Sabtu, 17/1/26 | 20:59 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI RENYAH

Sindrom Gadis Baik

Minggu, 21/8/22 | 11:33 WIB

Lastry Monika
(Kolumnis Rubrik Renyah Scientia.id)

 

Beberapa hari lalu, saya baru saja selesai membaca buku yang sebetulnya sudah lama ingin dibaca. Buku itu berjudul Toxic Relationsh*t yang ditulis oleh Diana Mayorita. Ia merupakan seorang psikolog klinis yang fokus menangani persoalan seputar hubungan, pernikahan, dan seksualitas. Di buku itu dijabarkan sebuah jebakan yang dapat membuat seseorang masuk ke dalam hubungan yang toksik, seperti di judul bukunya. Jebakan itu ialah dengan menjadi ‘gadis baik’.

Mungkin saja, berkarakter gadis baik menjadi keinginan banyak orang. Sebagai perempuan, seseorang ingin dikenal sebagai Nice Girl. Sebagai lelaki, seseorang ingin memiliki pasangan yang memiliki karakter Nice Girl. Namun, karakter gadis baik nyatanya merupakan sebuah jebakan, terlebih bagi perempuan.

BACAJUGA

Suatu Hari di Sekolah

Saat Ide Mengalir di Detik Terakhir

Minggu, 05/10/25 | 20:02 WIB
Suatu Hari di Sekolah

Antara Deadline dan Bedcover

Minggu, 14/9/25 | 18:56 WIB

Hal itu diungkap oleh Beverly Engle. Ia merupakan seorang psikoterapis yang dalam perjalanan kariernya banyak menemukan klien yang terkungkung dalam hubungan tidak sehat karena memiliki karakter gadis baik. Konstruksi sosial membentuk karakter perempuan menjadi penurut, patuh, manis, lembut, dan dijauhkan dari perlindungan terhadap diri sendiri karena katanya ia hanya perlu dilindungi.

Gadis baik kemudian identik dengan kepatuhan dan terbiasa menerima perintah. Konstruksi inilah yang kemudian justru menjadi jebakan bagi perempuan. Bila mendebat dengan tujuan diksusi bisa saja hal itu dianggap sebagai membantah, melawan, dan membangkang. Padahal, negosiasi dan diskusi selalu dibutuhkan menuju kesepakatan terbaik. Sikap pasif kemudian menjadi lebih dominan sehingga terkesan menyerahkan diri untuk dikendalikan. Banyak perempuan berusaha berusaha menjadi lembut, manis, manja, dan penurut agar disukai dan menyenangkan orang lain. Dampaknya ialah ia sulit menyadari bahwa tengah dieksploitasi, didominasi, bahkan dimanipulasi. Berada dalam karakter seperti inilah yang disebut dengan Sindrom Gadis Baik (Nice Girl Syndrome).

Dalam sebuah hubungan, sindrom gadis baik dapat membawa seseorang dalam hubungan yang tidak sehat atau toksik. Sematan gadis baik berujung pada ketidakberdayaan dan kurangnya proses untuk berpikir lebih kritis. Beberapa contoh karakter sindrom gadis baik di antaranya sulit untuk menolak atau mengatakan tidak, terlalu mengkhawatirkan pemikiran orang lain terhadap diri sendiri, berusaha untuk selalu disukai, takut membuat seseorang marah, sering meminta maaf meskipun tidak melakukan kesalahan, berusaha terlihat baik meskipun seseorang telah mengecewakan, dan merasa takut bila dibenci oleh orang lain bila tak bersedia memenuhi keinginannya.

Karakter seperti di atas cenderung membuat seseorang berada dalam hubungan yang kondependen, yaitu selalu memprioritaskan pasangan dibandingkan diri sendiri. Ciri relasi kondependen itu juga tidak jauh berbeda dengan yang tampak pada karakter gadis baik. Beberapa di antaranya sulit mengatakan tidak, merasa harus selalu menjaga perasaan pasangan, sulit untuk jujur, terlalu terikat, takut ditinggalkan, bertahan meskipun pasangan tidak lagi menginginkan, dan rela melakukan apa saja yang diinginkan pasangan.

