Jumat, 29/8/25 | 17:48 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI ARTIKEL

Toleran Beragama: Suatu Keniscayaan

Minggu, 26/11/23 | 08:31 WIB

Oleh:
Muhammad Raudhatul, Irfan Trianda, Ahmad Muhaimin Kamil, Alfarizhi Fitra, Muhammad Rozaan, Rafki Ahmad Pagamanda (Mahasiswa MKWK Universitas Andalas)

 

Toleransi beragama merupakan sikap yang penting untuk dijaga di tengah keberagaman agama yang ada di Indonesia. Toleransi beragama menggambarkan sikap saling menghargai dan menerima perbedaan keyakinan (Sebastian & Martoredjo, 2020), dan tantangannya muncul dari kurangnya pemahaman atau adanya prasangka negatif terhadap agama yang berbeda. Untuk mengatasi hal ini, diperlukan hati dan pikiran terbuka, kesabaran, dan penghargaan terhadap agama lain. Penting untuk menyadari bahwa keberagaman agama merupakan kekayaan, bukan ancaman. Perbedaan agama perlu dihadapi dengan sikap toleransi agar setiap penganut agama dapat hidup damai sesuai dengan keyakinan masing-masing.

Prinsip-prinsip dalam QS Al Kafirun menyajikan dasar-dasar toleransi sejati yang mengandung nilai-nilai universal. Saat seorang penganut agama Islam menghormati akidah agama lain dengan prinsip “tak pernah menjadi penyembah yang kamu sembah,” hal ini juga berlaku pada pemeluk agama lain terhadap agama Islam. Prinsip “tidak ada paksaan dalam agama” menegaskan bahwa seseorang tidak boleh dipaksa untuk masuk agama Islam, ataupun sebaliknya.

BACAJUGA

No Content Available

Toleransi agama sangat penting untuk meningkatkan ketahanan nasional suatu negara. Ini berfungsi sebagai fondasi yang kuat yang mendukung kesatuan, stabilitas, dan kemajuan. Ketika masyarakat dalam suatu negara dapat saling menghormati dan menerima perbedaan keyakinan agama, ikatan yang kuat akan terbentuk di antara warganya dan hal itu akan mengurangi kemungkinan konflik dalam negeri. Dengan cara ini, negara dapat lebih baik menghadapi tantangan dan tetap stabil, yang memungkinkan kemajuan bersama.

Toleransi beragama terdapat dalam Pancasila, yaitu Sila ke-1 yang berbunyi, “Ketuhanan Yang Maha Esa”. Sila tersebut mencerminkan prinsip menghormati keberagaman dalam beribadah tanpa memandang perbedaan agama. Sementara itu, Sila ke-3 “Persatuan Indonesia” menekankan pentingnya bersatu dalam perbedaan, termasuk dalam perbedaan agama. Keduanya membentuk dasar bagi toleransi beragama di Indonesia, di mana masyarakat diharapkan hidup harmonis dan menghargai keberagaman agama tanpa konflik atau diskriminasi.

Toleransi agama menunjukkan semangat persatuan dan keberagaman yang kuat di Indonesia. Bahasa Indonesia berfungsi sebagai alat yang efektif untuk menyatukan keberagaman agama dan budaya serta keyakinan karena mampu menyebarkan nilai-nilai toleransi untuk saling menghormati antarumat beragama. Bahasa Indonesia berperan sebagai media bagi masyarakat Indonesia untuk menyebarkan pemahaman agama, memfasilitasi untuk diskusi yang positif, dan memperkuat kesatuan dalam komunitas yang beragam. Agama sejati mencerminkan esensi cinta dan toleransi. Perbedaan agama seharusnya memperkuat kedekatan, bukan menyebabkan perpecahan dalam masyarakat (Ngafiyatun Nadifah, 2022). Membangun pemahaman antaragama yang lebih baik adalah upaya untuk menciptakan toleransi, perdamaian, dan harmoni.

Faktor pendorong toleransi termasuk kesadaran beragama, partisipasi dalam kegiatan sosial, dan kebijakan pemerintah yang mendukung kerukunan umat beragama. Faktor penghambat melibatkan penurunan semangat kekeluargaan dan fanatisme agama, yang dapat menghalangi penghargaan terhadap perbedaan dan menutup diri terhadap kebenaran lain.

Toleransi beragama membutuhkan upaya bersama untuk memahami dan menghargai perbedaan keyakinan. Selain itu, pendidikan menjadi kunci penting untuk mengatasi ketidakpahaman dan prasangka buruk terhadap agama lain. Dengan membuka ruang untuk dialog dan pertukaran gagasan antarumat beragama, masyarakat dapat memperkaya pemahaman mereka tentang keberagaman agama yang ada di Indonesia.

Faktor-faktor yang memperkuat toleransi, seperti kesadaran beragama, kegiatan sosial, dan dukungan kebijakan pemerintah, perlu ditingkatkan melalui pendekatan yang inklusif. Sementara itu, penanggulangan terhadap faktor penghambat toleransi, seperti penurunan semangat kekeluargaan dan fanatisme beragama, perlu untuk dilakukan. Dengan menjunjung tinggi nilai-nilai toleransi beragama, masyarakat dapat membentuk pondasi yang kokoh dalam menciptakan perdamaian dan menciptakan lingkungan di mana perbedaan diakui sebagai kekayaan dan bukan sebagai sumber konflik (Aisyah, 2014). Jadi, toleransi agama adalah tanggung jawab bersama masyarakat dan individu.

