
Berbelanja merupakan kegiatan yang umum dilakukan oleh banyak orang untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, baik kebutuhan primer, sekunder, maupun kebutuhan tersier. Oleh sebab itu, ada banyak tempat perbelanjaan di dalam kehidupan masyarakat dengan berbagai klasifikasinya. Ada tempat perbelanjaan yang menjual barang khusus seperti toko baju, toko sepatu, dan toko tas. Ada juga tempat perbelanjaan yang menjual banyak produk sekaligus seperti warung, minimarket, dan supermarket. Ada tempat perbelanjaan yang berukuran besar seperti mal, ada juga tempat perbelanjaan yang berukuran kecil seperti kedai. Ada tempat perbelanjaan yang permanen seperti toko-toko, ada juga tempat perbelanjaan yang temporal seperti pasar malam dan pasar kaget.
Banyaknya tempat perbelanjaan ini, juga menciptakan banyak istilah penyebutan bagi masyarakat. Secara sepintas, kita mengenal ada warung, kedai, toko, kios, minimarket, supermarket, swalayan, pasar, plaza, dan mal. Apa yang membedakan istilah-istilah tersebut? Mari kita bahas lebih detail.
Kita akan mulai dengan pusat perbelanjaan yang berukuran kecil, yaitu warung. Warung merupakan tempat berbelanja yang menjual berbagai kebutuhan sehari-hari, seperti kue, minuman, gula, sayur, gunting, rokok, dan sabun. Meskipun di dalam warung dijual banyak barang, akan tetapi barang-barang tersebut hanya disediakan dalam jumlah yang terbatas dan tidak banyak variasi (hanya sebatas kebutuhan sehari-hari). Kita bisa mengambil contoh sabun. Di warung, sabun yang dijual jumlahnya terbatas dan merek atau ukurannya juga tidak banyak. Konsumen hanya bisa membeli sesuai kebutuhan. Dengan kata lain, warung menjadi tempat perbelanjaan yang bisa dituju saat ada kebutuhan sehari-hari yang mendesak. Keberadaan warung mempermudah masyarakat untuk membeli sesuatu karena tidak perlu jauh-jauh ke pasar atau mal. Oleh sebab itu, keberadaan warung sering terlihat di antara pemukiman penduduk.
Berdasarkan alasan di atas, keberadaan warung sering menempel dengan rumah pemiliknya atau ada di pekarangan sang pemilik. Oleh sebab itu, warung disebut sebagai tempat perbelanjaan milik perorangan atau keluarga sehingga barang yang dijual di suatu warung tidak pasti sama dengan warung lainnya. Di warung ini, kita bisa membeli barang-barang dalam jumlah satuan dengan harga yang sedikit lebih murah. Tidak hanya sekadar menjual makanan, warung lainnya juga menyediakan tempat untuk minum kopi bagi masyarakat yang ingin duduk sebentar. Akan tetapi, konsep ini tidak dimiliki oleh semua warung. Konsep warung pada umumnya bisa kita temukan di dalam serial televisi Indonesia Si Doel Anak Sekolahan.
Selain warung, ada juga tempat perbelanjaan yang berada di tengah pemukiman penduduk yang istilahnya juga sering terdengar, yaitu kedai. Kedai memiliki konsep yang lebih modern dan keberadaannya lebih banyak ditemukan di lokasi strategis yang banyak dilewati orang. Sesungguhnya, inilah perbedaan paling mendasar di antara warung dan kedai. Warung bisa dibuat di ruangan yang kecil dan biasanya berdekatan dengan rumah pemiliknya, sedangkan kedai memiliki ukuran yang lebih besar dan keberadaannya tidak selalu berdekatan dengan rumah pemiliknya. Artinya, kedai memang dibangun dengan tujuan berjualan.
Ada banyak warung di kompleks perumahan yang tidak selalu dijaga oleh pemiliknya karena sang pemilik berada di dalam rumah untuk melakukan kegiatan lain. Inilah yang membedakannya dengan kedai. Karena lokasi kedai biasanya di tempat keramaian, maka harus ada orang yang benar-benar menjaganya selama kedai itu dioperasikan. Selain itu, istilah kedai juga sering digunakan untuk menjual sesuatu yang spesifik seperti kedai kopi, kedai susu, dan kedai roti. Oleh sebab itu, kedai dianggap lebih modern karena jika digunakan untuk barang jualan yang spesifik, kedai akan didesain lebih menarik.
