Minggu, 05/4/26 | 18:38 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI ARTIKEL

Lebih dari Ego: Membaca Bawang Merah Bawang Putih melalui Psikoanalisis

Minggu, 05/4/26 | 11:04 WIB

Oleh: Andina Meutia Hawa
(Dosen Prodi Sastra Indonesia FIB Universitas Andalas)

 

Cerita Bawang Merah Bawang Putih dalam antologi berjudul Dongeng Nusantara Favorit, ditulis ulang oleh Fajriatur Nur (2019) mengisahkan sepasang saudara tiri yang saling berkonflik, Bawang Merah bersama ibunya selalu menindas Bawang Putih dan menyuruhnya melakukan berbagai pekerjaan rumah. Bawang Putih memilih diam dan tidak pernah melawan. Suatu hari Bawang Putih tidak sengaja menghilangkan selendang Bawang Merah. Hal ini kemudian mempertemukannya dengan seorang nenek tua. Akhir cerita sebetulnya bisa ditebak. Bawang Putih menerima imbalan karena kebaikan dan ketulusannya, sedangkan Bawang Merah yang malas dan serakah mendapat ganjaran. Selama ini, dongeng selalu mengajarkan untuk melihat sesuatu secara hitam dan putih.

BACAJUGA

Puisi-puisi M. Subarkah

Konfigurasi Makna Leksikal dan Kontekstual Kata “Siap” dalam Kajian Semantik

Minggu, 05/4/26 | 10:54 WIB
Efektivitas Ribuan Tangga di Universitas Andalas

Efektivitas Ribuan Tangga di Universitas Andalas

Minggu, 29/3/26 | 15:18 WIB

Namun, kehidupan nyata tidak sesederhana memilih menjadi baik atau buruk, tetapi selalu ada hal yang mendasari pilihan-pilihan tersebut. Dari perspektif psikologi, teori psikoanalisis Sigmund Freud menjelaskan bagaimana keberadaan id, ego, dan superego membentuk   kepribadian manusia. Konsep id, ego, dan superego menjelaskan bahwa perilaku manusia dipengaruhi oleh dorongan bawah sadar, serta bagaimana ketiganya saling berinteraksi. Teori ini juga kerap digunakan sebagai pendekatan untuk meneliti karya sastra, terutama untuk mengkaji kepribadian, dinamika kejiwaan, dan konflik batin tokoh.

Id merupakan bagian paling dasar dari kepribadian yang sudah ada sejak lahir, berisi dorongan naluriah, dan insting. Id bekerja berdasarkan prinsip kesenangan, yaitu selalu ingin memenuhi kebutuhan secara cepat tanpa mempertimbangkan realitas atau moral. Sementara itu, superego merupakan aspek kepribadian yang terbentuk dari nilai, norma, dan aturan yang terbentuk dari lingkungan. Superego berfungsi mengontrol perilaku berdasarkan prinsip moral, benar atau salah, baik atau buruk, serta mendorong individu untuk bertindak sesuai dengan nilai moral. Ego bekerja berdasarkan prinsip realitas, sehingga individu dapat bertindak secara rasional dengan mempertimbangkan konsekuensi dari tindakannya. Dalam praktiknya, ego dapat dipengaruhi oleh id maupun superego. Oleh sebab itu, ego bukanlah sesuatu yang buruk, melainkan ego yang sehat justru dapat memenuhi keinginan (id) tanpa melanggar nilai (superego).

Dalam cerita Bawang Merah dan Bawang Putih, terlihat bagaimana dinamika id, ego, dan superego membentuk kepribadian para tokoh. Tokoh Bawang Merah dan ibunya merupakan representasi kepribadian yang egonya didominasi oleh id. Dorongan untuk menguasai, bersikap serakah, serta mendapatkan keuntungan secara instan tampak dalam tindakan ketika keduanya memaksa Bawang Putih untuk mengerjakan berbagai pekerjaan rumah, dan merampas sesuatu yang bukan menjadi hak mereka. Dalam hal ini, superego seolah tidak berfungsi, sehingga ego menjadi alat untuk memenuhi id, yaitu dorongan yang impulsif dan sifat materialistis.

