Sabtu, 24/1/26 | 04:43 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI PUISI

Puisi-puisi Ria Febrina

Minggu, 13/2/22 | 07:00 WIB

Batu Nisan

tak sudah-sudah kau debat batu nisan ini
yang sudah berlumut dan berkerak oleh dosa kita
almarhum yang kausebut-sebut itu adikmu sendiri
adik bungsu yang sudah dikalang tanah

kausebut juga utang dan tingkahnya
sedang kau lupa pada piutangmu kepadanya
bukan tembaga, tetapi emas yang kaulilitkan
di leher keriputmu itu
hadiah darinya yang dulu kaupuja

bukan sepetak sawah, juga sehektar kebun
yang kami pinta dari adik laki-lakimu
tapi sebuah batu nisan agar kubur adikmu berupa rumah

kaki-kaki yang ke sana tak lagi membedakan
pematang dan rumahnya yang sudah dikepit oleh harga
diimpit oleh tanah yang susah di tengah kota
sementara orang-orang terus tiada
dari pagi hingga ke senja tiba

BACAJUGA

Kapitil, Kosakata Baru dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia

Kapitil, Kosakata Baru dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia

Minggu, 11/1/26 | 09:57 WIB
Serba-serbi Kritik Sosial Habis Lebaran

Penulisan Nama dalam Bahasa Asing

Minggu, 21/12/25 | 07:51 WIB

tak sudah-sudah kau debat batu nisan ini
sudah kubayar sewa kuburan adikmu itu
dari keringat kasar tangan
dan juga ompong gigiku ini
agar bisa kubertakziah ke kuburan adikku
—yang  mungkin sulit kauanggap sebagai adikmu itu

rumah, sawah, kebun, dan halaman yang kauhuni
adalah peninggalan orang tuaku juga
karena engkau yang perempuan
kujunjung ibu di kepalamu, tapi kau hinakan adikmu
bagai mayat tanpa nama

tak sudah-sudah kaudebat batu nisan ini
di hadapanku yang masih hidup

ketika aku tiada nanti, pasti kauumpat juga dengan kata
sudahlah, memang aku tak punya orang tua
dan juga rumah untukku pulang
malu berharap kepada kakak perempuan
yang gila harta dan warisan

 

Laut Laki-laki

terjala juga olehku masa lalu
di antara ombak yang tidak lagi melandai
ada kisah pelaut tanpa nama
yang malam-malam memukat air mata
darah membeku di antara keriput tangan
demi terkenang semata wayang
anak tak beribu agar tak berbapak

terjala juga olehku kapal karam
puing-puing doa timbul tenggelam
anak-anak yang merupa ikan dalam jala
melaut melaut saja
meski harapan hanya berbatas

terjala juga olehku kisah
hantu laut yang mengincar darah
untuk tumbal para nelayan
tak terombang-ambing di antara duka

sedang aku duduk di tepi karang
dengan pongah membawa tangisan
dibelai dikecoh perempuan
yang diembus angin pantai
bak kida-kida ujung selendang

jala menjala aku ke mata
mata berbenih penuh kisah
sedang laut tak selalu murka
patutkah aku duduk melamun di ujung senja?

jala menjala si anak dara
aku tertipu dengan celak mereka
baiklah kupulang dengan kisah
terngiang perempuan seorang tua
tempat kembali dari lara

 

Potlatch

laki-laki itu terlalu angkuh
di antara anak-anak yang kelaparan
perempuan-perempuan janda yang gelandangan
juga lelaki tua yang tak bisa pulang
dan orang-orang yang sudah diikat hutang
lelaki itu tampak sangat angkuh

di depan kamera mewah
ia lupa dengan masa lalu
dengan sombong melempar harta benda
seharga sebuah rumah tangga
yang tidak tahu esok akan makan apa

di layar kaca mereka berlomba
menghancurkan dan membuang harta
karena crypto semata
mereka berkata lupa pernah makan dengan air mata
padahal masa muda dilalui di antara jalanan senja
mengais dan menadah dari orang yang berbelas kata

dan kini
hanya karena sebuah prestise
pakaian, harta benda, dan uang jadi pajangan
dibuang-buang di tengah orang-orang busung lapar
demi sebuah konten dan kemewahan

