Jumat, 17/4/26 | 01:23 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • BERITA
    • TERAS
    • EKONOMI
    • HUKUM
    • POLITIK
    • DAERAH
    • EDUKASI
    • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • BERITA
    • TERAS
    • EKONOMI
    • HUKUM
    • POLITIK
    • DAERAH
    • EDUKASI
    • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • BERITA
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI ARTIKEL

Miskonsepsi terhadap Kata Healing

Minggu, 02/10/22 | 11:59 WIB

Oleh: Andina Meutia Hawa
(Dosen Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas)

 

Luka-luka hilanglah luka,
Biar tentram yang berkuasa,
Kau terlalu berharga untuk luka,
Katakan pada dirimu,
Semua baik-baik saja
Diri – Tulus (2022)

BACAJUGA

Makna Konotasi dan Denotasi Kata Cabe-Cabean

Makna Konotasi dan Denotasi Kata Cabe-Cabean

Minggu, 12/4/26 | 16:27 WIB
Peran Sintaksis dalam Kehidupan Sehari-hari

Peran Sintaksis dalam Kehidupan Sehari-hari

Minggu, 12/4/26 | 15:54 WIB

Sejak tahun 2003, WHO menetapkan tiap tanggal 10 September sebagai World Suicide Prevention Day atau hari pencegahan bunuh diri sedunia. Tujuan dari memperingati hari tersebut adalah untuk meningkatkan kesadaran tentang pentingnya menjaga kesehatan mental dan melakukan berbagai tindakan pencegahan bunuh diri. Dibanding beberapa tahun yang lalu, orang-orang sekarang sudah lebih terang-terang menceritakan tentang kesehatan mentalnya. Memang sudah sepatutnya jika kita dapat leluasa berbicara mengenai ‘penyakit’ mental yang tengah dihadapi, layaknya penyakit fisik.

Yang namanya penyakit, tentu harus disembuhkan. Dengan memiliki kondisi fisik dan mental yang sehat, kita dapat menjalankan berfungsi kita sebagai manusia secara utuh. Jika kita dapat langsung memutuskan pergi berobat setelah mengalami flu ringan, mengapa menyembuhkan penyakit mental terasa lebih sulit? Bisa jadi karena ketika berbicara tentang kesehatan mental, orang-orang hanya membicarakannya sambil lalu tanpa menyadari bahwa beberapa orang mungkin memang butuh bantuan. Mungkin mereka tidak tahu bagaimana caranya meminta bantuan atau belum mengetahui bahwa bantuan itu ada.

Menyehatkan mental tidak cukup hanya dengan melakukan healing jika kata tersebut dimaknai sebagaimana yang diyakini sebagian besar orang yang menggunakan kata healing sebagai caption dalam pembarahuan status media sosialnya. Healing artinya menyembuhkan. Namun, kata tersebut sepertinya telah mengalami pergeseran makna. Ada kecenderungan bahwa kata healing kerap dimaknai sebagai aktivitas yang bersifat rekreatif seperti pergi liburan atau sekadar nongkrong-nongkrong di kedai kopi disebut sebagai healing. Bagi sebagian orang lainnya, itu mungkin sudah cukup.

Berdasarkan cuitan di sebuah akun Twitter yang pernah saya baca, healing bukanlah sebuah tujuan, melainkan sebuah proses. Jalannya mungkin panjang, bahkan berliku-liku. Kerap kali ketika kita merasa tersandung, sangat menggoda untuk menyerah saja ketimbang melanjutkan prosesnya. Proses healing kadang lebih sakit daripada luka itu sendiri. Wajar saja prosesnya demikian karena dalam prosesnya kita perlu membuka kembali luka-luka tersebut. Mengapa begitu sulit meninggalkan kebiasaan dan hubungan? Karena otak dan tubuh kita sudah terbiasa dengan segala sesuatu yang familiar dan nyaman. Lebih mudah untuk terjebak dalam pola tersebut ketimbang mencari atau melakukan sesuatu yang baru. Begitu pula untuk luka batin. Jika luka itu tidak dirawat, tentu akan semakin sulit untuk benar-benar menyembuhkannya.