Adapun Bawang Putih digambarkan sebagai tokoh yang terlalu dikendalikan oleh superego. Ia patuh, tidak pernah melawan, sehingga cenderung menekan keinginan sendiri untuk menghindari konflik. Ego Bawang Putih tidak mampu menyeimbangkan dorongan (id), sehingga ia selalu berada dalam posisi yang tertindas. Bawang Putih juga memiliki dorongan, yaitu rasa takut dimarahi dan keinginan impulsif untuk menolong, sehingga ia mengorbankan dirinya dengan cara menyusuri sungai demi mencari selendang Bawang Merah. Maka, dapat dilihat bahwa id Bawang Putih ditekan oleh superegonya yang menuntutnya untuk selalu berlaku baik dan menerima keadaan.

Selain itu, dalam cerita ini juga muncul tokoh nenek yang menghadirkan bentuk ego yang seimbang antara id dan superegonya. Misalnya, ketika nenek tidak langsung menolong Bawang Putih ketika menemukan Bawang Putih di sungai. Walaupun didorong oleh id berupa rasa iba dan simpati, ia justru menguji Bawang Putih untuk melihat watak asli Bawang Putih terlebih dulu. Hal ini memperlihatkan ego yang berhasil menjadi penyeimbang dengan mempertimbangkan dorongan untuk menolong (id) sekaligus nilai moral (superego), sebelum mengambil keputusan.

Di akhir cerita, diperlihatkan bahwa Bawang Putih mulai belajar menyeimbangkan id dan superegonya. Ia menyadari bahwa dirinya layak menerima imbalan dari nenek karena telah membantu (id), tetapi tetap mempertimbangkan realitas dengan memilih labu yang kecil agar tidak membebani dirinya (superego). Dalam hal ini, superego Bawang Putih tetap berjalan, tetapi tidak lagi sepenuhnya menekan id-nya. Ia belajar memenuhi kebutuhannya dengan cara yang tidak menyiksa diri. Hal ini menunjukkan watak asli Bawang Putih  yang memang tulus, tidak materialistis, dan suka menolong, tetapi di sisi lain ia juga belajar untuk tidak terus-menerus mengorbankan diri demi menyenangkan Bawang Merah dan ibu tirinya.

Sementara itu, superego Bawang Merah dan ibu tiri baru berfungsi setelah mereka menerima konsekuensi berupa hukuman. Untuk pertama kalinya, mereka tidak lagi sepenuhnya dikuasai oleh id yang selama ini mendorong perilaku serakah dan menyiksa Bawang Putih. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun ego mereka sebelumnya lebih didominasi oleh id, superego tetap memiliki kemungkinan untuk muncul, walau sering kali terlambat dan setelah mengalami konsekuensi.

Dengan demikian, dongeng Bawang Merah dan Bawang Putih tidak hanya menyampaikan pesan moral mengenai kebaikan yang menang atas kejahatan. Lebih dari itu, cerita ini memperlihatkan bahwa ketika id menguasai, seseorang dapat kehilangan rasa kemanusiaannya karena bertindak secara impulsif tanpa mempertimbangkan nilai moral. Sebaliknya, ketika superego terlalu dominan dan menekan id, seseorang justru dapat terjebak dalam posisi yang terus-menerus tersakiti karena mengabaikan kebutuhan dirinya sendiri. Oleh sebab itu, hidup bukan sekadar memilih menjadi baik atau buruk, melainkan tentang mencari keseimbangan di antara keduanya.

Dalam konteks dongeng, terutama yang diperuntukkan bagi anak-anak, cerita sering kali menyederhanakan persoalan manusia dengan membagi watak menjadi baik atau buruk. Padahal, tanpa dibiasakan berpikir kritis, anak dapat tumbuh dengan kecenderungan mengabaikan keinginan dan kebutuhan dirinya sendiri demi menjadi anak yang baik dan menyenangkan orang lain. Sebaliknya, jika anak tidak diajarkan tentang konsekuensi dari sebuah tindakan, ia dapat menganggap bahwa memenuhi keinginannya dengan cara merugikan orang lain adalah sesuatu yang wajar. Oleh karena itu, para pemangku kepentingan seperti pendidik, penyusun kurikulum, maupun penulis cerita anak diharapkan dapat mendefinisikan ulang nilai-nilai moral yang terkandung dalam buku anak. Selain itu, orang tua juga dapat melatih anak untuk memiliki sikap tabayyun dengan tidak begitu saja menelan cerita anak secara mentah-mentah, tetapi juga menyediakan ruang untuk berdiskusi dan berlatih berpikir kritis bersama anak.

