
Suatu hari saya mendapat pertanyaan, bagaimana caranya menuliskan frasa make over dalam kalimat bahasa Indonesia? Apakah menggunakan huruf miring atau tidak? Pertanyaan ini menarik karena ada dua hal yang harus dipahami, yaitu apakah make over termasuk ke dalam istilah asing atau merupakan nama dalam bahasa asing.
Dalam kaidah bahasa Indonesia, kata atau ungkapan dalam bahasa daerah atau bahasa asing, wajib menggunakan huruf miring. Hal ini tercantum dalam Ejaan yang Disempurnakan (EyD) Nomor 0424/I/BS.00.01/2022, misalnya ketika seseorang memasukkan kata atau ungkapan bahasa asing ke dalam kalimat bahasa Indonesia, kata atau ungkapan tersebut harus ditulis menggunakan huruf miring. Hal ini dapat dilihat pada contoh data berikut.
(1) Dia yang minta make over.
Frasa make over pada kalimat (1) menggunakan huruf miring karena merupakan istilah asing. Frasa ini bermakna ‘mengubah sama sekali’. Sementara itu, bedakan penggunaan Make Over pada kalimat berikut.
(2) Ibu selalu membelikan produk Make Over untukku.
Contoh (2) menunjukkan bahwa tampak perbedaan dalam penggunaan frasa make over pada data (1) dengan frasa Make Over pada data (2). Frasa make over pada data (1) merupakan frasa yang berasal dari bahasa Inggris, sedangkan frasa Make Over pada data (2) merupakan nama sebuah produk kecantikan. Meskipun menggunakan bahasa Inggris, penulisan Make Over tidak menggunakan huruf miring karena merupakan nama merek.
Sebagai pembanding, kita dapat melihat beberapa contoh lain penggunaan nama merek dalam kalimat bahasa Indonesia.
(3) Mereka menyiapkan pertandingan Mobile Legends untuk memeriahkan hari libur nasional.
(4) Di meja kami sudah tersedia Chocolatos.
Mobile Legends dan Chocolatos merupakan nama merek. Mobile Legends merupakan nama merek permainan digital, sedangkan Chocolatos merupakan nama merek minuman. Karena nama merek, penulisannya dalam bahasa Indonesia tidak perlu menggunakan huruf miring. Dengan demikian, tampak bahwa nama yang menggunakan bahasa Inggris tidak menggunakan huruf miring dalam bahasa Indonesia.
Sementara itu, terkait kata atau ungkapan asing dalam bahasa Indonesia, kita dapat melihat contoh lain sebagai berikut.
(5) Kita perlu memperhitungkan rencana kegiatan dengan baik agar tidak malapeh awo.
(6) Weltanschauung bermakna ‘pandangan dunia’.
(7) Istilah men sana in corpore sano sering digunakan dalam bidang olahraga.
Ungkapan malapeh awo pada data (5) merupakan ungkapan dari bahasa Minangkabau yang bermakna ‘upaya keras yang akhirnya berujung sia-sia’. Sementara itu, pada data (6) terdapat istilah weltanschauung yang merupakan istilah dalam bahasa Jerman yang bermakna ‘pandangan dunia’. Dalam konteks Indonesia, ungkapan ini berkaitan dengan Pancasila sebagai dasar filosofi negara dan pandangan hidup bangsa.
Di Indonesia juga terdapat ungkapan yang terkenal dari bahasa Latin, yaitu men sana in corpore sano sebagaimana tercantum dalam data (7). Men sana in corpore sano merupakan ungkapan yang bermakna ‘dalam tubuh yang sehat, terdapat jiwa yang kuat’. Ungkapan ini bersal dari pujangga Romawi, Decimus Lunius Juvenalis, yang menekankan pentingnya keseimbangan fisik dan mental.
Selain ungkapan dan istilah asing, huruf miring dalam bahasa Indonesia juga dipakai dalam menulis karya ilmiah, khususnya ketika menulis nama ilmiah. Hal ini bisa dilihat pada contoh data berikut:
(8) Nama ilmiah buah manggis ialah Garcinia mangostana.
Tampak jelas bahwa huruf miring tidak hanya dituliskan untuk kosakata bahasa asing saja, ungkapan, istilah, dan nama latin juga menggunakan huruf miring. Kosakata bahasa asing yang barang kali sering kita lihat dapat dilihat sebagai berikut.
(9) Anak-anak gen Z sangat suka bermain games di handphone.
Kata games merupakan kata yang berasal dari bahasa Inggris yang bermakna ‘permainan’ dan handphone merupakan kata yang bermakna ‘telepon genggam’. Kedua kata ini merupakan kosakata asing sehingga wajib menggunakan huruf miring.
Dari contoh-contoh yang telah dipaparkan, tampak bahwa ada kaidah mengapa sebuah kata, frasa, ungkapan, atau istilah menggunakan huruf miring, sedangkan untuk nama—meskipun berbahasa Inggris—tidak menggunakan huruf miring dalam bahasa Indonesia. Analisis ini mematahkan ungkapan apalah arti sebuah nama karena nama dalam kaidah bahasa Indonesia justru memiliki peran penting dalam penulisan






