Senin, 14/9/26 | 03:31 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • BERITA
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI ARTIKEL

Toleran Beragama: Suatu Keniscayaan

Minggu, 26/11/23 | 08:31 WIB

Oleh:
Muhammad Raudhatul, Irfan Trianda, Ahmad Muhaimin Kamil, Alfarizhi Fitra, Muhammad Rozaan, Rafki Ahmad Pagamanda (Mahasiswa MKWK Universitas Andalas)

 

Toleransi beragama merupakan sikap yang penting untuk dijaga di tengah keberagaman agama yang ada di Indonesia. Toleransi beragama menggambarkan sikap saling menghargai dan menerima perbedaan keyakinan (Sebastian & Martoredjo, 2020), dan tantangannya muncul dari kurangnya pemahaman atau adanya prasangka negatif terhadap agama yang berbeda. Untuk mengatasi hal ini, diperlukan hati dan pikiran terbuka, kesabaran, dan penghargaan terhadap agama lain. Penting untuk menyadari bahwa keberagaman agama merupakan kekayaan, bukan ancaman. Perbedaan agama perlu dihadapi dengan sikap toleransi agar setiap penganut agama dapat hidup damai sesuai dengan keyakinan masing-masing.

Prinsip-prinsip dalam QS Al Kafirun menyajikan dasar-dasar toleransi sejati yang mengandung nilai-nilai universal. Saat seorang penganut agama Islam menghormati akidah agama lain dengan prinsip “tak pernah menjadi penyembah yang kamu sembah,” hal ini juga berlaku pada pemeluk agama lain terhadap agama Islam. Prinsip “tidak ada paksaan dalam agama” menegaskan bahwa seseorang tidak boleh dipaksa untuk masuk agama Islam, ataupun sebaliknya.

BACAJUGA

Representasi Perempuan dalam Novel “Perempuan di Titik Nol dan Entrok: Kajian Feminisme”

Menyusuri Luka Kanak-kanak dalam Kumpulan Puisi “Belajar Menanggalkan Bulan”

Minggu, 13/9/26 | 22:05 WIB
Kapitalisme dan Kontradiksi Kemajuan dalam Sastra Indonesia

Modernisme dan Dunia yang Dinamis dalam Karya Sastra

Minggu, 13/9/26 | 09:35 WIB

Toleransi agama sangat penting untuk meningkatkan ketahanan nasional suatu negara. Ini berfungsi sebagai fondasi yang kuat yang mendukung kesatuan, stabilitas, dan kemajuan. Ketika masyarakat dalam suatu negara dapat saling menghormati dan menerima perbedaan keyakinan agama, ikatan yang kuat akan terbentuk di antara warganya dan hal itu akan mengurangi kemungkinan konflik dalam negeri. Dengan cara ini, negara dapat lebih baik menghadapi tantangan dan tetap stabil, yang memungkinkan kemajuan bersama.

Toleransi beragama terdapat dalam Pancasila, yaitu Sila ke-1 yang berbunyi, “Ketuhanan Yang Maha Esa”. Sila tersebut mencerminkan prinsip menghormati keberagaman dalam beribadah tanpa memandang perbedaan agama. Sementara itu, Sila ke-3 “Persatuan Indonesia” menekankan pentingnya bersatu dalam perbedaan, termasuk dalam perbedaan agama. Keduanya membentuk dasar bagi toleransi beragama di Indonesia, di mana masyarakat diharapkan hidup harmonis dan menghargai keberagaman agama tanpa konflik atau diskriminasi.

Toleransi agama menunjukkan semangat persatuan dan keberagaman yang kuat di Indonesia. Bahasa Indonesia berfungsi sebagai alat yang efektif untuk menyatukan keberagaman agama dan budaya serta keyakinan karena mampu menyebarkan nilai-nilai toleransi untuk saling menghormati antarumat beragama. Bahasa Indonesia berperan sebagai media bagi masyarakat Indonesia untuk menyebarkan pemahaman agama, memfasilitasi untuk diskusi yang positif, dan memperkuat kesatuan dalam komunitas yang beragam. Agama sejati mencerminkan esensi cinta dan toleransi. Perbedaan agama seharusnya memperkuat kedekatan, bukan menyebabkan perpecahan dalam masyarakat (Ngafiyatun Nadifah, 2022). Membangun pemahaman antaragama yang lebih baik adalah upaya untuk menciptakan toleransi, perdamaian, dan harmoni.

Faktor pendorong toleransi termasuk kesadaran beragama, partisipasi dalam kegiatan sosial, dan kebijakan pemerintah yang mendukung kerukunan umat beragama. Faktor penghambat melibatkan penurunan semangat kekeluargaan dan fanatisme agama, yang dapat menghalangi penghargaan terhadap perbedaan dan menutup diri terhadap kebenaran lain.

Toleransi beragama membutuhkan upaya bersama untuk memahami dan menghargai perbedaan keyakinan. Selain itu, pendidikan menjadi kunci penting untuk mengatasi ketidakpahaman dan prasangka buruk terhadap agama lain. Dengan membuka ruang untuk dialog dan pertukaran gagasan antarumat beragama, masyarakat dapat memperkaya pemahaman mereka tentang keberagaman agama yang ada di Indonesia.

