dengan bersekolah di HIS.

Ketika Natsir berusia belasan tahun, ia telah tumbuh menjadi seorang pemuda yang mandiri. Ketika tinggal bersama bibinya, Macik Rahim, ia berperan sebagai juru masak. Setiap malam, ia akan menyusuri pantai untuk mengumpulkan kayu bakar. Bagi Natsir, dengan berkontribusi dalam keluarga tersebut ia terbebas dari perasaan hutang budi. Prinsip itu menjadi pegangan hidupnya di kemudian hari. Bagi Natsir, kebahagiaan tidak lahir dari kekayaan dan kemudahan, melainkan melalui hati yang terbebas dari penindasan.

Natsir muda pernah memiliki pemikiran bahwa orang Belanda lebih unggul dibandingkan orang Indonesia. Namun, ketika mendapat beasiswa untuk melanjutkan pendidikan di Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO), Natsir menemukan fakta bahwa warna kulit tidak menjamin keunggulan akademis suatu bangsa.

Setelah menyelesaikan pendidikan di MULO, Natsir memperoleh kesempatan untuk menjadi juru tulis. Di kala itu, ia berpikir dengan bekerja ia dapat membantu keluarganya lebih banyak. Sebab di saat yang sama, ayahnya telah memasuki masa pensiun dari pekerjaan. Namun, ayahnya lebih mendukungnya untuk tidak terputus dari jenjang pendidikan. Natsir yang lulus dengan hasil memuaskan mendapat beasiswa dari pemerintah untuk melanjutkan pendidikan di Algemeene Middelbare School (AMS) Bandung. Kesempatan ini pun tidak ia sia-siakan.

Di AMS, Natsir menyadari ketertinggalannya dari siswa-siswa di Jawa. Untuk mengatasi hal ini, ia berjang dengan keras untuk studinya. Ia menghabiskan enam hari dalam seminggu untuk belajar dari pagi hingga malam. Natsir yang semula memiliki ketertarikan untuk menekuni biola terpaksa mengenyampingkan minat tersebut karena tidak ingin mengganggu perhatiannya terhadap studi yang dijalani.

Kerja keras Natsir dalam belajar membuahkan hasil yang amat memuaskan. Ia mendapat nilai 9 ketika rekan-rekannya hanya mampu mendapat nilai 3 dan 4 dalam bahasa Latin. Meskipun demikian, Natsir ketika itu belum terlalu fasih dalam menggunakan bahasa Belanda. Hal ini membuat dirinya mendapat cemoohan dari gurunya. Untuk mengatasi hal itu, ia pun kembali belajar dengan keras untuk meningkatkan kemampuan bahasanya.

Seiring bertemunya Natsir dengan beragam pendidikan dari tanah kelahiran hingga ke perantauan membuat makna “perjuangan” baginya semakin kompleks. Berawal dari perjuangan dalam pendidikan ini pulalah yang membentuk pemikirannya mengenai nasionalisme, politik, dan agama hingga menjadi salah satu pahlawan yang membawa kemerdekaan bagi bangsa Indonesia.

ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Pendidikan: Perjuangan Pertama Mohammad Natsir

Berita Sesudah

Dari Cahcam hingga Canggah

Berita Terkait

[foto:ist]

Peringati Hari Santri, Cak Imin Soroti Kemiskinan dan Ketertinggalan Teknologi

Jumat, 23/10/26 | 00:25 WIB

Pekanbaru, Scientia — Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) menjadikan peringatan Hari Santri Nasional 2026 sebagai momentum memperkuat peran pesantren sekaligus menjawab...

Hari Santri Nasional, PKB Sumbar Bagikan Masker

Hari Santri Nasional, PKB Sumbar Bagikan Masker

Kamis, 22/10/26 | 20:49 WIB

Padang, Scientia – DPW Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Sumatera Barat membagikan masker kepada masyarakat di Kota Padang dalam momentum Hari...

Perbaiki Akses Warga, Pemkab Dharmasraya Ganti Lantai Dua Jembatan Bailey dengan Baja

Perbaiki Akses Warga, Pemkab Dharmasraya Ganti Lantai Dua Jembatan Bailey dengan Baja

Kamis, 22/10/26 | 16:51 WIB

Dharmasraya, Scientia.id — Respons cepat Bupati Dharmasraya, Annisa Suci Ramadhani, dalam mendorong perbaikan infrastruktur daerah kembali dirasakan masyarakat Kecamatan Timpeh,...

Sengketa 5.000 Hektare Tanah Ulayat di Dharmasraya Digugat, Penggugat Tuntut Ganti Rugi Rp1,3 Triliun

Sengketa 5.000 Hektare Tanah Ulayat di Dharmasraya Digugat, Penggugat Tuntut Ganti Rugi Rp1,3 Triliun

Kamis, 22/10/26 | 15:58 WIB

Dharmasraya, Scientia.id — Sengketa penguasaan tanah ulayat seluas sekitar 5.000 hektare di Jao, Kecamatan Timpeh, Kabupaten Dharmasraya, bergulir ke Pengadilan...

Perluasan Area Perkebunan, Kabupaten Solok Siap jadi Lumbung Kopi dan Kakao Nasional

Perluasan Area Perkebunan, Kabupaten Solok Siap jadi Lumbung Kopi dan Kakao Nasional

Kamis, 22/10/26 | 15:45 WIB

Kabupaten Solok, Scientia.id - Pemerintah Kabupaten Solok, Sumatera Barat, menargetkan perluasan areal perkebunan kopi arabika seluas 1.450 hektare pada 2026...

Hari Santri, Firdaus: Momentum Perkuat Peran Santri Membangun Peradaban

Hari Santri, Firdaus: Momentum Perkuat Peran Santri Membangun Peradaban

Kamis, 22/10/26 | 15:26 WIB

Padang, Scientia – Ketua DPW Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Sumatera Barat, Firdaus, mengatakan peringatan Hari Santri merupakan momentum untuk memperkuat...

Berita Sesudah
Kata “dalem“ dan Pronomina Serapan dalam Bahasa Indonesia

Dari Cahcam hingga Canggah

Discussion about this post

POPULER

  • Pelantikan DPD KNPI, Bupati Dharmasraya Ajak Pemuda Bersinergi dengan Pemerintah

    Pelantikan DPD KNPI, Bupati Dharmasraya Ajak Pemuda Bersinergi dengan Pemerintah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bias Pengetahuan Bahasa AI tentang Perempuan dan Krisis Iklim

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Jangan Lewatkan! DPP Iluni UNP Bakal Gelar Temu Akbar Lintas Angkatan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • PKB Sumbar Bagikan Masker di Lubuk Alung, Firdaus: Mencegah Lebih Baik Daripada Mengobati

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sidak Bupati Dharmasraya, Lahan dan Hutan Terbakar Sudah Ditanami Sawit

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Dampak Asap Karhutla, Nakes di Dharmasraya Diminta Jemput Bola Tangani Pasien ISPA

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Firdaus Sosialisasikan Perda Koperasi dan Usaha Kecil

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026