Selanjutnya, kita akan membahas tempat perbelanjaan lain yang juga menyediakan berbagai produk kebutuhan sehari-hari tetapi didesain lebih modern yaitu swalayan, minimarket, dan supermarket. Ketiga istilah ini sering terdengar di dalam kehidupan sehari-hari. Akan tetapi, ternyata ada perbedaan pemahaman antara istilah swalayan dengan istilah minimarket dan supermarket. Kata swalayan sesungguhnya adalah sistem dengan makna “pelayanan mandiri”. Di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata swalayan memiliki makna “pelayan sendiri oleh pembeli karena perusahaan tidak menyediakan pramuniaga”. Untuk lebih jelasnya kita bisa menyandingkan kata ini dengan kata swafoto yang umumnya dikenal dengan selfie. Kata swafoto memiliki konsep yang sama dengan kata swalayan yaitu melayani diri sendiri (mengambil barang sendiri atau memotret diri sendiri). Sistem swalayan ini berbeda dengan warung dan kedai karena pembeli dilayani oleh orang yang bertugas di dalamnya. Tempat perbelanjaan yang menggunakan sistem swalayan ini disebut minimarket dan supermarket. Di dalam minimarket dan supermarket, pembeli tidak dilayani oleh petugas untuk mengambil barang yang diinginkan. Petugas yang bekerja di dalam minimarket dan supermarket biasanya bertugas sebagai kasir atau melakukan pekerjaan lain dalam penataan, penyediaan, dan sebagainya. Sesuai dengan namanya, minimarket berukuran kecil dan supermarket berukuran besar.
Barang-barang yang dijual pun hampir sama dengan warung dan kedai, yaitu kebutuhan sehari-hari. Akan tetapi, produknya lebih beragam dan banyak. Kecenderungan lain di Indonesia, keberadaan minimarket biasanya lebih banyak daripada supermarket. Kita bisa dengan mudah menemukan minimarket di pinggir jalan, tempat keramaian, atau di dalam gedung fasilitas umum seperti bandara, rumah sakit, hotel, dan sebagainya. Hal ini berbeda dengan supermarket yang keberadaannya tidak sebanyak minimarket. Supermarket biasanya bergabung dengan tempat perbelanjaan yang lebih besar seperti mal. Akan tetapi, bagi masyarakat Indonesia, kata minimarket dan supertmarket sama saja dengan swalayan. Swalayan tidak hanya dianggap ‘sistem’ tetapi juga dianggap sebagai ‘tempat’ yang rujukannya sama dengan minmarket dan supermarket. Di dalam KBBI, kata minimarket bersinonim dengan istilah toko kelontong, sedangkan kata supermarket bersinonim dengan istilah pasar swalayan.
Selanjutnya, kita beralih ke tempat perbelanjaan yang khusus pada produk tertentu. Pertama, ada kata kios. Di dalam KBBI, kata kios memiliki makna “toko kecil (tempat berjual buku, koran, dan sebagainya)”. Di berbagai referensi lainnya menyatakan bahwa kios spesifik terhadap suatu produk atau jasa yang dijualnya. Biasanya kios menjual berbagai kebutuhan sekunder (selain kebutuhan pangan, sandang, dan papan), seperti kios buku, kios pulsa, kios peralatan kantor, dan kios kosmetik. Lalu, apa yang membedakannya dengan toko? Sesuai dengan makna kios di dalam KBBI, ukurannya lebih kecil daripada toko. Artinya, barang-barang yang dijual pun tidak selengkap barang-barang di toko. Untuk bisa membedakan antara kios dan toko, kita bisa mengamati keberadaan keduanya di dalam mal. Biasanya, mal dipenuhi oleh berbagai toko, dan di bagian-bagian pojok, ujung, atau bagian tertentu ada ukuran-ukuran yang lebih kecil, inilah yang dinamakan kios. Dengan demikian, mari kita lanjutkan pembahasan ini ke istilah toko.