Sebagai contoh toleransi beragam dapat kita lihat pada Kota Singkawang. Berdasarkan hasil survei yang dilakukan oleh pemerintah, Kota Singkawang merupakan kota yang paling toleran di tanah air adalah kota singkawang dengan tercatatnya bahwa kota singkawang memiliki skor IKT  sebesar 6,583 poin dan adapun penilaian indeks dilakukan berdasarkan pertimbangan empat variabel, yaitu regulasi pemerintah kota, regulasi sosial, tindakan pemerintah, dan demografi sosiokeagamaan. Tercatat, Singkawang memperoleh skor sebesar 6,67 poin pada variabel regulasi pemerintah.

Toleransi beragama adalah keniscayaan untuk memastikan kerukunan dalam masyarakat multikultural. Keamanan sosial bergantung pada pengakuan terhadap perbedaan keyakinan. Tanpa itu, kemungkinan konflik antaragama dapat meningkat dan mengancam stabilitas masyarakat. Oleh sebab itu, toleransi bukan hanya menghasilkan lebih banyak nilai, melainkan keharusan untuk menciptakan lingkungan yang ramah bagi semua orang dan menghormati hak setiap orang untuk menjalankan agama dan keyakinannya masing-masing dengan damai.

Tags: #Muhammad Raudhatul
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Ujaran Kebencian di Media Sosial

Berita Sesudah

Cerpen “Cinta Tergadai di Ujung Sumatera” karya Wirda dan Ulasannya oleh Azwar

Berita Terkait

Tantangan Kuliah Lapangan Fonologi di Era Mobilitas Tinggi

Langkuik, Hidden Gem di Tengah Hutan Tanah Galugua

Minggu, 17/8/25 | 16:20 WIB

Oleh: Nada Aprila Kurnia (Mahasiswa Prodi Sastra Indonesia Universitas Andalas)   Langkuik Kolam bukan kolam. Petualangan kami ke sana bukan...

Berbagai Istilah dan Kemubaziran Kata dalam Kalimat

Hukum Kawin Sesuku di Minangkabau

Minggu, 17/8/25 | 16:05 WIB

Oleh: Yori Leo Saputra, S.Hum., Gr. (Guru Muatan Lokal Keminangkabau SMAN 1 Ranah Pesisir)   Mengapa di Minangkabau dilarang melakukan...

Aspek Fonologis dan Keformalan Bahasa

Aspek Fonologis dan Keformalan Bahasa

Minggu, 17/8/25 | 15:49 WIB

Oleh: Nani Kusrini (Jurusan Pendidikan Bahasa Prancis Universitas Lampung)   Komunikasi merupakan proses dinamis untuk menyampaikan dan menerima pesan antara...

Penulisan Jenjang Akademik dalam Bahasa Indonesia

Memilih Menantu (Sumando)

Minggu, 10/8/25 | 13:46 WIB

Oleh: Yori Leo Saputra, S.Hum., Gr. (Guru Muatan Lokal Keminangkabauan SMAN 1 Ranah Pesisir)   Orang Minangkabau dalam memilih menantu...

Modernisasi Penampilan Rabab Pasisia Di ISI Padangpanjang

Emansipasi Wanita dalam Drama “Nurani” Karya Wisran Hadi

Minggu, 03/8/25 | 16:48 WIB

Oleh: Muhammad Zakwan Rizaldi (Mahasiswa Prodi Sastra Indonesia Universitas Andalas)            Kesetaraan gender merupakan sebuah isu yang banyak dibahas...

Nyonya-Nyonya dan Luka Tak Terbagi Karya Wisran Hadi

Nyonya-Nyonya dan Luka Tak Terbagi Karya Wisran Hadi

Minggu, 03/8/25 | 15:56 WIB

Oleh: Cynthia Syafarani (Mahasiswa Universitas Andalas, Fakultas Ilmu Budaya, Jurusan Sastra Indonesia) Siapa sangka, sebuah teras rumah bisa menjadi medan...

Berita Sesudah
Cerpen “Cinta Tergadai di Ujung Sumatera” karya Wirda dan Ulasannya oleh Azwar

Cerpen "Cinta Tergadai di Ujung Sumatera" karya Wirda dan Ulasannya oleh Azwar

Discussion about this post

POPULER

  • Kominfo Dharmasraya Diduga Jadi Biang Kegaduhan Soal Pembahasan Asistensi APBD-P 2025

    Kominfo Dharmasraya Diduga Jadi Biang Kegaduhan Soal Pembahasan Asistensi APBD-P 2025

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • 401 PPPK di Pesisir Selatan Resmi Dilantik, Bupati Ingatkan Jangan Gadaikan SK ke Bank

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Buzzer, Kominfo, dan Tensi Politik Dharmasraya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bupati Solok Tutup Safari Berburu Hama, Dorong Perlindungan Pertanian dan Silaturahmi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bukittinggi Didorong Jadi Kota Beradat, Berbudaya, dan Ramah Pejalan Kaki

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sumbang 12 untuk Puti Bungsu Minangkabau

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Tragedi Affan, PMII Padang Ingatkan Jangan Ada Impunitas Aparat

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2024

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2024