“Akulah satu-satunya pohon besar.
Bawa penghitung harta ke sini dan kau akan sia-sia.
Sudah pasti tak akan cukup angka tertera di layarnya.
Diam. Diamlah kau di sana. Biar kuciptakan longsoran harta
dengan cipratan lembaran-lembaran dolar Singapura
puja-pujalah aku dengan mulutmu
dan maki-makilah aku dengan dengkimu.”

ini dunia-dunia apa?
orang-orang tidak bangga dengan cendekia

 

Biodata Penulis:

Ria Febrina, lahir di Batusangkar pada 3 Februari 1988. Ia menamatkan S-1 dan S-2 di Universitas Andalas dan saat ini sedang menempuh studi S-3 di Universitas Gadjah Mada Program Doktor Ilmu-ilmu Humaniora. Sejak tahun 2015, ia mengabdi sebagai dosen di Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas, Padang. Puisi dan cerpennya pernah dimuat di Harian Padang Ekspres, Majalah P’Mails, Jurnal Bogor, Scientia, antologi puisi Dua Episode Pacar Merah (2005), antologi cerpen Jemari Laurin (2007), dan antologi cerpen Rumah Ibu (2013).

Tags: #Ria Febrina
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Puisi-puisi Fury Buhair dan Ulasannya oleh Ragdi F. Daye

Berita Sesudah

Apakah Kata “bapak” dan “ibu” Harus Ditulis dalam Huruf Kapital ?

Berita Terkait

Puisi-puisi Arza Kailla Chaerani

Puisi-puisi Arza Kailla Chaerani

Minggu, 18/1/26 | 19:35 WIB

Sumber gambar: GeminiAI Tanpa Ingin Menjadi Utama Oleh: Arza Kailla Chaerani Kau hadir tanpa gegap gempita Seperti lagu yang tak...

Puisi-puisi Aliftia Nabila Putri

Puisi-puisi Aliftia Nabila Putri

Minggu, 11/1/26 | 09:26 WIB

  Sumber: Google GeminiAI Di Kota yang Berbeda Oleh: Aliftia Nabila Putri Di sini aku masih sibuk dengan hariku, Sama...

Puisi-puisi Furkon Patani

Puisi-puisi Furkon Patani

Minggu, 28/12/25 | 14:15 WIB

Gambar: Meta AI Jadikanlah Aku Perindu Oleh: Furkon Patani Aku adalah pemabuk cinta Dan aku juga perindu setia Banyak yang...

Puisi-puisi Indri Rahmadani

Puisi-puisi Indri Rahmadani

Minggu, 07/12/25 | 17:48 WIB

Sumber Gambar: Meta AI Rumah Tanpa Pintu Oleh Indri Rahmadani Di kota ini yang jauh dari ragamu Aku belajar berhitung...

Puisi-puisi Wulan Darma Putri

Puisi-puisi Wulan Darma Putri

Minggu, 30/11/25 | 15:51 WIB

Sumber: Meta AI Sehangat Kepulan Kopi Oleh Wulan Darma Putri Dalam getaran cinta Kau mengukir hati yang luka Memberiku segala...

Puisi-puisi Afny Dwi Sahira

Puisi-puisi Afny Dwi Sahira

Minggu, 16/11/25 | 19:38 WIB

Menebak Pikiran Amir Oleh: Afny Dwi Sahira Sendu mata Amir rindu Buya Mengingat Buya semasa hidup Peninggalan Buya memenuhi memori...

Berita Sesudah
Diksi Cantik sebagai Identitas Perempuan di Instagram

Apakah Kata “bapak” dan “ibu” Harus Ditulis dalam Huruf Kapital ?

Discussion about this post

POPULER

  • Ketua DPW PKB Sumbar, Firdaus.[foto : ist]

    Firdaus Kembali Pimpin PKB Sumbar, Optimis Bawa PKB Capai Puncak pada Pemilu Mendatang

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • DPP PKB Tetapkan Kepengurusan DPW PKB Sumbar Periode 2026–2031

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Apakah Kata “bapak” dan “ibu” Harus Ditulis dalam Huruf Kapital ?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sumbang 12 untuk Puti Bungsu Minangkabau

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berbagai Istilah Urutan Waktu dalam Bahasa Indonesia

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • HI UNAND dan Muhammadiyah Sumbar Bahas ABS-SBK dan Global Values

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pemko Padang Komitmen Dukung Percepatan Pembebasan Lahan Sukseskan PSN di Kota Padang.

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2024

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2024