Sabtu, 17/1/26 | 02:22 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home EDUKASI

Mendidik Anak dengan Keteladanan

Senin, 07/10/24 | 05:19 WIB

Oleh: Hardisman
(Guru Besar Fakultas Kedokteran & Ketua LPM Universitas Andalas)

Anak bukan dewasa kecil. Anak tidaklah seperti miniatur dan bukan pula sekadar dewasa dalam ukuran dimensi fisik yang berbeda. Secara fisik dan psikologis segala sesuatunya berbeda pada anak dibandingkan dengan dewasa. Antara anak yang berbeda kelompok usia juga banyak perbedaan dalam perkembangan fisik dan pikologis.

BACAJUGA

Anggota DPRD Kota Padang, Yusri Latif. [foto : ist]

Ketua Fraksi PKB Ummat DPRD Padang: Anak Adalah Urat Nadi Kemajuan Daerah

Rabu, 23/7/25 | 14:14 WIB
Formasi Jabatan Fungsional Kemenag 2025 Naik Signifikan, Ini Daftar Lengkapnya

Formasi Jabatan Fungsional Kemenag 2025 Naik Signifikan, Ini Daftar Lengkapnya

Rabu, 23/7/25 | 05:59 WIB

Perbedaan Cara Pandang

Perbedaan fisik dan psikologis antara anak dan dewasa menimbukan cara pandang yang berbeda terhadap persoalan. Pola pikir anak dalam menghadapi dan menyelesaikan persoalan juga akan berbeda sehingga berdasarkan cara pandang dewasa. Orang tua melihat cara berpikir anak tidak matang meskipun tidak selamanya cara pandang orang tua itu benar.

Perbedaan cara pandang tidak hanya karena usia kronologis waktu yang lebih singkat, tetapi juga didukung oleh pengalaman hidup yang berbeda. Pengelaman atau apa yang sudah dilalui oleh orang tua tentu jauh lebih banyak sehingga dalam melihat persoalan mereka akan mempertimbangkan banyak hal. Berbeda dengan anak-anak, pengalaman hidup yang singkat dan pengetahuan yang belum banyak menjadikan mereka melihat suatu persoalan dan memutuskan solusinya tentu berdasarkan alur pikir sendiri dengan mempertimbangkan apa yang pernah dialami, dirasakan, dan dilihat.

Belum lagi kemudahan dan kesulitan hidup yang berbeda dan kondisi kemajuan zaman yang sudah sangat berbeda, semuanya juga berberan dalam dalam menyikapi pesoalan. Kondisi sosial ekonomi kehidupan keluarga yang lebih sulit zaman orang tuanya namun sudah mulai berkecukupan pada masa anak-anaknya tentunya juga berperan dalam menyikapi persoalan kehidupan.

Tidak jarang perbedaan cara pandang tersebut melahirkan konflik komunikasi terjadi antargenerasi. Termasuk konflik yang terjadi dalam keluarga antara anak dan orang tua, terutama Ketika anak sudah mulai memasuki usia remaja. Orang tua yang tidak bisa bersikap arif dan bijaksana akan menambah keretakan komunikasi tersebut sehingga mengakibatkan pola asuh pendidikan yang seharusnya diberikan orang tua menemukan titik buntu.

Ketika kondisi sosial ekonomi keluarga sudah jauh lebih baik dari zaman orang tuanya di masa kecil, tentu pengalaman hidup anak lebih baik pula. Segala kebutuhannya didapatkannya dengan mudah sejak kecil. Jika pola asuh orang tua tidak menanamkan dengan baik cara menyikapi hidup, anak-anak akan  menggangap semuanya serba mudah. Mereka bisa menjadi anak-anak yang tidak tangguh jika tidak ada tempaan, tidak ada arahan, dan pendidikan yang ditanamkan oleh orang tua. Tatkala menghadapi kesulitan sedikit saja, anak merasa itu adalah sebuah petaka besar. Lalu bagaimanakah pendekatan mendidik dalam keluarga yang dapat dilakukan?