Beberapa cara yang dapat dilakukan di antaranya, dengan melakukan dialog dengan diri sendiri. Dengan begitu kita dapat benar-benar mengetahui diri kita lebih dalam. Kita juga dapat melakukan dialog dengan orang lain. Menemukan teman bicara yang baik yang bersedia mendengarkan kita tanpa menghakimi merupakan sebuah anugrah. Jadi, saya harap kita semua dapat menemukan ruang yang nyaman bagi kita untuk saling bercerita. Kita juga dapat melakukan hal-hal positif seperti membaca buku. Buku-buku self help yang ada di pasaran bukan hanya sekadar omong kosong. Saran-saran yang terdapat di dalamnya tidak akan berguna kalau tidak dilakukan dengan sungguh-sungguh atau jika kita berharap hasil yang instan.

Tulisan ini saya dedikasikan untuk orang-orang yang saya kenal dan para pembaca yang mungkin secara sengaja atau tidak menemukan tulisan ini. Saya harap, pembaca tahu kalau diri kita tidak sendiri. Untuk orang-orang yang saya kenal dan para pembaca, saya harap Anda bisa menemukan bantuan yang pantas untuk didapatkan. Saya harap, suatu saat Anda dapat menjadi versi terbaik dari diri dan menjalankan hidup yang sebenar-benarnya hidup.

Tags: #Andina Meutia Hawa
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Bentuk-Bentuk Singkatan dalam Surat Resmi

Berita Sesudah

Sisi Lain Pembeli Buku

Berita Terkait

Makna Konotasi dan Denotasi Kata Cabe-Cabean

Makna Konotasi dan Denotasi Kata Cabe-Cabean

Minggu, 12/4/26 | 16:27 WIB

Oleh: Alya Najwa Abdillah (Mahasiswa MKWK Bahasa Indonesia dan S1 Teknik Lingkungan Universitas Andalas)   Bahasa berkembang seiring dengan berjalannya...

Peran Sintaksis dalam Kehidupan Sehari-hari

Peran Sintaksis dalam Kehidupan Sehari-hari

Minggu, 12/4/26 | 15:54 WIB

Oleh: Gilang Nindra (Mahasiswa Prodi Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas)   Dalam Tarmini dan Sulistyawati (2019: 1-2), sintaksis...

Membongkar Rahasia Kalimat Menurut Para Ahli

Membongkar Rahasia Kalimat Menurut Para Ahli

Minggu, 12/4/26 | 15:41 WIB

Oleh: Febby Gusmelyyana (Mahasiswa Prodi Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas)   Bahasa adalah sistem komunikasi paling sempurna yang...

Batu dan Zaman

Lebih dari Ego: Membaca Bawang Merah Bawang Putih melalui Psikoanalisis

Minggu, 05/4/26 | 11:04 WIB

Oleh: Andina Meutia Hawa (Dosen Prodi Sastra Indonesia FIB Universitas Andalas)   Cerita Bawang Merah Bawang Putih dalam antologi berjudul...

Puisi-puisi M. Subarkah

Konfigurasi Makna Leksikal dan Kontekstual Kata “Siap” dalam Kajian Semantik

Minggu, 05/4/26 | 10:54 WIB

Oleh: M. Subarkah (Mahasiswa Prodi S2 Linguistik FIB Universitas Andalas)    Bahasa merupakan sistem tanda yang tidak hanya berfungsi sebagai...

Efektivitas Ribuan Tangga di Universitas Andalas

Efektivitas Ribuan Tangga di Universitas Andalas

Minggu, 29/3/26 | 15:18 WIB

Oleh: Naura Aziza Cahyani (Mahasiswa Prodi Teknik Lingkungan Universitas Andalas)   Universitas Andalas (UNAND) merupakan salah satu universitas tertua di...

Berita Sesudah
Lari yang Menyedihkan

Sisi Lain Pembeli Buku

Discussion about this post

POPULER

  • Afrina Hanum

    Sumbang 12 untuk Puti Bungsu Minangkabau

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Tim Lupak Polres Dharmasraya Sikat 5 Pelaku Narkoba di Sungai Kambut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Meriah! Dharmasraya Gelar CFD dan Bazaar UMKM 18–19 April

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • KAN Pauh Kamba Diduga Cegah Pencalonan Warga, Status Adat Jadi Penghalang Pilwana

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Waspada Psikolog Gadungan, HIMPSI Sumbar Imbau Masyarakat Cek Keabsahan dan Legalitas

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Oleh sebab itu, Oleh karena itu, atau Maka dari Itu?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Perbedaan Kata “sedang” dan “sedangkan” dalam Bahasa Indonesia

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • BERITA
    • TERAS
    • EKONOMI
    • HUKUM
    • POLITIK
    • DAERAH
    • EDUKASI
    • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026