Lalu, bila berkarakter gadis baik justru menjebak, apakah seseorang harus menjadi gadis tidak baik? Wah, tidak begitu juga sih, ya! Tentu saja setiap orang perlu menjadi orang baik, tetapi tidak hanya untuk orang lain namun juga untuk dirinya sendiri. Perempuan perlu menjadi gadis baik, tetapi bukan berdasarkan konstruksi sosial yang menempatkan ia pada posisi harus manut-manut saja apa pun yang terjadi.

Dari uraian panjang Diana Mayorita, setidaknya ada tiga yang yang perlu menjadi karakter dasar untuk menghindari dominasi dan manipulasi dari hubungan yang tidak sehat. Pertama, berlatih self compassion, yaitu kepedulian dan belas kasih kepada diri sendiri. Kedua, fokus kepada diri sendiri dengan mengawalinya dengan fokus pada yang bisa dan mampu dilakukan. Ketiga, menjadi asertif, yaitu bersikap tegas untuk diri sendiri dengan tetap menghormati orang lain.

Tags: #Lastry Monica
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Indonesia di antara Wakanda dan Konoha

Berita Sesudah

Femininitas Tokoh Badru dalam Film Bollywood Darlings*

Berita Terkait

Lagu yang Tak Selesai-selesai

2026 dan Renyah yang Tetap Menyapa

Minggu, 04/1/26 | 23:10 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah)   Akhir tahun 2025 kita lewati dengan langkah yang lebih pelan. Bencana yang terjadi di...

Lagu yang Tak Selesai-selesai

Lengah di Tengah Jeda

Minggu, 21/12/25 | 20:08 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah)   Saat istirahat siang, saya sering lengah dengan waktu. Bukan karena terburu-buru seperti di pagi...

Lagu yang Tak Selesai-selesai

Ketika Waktu Tak Menunggu

Minggu, 07/12/25 | 22:22 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah)   Saya sering bangun tergesa, seolah pagi datang lebih cepat dari dugaan. Waktu terus berjalan...

Lagu yang Tak Selesai-selesai

Hujan yang Merawat Diam

Minggu, 23/11/25 | 19:52 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah)   Hujan selalu punya cara sederhana untuk membuat saya berhenti sejenak. Di antara rintik yang...

Lagu yang Tak Selesai-selesai

Tentang Usaha yang Tidak Terlihat

Minggu, 09/11/25 | 20:13 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah)   Dalam setiap pertandingan olahraga selalu ada dua kemungkinan, menang atau kalah. Dari kejauhan semuanya...

Lagu yang Tak Selesai-selesai

Ketika Hasil Tak Sepenting Perjalanan

Minggu, 26/10/25 | 21:50 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah)   Libur kuliah dahulu selalu terasa seperti lagu merdu yang menandai kebebasan. Setelah berminggu-minggu bergulat...

Berita Sesudah
Maskulinitas dalam Iklan Sampo Head & Shoulders

Femininitas Tokoh Badru dalam Film Bollywood Darlings*

Discussion about this post

POPULER

  • Tanamkan Demokrasi Sehat: Undhari Gelar Kongres Mahasiswa 2025, Widya Ana Putri Pimpin DPM Baru

    Tanamkan Demokrasi Sehat: Undhari Gelar Kongres Mahasiswa 2025, Widya Ana Putri Pimpin DPM Baru

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Wawako Padang Salurkan BSTT Pada Korban Kebakaran di Kelurahan Jati

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Wali Kota Padang Usulkan Proyek Lingkungan Hidup Pada Negara Jerman

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Apakah Kata “bapak” dan “ibu” Harus Ditulis dalam Huruf Kapital ?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ingin Bahagia, Sering-seringlah Berbagi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Denda Tunggakan Air PDAM Padang Naik Bertahap, Pelanggan Terancam Diputus Tanpa Pemberitahuan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Denda PDAM Kota Padang Membingungkan, Tagihan Sampah Dipungut Meski Tak Diangkut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2024

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2024