Mentawai, Scientia – Sekretaris Daerah Provinsi Sumatera Barat (Sekdaprov Sumbar), Arry Yuswandi, menilai persoalan pendidikan di Kabupaten Kepulauan Mentawai masih menghadapi tantangan mendasar berupa keterbatasan akses dan kualitas pendidikan. Kondisi geografis yang khas membuat banyak siswa kesulitan menjangkau sekolah, sehingga diperlukan langkah konkret dan kolaborasi berbagai pihak untuk mengatasinya.
Hal itu disampaikan Arry saat berdialog dengan jajaran SMK Negeri 1 Kepulauan Mentawai, Rabu, (1/4).
Menurut Arry, penyediaan asrama bagi siswa menjadi salah satu kebutuhan paling mendesak untuk meningkatkan akses pendidikan di daerah kepulauan tersebut.
“Kalau kita bicara akses, maka salah satu solusi kuncinya adalah penyediaan asrama. Tanpa asrama, anak-anak kita akan kesulitan menjangkau sekolah. Jadi ini bukan lagi pilihan, tapi sudah menjadi kebutuhan,” kata Arry.
Ia menjelaskan, kondisi geografis Mentawai berdampak langsung terhadap rendahnya angka partisipasi pendidikan, terutama di tingkat sekolah menengah kejuruan (SMK). Saat ini, rata-rata jumlah siswa SMK di daerah tersebut hanya berkisar 40 hingga 50 orang per angkatan.
Menurut Arry, angka tersebut menunjukkan bahwa akses dan minat terhadap pendidikan vokasi masih perlu ditingkatkan.
“Ini menunjukkan belum optimalnya minat dan akses pendidikan vokasi di sini. Inilah yang perlu kita bersama carikan solusinya,” ujarnya.
Selain persoalan akses, Arry juga menyoroti kualitas lulusan SMK yang dinilai masih perlu diperkuat agar sesuai dengan kebutuhan dunia kerja. Ia mengatakan, masih terdapat kesenjangan antara kompetensi lulusan dengan kebutuhan dunia usaha dan dunia industri.
“SMK seharusnya mencetak lulusan siap kerja. Tapi faktanya, masih ada yang belum siap secara praktik. Ini yang harus kita benahi bersama, baik dari sisi pembelajaran, peralatan, maupun keterkaitan dengan industri,” katanya.
Karena itu, Pemprov Sumbar mendorong penguatan hubungan antara sekolah dengan dunia usaha dan industri melalui program link and match. Upaya tersebut diharapkan mampu membuka peluang kerja yang lebih luas bagi lulusan SMK, termasuk kesempatan bekerja di luar negeri.
Menurut Arry, penguasaan keterampilan teknis, sertifikasi profesi, dan kemampuan bahasa asing menjadi faktor penting untuk meningkatkan daya saing lulusan.
Sebagai tindak lanjut, Pemprov Sumbar memberikan bantuan berupa satu unit mobil operasional untuk praktik otomotif dan satu unit mesin cuci guna mendukung pembelajaran pada jurusan perhotelan di SMK Negeri 1 Kepulauan Mentawai.
Selain itu, pemerintah provinsi juga memfasilitasi penyediaan listrik untuk bangunan yang akan difungsikan sebagai asrama siswa serta menjembatani kerja sama penyaluran siswa magang ke sektor perhotelan di Kota Padang.
Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Kepulauan Mentawai, Jop, menyatakan pemerintah daerah berkomitmen memperkuat dukungan terhadap pengembangan pendidikan vokasi, terutama dalam memenuhi kebutuhan dasar siswa.
Menurutnya, keberadaan asrama dan akses infrastruktur menjadi faktor penting dalam menjaga keberlangsungan pendidikan bagi pelajar di wilayah kepulauan.
“Asrama menjadi penunjang utama keberlangsungan pendidikan mereka. Ini harus menjadi perhatian bersama, dan kita akan tindak lanjuti dalam perencanaan ke depan,” kata Jop.
SMK Negeri 1 Kepulauan Mentawai saat ini memiliki empat program keahlian, yakni otomotif, agribisnis, perikanan, dan perhotelan. Meski memiliki potensi besar untuk mendukung kebutuhan tenaga kerja lokal, sekolah tersebut masih menghadapi berbagai kendala, mulai dari keterbatasan sarana dan prasarana, jumlah siswa yang relatif sedikit, hingga dukungan pembiayaan yang belum optimal.
Pemerintah berharap berbagai langkah yang mulai dilakukan dapat memperluas akses pendidikan sekaligus meningkatkan kualitas lulusan SMK di Mentawai, sehingga mampu bersaing di dunia kerja dan mendukung pembangunan daerah kepulauan tersebut.(yrp)




![Ketua DPW PKB Sumbar, Firdaus.[foto : ist]](https://scientia.id/wp-content/uploads/2025/09/IMG-20240910-WA00042_1-350x250.jpg)