Faktor-faktor yang memperkuat toleransi, seperti kesadaran beragama, kegiatan sosial, dan dukungan kebijakan pemerintah, perlu ditingkatkan melalui pendekatan yang inklusif. Sementara itu, penanggulangan terhadap faktor penghambat toleransi, seperti penurunan semangat kekeluargaan dan fanatisme beragama, perlu untuk dilakukan. Dengan menjunjung tinggi nilai-nilai toleransi beragama, masyarakat dapat membentuk pondasi yang kokoh dalam menciptakan perdamaian dan menciptakan lingkungan di mana perbedaan diakui sebagai kekayaan dan bukan sebagai sumber konflik (Aisyah, 2014). Jadi, toleransi agama adalah tanggung jawab bersama masyarakat dan individu.

Sebagai contoh toleransi beragam dapat kita lihat pada Kota Singkawang. Berdasarkan hasil survei yang dilakukan oleh pemerintah, Kota Singkawang merupakan kota yang paling toleran di tanah air adalah kota singkawang dengan tercatatnya bahwa kota singkawang memiliki skor IKT  sebesar 6,583 poin dan adapun penilaian indeks dilakukan berdasarkan pertimbangan empat variabel, yaitu regulasi pemerintah kota, regulasi sosial, tindakan pemerintah, dan demografi sosiokeagamaan. Tercatat, Singkawang memperoleh skor sebesar 6,67 poin pada variabel regulasi pemerintah.

Toleransi beragama adalah keniscayaan untuk memastikan kerukunan dalam masyarakat multikultural. Keamanan sosial bergantung pada pengakuan terhadap perbedaan keyakinan. Tanpa itu, kemungkinan konflik antaragama dapat meningkat dan mengancam stabilitas masyarakat. Oleh sebab itu, toleransi bukan hanya menghasilkan lebih banyak nilai, melainkan keharusan untuk menciptakan lingkungan yang ramah bagi semua orang dan menghormati hak setiap orang untuk menjalankan agama dan keyakinannya masing-masing dengan damai.

Tags: #Muhammad Raudhatul
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Ujaran Kebencian di Media Sosial

Berita Sesudah

Cerpen “Cinta Tergadai di Ujung Sumatera” karya Wirda dan Ulasannya oleh Azwar

Berita Terkait

Representasi Perempuan dalam Novel “Perempuan di Titik Nol dan Entrok: Kajian Feminisme”

Menyusuri Luka Kanak-kanak dalam Kumpulan Puisi “Belajar Menanggalkan Bulan”

Minggu, 13/9/26 | 22:05 WIB

Oleh: Rosidatul Arifah (Alumni S1 Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas)  Awal September 2026 ini memberikan angin ceria pada...

Kapitalisme dan Kontradiksi Kemajuan dalam Sastra Indonesia

Modernisme dan Dunia yang Dinamis dalam Karya Sastra

Minggu, 13/9/26 | 09:35 WIB

Oleh: Maharani Syifa Ramadhan (Alumni Sastra Indonesia FIB Universitas Andalas dan Mahasiswa Program Magister Sastra Kontemporer, Universitas Padjajaran)   Modernisme...

Benarkah Onomatope Arbitrer?

Benarkah Onomatope Arbitrer?

Minggu, 13/9/26 | 08:48 WIB

Oleh: Ahmad Hamidi dan Andina Meutia Hawa (Dosen Prodi Sastra Indonesia FIB Universitas Andalas)    Seekor anjing sedang menggonggong di...

Semantik-Pragmatik Ketika Pulang Tidak Selalu Berarti Kembali

Semantik-Pragmatik Ketika Pulang Tidak Selalu Berarti Kembali

Minggu, 06/9/26 | 11:00 WIB

Oleh: Hasbi Witir (Mahasiswa Prodi Sastra Indonesia FIB Universitas Andalas)   Kata pulang merupakan kata yang sangat dekat dengan kehidupan...

Puisi-puisi M. Subarkah

Jangan Tunggu Hutan Habis untuk Sadar

Minggu, 06/9/26 | 10:37 WIB

Oleh: M. Subarkah (Mahasiswa Magister Linguistik FIB Universitas Andalas) Kita sering baru mengingat hutan ketika bencana datang. Ketika hujan turun...

Puisi-puisi Wulan Darma Putri

Bianglala: Menelusuri Makna, Sejarah, dan Jejak Kebudayaan dalam Sebuah Kata

Minggu, 30/8/26 | 16:29 WIB

Oleh: Noor Alifah (Mahasiswa Sastra Indonesia dan Anggota Labor Penulisan Kreatif FIB Universitas Andalas)   Ketika melihat lengkungan warna-warni yang...

Berita Sesudah
Cerpen “Cinta Tergadai di Ujung Sumatera” karya Wirda dan Ulasannya oleh Azwar

Cerpen "Cinta Tergadai di Ujung Sumatera" karya Wirda dan Ulasannya oleh Azwar

Discussion about this post

POPULER

  • Kapitalisme dan Kontradiksi Kemajuan dalam Sastra Indonesia

    Modernisme dan Dunia yang Dinamis dalam Karya Sastra

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Benarkah Onomatope Arbitrer?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • 34 Calon Ketua Tanfidz Bersaing Pimpin DPAC PKB Padang Pariaman

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Apakah Kata “bapak” dan “ibu” Harus Ditulis dalam Huruf Kapital ?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Child Grooming sebagai Bentuk Frasa “Manipulasi Anak”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menyusuri Luka Kanak-kanak dalam Kumpulan Puisi “Belajar Menanggalkan Bulan”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cahaya dari Surau Tuo

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026