Senin, 25/5/26 | 13:32 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • BERITA
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS

Pendidikan: Perjuangan Pertama Mohammad Natsir

Minggu, 03/3/24 | 11:36 WIB

Lastry Monika
(Kolumnis Rubrik Renyah)

 

Mohammad Natsir merupakan seorang pejuang kemerdekaan yang lahir pada 17 Juli 1908. Lahir di tahun tersebut membuatnya tumbuh di bawah pemerintahan kolonial Belanda dan diwarnai berbagai pergolakan, termasuk PRRI di kampung halamannya sendiri.

“Perjuangan” pertama Natsir dilakoninya ketika berusia 7 atau 8 tahun. Ketika itu perjuangannya belum mengacu pada perjuangan melawan penjajahan Belanda, melainkan pada upayanya dalam menjalani pendidikan.

BACAJUGA

Child Grooming sebagai Bentuk Frasa “Manipulasi Anak”

Bahasa Estetik dalam Luka “Gaza Tak Pernah Sunyi” Karya Hardi

Senin, 25/5/26 | 00:01 WIB
Menemukan Waktu dalam Langkah

Air Minum dan Kebiasaan Baru

Minggu, 24/5/26 | 20:18 WIB

Kala itu Natsir mengupayakan pendidikan dengan penuh kegigihan. Di siang hari ia mengikuti sekolah umum, sedangkan di malam hari ia mengikuti kelas di Adabiyah. Di sekolah yang didirikan oleh Abdullah Ahmad itu Natsir mendapat pendidikan yang cukup berkualitas dari para gurunya. Setelah lulus dari Adabiyah Natsir kemudian melanjutkan studinya dengan bersekolah di HIS.

Ketika Natsir berusia belasan tahun, ia telah tumbuh menjadi seorang pemuda yang mandiri. Ketika tinggal bersama bibinya, Macik Rahim, ia berperan sebagai juru masak. Setiap malam, ia akan menyusuri pantai untuk mengumpulkan kayu bakar. Bagi Natsir, dengan berkontribusi dalam keluarga tersebut ia terbebas dari perasaan hutang budi. Prinsip itu menjadi pegangan hidupnya di kemudian hari. Bagi Natsir, kebahagiaan tidak lahir dari kekayaan dan kemudahan, melainkan melalui hati yang terbebas dari penindasan.

Natsir muda pernah memiliki pemikiran bahwa orang Belanda lebih unggul dibandingkan orang Indonesia. Namun, ketika mendapat beasiswa untuk melanjutkan pendidikan di Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO), Natsir menemukan fakta bahwa warna kulit tidak menjamin keunggulan akademis suatu bangsa.

Setelah menyelesaikan pendidikan di MULO, Natsir memperoleh kesempatan untuk menjadi juru tulis. Di kala itu, ia berpikir dengan bekerja ia dapat membantu keluarganya lebih banyak. Sebab di saat yang sama, ayahnya telah memasuki masa pensiun dari pekerjaan. Namun, ayahnya lebih mendukungnya untuk tidak terputus dari jenjang pendidikan. Natsir yang lulus dengan hasil memuaskan mendapat beasiswa dari pemerintah untuk melanjutkan pendidikan di Algemeene Middelbare School (AMS) Bandung. Kesempatan ini pun tidak ia sia-siakan.

Di AMS, Natsir menyadari ketertinggalannya dari siswa-siswa di Jawa. Untuk mengatasi hal ini, ia berjang dengan keras untuk studinya. Ia menghabiskan enam hari dalam seminggu untuk belajar dari pagi hingga malam. Natsir yang semula memiliki ketertarikan untuk menekuni biola terpaksa mengenyampingkan minat tersebut karena tidak ingin mengganggu perhatiannya terhadap studi yang dijalani.

Kerja keras Natsir dalam belajar membuahkan hasil yang amat memuaskan. Ia mendapat nilai 9 ketika rekan-rekannya hanya mampu mendapat nilai 3 dan 4 dalam bahasa Latin. Meskipun demikian, Natsir ketika itu belum terlalu fasih dalam menggunakan bahasa Belanda. Hal ini membuat dirinya mendapat cemoohan dari gurunya. Untuk mengatasi hal itu, ia pun kembali belajar dengan keras untuk meningkatkan kemampuan bahasanya.

