Selasa, 10/3/26 | 01:09 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI KLINIK BAHASA

Nama Nagari di Sumatera Barat: Dari Sejarah menjadi Sistem Pertahanan Daerah

Minggu, 08/3/26 | 23:23 WIB
Oleh: Dr. Ria Febrina, S.S., M.Hum. (Dosen Prodi Sastra Indonesia dan Prodi S2 & S3 Linguistik Universitas Andalas)

Orang Minangkabau punya kearifan lokal dalam menetapkan nama-nama tempat berdasarkan kondisi alam dan fenomena yang terjadi. Misalnya, Banda Gadang yang ada di Padang Pariaman berasal dari kata banda yang bermakna ‘selokan, aliran air, bandar, parit’ dan gadang yang bermakna ‘besar’.

Sebuah tempat diberi nama Banda Gadang menjelaskan bahwa dahulu di tempat tersebut terdapat aliran air yang sangat besar. Masyarakat dahulu pun melekatkan kondisi tersebut menjadi nama tempat dengan harapan agar masyarakat yang hidup setelahnya tidak menjadikan tempat tersebut sebagai tempat tinggal atau selalu waspada dengan bahaya yang bisa saja terjadi tiba-tiba. Air bah atau galodo bisa datang kapan saja.

Namun, kondisi alam tidak pernah statis. Dari tahun ke tahun setiap daerah mengalami pergeseran. Meskipun hanya hitungan sentimeter, kondisi yang terjadi dalam ratusan tahun kemudian menyebabkan daerah aliran sungai ini kemudian menjadi kering. Masyarakat yang dahulu hanya menggunakan bahasa daerah sebagai daerah ibu kini telah berganti menjadikan bahasa Indonesia sebagai bahasa ibu.

Masyarakat hari ini tidak lagi memiliki kepekaan dengan nama-nama yang diwariskan tersebut. Bagi mereka, nama hanya sebuah penanda—yang membedakan satu tempat dengan tempat lainnya. Bagaimana asal-usul tempat tersebut hingga diberi nama seperti yang melekat padanya, tidak lagi menjadi kearifan. Akibatnya, ketika jumlah penduduk semakin banyak dan kondisi Banda Gadang yang dulu merupakan daerah aliran dengan air besar kini menjadi kering, masyarakat pun memanfaatkannya dan mengubah daerah tersebut menjadi sebuah pemukiman.

BACAJUGA

Kapitil, Kosakata Baru dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia

KBBI dan Kuasa Badan Bahasa

Minggu, 15/2/26 | 16:59 WIB
Kapitil, Kosakata Baru dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia

Kapitil, Kosakata Baru dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia

Minggu, 11/1/26 | 09:57 WIB

Di beberapa tempat, malah dibangun rumah mewah—persis di pinggir aliran sungai. Dahulu air sungai menjadi sumber kehidupan. Tinggal di pinggir sungai dianggap dapat memberi sumber kehidupan, seperti untuk mencuci, mendapatkan sumber makanan, seperti ikan, serta untuk mandi. Teknologi yang semakin canggih juga sudah menunjukkan bahwa rumah yang dibangun di pinggir sungai dapat berdiri kokoh dengan fondasi yang sudah dipikirkan sedemikian rupa oleh para ahlinya.

Namun, siapa sangka. Dalam sekejap, ketika daerah hulu yang menjadi daerah yang mampu menahan aliran air tersebut digunduli, hutan-hutannya ditebang, air yang dulu sangat ramah kemudian menjadi air bah. Menghantam dengan kejam apa pun yang ada di depannya, termasuk rumah dengan bangunan yang kokoh. Itulah yang kemudian menjadi bencana pada Desember 2025 lalu.

Bencana tersebut kemudian menyadarkan semua orang bahwa orang-orang dahulu sudah memberi kabar atau peringatan melalui nama-nama yang diberikan ke tempat tersebut. Banda Gadang menjelaskan bahwa daerah tersebut dahulunya merupakan daerah dengan aliran sungai yang besar. Sebisanya, sedapatnya, jangan pernah membangun rumah di daerah tersebut.

Dampak dari bencana tersebut, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menawarkan sebuah pendekatan baru dalam memperkuat sistem pertahanan daerah melalui hasil riset mitigasi bencana berbasis kajian penamaan rupa bumi atau toponimi. Toponimi berasal dari bahasa Yunani, yaitu tópos (τόπος) yang berarti ‘tempat’ dan ónoma (ὄνομα) yang berarti ‘nama’. Dengan demikian, toponimi mengacu pada kajian nama dan penamaan tempat.

