Kamis, 09/7/26 | 01:08 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • BERITA
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI ARTIKEL

Folklor Siluman Penyedia Gamelan pada Wayang di Kawunganten

Minggu, 16/3/25 | 12:11 WIB

Oleh: Faathir Tora Ugraha
(Mahasiswa Program Studi Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas)

 

Folklor merupakan kata serapan dari bahasa Inggris, yaitu folk dan lore. Folk adalah sekelompok orang atau masyarakat yang memiliki ciri-ciri fisik, sosial, dan kebudayaan, sedangkan lore artinya sebuah kebudayaan pada masyarakat tertentu yang telah lama ada dan  diwariskan turun-temurun secara lisan. Folklor atau folklore adalah bagian dari kebudayaan tertentu pada masyarakat tertentu. Salah satu kebudayaan tersebut adalah wayang. Wayang merupakan salah satu warisan budaya yang sangat dikenal dalam masyarakat Jawa. Kebudayaan ini telah diakui oleh UNESCO sebagai warisan budaya dunia. Dalam pertunjukan wayang terdapat kepercayaan, moral, etika, dan seni yang terkandung dalam diri seorang dalang. Dalang adalah orang yang penting dalam pewayangan dan bertugas mengatur jalan permainan wayang.

BACAJUGA

Dari Like ke Loyalitas: Strategi UMKM Memanfaatkan Media Sosial

Dari Like ke Loyalitas: Strategi UMKM Memanfaatkan Media Sosial

Senin, 06/7/26 | 05:56 WIB
Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Nongender

Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Nongender

Senin, 06/7/26 | 05:43 WIB

Dalam wayang juga ada sebuah benda yang berperan penting dalam mengiringi cerita, membangun suasana, dan memperkuat narasi cerita, salah satunya adalah alat musik yang dikenal dengan gamelan. Gamelan adalah sebuah alat musik yang mirip seperti gong, kendang, saron bonang dan lainnya. Dalam pementasan wayang, gamelan berfungsi sebagai pembangun suasana, mengiringi beberapa bagian adegan, pengubah suasana, dan lainnya. Gamelan berperan penting sebuah pementasan wayang. Dalam pewayangan gamelan memiliki mitos tersendiri. Mitos ini beredar di wilayah selatan pulau Jawa, khususnya di daerah Jawa Tengah, Kabupaten Cilacap, Kecamatan Kawunganten, di Desa Kalijeruk. Di daerah tersebut beredar sebuah mitos yang menceritakan keberadaan siluman yang bentuknya adalah seorang laki-laki yang memakai pakaian adat Jawa yang dipercaya menyerupai dalang.

Siluman itu adalah penghuni gunung yang dipercaya masyarakat setempat pada masa itu. Gunung yang dimaksud adalah Gunung Girso, sebuah gunung yang disebut oleh masyarakat setempat itu dulu. Girso menurut masyarakat setempat merupakan sebuah istilah, yaitu istirahat dengan duduk bersandar. Hadirnya mitos ini karena pada masa itu karena banyak para dalang yang hendak ingin konser atau melakukan pementasan wayang. Mereka menemui siluman ini guna menyewa gamelan. Gamelan yang mereka sewa dipercaya memiliki suara yang apik. Kelebihan lainnya jika gamelan itu dimainkan, konser wayang tersebut akan ramai.

Menurut informasi oleh Kodiman (59), ada beberapa syarat bagi para dalang tersebut jika ingin pergi menyewa gamelan. “Pada malam-malam tertentu, mereka (para dalang) akan datang ke puncak Gunung Girso” Gunung Girso berada di Desa Kalijeruk, Kawunganten, Cilacap. Sebelum wilayah itu menjadi wilayah perkebunan seperti saat ini, wilayah sekitar gunung itu dulunya adalah alas jati (hutan pohon jati). Lalu dilanjutkan Pak Kodiman “Dulu di puncak gunung itu ada sebuah pohon beringin. Ketika dalang yang hendak menyewa sudah sampai di puncak itu, di pohon beringin tersebut akan ada sebuah kotak. Kotak itu adalah tempat peletakan syarat agar dapat menyewa gamelan yang dimaksud. Syarat-syarat yang dibutuhkan antara lain seperti sejumlah harta entah itu uang, emas, atau apa pun, lalu beberapa macam bunga. Ketika syarat-syarat itu telah diletakkan di atas kotak tersebut, siluman seperti laki-laki berpakaian adat Jawa itu akan datang. Lalu di hadapan para penyewa sudah ada beberapa gamelan yang diberikan oleh siluman”