Madrasah Keluarga

Peran orang tua sejak dini semakin sangat dibutuhkan untuk menyiapkan generasi yang kuat, Tangguh, dan sekaligus menyiapkan mereka dari segala bahaya lingkungan. Mereka disiapkan untuk tangguh dalam kehidupan dan berkarya sesuai dengan zaman.

Kita sering berharap pada institusi pendidikan, baik pada sekolah ataupun madrasah tempat mengaji untuk mendidik anak, termasuk dalam pembentukan karakter anak. Harapan itu memang tidak salah karena di sana orang tua menitipkan anak-anak untuk belajar dan untuk dididik. Akan tetapi, sejatinya pendidikan formal di sekolah ataupun nonformal di tempat mengaji sore hanyalah bantuan bagi ibu dan ayah dalam mendidik karakter anak-anak. Rumah adalah madrasah pertama dan selalu yang utama untuk pendidikan anak-anak hingga mencapai usia dewasa. Baik dalam perspektif pendidikan modern dan juga dalam agama. Islam menempatkan bahwa orang tua yang diperintahkan dan bertanggung jawab atas keselamatan anak-anaknya (QS At-Tahrim [66]:4 dan An-Nisa [4]:9).

Orang tua harus mampu memberikan rambu-rambu bagi anaknya mana yang akan menyelamatkan dan mana yang akan menghancurkan. Hal ini dimulai dengan sejak awal.  Orang tua mampu mengawasi dan mengarahkan anak sejak dini serta membentuk nilai-nilai kedisiplinan dan ketangguhan sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan usia. Ada ketegasan yang ditanamkan sejak dini (qaulan syadidan) (QS An-Nisa, [4]:9).

Keteladanan dan Kebersamaan

Mengajak pada kebaikan harus dilakukan dengan hikmah dan keteladanan (An-Nahl [16]:125). Begitu juga dengan penerapannya. Agar pendidikan dalam keluarga dapat mengena, keteladanan dalam cara berkomunikasi, menyikapi persoalan, penggunaan gadget dan teknologi juga harus dibimbing oleh kedua orang tua. Ayah dan ibu harus menunjukkan terlebih dulu kematangan dalam bersikap dan kedewasaan dalam bertindak. Satu contoh dan keteladanan jauh lebih bermakna dalam mendidik dan mendisiplinkan daripada seribu kata-kata.

Pada saat yang bersamaan, ada kasih sayang yang terpancar dan terlihat dari orang tua kepada anaknya. Ada kehangatan dalam keluarga. Kedua orang tua adalah tempat kembali dan tempat berbagi bagi anak-anak untuk memecahkan semua persoalan. Pertemuan dalam rumah adalah pertemuan yang menyenangkan bagi anak dan bercahaya dalam zahir dan batin sehingga pendidikan menanamkan ketangguhan, kedisiplinan, dan membentengi anak-anak dari kejahatan yang tidak kasat mata dapat dilakukan.

Tidak selamanya cara pandang orang tua yang terbaik untuk kondisi saat ini. Pola pikir dan cara padang tua mungkin yang terbaik sesuai dengan zamannya. Namun, untuk zaman anaknya, boleh jadi pendekatan dan cara orang tua perlu disesuaikan karena mungkin tidak relevan lagi dengan kondisi saat ini. Orang tua juga harus bisa mendengarkan dan memahami cara pandang anak dengan reasoning mereka. Boleh jadi alasan yang diberikan anak dan pengetahuan mereka tentang perkembangan informasi terbaru lebih banyak daripada orang tuanya. Orang tua harus siap mendengar dan berdiskusi dengan anak-anak hingga mampu mengarahkan mereka sesuai dengan tujuan kebaikan.

Orang tua harus berpikir terbuka dan bisa berkomunikasi dengan anak-anak dengan baik, mendengarkan sambil menggarahkan, dan bukan mendoktrin, memerintahkan, dan mengakimi sehingga ayah dan ibu satu-satunya tempat bagi mereka untuk kembali. Semoga.

Tags: #Hardisman#keteladanan#Pendidikan anak
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Viral! Spanduk Ajak Coblos Kotak Kosong di Dharmasraya, Apa Kata KPU Sumbar?