Nama tempat adalah bagian dari masa lalu yang dihubungkan dengan identitas masa kini. Pemberian nama tempat yang tepat dapat menjelaskan sejarah yang dimiliki oleh suatu daerah. Pemberian nama dapat menunjukkan, merujuk, mengasosiasikan, atau berkonotasi dengan individu dan entitas yang berbeda. Nama yang dianggap sebagai label yang cocok akan menjadi sebuah deskripsi entitas (Coates, 2006; Morris, 2018).

Di Minangkabau, masyarakatnya sejak puluhan tahun telah menerapkan ilmu toponimi ini meskipun mereka tidak berasal dari kajian linguistik atau arkeologi tradisional. Alam sudah memberikan wawasan dan pengetahuan sebagaimana filosofi yang dianut, alam takambang jadi guru. Jika dirunut kembali berdasarkan nama-nama tempat yang ada, di Sumatera Barat terdapat puluhan nama nagari yang berkaitan dengan sungai atau aliran air. Di setiap nama tempat tersebut, terdapat maknanya yang seharusnya sudah memberi kita wawasan bagaimana asal-usul daerah tersebutt. Setidaknya ada enam klasifikasi penamaan, yaitu aia, batang, lubuak, banda, muaro, dan sungai.

Nama daerah yang mengandung enam klasifikasi tersebut menunjukkan bahwa di Minangkabau nama tempat mengandung unsur geografis yang menunjukkan keberadaan sumber air. Dahulu orang Minangkabau merantau dengan meneroka daerah baru. Tempat tujuan mereka harus memiliki sumber air sehingga orang Minangkabau banyak ditemukan bermukim di daerah aliran sungai.

Nama-nama tempat yang ada di Minangkabau tidak hanya terdiri atas satu kata sebagaimana menjadi unsur geografis. Nama-nama yang melekat juga ditambah dengan unsur kedua, yaitu unsur deskriptif. Unsur geografis menunjukkan kondisi alam, seperti sungai atau mata air, sedangkan unsur deskriptif menggambarkan karakteristiknya, seperti gadang ’besar’, dingin ‘suhu air’, dan manih ‘jernih’.

Nama-nama daerah di Sumatera Barat yang memuat enam unsur geografis tersebut di antaranya adalah (1) dengan aia sebagai unsur geografis, ada Aia Angek, Aia Dingin, Aia Pacah, Aia Gadang, Aia Tajun, Aia Bangih, dan Aia Haji; (2) dengan batang sebagai unsur geografis ada Batang Arau, Batang Agam, Batang Anai, Batang Hari, dan Batang Ombilin; (3) dengan lubuak sebagai unsur geografis ada Lubuak Basuang, Lubuak Aluang, Lubuak Minturun, Lubuak Kilangan, Lubuak Bagaluang, Lubuak Sikapiang, Lubuak Gadang, dan Lubuak Buayo; (4) dengan banda sebagai unsur geografis, ada Banda Buek, Banda Gadang, Banda Dareh, dan Banda Sapuluah; (5) dengan muaro sebagai unsur geografis, ada Muaro Paneh, Muaro Labuah, dan Muaro Sijunjuang; serta (6) dengan sungai sebagai unsur geografis, ada Sungai Sariak, Sungai Garinggiang, Sungai Tanang, dan Sungai Limau. Nama-nama yang menjadi unsur deskripsi, seperti gadang ‘besar’, sariak ‘bambu’, limau ‘jeruk’, buek ‘buatan’, dareh ‘deras’, minturun ‘arus sungai yang turun’, angek ‘panas’, pacah ‘pecah’, tajun ‘terjun’, dan mancua ‘memancar’ menjelaskan secara kompleks bagaimana sejarah daerah tersebut pada masa dahulu.

Masyarakat Minangkabau awalnya sengaja memilih daerah tersebut sebagai tempat tinggal sementara. Mereka akan terus melanjutkan perjalanan sampai menemukan daerah yang aman untuk ditempati dan ditinggali. Namun, dalam perjalanan yang terjadi, sejumlah masyarakat yang merantau memang kemudian memilih karena tidak sanggup melanjutkan perjalanan atau sudah nyaman dengan daerah yang diteroka. Itulah kemudian, daerah-daerah yang seharusnya menjadi tempat tinggal sementara kemudian menjadi tempat tinggal selamanya.

Lama-kelamaan masyarakat yang jumlahnya sedikit di daerah hunian sementara itu kemudian berkembang. Mereka menikah, melahirkan anak, hingga tumbuh dewasa di daerah tersebut. Dari lokasi yang dekat aliran sungai, kemudian mereka membentuk pasar, menciptakan transportasi, membangun rumah ibadah, sekolah, dan fasilitas umum lainnya. Daerah itulah yang kemudian menjadi pemukiman padat hari ini.