Tags: #Andina Meutia Hawa
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Konfigurasi Makna Leksikal dan Kontekstual Kata “Siap” dalam Kajian Semantik

Berita Sesudah

Longsor di Nagari Banai Dharmasraya, Transportasi Menuju Tiga Nagari Putus

Berita Terkait

Puisi-puisi M. Subarkah

Konfigurasi Makna Leksikal dan Kontekstual Kata “Siap” dalam Kajian Semantik

Minggu, 05/4/26 | 10:54 WIB

Oleh: M. Subarkah (Mahasiswa Prodi S2 Linguistik FIB Universitas Andalas)    Bahasa merupakan sistem tanda yang tidak hanya berfungsi sebagai...

Efektivitas Ribuan Tangga di Universitas Andalas

Efektivitas Ribuan Tangga di Universitas Andalas

Minggu, 29/3/26 | 15:18 WIB

Oleh: Naura Aziza Cahyani (Mahasiswa Prodi Teknik Lingkungan Universitas Andalas)   Universitas Andalas (UNAND) merupakan salah satu universitas tertua di...

Identitas Lokal dalam Buku Puisi “Hantu Padang” Karya Esha Tegar

Penafsiran Analogi dan Lokalitas dalam Wacana di Media Sosial

Minggu, 29/3/26 | 14:53 WIB

Oleh: Sabina Yonandar (Mahasiswa Prodi Sastra Indonesia FIB Universitas Andalas)   Media sosial menjadi salah satu cara yang sangat mudah...

Memahami Kembali Imbuhan memper-

Berbagai Macam Rasa di dalam Bahasa Indonesia

Minggu, 29/3/26 | 14:32 WIB

Oleh: Reno Wulan Sari (Dosen Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing Busan University of Foreign Studies, Korea Selatan) Belakangan ini, di...

Kriteria Pemimpin 3P (Palapau, Pasurau, dan Pagurau) di Minangkabau

Kriteria Pemimpin 3P (Palapau, Pasurau, dan Pagurau) di Minangkabau

Minggu, 15/3/26 | 15:41 WIB

‎Oleh: Alfan Raseva (Ketua Ketua Taruna Nagari Aie Tajun, Kecamatan Lubuk Alung)   Kepemimpinan dalam kacamata Minangkabau adalah perpaduan antara...

Ketika Cinta Kalah oleh Adat dan Zaman dalam Novel Siti Nurbaya

Ketika Cinta Kalah oleh Adat dan Zaman dalam Novel Siti Nurbaya

Minggu, 08/3/26 | 22:51 WIB

Oleh: Amanda Restia (Mahasiswa Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas)   Nama Siti Nurbaya sering kali langsung dilibatkan dengan...

Berita Sesudah
Longsor di Nagari Banai Dharmasraya, Transportasi Menuju Tiga Nagari Putus

Longsor di Nagari Banai Dharmasraya, Transportasi Menuju Tiga Nagari Putus

POPULER

  • PSP Padang berhasil menjadi juara Liga 4 Sumatera Barat usai berhasil mengalahkan PSPP Padang Panjang 3-2 melalui pertandingan yang dramatis, Kamis ( 2/4/26), di Stadion Utama Sumatera Barat, Padang Pariaman.

    Wali Kota Padang Apresiasi PSP Padang Juara Liga 4 Sumatera Barat

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Apakah Kata “bapak” dan “ibu” Harus Ditulis dalam Huruf Kapital ?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Konfigurasi Makna Leksikal dan Kontekstual Kata “Siap” dalam Kajian Semantik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Wawako Padang Maigus Nasir Hadiri Rakorwil DPW FKDT Sumbar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kata Penghubung dan, serta, dan Tanda Baca Koma (,)

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Keunikan Kata Penghubung Maka dan Sehingga

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Waspada Psikolog Gadungan, HIMPSI Sumbar Imbau Masyarakat Cek Keabsahan dan Legalitas

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026