Toko merupakan istilah untuk pusat perbelanjaan yang paling umum dikenal dan digunakan. Setiap toko memiliki barang spesifik yang dijualnya. Oleh sebab itu kata toko sering ditambahkan dengan produk yang ada di dalamnya seperti toko sepatu, toko olahraga, toko kosmetik, toko emas, dan toko aksesori. Keberadaan toko ini pun beragam, ada yang berdiri sendiri, ada juga yang didirikan di dalam bangunan pusat perbelanjaan lainnya, seperti mal. Ukuran toko ini cenderung besar karena pengunjung bisa leluasa bergerak di dalamnya untuk memilih produk yang akan dibeli (ini berbeda dengan kios). Karena toko fokus pada suatu produk yang dijualnya, untuk menjual produk kebutuhan seharu-hari, toko ini dikenal dengan istilah toko kelontong. Ini berbeda dengan warung yang ukurannya kecil dan keberadaannya di tengah pemukiman masyarakat. Toko-toko yang berdiri sendiri biasanya dibangun di pinggir jalan agar mudah diakses oleh pengunjung. Karena ukurannya yang besar pula, toko bisa memiliki banyak karyawan atau pegawai.
Setelah memahami beberapa jenis tempat perbelanjaan, mari kita beralih ke tempat yang lebih besar yang menggabungkan toko-toko tersebut. Tempat yang umumnya dikenal adalah pasar, mal, dan plaza. Dari tiga kata ini, kita dengan mudah bisa membedakan kata pasar dengan kata mal dan plaza. Pasar bukanlah istilah yang asing bagi masyarakat Indonesia. Di dalam pasar, ada banyak pedagang yang menjual berbagai dagangannya. Dagangan paling umum yang dijual di pasar adalah kebutuhan makanan dan minuman, seperti sayur, daging, buah, dan bumbu masakan. Selain itu, di pasar juga ada pedagang yang menjual pakaian, peralatan dapur, dan sebagainya.
Pasar dikenal lebih tradisional jika dibandingkan dengan mal dan plaza. Hal ini terlihat jelas dari bentuk bangunannya, cara mengemas produk dagangannya, dan transaksinya yang bisa menggunakan cara tawar-menawar. Pasar juga memiliki beberapa jenis, sesuai dengan kebutuhannya seperti pasar pagi (hanya ada pada pagi hari untuk menjual bahan makanan segar), pasar malam (biasanya bersifat temporal sebagai sarana hiburan pada malam hari), dan pasar kaget (keberadaannya hanya berlangsung beberapa jam karena wilayah yang digunakan memiliki fungsi lain).
Selanjutnya, kita akan beralih ke tempat yang dianggap lebih modern yaitu mal dan plaza. Belakangan ini, mal dan plaza sering dianggap sama, yaitu tempat, gedung, atau area yang memfasilitasi toko-toko dan supermarket. Akan tetapi, sesungguhnya ada perbedaan mendasar antara mal dan plaza, yaitu dari stuktur bangungannya. Mal memiliki satu gedung besar yang di dalamnya terdiri dari beberapa lantai. Toko-toko yang difasilitasi ada di dalam satu gedung tersebut. Hal ini berbeda dengan plaza. Plaza adalah suatu wilayah atau area tertentu yang menggabungkan fasilitas umum, ruang publik, dengan beberapa toko. Oleh sebab itu, plaza tidak hanya terdiri dari satu gedung utuh yang besar, tetapi juga suatu area tertentu yang setiap tokonya tidak harus saling bersebelahan (bisa jadi juga semua fasilitasnya ada di ruangan terbuka). Di area tersebut, sangat memungkinkan adanya taman untuk masyarakat, toko, fasilitas olahraga, fasilitas pertunjukan seni, dan sebagainya. Akan tetapi, karena di area yang disebut plaza semakin lama semakin dipenuhi toko maka kemudian masyarakat menjadi sulit membedakan antara mal dan plaza. Demikian penjelasan tentang berbagai tempat perbelanjaan kali ini. Semoga bermanfaat.







