
Kabupaten Solok, Scientia.id – Kabupaten Solok menyiapkan 2.000 hektare kawasan kopi arabika untuk dikembangkan menjadi sentra produksi sekaligus penggerak ekonomi baru daerah.
Program tersebut tidak hanya diarahkan untuk memperluas areal tanam. Pemerintah Kabupaten Solok juga menyiapkan pengembangan kopi dari sektor hulu hingga hilir.
Di bawah kepemimpinan Bupati Solok Dr. (HC) Jon Firman Pandu, S.H. bersama Wakil Bupati H. Candra, S.H.I., pengembangan kopi mulai diarahkan pada penguatan ekosistem usaha.
Dinas Pertanian diminta berkolaborasi dengan perangkat daerah yang menangani koperasi dan UMKM. Kolaborasi itu untuk menyusun peta jalan pengembangan kopi Kabupaten Solok.
Peta jalan tersebut diperlukan agar pengembangan kopi memiliki arah yang jelas. Mulai dari produksi, pengolahan, kelembagaan hingga pemasaran harus dipersiapkan sejak awal.
Dengan begitu, peningkatan produksi nantinya tidak menimbulkan persoalan baru. Petani sudah memiliki kelembagaan, sistem pengolahan dan akses pasar yang memadai.
Potensi kopi Kabupaten Solok sebenarnya bukan hal baru. Sejumlah produk kopi daerah telah membuktikan kemampuannya menembus pasar yang lebih luas.
Salah satunya Solok Radjo dari Aia Dingin, Kecamatan Lembah Gumanti. Produk tersebut telah dikenal hingga pasar internasional.
Pengalaman itu menjadi modal penting bagi pengembangan kawasan kopi selanjutnya.
Pemerintah daerah berharap keberhasilan tersebut tidak berhenti pada satu kelompok atau merek. Pengalaman itu diharapkan dapat menjadi contoh bagi kelompok tani lainnya.
Petani juga didorong meningkatkan kualitas produksi. Penanganan pascapanen, konsistensi mutu dan pemahaman pasar menjadi bagian penting.
Dengan demikian, petani tidak hanya menjual hasil kebun. Mereka diharapkan menjadi bagian dari rantai usaha kopi yang memiliki nilai tambah lebih besar.

Hulu dan Hilir Berjalan Bersamaan
Wakil Bupati Solok H. Candra menilai pembangunan sektor hilir tidak boleh menunggu tanaman memasuki masa panen.
Menurutnya, pengembangan produksi dan pemasaran harus berjalan beriringan. Saat lahan dikembangkan, pengolahan dan pasar juga harus mulai disiapkan.
Hal itu penting agar peningkatan produksi memberikan manfaat ekonomi yang maksimal bagi petani.
Penguatan koperasi dan kelompok usaha menjadi salah satu bagian yang perlu dilakukan. Begitu pula dengan pengembangan unit pengolahan, roasting dan pengemasan.
Branding produk dan perluasan pasar juga menjadi perhatian. Produk turunan serta kemitraan dengan dunia usaha dapat terus dikembangkan.
Jika mata rantai tersebut terbentuk, nilai ekonomi kopi tidak berhenti di tingkat kebun. Nilai tambah juga dapat tumbuh melalui pengolahan dan perdagangan.

Petani Tetap Menjadi Kunci
Di tengah rencana pengembangan 2.000 hektare, petani tetap menjadi bagian utama.
Kelompok tani penerima program diharapkan tidak sekadar menjadi penerima bantuan. Mereka harus berkembang menjadi kelompok produsen yang mandiri dan berorientasi pasar.
Pendampingan menjadi kebutuhan penting dalam proses tersebut. Petani membutuhkan pengetahuan sejak budidaya hingga penanganan hasil panen.
Karena itu, keberhasilan program tidak cukup diukur dari luas lahan. Jumlah bibit yang ditanam juga bukan satu-satunya ukuran keberhasilan.
Yang lebih penting adalah produktivitas tanaman dan kualitas kopi yang dihasilkan. Peningkatan pendapatan petani juga harus menjadi indikator utama.
Begitu pula dengan kekuatan kelompok tani dan koperasi. Semakin kuat kelembagaan, semakin besar peluang petani memperoleh posisi tawar.
Berpeluang Menjadi Penggerak Ekonomi
Pengembangan kopi juga membuka peluang ekonomi di luar sektor perkebunan.
Meningkatnya produksi akan membutuhkan tenaga kerja, transportasi dan kegiatan pascapanen. Pengemasan, perdagangan hingga usaha kedai kopi juga berpotensi ikut berkembang.
Perkebunan kopi bahkan dapat dikembangkan menjadi bagian dari wisata berbasis agro.
Kabupaten Solok memiliki lanskap alam yang mendukung pengembangan tersebut. Perkebunan dapat menjadi ruang edukasi sekaligus destinasi wisata.
Pengunjung dapat melihat proses budidaya dan pengolahan kopi. Mereka juga dapat mengenal lebih dekat produk kopi yang dihasilkan masyarakat setempat.
Dengan konsep tersebut, kopi dapat menghubungkan petani, koperasi, UMKM, pariwisata dan dunia usaha.

Dari Kebun Menuju Pasar
Tantangan terbesar pengembangan 2.000 hektare kopi bukan sekadar memastikan tanaman tumbuh.
Tantangan berikutnya adalah memastikan hasilnya memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.
Karena itu, produktivitas, kualitas dan pengolahan harus menjadi perhatian. Begitu pula dengan kelembagaan dan akses pasar.
Dua ribu hektare menjadi awal dari perjalanan panjang kopi Kabupaten Solok.
Jika seluruh mata rantai dapat dipersiapkan dengan baik, kopi Solok berpeluang menjadi lebih dari sekadar komoditas perkebunan.
Kopi dapat menjadi salah satu penggerak ekonomi baru daerah. Pada saat yang sama, komoditas ini dapat memperkuat posisi petani dalam rantai perdagangan.
Pada akhirnya, ukuran keberhasilan bukan hanya seberapa luas kebun kopi yang dimiliki Solok.
Ukuran terpenting adalah seberapa besar kopi tersebut mampu meningkatkan kesejahteraan petani dan masyarakat.
Dari tanah Solok, kopi diharapkan tidak hanya tumbuh sebagai tanaman. Kopi juga diharapkan tumbuh menjadi kekuatan ekonomi daerah.
![Sekdaprov Sumbar, Arry Yuswandi. [foto:ist]](https://scientia.id/wp-content/uploads/2026/08/IMG-20260824-WA0012-120x86.jpg)

![Sekdaprov Sumbar, Arry Yuswandi. [foto:ist]](https://scientia.id/wp-content/uploads/2026/08/IMG-20260824-WA0012-350x250.jpg)