Ketika alam tidak lagi seimbang, daerah hulu tidak lagi mampu menahan resapan air, air-air dari hulu mengalir ke hilir dengan debit yang besar sehingga menghantam apa saja yang ada di depannya dan kemudian menjadi bencana. Ke depan, nama-nama yang dilekatkan tersebut dapat dikaji ulang dan kemudian menjadi sebuah strategi untuk mitigasi bencana. Berpedoman pada kajian penamaan tempat, sejumlah ahli terkait dapat mempelajari dan melakukan riset, bagian mana dari daerah tersebut yang paling rawan untuk kemudian dibuatkan jalur dan lokasi evakuasi, serta ditetapkan sejumlah strategi untuk mitigasi bencana.

Dengan demikian, tampak bahwa dalam kajian linguistik, bahasa tidak hanya sekadar bentuk-bentuk yang diucapkan dalam bentuk kata, frasa, atau kalimat. Ada makna yang terkandung di dalamnya, termasuk pada nama yang melekat pada suatu tempat. Penamaan tempat ini tidak juga sekadar nama, tetapi juga mengandung sejarah yang harus diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Tags: #Ria Febrina
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Tenang, Kita Selesaikan Satu-Satu

Berita Sesudah

Safari Ramadhan 1447 H Pimpinan DPRD Padang Salurkan Bantuan  dan Serap Aspirasi Akar Rumput

Berita Terkait

Memahami Kembali Imbuhan memper-

Memahami Kembali Imbuhan memper-

Minggu, 01/3/26 | 14:29 WIB

Oleh: Reno Wulan Sari (Dosen Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing Busan University of Foreign Studies, Korea Selatan) Di laman Klinik...

Child Grooming sebagai Bentuk Frasa “Manipulasi Anak”

Gerakan Sosial Baru pada Perang Kata-kata antara SEAblings dan Knetz

Minggu, 22/2/26 | 22:46 WIB

Oleh: Elly Delfia (Dosen Prodi Sastra Indonesia dan S2 Linguistik FIB Universitas Andalas) Beberapa minggu terakhir dunia digital dihebohkan oleh...

Kapitil, Kosakata Baru dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia

KBBI dan Kuasa Badan Bahasa

Minggu, 15/2/26 | 16:59 WIB

Oleh: Ria Febrina (Dosen Prodi Sastra Indonesia dan S2 Linguistik Universitas Andalas) Setelah kapitil, masyarakat Indonesia kembali dihebohkan dengan definisi...

Aspek Fonologis dan Keformalan Bahasa

Bon atau Bien? Dua Kata yang Sering Tertukar, tetapi Tidak Pernah Sama

Minggu, 01/2/26 | 14:54 WIB

Oleh: Nani Kusrini (Dosen Pendidikan Bahasa Prancis Universitas Lampung)   Bon dan bien adalah dua kosakata dalam bahasa Prancis yang...

Perbedaan Kata “kepada”, “untuk”, dan “bagi”

Berbagai Istilah Tempat Perbelanjaan dalam Bahasa Indonesia

Minggu, 25/1/26 | 17:00 WIB

Oleh: Reno Wulan Sari (Dosen Pengajar Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing Busan University of Foreign Studies, Korea Selatan) Berbelanja merupakan...

Child Grooming sebagai Bentuk Frasa “Manipulasi Anak”

Child Grooming sebagai Bentuk Frasa “Manipulasi Anak”

Selasa, 20/1/26 | 07:09 WIB

Oleh: Elly Delfia (Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas) Suatu sore, adik perempuan saya mendatangi saya dan berkata “Uni sudah...

Berita Sesudah
Safari Ramadhan 1447 H  Pimpinan DPRD Padang Salurkan Bantuan   dan Serap Aspirasi Akar Rumput

Safari Ramadhan 1447 H Pimpinan DPRD Padang Salurkan Bantuan  dan Serap Aspirasi Akar Rumput

POPULER

  • Kapitil, Kosakata Baru dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia

    Nama Nagari di Sumatera Barat: Dari Sejarah menjadi Sistem Pertahanan Daerah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • PKDP Sumbar Perkuat Silaturahmi Perantau Pariaman Lewat Buka Puasa Bersama

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sumbang 12 untuk Puti Bungsu Minangkabau

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • BPASN Perkuat Pemecatan ASN Dharmasraya Anike Maulana

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Penggunaan Kata Ganti Engkau, Kau, Dia, dan Ia

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Apakah Kata “bapak” dan “ibu” Harus Ditulis dalam Huruf Kapital ?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mengenal Teks, Ko-teks, dan Konteks dalam Wacana Bahasa Indonesia

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2024

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2024