Seiring bertemunya Natsir dengan beragam pendidikan dari tanah kelahiran hingga ke perantauan membuat makna “perjuangan” baginya semakin kompleks. Berawal dari perjuangan dalam pendidikan ini pulalah yang membentuk pemikirannya mengenai nasionalisme, politik, dan agama hingga menjadi salah satu pahlawan yang membawa kemerdekaan bagi bangsa Indonesia.

ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Pendidikan: Perjuangan Pertama Mohammad Natsir

Berita Sesudah

Dari Cahcam hingga Canggah

Berita Terkait

Child Grooming sebagai Bentuk Frasa “Manipulasi Anak”

Bahasa Estetik dalam Luka “Gaza Tak Pernah Sunyi” Karya Hardi

Senin, 25/5/26 | 00:01 WIB

Oleh: Elly Delfia (Dosen Prodi Sastra Indonesia dan S2 Linguistik FIB Universitas Andalas) Di tanah ini, sejarah bukan hanya di...

Menemukan Waktu dalam Langkah

Air Minum dan Kebiasaan Baru

Minggu, 24/5/26 | 20:18 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah)   Belakangan ini, saya menyadari bahwa kehidupan modern sering melekat pada benda-benda kecil yang selalu...

Regulasi Pencegahan Kekerasan terhadap Perempuan di Perguruan Tinggi

Regulasi Pencegahan Kekerasan terhadap Perempuan di Perguruan Tinggi

Minggu, 24/5/26 | 20:02 WIB

Oleh: Intan Rhaudhatul Jannah (Mahasiswa Program Studi Administrasi Publik Universitas Andalas) Kekerasan berbasis gender di lingkungan kampus bukanlah sebuah cerita...

Gaya Bahasa dalam Lagu, Teater, dan Cerpen Kajian Stilistika

Sumpah Pemuda: Tonggak Perkembangan Sastra Indonesia

Minggu, 24/5/26 | 19:17 WIB

Oleh: Muhammad Zakwan Rizaldi (Mahasiswa Program Studi Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas dan Anggota UKMF Labor Penulisan Kreatif)...

Rendang Lokan, Makanan Khas Pesisir Selatan

Rendang Lokan, Makanan Khas Pesisir Selatan

Minggu, 24/5/26 | 18:09 WIB

Oleh: Yori Leo Saputra (Guru SMA 1 Ranah Pesisir, Pesisir Selatan)   Pesisir Selatan merupakan salah satu kabupaten di Sumatera...

Roni Aprianto Terpilih Aklamasi Jadi Ketua PWI Dharmasraya Periode 2026-2029

Roni Aprianto Terpilih Aklamasi Jadi Ketua PWI Dharmasraya Periode 2026-2029

Minggu, 24/5/26 | 17:38 WIB

Dharmasraya, Scientia.id — Konferensi ke-IV Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Cabang Kabupaten Dharmasraya sukses digelar dengan semangat kebersamaan di "Cafe Saya...

Berita Sesudah
Kata “dalem“ dan Pronomina Serapan dalam Bahasa Indonesia

Dari Cahcam hingga Canggah

Discussion about this post

POPULER

  • Rendang Lokan, Makanan Khas Pesisir Selatan

    Rendang Lokan, Makanan Khas Pesisir Selatan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Regulasi Pencegahan Kekerasan terhadap Perempuan di Perguruan Tinggi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bahasa Estetik dalam Luka “Gaza Tak Pernah Sunyi” Karya Hardi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sumpah Pemuda: Tonggak Perkembangan Sastra Indonesia

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Roni Aprianto Terpilih Aklamasi Jadi Ketua PWI Dharmasraya Periode 2026-2029

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Apakah Kata “bapak” dan “ibu” Harus Ditulis dalam Huruf Kapital ?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Razia Tambang Timah Ilegal Hutan Lindung Belitung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026