Bagaimana para dalang mengembalikan gamelan itu juga disampaikan oleh Pak Rakim “Dengan beberapa persetujuan waktu, para dalang yang menyewa gamelan nantinya harus mengembalikan gamelan itu sesuai waktu yang dijanjikan. Mereka tinggal membawa beberapa gamelan kembali ke puncak gunung itu. Bila sudah dikembalikan, gamelan yang disewa para dalang nantinya akan berubah menjadi batu, kayu, atau tanah yang membentuk gamelan yang tadi”. Mitos yang beredar tidak hanya tentang penyewaan gamelan ini, bahkan Rakim (53)  juga para masyarakat mendengarkan pada malam Jum’at biasanya puncak gunung itu terdengar bunyi gamelan yang asik didengar, namun seram juga untuk dipantau. “Saya dulu waktu kecil-kecil sering mendengar ada permainan gamelan yang sumber suaranya itu di gunung itu”

Menurut kedua informan, mitos ini tak hanya sebagai cerita. Namun, memiliki fungsinya sendiri pada masa itu. Fungsinya antara lain adalah untuk memudahkan para dalang untuk mencari gamelan karena pada masa itu alat transportasi susah sekali diakses. Selain itu, di desa belum ada yang bisa membuat gamelan maka para dalang menyewa gamelan kepada siluman itu agar mereka tak perlu jauh-jauh keluar dari desa untuk mencari gamelan.

Tags: Faathir Tora Ugraha
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Puisi-puisi Nada Aura Syakilla

Berita Sesudah

Pemikiran Halliday tentang Semiotika Sosial dalam Ilmu Bahasa

Berita Terkait

Dari Like ke Loyalitas: Strategi UMKM Memanfaatkan Media Sosial

Dari Like ke Loyalitas: Strategi UMKM Memanfaatkan Media Sosial

Senin, 06/7/26 | 05:56 WIB

Oleh: Abdul Hamid Sajidurrahman (Mahasiswa MKWK Bahasa Indonesia dan Mahasiswa FEB Universitas Andalas)   Di era digital seperti sekarang, cara...

Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Nongender

Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Nongender

Senin, 06/7/26 | 05:43 WIB

Oleh: Maryatul Kuptiah (Mahasiswa Program Studi Sastra Indonesia dan Anggota Aktif UKMF Labor Penulisan Kreatif FIB UNAND)   Bahasa adalah...

Lidah, Logat, dan Tangerang: Cerita Kecil tentang Bunyi

Lidah, Logat, dan Tangerang: Cerita Kecil tentang Bunyi

Minggu, 05/7/26 | 16:04 WIB

Oleh: Mita Handayani (Alumni Magister Linguistik FIB Universitas Andalas)   Beberapa hari yang lalu, saya bersama tim EQUITY dan pimpinan...

Puisi-puisi M. Subarkah

Salindia atau PPT? Potret Sikap Bahasa Generasi Digital

Senin, 29/6/26 | 21:20 WIB

Oleh: M. Subarkah (Mahasiswa Prodi S2 Linguistik FIB Universitas Andalas)   “Besok presentasi pakai PPT, ya.” Kalimat tersebut hampir setiap...

Batu dan Zaman

Peran Podcast dalam Produksi Bahasa

Senin, 29/6/26 | 21:06 WIB

Oleh: Andina Meutia Hawa (Dosen Prodi Sastra Indonesia FIB Universitas Andalas)   Ada pengalaman yang menyenangkan setiap kali mengikuti episode...

Kreativitas Berbahasa yang Anomali

Kreativitas Berbahasa yang Anomali

Senin, 29/6/26 | 13:05 WIB

Oleh: Alex Darmawan (Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas)   Di zaman milenial sekarang ini, kreativitas adalah hal yang sangat...

Berita Sesudah
Fenomena Bahasa “Laki-Laki Tidak Bercerita” di Media Sosial

Pemikiran Halliday tentang Semiotika Sosial dalam Ilmu Bahasa

POPULER

  • Child Grooming sebagai Bentuk Frasa “Manipulasi Anak”

    Wacana Digital dan Dinamika Istilah dalam Bahasa Indonesia

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cahaya dari Surau Tuo

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kata Penghubung dan, serta, dan Tanda Baca Koma (,)

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Duka Cita atau Dukacita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Se Indonesia, seIndonesia, atau se-Indonesia?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pemko Padang Imbau Warga Isi Survei Indeks Harmoni Indonesia 2025

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sumbar Usulkan Koridor Sawahlunto–Sijunjung–Dharmasraya Jadi Proyek Strategis Nasional

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026