Berita Sesudah

Bakal Terapkan EEWS, Sumbar Perkuat Mitigasi Bencana Gempa Bumi

Berita Terkait

Dari FIB Unand untuk Anak Nagari: Mendongeng dan Menguatkan Anak Korban Bencana di Bayang Utara 

Dari FIB Unand untuk Anak Nagari: Mendongeng dan Menguatkan Anak Korban Bencana di Bayang Utara 

Minggu, 21/12/25 | 08:01 WIB

Dekan, Wakil Dekan, Manajer serta tim dari Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Unand (Foto: Ist) Padang, Scientia.id - Fakultas Ilmu Budaya...

Alfitri Raih Doktor dengan Disertasi Kolaborasi Pengelolaan Sampah Plastik

Alfitri Raih Doktor dengan Disertasi Kolaborasi Pengelolaan Sampah Plastik

Jumat, 19/12/25 | 07:58 WIB

Padang, Scientia— Dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Andalas (Unand), Alfitri, resmi menamatkan studi doktoralnya (S3) di...

Menko PM Lepas Mahasiswa UNP KKN Tanggap Bencana Alam

Menko PM Lepas Mahasiswa UNP KKN Tanggap Bencana Alam

Rabu, 17/12/25 | 20:50 WIB

Menko Pemberdayaan Masyarakat, Muhaimin Iskandar saat melepas mahasiswa UNP KKN Tanggap Darurat Bencana, Rabu (17/12). (SCIENTIA/Wahyu Amuk) Padang, SCIENTIA -...

Sekolah Rakyat Kota Padang Bentuk Kolaborasi Perguruan Tinggi Dukung Program Prioritas Presiden

Sekolah Rakyat Kota Padang Bentuk Kolaborasi Perguruan Tinggi Dukung Program Prioritas Presiden

Rabu, 17/12/25 | 20:41 WIB

Padang, SCEINTIA - Perguruan Tinggi memiliki peran penting dalam mendukung pelaksanaan program Sekolah Rakyat. Terlebih lagi, ini merupakan program prioritas...

Angkat Tema “Negeri dan Ironi”, Festival Sastra Marah Rusli 2025 Soroti Realitas Sosial Indonesia

Angkat Tema “Negeri dan Ironi”, Festival Sastra Marah Rusli 2025 Soroti Realitas Sosial Indonesia

Selasa, 16/12/25 | 22:39 WIB

Padang, Scientia.id - Komitmen menjaga kesinambungan tradisi sastra di Sumatera Barat kembali diwujudkan melalui Festival Sastra Marah Rusli 2025. Kegiatan...

Mahasiswa Seni Rupa UNP Gelar Pameran “Ilia Mudiak”, Hadirkan Dialog Hulu-Hilir Seni Rupa

Mahasiswa Seni Rupa UNP Gelar Pameran “Ilia Mudiak”, Hadirkan Dialog Hulu-Hilir Seni Rupa

Selasa, 16/12/25 | 12:11 WIB

Padang, Scientia.id - Mahasiswa Departemen Seni Rupa Universitas Negeri Padang (UNP) akan menggelar Pameran Seni Rupa bertajuk “Ilia Mudiak” di...

Berita Sesudah
Bakal Terapkan EEWS, Sumbar Perkuat Mitigasi Bencana Gempa Bumi

Bakal Terapkan EEWS, Sumbar Perkuat Mitigasi Bencana Gempa Bumi

POPULER

  • Wali Kota Padang Fadly Amran, mengusulkan sejumlah proyek pelestarian lingkungan bagi Kota Padang dalam skema kerja sama bilateral Indonesia-Jerman di tahun 2026.(Foto:Ist)

    Wali Kota Padang Usulkan Proyek Lingkungan Hidup Pada Negara Jerman

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Perbedaan Kata “kepada”, “untuk”, dan “bagi”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Denda PDAM Kota Padang Membingungkan, Tagihan Sampah Dipungut Meski Tak Diangkut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Se Indonesia, seIndonesia, atau se-Indonesia?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pemko Padang Dukung Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Sesuai Arahan Pemerintah Pusat

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Apakah Kata “bapak” dan “ibu” Harus Ditulis dalam Huruf Kapital ?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kapitil, Kosakata Baru dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2024

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2024